Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Hukuman Untuk Ye Chen


Tidak ada perubahan mencolok di atas bukit selain kebun tanaman herbal yang bertambah luas dan pondok yang juga bertambah luas dan bagus. Ye Chen memasuki pondok, tidak begitu megah tapi jelas lebih baik dari waktu sebelumnya.


Ketua Song yang mengatur pembangunan pondok yang juga dipakai oleh alkemis yang merawat kebun herbal.


Ye Chen hanya melihat-lihat saja, sesekali memuji ketua Song yang membangunnya. Setelah puas, Ye Chen lalu pergi ke belakang bukit, dimana dulu terdapat pintu ke dimensi batu jajar. Ia kemudian mengeluarkan dua batu hitam dan menaruhnya tepat ditempatnya dulu lalu duduk sambil memejamkan mata mencoba mengingat pelajaran yang Ia dapat dari gurunya dan dari sekte kegelapan.


Tujuan utamanya adalah membuka gerbang dimensi, Ia yakin di luar sana ada dunia lain, dunia yang mungkin berbeda dari dunianya yang sekarang. Sayangnya Ia tidak berhasil dalam usahanya, setelah beberapa kali mencoba, tetap saja gagal.


"A kiu...." dalam usahanya, Ye Chen tiba-tiba teringat nama ini, nama yang dulu sangat akrab dengannya sekaligus orang yang mungkin mengetahui rahasia dunia luar.


Ia juga masih ingat betul, dulu saat berada di dimensi batu jajar Ia melihat banyak hewan yang berada di luar dimensi dan ada salah satu dari mereka yang bisa berbicara, di tambah lagi dalam cincin hijaunya terdapat banyak inti siluman tingkat tinggi.


"A kiu, tunggu aku." gumam Ye Chen pelan lalu bangkit dan kembali ke pondok. Esoknya Ye Chen bangun pagi sekali dan membenahi kebun herbal dan ruang kultivasi yang memang hanya ada di bukit. Ye Chen menguras banyak Qi, memasang formasi waktu.


"Selesai." ucap Ye Chen setelah kembali memeriksa ulang hasil kerjanya. Dengan begini, usia tanaman herbalnya bisa lebih cepat dipanen tanpa mengurangi khasiatnya. Untuk tempat latihan dan kultivasi juga sama, kepadatan Qi di sini lima kali lebih besar dibandingkan di luar sana dan sehari berlatih sama dengan tiga hari di luar.


Ye Chen yang telah kembali ke kamarnya mulai berpikir lagi. Apa yang baru saja Ia buat bisa dibilang adalah sebuah dimensi tersendiri tapi kenapa Ia tidak bisa menemukan celah untuk membuat dimensi yang seperti gurunya atau sekte kegelapan lakukan.


"Biarlah, nanti saja kupikirkan lagi." batin Ye Chen lalu tertidur begitu saja sampai seharian.


...


"Ketua Song, tuan muda belum turun juga... acara sudah mau dimulai."


"Pergilah ke bukit, aku yakin dia masih tidur." Qin Gang lalu naik ke bukit, pikirannya juga sama, pasti Ye Chen sedang tidur dan memang benar.


"Ketua Song, apa tuan Ye selalu seperti ini?" tanya tetua Kam yang benar-benar tidak pernah menyangka.


"Tunggu saja, sebentar lagi Qin Gang akan membawanya turun." Benar saja, tak lama kemudian Qin Gang muncul bersama Ye Chen yang terlihat seperti bangun tidur.


Ini membuat tetua Kam, Chu Xiong, Cia Sun dan Song Fei menggeleng kepala. Tidak menyangka orang yang mereka kenal selama ini bisa jadi seperti ini. Satu yang mereka kagumi adalah Ye Chen sangat dicintai di desa ini.


Pesta makan-makan yang begitu meriah selesai, semua orang telah bubar. Hanya tersisa Ye Chen dan pengurus desa saja serta Chu Xiong dan rekannya.


"Tuan muda, banyak hal terjadi setelah kepergian anda, terutama kekaisaran Zhao. Kekaisaran itu telah berganti lagi menjadi kekaisaran Du."


"Benarkah?" tanya Ye Chen tidak percaya. Kalau begitu, Ia harus menunda untuk bertemu A Kiu.


