
Harga dirinya sebagai leluhur Iblis seperti tidak ada artinya di depan Ye Chen dan Lanlan ini.
Tidak kuat memendam kekesalan hatinya, Jing pun akhirnya membuka matanya. Tatapannya dingin dan menusuk, kalau tatapan saja bisa membunuh maka saat ini dia telah membunuh Ye Chen dan Lanlan ribuan kali.
"Kakak, lihat! matanya terbuka."
"Lanlan awas!" Yes Chen memperingati Lanlan yang berdiri tidak begitu jauh. Hal-hal kecil seperti ini kadang membuat lengah.
Lanlan pun mundur dan berdiri di belakang Ye Chen. Auranya juga meningkat tajam, seiring dengan kewaspadaannya yang terbangun.
"Kakak, aku benci matanya, aku tidak mau bagian atasnya." ucap Lanlan lagi, sama sekali tidak khawatir.
Baik Ye Chen maupun Lanlan memang tidak sedang main-main, mereka serius saat mengatakan ingin melahap Jing. Meskipun memang Jing terluka tapi esensi darahnya dipenuhi energi.
Bagi orang lain, ini memang terdengar aneh, sadis, tidak masuk akal atau apapun itu tapi tidak bagi Ye Chen dan Lanlan. Ye Chen bisa menekan Jing sampai hancur dan menjadi pil di dalam Penjara Kegelapan sementara Lanlan adalah Raja Mayat, yang tentu saja akan dengan senang hati melahap yang lainnya, bahkan dia tidak akan segan melahap Mayat Iblis yang notabene adalah anak buahnya sendiri.
Intinya Lanlan akan melahap apapun, selama itu berbentuk esensi. Ini adalah keistimewaan Raja Mayat atau ras lain seperti siluman dan Iblis.
Di sisi lain, Jing yang merasa sangat tertekan tidak kehilangan akal. Hidup ribuan tahun lalu dan mengalami berbagai macam kehidupan membuat nya dengan cepat bisa beradaptasi.
Jing tersenyum lembut lalu berkata, "Tuan, apa yang anda inginkan? kalau anda ingin berkultivasi di altar ini, aku akan memberikannya."
"Tapi aku punya syarat, biarkan aku pergi dan aku berjanji tidak akan menyulitkan anda di masa depan."
Ye Chen dan Lanlan saling melihat, rasanya tidak percaya dengan apa yang diucapkan Jing.
"Kakek tua, aku juga mau kamu membawakanku peluang lainnya, makanan, harta atau apa saja bisa membuatku senang."
Lanlan tampak sangat bersemangat, dia langsung mengutarakan semua keinginannya yang terpendam. Matanya berbinar senang saat mengajukan permintaan ini.
"Tentu, tentu saja. Apapun itu yang anda inginkan nona kecil." Jing tersenyum puas. Raja Mayat tetaplah Raja Mayat tapi, kondisinya saat ini masih berumur sepuluh tahun. Mana bisa dia mengalahkan kepintaran Jing. "Aku juga akan menceritakan semua tempat yang penuh harta masa lalu, aku jamin anda akan sangat puas."
"Benarkah? bagus, bagus, aku setuju. Kakak, lepaskan dia ya."
Lanlan yang pikirannya sudah dipenuhi dengan segala hal yang luar biasa tidak bisa menahan kegembiraan hatinya. Dia menarik-narik ujung baju Ye Chen, merengek untuk menyetujui keinginan Jing.
"Kakek tua, jangan membodohi adikku, bagaimana caranya kamu bisa mematahkan altar yang sudah aktif tanpa terluka?"
"Ya! benar! kamu kakek tua, berani sekali kamu apa kamu pikir aku mudah dibodohi dengan segala macam harta?"
Lanlan seperti ditarik dari dunia mimpi saat Ye Chen berbicara. Auranya melonjak lagi, marah karena merasa sangat mudah dibodohi.
Namun, Jing tetap tersenyum, tidak menanggapi ucapan Lanlan. "Tentu saja aku tahu caranya, hanya saja, aku tidak bisa melakukan nya sendiri, kita harus bekerja sama. Kalau tuan setuju, aku akan mengajari anda caranya."
Ye Chen menimbang sebentar sebelum dia mengiyakan ucapan Jing. Tidak lama setelah itu altar itu pun berdengung halus lalu terdengar suara seperti retakan. Altar pun berhasil berhenti memecahkan kristal pengumpul.
"Tuan, cara mengaktifkan altar tidak sulit, anda hanya harus membalikkan proses pelepasan menjadi proses pembukaan." Kata Jing lagi, demi meyakinkan Ye Chen bahwa dia menepati janjinya.
