
"Kakeeek... ayolah, aku sudah menguasai jurus pertama seperti yang kakek lihat tadi."
"Tentu saja, jangan kuatir. Masalahnya, tiga gerakan terakhirmu itu berbeda dengan yang aku berikan."
"Apa kakek melihat ada masalah dalam gerakan itu?" tanya si gadis yang tidak mau kalah.
"Tidak, hanya saja...."
"Nah tunggu apa lagi? atau kakek mau ingkar janji?" si gadis tetap merengek.
"Baiklah... baiklah, tapi besok pulanglah dulu, sudah terlalu lama kau di sini, apa kau tidak rindu rumah?"
Dengan wajah cemberut, si gadis berkata. "Ayah hanya tau mengurus kota, Ibu juga sama saja."
"Terserah kau sajalah," kata si kakek lalu memberi satu gulungan berisi jurus kedua. "Jurus ketiga menyusul setelah kau menguasai jurus kedua ini." Lu Jia Li tersenyum senang lalu meninggalkan ruangan kakeknya.
"Apa kau lihat, jurus itu banyak berubah. Harus kuakui itu jauh lebih baik tapi bagaimana bisa?"
"Tuan pelindung, aku juga tidak tau. Tadi nona seperti biasa selalu gagal di gerakan kedelapan, sembilan dan terakhir tapi tiba-tiba saja Ia mampu menguasainya." Yang menjawab ini adalah wanita yang menemani si gadis.
Tuan pelindung menghela nafas, "kau tentu tau, di antara semua saudaranya, anak itulah yang paling berbakat tapi tidak cukup berbakat untuk bisa menggubah sendiri gerakan sebuah jurus."
"Oh ada yang aneh, saat terakhir, nona berteriak berterima kasih. Entah kepada siapa, aku sendiri tidak merasakan ada orang lain di sana."
Lu Ping hanya mengangguk ringan, seperti dugaanku pikirnya.
"Besok, saat menemaninya berlatih, awasi sekitarmu, jangan pernah melepaskan perhatianmu terutama hal-hal kecil, karena biasanya dari sinilah half besar akan terungkap."
"Baik, hamba mohon pamit."
Kakek ini adalah Lu Ping, atau tuan pelindung kota. Gadis yang berlatih tehnik pedang adalah cucunya Lu Jia Li, anak dari pemimpin kota Kenanga, Lu Zengguan.
Bukan tidak senang tehnik yang cucunya latih jadi lebih baik tapi lebih ke waspada.
Ia harus menyelidiki apa maksud dari orang ini, bukan tidak mungkin keberadaannya akan berbahaya bagi cucunya atau bahkan bisa mengancam keamanan kota.
Lu Ping melirik ke samping dan berkata, "Pergi ke kota, selidiki apa ada hal aneh yang baru-baru ini terjadi." Tidak ada menyahut, hanya suara angin yang melesat pergi meninggalkan tuan pelindung.
...
Ye Chen yang masih berada di tepi telaga kembali mendengar suara orang berlatih dan seperti kemarin, Ia juga pergi melihatnya.
Bukan karena sangat ingin melihat Lu Jia Li berlatih tapi penasaran dengan lanjutan jurusnya.
"Kakek tua sialan, rupanya Ia mencurigaiku." gerutu Ye Chen mengikuti ucapan Lu Jia Li.
Sementara Lu Jia Li yang tidak sadar terus berlatih sampai seharian dan sangat senang bisa dapat menguasai jurus kedua ini dengan cepat.
Tadinya Ia berharap suara yang membantunya kemarin akan membantunya lagi jika menemui kesulitan.
Lalu kenapa Ye Chen memaki Lu Ping setelah melihat jurus kedua yang dimainkan Lu Jia Li? jawabannya adalah karena jurus kedua ini tidak lebih dari jurus kembangan saja dari jurus pertama, bukan jurus lanjutan.
Ye Chen yang mengetahui ini kemudian pergi tapi tidak kembali ke kota, Ia kembali bermain-main dengan Rajawali menjelajahi angkasa sambil menandai tempat yang banyak hewan liar untuk mengisi dimensi cincinnya.
Besoknya Ye Chen baru memutuskan untuk mencari Chu Xiong.
"Tuan muda anda dari mana saja, hais apa anda tau semua pasukan keamanan kota mencari anda?"
