Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ikut Dalam Pertempuran


Paman mengenalkan Ye Chen sebagai keponakannya, dengan alasan Ingin mengajaknya melihat situasi perang, sekaligus untuk membantu jika diperlukan.


Panglima muda hanya mengangguk, melihat Ye Chen yang hanya di tingkat Suci puncak membuatnya tidak terlalu tertarik. Di alam Peri ini, tingkat Suci puncak jumlahnya sangat banyak, jika masuk dalam pasukan, palingan hanya menempati pasukan panah saja sebagai prajurit garis depan.


"Panglima, pasukan telah siap, tinggal menunggu perintah anda." sang komandan pasukan datang melapor.


"Apakah mereka masih tidak mau mundur?"


"Negosiasi gagal panglima." jawab komandan.


"Baik, tunggu aba-aba dariku." sahut panglima. "Paman, apakah anda juga ingin bergabung?" lanjut panglima, bertanya pada Paman.


Meskipun menyandang gelar panglima muda dengan tingkat kultivasi jauh di atas Paman namun Ia tetap menghormati Paman sebagai orang dalam istana.


"Jangan khawatirkan aku." ucap Paman singkat.


"Panglima, untuk apa Paman datang? segala membawa ponakannya juga." komandan pasukan bertanya ketika mereka sudah berjalan agak jauh dari Paman dan Ye Chen. Ia merasa kurang suka.


Panglima muda itu pun sama, Ia hanya menghormati Paman di depannya saja. Menurut pendapatnya sendiri, untuk apa istana mengutus seseorang ke mesan perang, ini tugas prajurit. Lebih bagus kalau yang di utus istana adalah orang yang kuat, paling tidak yang setingkat dengannya.


"Jaga bicaramu! kalau Paman mendengarnya, kau bisa dalam masalah." tegur panglima. "Biarkan saja mereka mau berbuat apa," panglima berhenti sebentar dan mendekat ke komandan, "Cari kesempatan, beri sedikit peringatan kepada ponakannya itu kalau Ia maju ke medan oerang."


Komandan tersenyum, ini sinyal yang Ia tunggu. Ia bukan hanya akan memberi peringatan tapi akan membunuh Ye Chen, siapa yang mengira kecelakaan akan terjadi di sebuah medan perang. Ia sendiri tanpa sadar mengirim sinyal permusuhan kepada Ye Chen sambil melihat ke belakang.


Mungkin Paman tidak akan bisa mendengar ini tapi tidak dengan Ye Chen, pengalaman hidup dan niat membunuh sudah cukup untuknya menyadari ada yang ingin menggangunya. Ia juga melihat ke arah komandan sambil tersenyum, bukan kebetulan, tapi memang sengaja.


"Sial, apa Ia merasakannya." ucap komandan dalam hati ketika menyadari tatapan Ye Chen kepadanya.


Panglima muda dengan gagah duduk di atas kudanya, memacunya dengan cepat sambil mengangkat pedang di depan pasukan lalu kembali ke belakang pasukan.


"Tembaaak....!"


Teriak sang komandan. Ribuan anak panah melesat cepat menuju kawanan siluman yang juga bergerak maju dengan cepat.


"Tuan Chen, apakah ingin maju?" Paman yang melihat Ye Chen dari tadi hanya diam mencoba bertanya.


Ye Chen bukan hanya diam, Ia mencoba mencari posisi Kirin. Di benaknya sudah terbayang daging Kirin yang lezat sekaligus penuh energi, belum lagi intinya. Ini benar-benar menggoda.


Pertempuran sudah semakin sengit, banyak korban berjatuhan terutama dari kawanan siluman. Tidak mungkin Siluman-siluman ini bisa bertahan menghadapi pasukan Peri yang terorganisir dengan sangat baik sementara mereka hanya menyerang dan membunuh saja tanpa bisa bekerja sama.


Pada saat itu aura yang Ye Chen tunggu muncul. "Kirin, akhirnya kau muncul juga." kata Ye Chen, tapi Ia berhenti sejenak ketika merasakan sesuatu. Di sana di tempat Kirin muncul, panglima muda dan beberapa komandan pasukan sedang mengeroyok Kirin. Rasa penasaran dan sedikit gusar terhadap panglima muda dan salah satu komandannya membuat Ia enggan untuk membantu.