"Ingat dengan panglima muda Du? nah ayahnya, perdana menteri Du kini menjadi kaisar. Tidak ada pergolakan sama sekali, seolah memang itu sudah di atur." lanjut ketua Song.


Diam, Ye Chen tak tau harus berkata apa lagi. Pikirannya saat ini buntu, orang yang Ia anggap bisa menjelaskan sesuatu malah pergi tak tau kemana.


Sambil menghela nafas, Ye Chen bertanya. "Apa tidak ada yang tau kemana kaisar sebelumnya berada?"


Semua menggeleng tidak tau. "Bahkan kaisar yang sekarang juga tidak tau kemana dia pergi." kata ketua Song lagi. Ini akan merepotkan, pikir Ye Chen setelah mendengar ucapan ketua Song.


Suara deheman ketua Song mengagetkan Ye Chen yang melamun, memikirkan rencananya yang menemui jalan buntu. Ia sempat berpikir menetap di desa, membangun desa sekaligus meningkatkan kultivasi.


Ye Chen melihat ketua Song yang berdehem. "Jangan melihatku seperti itu," kata ketua Song. "Aku dengar tuan muda menyerang penjaga di perbatasan desa." lanjutnya lagi.


"Hanya main-main saja, sekalian mengukur kekuatan penjaga. Tak ada maksud lain." jawab Ye Chen mulai merasa tidak enak.


"Apanya yang main-main? lihat saja akibatnya, penjaga banyak yang terluka." sahut Xiao Yun.


"Kawasan itu juga hancur berantakan." Qin Gang.


"eh eh Qin Gang, kau sendiri yang menyerangku dengan kasar," bela Ye Chen. "Dan kau juga nona Xiao, segala membawa pasukan panahmu."


"Itu karena tuan muda duluan yang mencari masalah." sahut Xiao Yun.


"Anda harus dihukum," kata ketua Song. "Menyerang penjaga dan melukai mereka, dan menghancurkan kawasan perbatasan desa."


"Ini tidak benar," ucap Ye Chen lalu berpaling ke bibi Xiao. "Bibi, bantu aku... katakan sesuatu kepada kakek tua itu." ucapnya memohon tapi sayang bibi Xiao mengacuhkannya sambil berkata akan ke dalam karena merasa tidak enak badan.


"Anda harus mengganti semua kerugian, cepat keluarkan uangmu untuk ganti rugi." ketua Song.


Ye Chen tidak berdaya, tidak ada yang membantunya. Sambil menggerutu Ia mengeluarkan kepingan emasnya tapi seketika Ia berhenti, sambil tersenyum berkata. "Ini tidak adil, mereka juga ikut, harusnya mereka juga dihukum kan?" menunjuk Chu Xiong dan lainnya.


"Mereka tamu." hanya ini yang ketua Song katakan untuk menghilangkan senyuman Ye Chen.


"Uangku...." gumam Ye Chen ketika melihat ketua Song memasukkan semua kepingan emas ke dalam cincinnya. "Aku akan ke bukit." ucap Ye Chen sambil berjalan tanpa semangat.


Tetua Kam, Chu Xiong dan Song Fei yang melihat ini seolah tidak percaya, mana ada seorang pemimpin dihukum anak buahnya. Tak akan ada lagi pemimpin yang seperti Ye Chen.


"Ketua Song, apa tuan Ye tidak apa-apa?" tanya tetua Kam yang penasaran sekaligus merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, biarkan saja. Dulu tuan muda tiba-tiba saja pergi sampai membuat kami semua khawatir, kedatangannya membuat desa Ye kembali ceria, anda dapat melihatnya sendiri," tetua Kam mengangguk. "Nah karena itu tuan muda harus membawa oleh-oleh pembangunan desa, kalau oleh-oleh yang Ia bagikan kemarin kan buat anak-anak saja."


"Tapi...."


"Sudah tidak apa, besok kita semua naik ke bukit. Bawa makanan yang enak-enak, tuan muda pasti baik-baik saja hehe...."


Ketua Song lalu berdiri lalu memanggil Xiao Yun. "Bilang pada ibumu, masak yang banyak untuk tuan muda, besok kita ke bukit."


"Baik...."


Xiao Yun berlalu dengan senyum di wajahnya, tak lupa Ia memanggil Sing Fei untuk menemaninya.