"Tidak apa biarkan saja, nah bagaimana penyelidikanmu?"
Chu Xiong menceritakan tidak ada hewan siluman yang bisa di sewa untuk ke benua Timur, hal ini karena semua siluman hewan terbang itu akan di pakai untuk membawa kultivator muda jenius pergi ke kota kekaisaran.
"Oh memangnya ada apa di kota kekaisaran?" tanya Ye Chen penasaran.
"Dari yang aku dengar, akan ada pertandingan untuk memilih wakil benua barat untuk mengikuti turnamen antar benua nanti."
"Oh memangnya aku boleh ikut?"
"Tentu saja, semua juga boleh asalkan memenuhi syarat."
"Kesampingkan dulu masalah itu," ucap Ye Chen dengan mimik serius. "Apa di sini ada paviliun atau semacamnya yang menerima pil?"
Chu Xiong menatap bingung.
"Jangan menatapku begitu, aku kehabisan uang, di kantongku sekarang cuma ada beberapa keping emas saja."
Chu Xiong mengangguk mengerti, Ye Chen lalu memberikan sisa kepingan emasnya untuk membeli sumber daya yang diperlukan.
Setelah memberitahukan tempatnya tinggal, Ye Chen berbalik dan pergi menuju telaga.
Dua hari berlalu, di tepi telaga nampak Ye Chen dan Chu Xiong duduk sambil menyantap ikan bakar dari telaga.
"Jadi bagaimana hasilnya?"
"Beres tuan muda," kata Chu Xiong sembari mengeluarkan sumber daya yang Ia beli. "Tapi maaf hanya ini yang bisa aku beli."
"Tidak apa, ini cukup. kau bisa kembali atau menunggu di sini."
Chu Xiong berpikir sebentar, "aku akan kembali dan kembali lagi hehe...."
"Apa itu, dasar aneh."
Sepeninggal Chu Xiong, Ye Chen mengeluarkan tungku Yin Yang dan mulai meracik pil. Tidak butuh waktu lama, sepuluh pil kultivasi tingkat Bumi dan lima pil pemulih Qi berhasil Ye Chen buat.
"Tidak kukira bisa jadi sepuluh pil, kalau begini, Chu Xiong tidak perlu repot-repot lagi mencari sumber daya." gumam Ye Chen sambil tersenyum.
"Eh tuan muda, kenapa senyum-senyum sendiri?" Suara Chu Xiong yang baru datang sedikit mengejutkan Ye Chen yang sedang melamun.
Ye Chen kemudian memberikan pil buatannya untuk dijual Chu Xiong beserta kegunaannya.
"Tuan muda, benarkah sepuluh pil ini pil tingkat Bumi?"
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong."
Melihat Chu Xiong seperti ingin berbicara namun ragu, Ye Chen berkata lagi. "Tenang saja, nanti aku buatkan lagi pil khusus untukmu. Sekarang aku mau tidur."
Terdengar lirih ucapan terima kasih yang mendalam dari Chu Xiong, sebelum akhirnya mendirikan tendanya sendiri.
Hari sudah terang saat Chu Xiong berangkat kembali ke kota untuk menjual pil, Ye Chen tidak melakukan apa-apa, hanya sesekali saja ia masuk ke dalam dimensi cincin dan mengatur atau membersihkannya.
Di kediaman pelindung kota.
"Kakeek... kakek, kakek dimana? seorang gadis berlari kecil sambil memanggil-manggil. Ya, gadis ini ada Lu Jia Li, cucu dari pelindung kota Kenanga.
"Bi, apa kau melihat kakek?" tanya Lu Jia Li pada wanita di dekatnya.
Wanita yang selalu menemani Lu Jia Li menggeleng tidak tau. "tunggulah nona, mungkin sebentar lagi tuan pelindung juga datang." ucapnya, namun yang ditunggu tidak juga datang sampai Lu Jia Li bosan dan pergi, kembali ke kota.
"Hais kenapa juga sih kakek harus tinggal jauh dari kota?" gerutu Lu Jia Li ditengah perjalanan pulang.
...
Minta Maaf baru bisa update, sudah tiga hari ini saya sakit, demam tinggi.
Waktu nulis ini kepala masih agak pusing, semoga besok-besok bisa sehat dan lancar lagi nulisnya.
Terima kasih...