"Paman, aku akan memburu Kirin." ucap Ye Chen dan tanpa menunggu persetujuan Paman, Ia langsung melesat pergi. Tapi bukan langsung menyerang Kirin melainkan melumpuhkan beberapa siluman tingkat Surgawi yang dianggapnya enak lalu menyimpannya di dimensi cincin. Lumayan buat stok daging. "Rajawali, kau ke sebelah sana, ingat jangan memaksakan diri." kata Ye Chen sambil melepas Rajawali.


Rajawali langsung terbang ke sisi lain dan mulai membunuh siluman dan mengambil intinya. Ia seperti berlomba dengan majikannya saja, bedanya jika Ye Chen menyimpan buruannya utuh sedangkan Rajawali akan langsung mengambil inti buruannya dan menelannya langsung. Ia sama sekali tak khawatir tubuhnya meledak atau gerakannya terhambat akibat terlalu banyak menelan inti siluman. Itu karena Ia yakin Ye Chen akan mampu mengatasinya nanti.


Sementara itu, Paman yang ditinggal sendiri juga tidak tinggal diam. Ia ikut membantu pasukan Peri yang sedang bertempur.


"Lihat! seseorang datang membantu."


"Cepat menyingkir dari sana."


Beberapa prajurit yang melihat aksi Ye Chen merasa senang dan langsung menyingkir, takut terkena serangan nyasar.


Kawanan siluman berkurang dengan cepat, sampai tingkat Surgawi telah habis, Ye Chen dan Rajawali baru berhenti. "Kau ini sudah kubilang jangan memaksakan diri. cepat telan ini." Ye Chen memarahi sang Rajawali, tubuhnya terasa panas dan jalannya sudah sangat lemah karena kelebihan energi dari inti siluman yang ditelannya.


"Masuk dan istirahatlah." kata Ye Chen lagi dan memasukkan Rajawali ke dalam cincin dimensi untuk beristirahat.


Beberapa saat kemudian, banyak prajurit Peri yang datang mengelilingi Ye Chen. Banyak dari mereka seketika menjadikan Ye Chen idola dan memberikan minuman atau mengucapkan terima kasih.


"Tuan, terima kasih telah membantu."


"Saudara, apakah yang tadi itu Rajawalimu? untung saja dia tak marah, tadinya kupikir dia salah satu siluman jadi aku memanahnya, hehe maaf... maaf."


"Saudara, ayo kita bantu yang lain, sebelah sana sepertinya kewalahan."


Merasa tidak enak, Ye Chen akhirnya ikut membantu. "Kalian pergilah lebih dulu, aku istirahat sebentar." sahut Ye Chen dan menggunakan tehnik bayangan ketika mereka semua pergi.


Ye Chen sendiri harus terus pergi ke tempat Kirin, dialah satu-satunya yang harus menangkap atau membunuh Kirin itu sendiri.


Klon bayangan Ye Chen bergerak cepat, karena itu adalah manifestasi dari Ye Chen sendiri maka gaya bertarungnya tentu saja sama, bedanya hanya tidak menggunakan pedang hitam atau belati Iblis melainkan jari-jarinya yang berubah menjadi hitam dan sangat tajam.


Kemana saja klon ini bergerak satu siluman pasti tewas berhamburan, Ia tidak peduli terluka atau terkena cipratan darah. Asal lawannya terbunuh Ia sudah puas.


"Benar-benar Iblis. Tuan Chen... apakah aku salah?" dari jauh Paman terus mengawasi klon Ye Chen yang terus bertempur tanpa mengenal lelah meski tubuhnya sudah penuh luka. Klon ini tidak berdarah, semua darah yang ada di tubuhnya adalah darah dari para siluman yang terbunuh. Bahkan Paman juga tidak menyadarinya.


"Lindungi tuan saudara!" teriak salah satu prajurit yang melihat klon Ye Chen sudah penuh luka.


Sayangnya ini adalah klon Ye Chen, meskipun punya kesadaran sendiri tapi tidak mungkin Ia akan berhenti. Ia akan terus bertempur sampai Ye Chen yang asli menghilangkan dirinya.


"Paman, siapa anak itu? kurasa dia bukan salah satu dari prajurit kita." wakil komandan bertanya pada Paman.


"Dia keponakanku, memang bukan prajurit, dia memaksa ikut sewaktu aku hendak kesini."


"Tapi dia...