
Kedua orang ini kaget dan tidak menyangka Ye Chen akan mengetahui keberadaan mereka. Setelah membungkuk dan meminta maaf berkali-kali, mereka lari tanpa memikirkan apa-apa. Ye Chen sendiri hanya diam saja, Ia terlalu malas berurusan dengan mereka, meskipun sedikit merasa sayang karena tidak bisa melakukan ujicoba penjara kegelapan.
Sudahlah, nanti saja, sebaiknya cari makan dulu pikir Ye Chen dan memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar. "Aku mau hidangan utama di tempat." kata Ye Chen pada pelayan. "Agaknya tuan?" pelayan mencoba menawarkan minuman.
"Tidak usah, aku sudah punya minuman sendiri." kata Ye Chen lalu mengambil seguci arak kecil dari cincinnya.
Tidak ada yang menarik perhatian Ye Chen selama berada di kota ini, tanda-tanda adanya pengaruh raja Iblis juga tidak ada. Yang ada hanyalah penjahat-penjahat kecil yang umumnya memang selalu ada di setiap kota.
Dua hari lamanya Ye Chen berada di kota ini. Di hari ketiga, Ia berniat meninggalkan kota menuju pusat kota benua Utara, yakni kota Shiyu. Perjalanan yang ditempuhnya lumayan jauh, butuh lebih dari lima hari baru bisa sampai di dekat kota Shiyu.
"Kalian lagi, kenapa kalian selalu mengikutiku?" Ye Chen kembali menghadang dua orang pria yang mengikutinya. Mereka inilah yang pertama mengikuti Ye Chen sejak sampai dan masuk ke kota Shue.
Karena kepergok, dua orang ini mencoba kabur seperti dulu, sayangnya Ye Chen tak akan membiarkan mereka kabur kali ini. Sebuah belati kecil menancap di masing-masing kaki mereka.
"Nah sekarang katakan, siapa dan untuk apa kalian mengikutiku." tanya Ye Chen tanpa mempedulikan rintihan kesakitan mereka.
"Tu... tuan, maaf... maaf, kami bukan orang jahat." kata seorang dari mereka.
"Katakan." hardik Ye Chen.
"Kami ditugaskan tuan Chu, untuk menunggu orang dengan ciri-ciri seperti tuan." lanjutnya lagi dengan menahan kesakitan.
"Tuan Chu...?"
"Be... benar tuan, awalnya kami ragu dan baru akan bertanya kepada tuan setelah kami yakin betul." jawab yang seorang lagi.
"Lalu dimana sekarang tuan Chu mu itu?"
Diam sebentar lalu bertanya, "Maafkan kami, boleh kami tau siapa nama tuan dan asal tuan?"
"Aku dari desa Ye." kata Ye Chen yang tak mau mengenalkan namanya.
Dua orang ini saling pandang lalu mengeluarkan benda kecil seperi isyarat yang dilemparkan ke atas. Api kecil merah menyala terang, sebentar saja kemudian lenyap kembali. Tak lama setelah itu, Ye Chen merasa beberapa orang datang mendekat dengan cepat.
"Apa yang terjadi, kenapa kalian bisa terluka?" tanya orang yang baru datang kepada dua kawannya yang terluka yang hanya memberi isyarat dengan lirikan mata ke arah Ye Chen.
"Oh, apakah itu anda? tuan Ye dari desa Ye?" tanyanya dengan sedikit ragu.
Ye Chen mengangguk.
"Silahkan ikut saya," kata orang itu lagi. Saya adalah Chu Ma, yang ditugaskan menjemput tuan." katanya di tengah perjalanan.
"Tuan, selamat datang."
"Oh rupanya itu kau. Chu Xiong, lama tak bertemu." sapa Ye Chen ramah, saat ini Ia berada si sebuah sekte bernama sekte Chu, pimpinan Chu Xiong.
"Anda tampak berbeda tuan." kata Chu Xiong yang merasakan aura Ye Chen berbeda dari dulu.
"Ceritanya panjang tuan," kata Chu Xiong lalu tanpa sungkan menceritakan semua yang terjadi.
