
Kirin adalah salah satu hewan kuno dengan garis darah yang kuat, tidak salah memang kalau Kirin ini mengaku sebagai hewan legendaris dan tak mau disamakan dengan monster yang menurutnya tidak selevel dengannya.
"Hei kau mau kemana? cepat kembali kesini, aku akan membakarmu hidup-hidup." Kirin terus saja berteriak-teriak memanggil Ye Chen yang telah keluar lagi.
"Sudah, tenang-tenang saja di sana, nanti dagingmu gosong kalau banyak bergerak." kata Ye Chen sambil terus mengontrol dan mengaktifkan artefak api. Ia juga sesekali masuk ke dalam aray untuk kembali memukul Kirim dengan kekuatan penuh untu melemahkannya.
"Hewan kuno memang berbeda." ucap Ye Chen ketika melihat Kirin yang belum tewas setelah sekian lama. "Ah aku lupa, begitu pasti lebih cepat dan lebih enak." kata Ye Chen tiba-tiba, Ia teringat konsep panas yang dan dingin.
Jika suatu benda dipanaskan sampai suhu tertentu, kemudian disiram air dingin maka benda itu akan hancur. Mengingat ini, Ye Chen tidak menyerang lagi, hanya menunggu sampai artefak-artefak itu kehilangan dayanya saja.
"Hahaha sampai disitu sajakah? ini bahkan belum bisa seberapa bagiku." Kirim sesumbar lagi, meskipun sudah cukup lemah, tapi memang itu belum cukup baginya.
Sampai artefak padam, cuaca di dalam tiba-tiba berubah perlahan menjadi sangat dingin. Kirin mulai ketakutan, kulitnya sudah ada yang terkelupas. "Hentikan! hentikan, apa yang kau... Baiklah kita mari bersama kalau begitu." Selepas berkata seperti itu, Kirin seketika melompat ke arah Ye Chen dan memeluknya erat. Tentu saja Ye Chen tak sempat menghindar karena sedang berkonsentrasi dengan energi dingin yang sedang Ia salurkan.
Bruukk...
Kirin akhirnya roboh, kulit berikut dagingnya retak, Ia sudah tak sanggup lagi untuk bertahan. Saat itulah Ye Chen datang menghampiri dengan belati di tangan. "Jangan bergerak lagi, nanti aku salah tusuk dan kau jadi susah mati hehe." kata Ye Chen sambil tersenyum.
"Kau Iblis," untuk pertama kali dalam hidupnya, Kirin merasa ketakutan. Ia melihat Ye Chen seperti Iblis yang akan memakannya hidup-hidup. "Tapi bukankah...."
"Oh maksudmu itu?" kata Ye Chen sambil menunjuk dirinya yang tadi menyalurkan energi dingin. Tubuh yang tadi ikut terbakar dan hancur ketika Kirin dengan erat memeluknya itu perlahan sirna dan tidak ada apa-apa lagi di sana.
"Klon...?" Kirin kini mengerti, dari awal Ye Chen memang tak ingin langsung membunuhnya, tapi ingin memanggangnya saja, seperti katanya di awal, ingin makan daging Kirin panggang.
"Tuan... tolong, ampuni aku, aku rela memberikan apa pun untukmu."
"eh? kau memanggilku apa? dan ingin memberikan apa?" tanya Ye Chen.
"Jangan bunuh aku, sebagai imbalannya, akan kuberikan apapun yang kau minta." bujuk Kirin yang sudah tidak berdaya.
"Apapun itu?"
"Ya apapun, bahkan tehnik inti api yang kusimpan di gua dekat sini akan kuberikan juga." Maksud Kirin adalah tehnik yang bisa merubah diri menjadi api dan tehnik menembakkan api dari mulut, seperti yang siluman Kerbau lakukan.
Tehnik merubah diri menjadi api adalah tehnik tingkat tinggi dari Kirin. Seperti yang diketahui, Kirin ini selalu muncul dengan tubuh penuh api, seolah energi apinya tidak pernah padam. Berbeda dengan Phoenix api yang hanya sekali-sekali tampil dengan tubuh penuh api.
"Aku hanya mau dagingmu, nah berhentilah, lagipula kau sudah mengatakannya ada di gua sekitar sini."
Kirin menyadari kesalahannya, "Kurang ajar! kaumku akan membalasmu, membakarmu sampai menjadi abu. Ah tidaaak jangan, jangan mendekat.
Hanya itu yang terdengar, Ye Chen sudah tidak mau lagi menanggapi ucapan Kirin.