Aku datang ke sini sudah terlambat, benar dulunya ada kekaisaran Chu di sini tapi karena perebutan wilayah antar sekte akhirnya kekaisaran dibubarkan dan sekarang yang ada hanyalah sekte Chu. Anggota sekte bukan hanya dari keluarga Chu saja, tapi juga dari orang-orang luar yang ingin bergabung.
Sekte Chu sendiri adalah salah satu sekte besar di benua utara tapi kebesarannya belum sanggup menyaingi sekte Yin yang di anggap sebagai sekte benua utara sejati karena di sana murni mempelajari tehnik elemen air yang kalau sudah sampai di tahapan yang tinggi akan sanggup merubah air menjadi es.
Sekte Chu ini terletak antara kota Shiyu dan kota Shue.
Chu Xiong tidak menyinggung soal anggota sekte yang dilukai Ye Chen dan Ye Chen pun sama, tidak membicarakan hal itu.
"Tuan, jadi apa tujuan anda ke benua ini? mungkin ada yang bisa aku bantu." kata Chu Xiong kemudian.
"Tunggu dulu, sebelum itu, dimana para tetua sektemu? kenapa hanya ada kau seorang saja?"
"Kakekku sudah lama mundur, aku kehilangan ayah saat perang terjadi di sini dan seperti yang anda lihat, aku sekarang adalah seorang patriark." kata Chu Xiong yang terpaksa menjadi patriark. Ia lebih senang pergi bertualang.
Masih menurut Chu Xiong, para tetua pergi menemani murid yang ikut kompetisi di kota Shiyu. Kalau berhasil dalam kompetisi, maka kemungkinan para murid itu bisa masuk ke sekte Yin.
"Kenapa harus masuk ke sana? apa kau terlalu menyayangkan tehnikmu untuk anggotamu sendiri?"
"Bukan begitu tuan, hais anda belum tau, sekte Yin itu sangat kuat dan hanya di sana kultivator benua utara bisa mempelajari tehnik elemen air dengan sempurna."
Ye Chen mengerti, memang pantas sekte Yin menjadi yang terbesar dan terkuat karena penguasaan akan tehnik elemen air. Aku jadi penasaran, seperti apa tehnik elemen air itu pikirnya. "Oh ya Chu Xiong, apa kau tidak ingin melihat-lihat keadaan murid-murid yang pergi?"
"Tidak masalah, keadaan sekarang jauh lebih aman. Tapi kalau anda ingin pergi, tentu saja aku akan menemani dan mengantar anda ke sana."
Ye Chen mengangkat jempolnya tanda setuju, "Silahkan istirahat dulu tuan, aku telah menyiapkan semuanya. Tapi maaf aku tak bisa menemani anda, aku harus mengatur sekte sebelum kita pergi." ucap Chu Xiong.
Dalam perjalanan ke kota Shiyu, Ye Chen meminta Chu Xiong mencarikan sebuah wilayah untuknya. "Tidak udah terlalu luas, yang penting letaknya tidak terlalu mencolok." kata Ye Chen. Ia akan membuat satu portal lagi di benua utara, dengan begitu seluruh wilayah alam rendah ini dapat terhubung dan memudahkannya atau orang-orangnya untuk pergi setiap saat.
"Tuan, kenapa tidak di sekteku saja? aku jamin tak ada yang protes."
"Tidak bisa, itu adalah sektemu dan aku adalah orang luar." ucap Ye Chen.
"He aku mau lihat, siapa yang tidak setuju." kata Chu Xiong, Ia adalah orangnya Ye Chen, mana mungkin Ia tidak memberikan yang terbaik untuk tuannya.
Ye Chen tersenyum, Ia tau Chu Xiong dapat diandalkan. "Sudahlah, nanti saja kita bicarakan lagi. Berapa lama perjalan ke kota?"
"Kalau begini, masih jauh tuan. Paling tidak butuh empat hari perjalanan."
Wuss...
Sebuah perahu besar muncul saat Ye Chen mengayun tangannya. "Kalau naik ini, bisa berapa lama?" kata Ye Chen dengan senyum bangga, memperlihatkan perahu terbangnya.