Slebb...
Belati menghunjamnya dalam, membuat Kirin tewas seketika. Ye Chen lalu tersenyum puas dan mengambil inti kehidupan Kirin dan membekukannya seperti dua siluman Kerbau.
Ye Chen memanggil Rajawali, memberikan dua inti siluman Kerbau. "Sayang sekali kau bukan tipe api, kalau tidak inti Kirin itu bisa kau makan juga."
Rajawali hanya mengangguk, dengan cepat menelan dua Inti Kerbau. "Kau perlu mengolahnya dulu, besok kita kembali." Rajawali benar-benar menikmati situasi ini, Ia menggosokkan kepalanya di lengan Ye Chen yang mengusap bulunya.
Keesokan harinya, Ye Chen kembali. Rajawali kini bertambah besar dan kekuatannya setara dengan tingkat Surgawi tahap awal.
Di wilayah Ye.
Ye Chen yang disambut senior He dan yang lain, termasuk tetua Su dan tetua Sam ikut kaget ketika mengetahui dua siluman Kerbau dan satu Kirin yang dibawanya. Hari itu juga semua yang ada di wilayah Ye ikut berpesta menikmati daging siluman. Kandungan energi dari daging siluman tingkat Surgawi memang beda, ditambah dengan campuran tanaman herbal yang menambah sensasi kesegarannya membuat semuanya makan dengan lahap.
Kultivator tingkat Langit ke atas jelas belum mampu menerobos karena energinya masih terlalu kecil kecuali dagingnya di ekstrak terlebih dahulu tapi kultivator di bawahnya mendapat manfaat sangat besar. Sebagian besar telah menerobos satu tahap kultivasi, bahkan yang lebih rendah lagi akan naik tingkat.
Hari berganti, karena kesalahan Ye Chen sendiri yang mengaku kaisar saat tetua Su dan yang lain mati-matian membelanya, akhirnya di nobatkan lah Ye Chen sebagai kaisar.
Ye Chen sempat berkilah itu hanya akal-akalannya saja karena igin menyuruh mereka mundur, namun mereka tidak menerimanya dan tentu saja semua menjadi senang dengan kabar ini.
"Terserah kalian sajalah." kata Ye Chen.
Tak lama kemudian, atas inisiatif senior He, hari penetapan Ye Chen menjadi kaisar pun tiba. Mereka harus kembali memaksa Ye Chen agar duduk di singgasana.
"Hormat pada kaisar Ye!"
"Hidup kaisar!"
"Panjang umur kaisar!"
"Jayalah Kekaisaran Ye."
Semua berlutut menghormat dengan tangan di depan kepala yang menunduk. Sementara Ye Chen hanya bisa menggeleng pelan, tak tau harus berkata apa. Keadaan ini berlangsung cukup lama, Ye Chen juga tidak sadar kalau mereka tak akan pernah berdiri kalau Ia tidak menyuruhnya.
"Heh sampai kapan kalian akan berlutut begitu?" kata Ye Chen, tapi tetap saja tidak ada yang berdiri, bahkan untuk mengangkat kepala.
"Tuan, mohon ampun, anda harus berkata berdirilah, kalau tidak, sampai kiamat pun kami tidak akan berdiri." Ini adalah suara Jiang Kun yang mengirim lewat telepati.
"Hah merepotkan saja, ini yang aku tidak suka." balas Ye Chen sambil menggeruru tidak jelas.
"Tuan...." sahut Jiang Kun lagi.
"Baiklah, baiklah...." Jiang Kun hanya tersenyum mendengar ini.
"Berdirilah," ucap Ye Chen pada akhirnya. "Awas saja, kalau ada di antara kalian yang membuatku kesal atau mencoba berkhianat. Akan ku panggang kalian seperti Kirin tua itu sampai kering, kusiksa jiwa kalian lalu ku musnahkan sampai tak tersisa."
Kali ini Ye Chen serius, aura yang keluar saat mengucapkan kata-kata ini benar-benar menyeramkan. Seketika semuanya berlutut kembali.
"Mohon ampunan Yang Mulia."
"Kami semua setia sampai mati."
"Hais, bangunlah... kenapa kalian ini sedikit-sedikit berlutut, hah."
"Terima kasih Yang Mulia." jawab mereka serempak.
Ye Chen tak berlama-lama duduk di sana, setelah merasa cukup, Ia masuk ke dalam dan memanggil senior He untuk ikut bersamanya.