Ye Chen melakukan ajaran Jing dan altar pun kembali berfungsi seperti ketika Jing duduk di sana. Sisanya tinggal masuk ke dalamnya saja.
"Kakek tua, seperti yang aku katakan sebelumnya nya, aku juga punya syarat. Syaratku, kamu tinggal sementara di tempat tinggal Lanlan. Setelah aku yakin kamu tidak menyimpan trik lain maka kamu boleh pergi."
"Kakak, aku tidak mau!"
"Lanlan, baik-baiklah dengan kakek tua. Kamu juga tidak harus melakukan apa-apa, cukup mengawasinya saja."
Ye Chen mengabaikan protes Lanlan. "Bagaimana, apa kamu setuju kakek tua?"
Dalam pikiran Jing, tempat tinggal Lanlan pastilah ada di sekitar sini. Tidak masalah kalau hanya tinggal sementara di sana. Akan lebih mudah juga membereskan Lanlan kalau hanya sendiri.
"Um, baiklah aku setuju." Lihat saja setelah kamu masuk ke dalam altar, Qi spiritual dan seluruh esensi kehidupan mu akan mengering dan semua akan menjadi milikku hehe.
Dan begitu aku berada di tempat anak nakal ini, aku juga akan membuatnya membayar semua perkataannya.
Rencana yang Jing atur dari awal hanya berubah sedikit ketika Ye Chen mengajukan syarat dia harus tinggal di tempat Lanlan. Tadinya dia berencana menyerang Lanlan ketika Ye Chen masuk dan mengering di dalam altar.
Ada formasi khusus untuk altar dari ras Iblis ini dan hanya petinggi ras Iblis yang tahu cara menggunakannya.
Sayangnya Jing yang tidak tahu apa-apa ini terlalu memandang rendah Ye Chen, dia tidak tahu kalau tempat tinggal Lanlan adalah Penjara Kegelapan, Penjara yang bisa mengunci tubuh fisik jiwa.
Ye Chen juga tidak khawatir Jing bisa lolos, karena saat ini Jing saat ini masih belum pulih sepenuhnya.
"Jangan melawan." kata Ye Chen lalu mengunci Jing dengan indra spiritual nya dan mengirimnya ke tempat tinggal Lanlan.
Lanlan juga ikut masuk ke dalam.
"Ap-apa ini... tempat apa ini? kenapa gelap sekali? anak muda! gadis kecil dimana kalian?"
Jing berseru kaget, tempat dia dikirim terlalu gelap dan ada aura kematian yang dia sendiri tidak menjelaskan dari mana. Sempat terpikir olehnya ini normal karena ini adalah tempat tinggal Raja Mayat tapi selalu terasa asa yang salah.
"Kakek tua, aku di sini."
Suara Ye Chen terdengar, seiring suara itu bergema, ruang tempat Jing pun menjadi sangat lengket dan penderitaan Jing, sang leluhur Iblis pun dimulai.
"Sialan! kurang ajar! kami menipuku, ini bukan tempat tinggal anak nakal itu. Ah! cepat keluarkan aku!"
Sumpah serapah menyembur dari mulut Jing, dia baru sadar kalau dia telah ditipu sejak awal.
"Kakak, rencanamu sangat bagus hehe. Kakek tua ini memang bodoh." Lanlan tertawa, dia sangat menikmati penderitaan Jing.
"Kakak, kakak, tambah lagi apinya lebih besar. Ya, begitu, bagus bagus haha." Bahkan Lanlan melompat-lompat kecil dengan riang.
"Heh kakek tua, aku akui rencanamu memang sangat bagus tapi itu tidak berguna di depanku. Apa kamu tidak curiga ketika aku bisa membuka batasan yang kamu buat ketika memasuki ruang altar?"
"Ja-jadi, jadi kamu tau formasi itu?" Jing memang memasang formasi khusus saat di dalam ruang altar, ini untuk mencegah ada yang mengganggunya. Namun dia terlalu kaget saat Ye Chen muncul sehingga tidak memperhatikan hal ini.
"Tentu saja, dan aku juga tahu kamu menyimpan formasi khusus di dalam altar. Jangan khawatir, aku cukup akrab dengan altar itu," Ye Chen tidak berbicara lagi, dia hanya berkata pada Lanlan untuk menjaganya saja.
"Kakak, aku boleh memakannya?"
"Tidak boleh! dia tidak boleh mati dulu."
"Kakak, sedikit saja. Aku hanya penasaran dengan rasanya saja." Lanlan tidak menyerah dan terus merengek. Dia tahu Ye Chen menyayanginya.
"Ya sudah tapi jangan banyak-banyak, panggil yang lain. kalian hanya boleh memakan setengahnya saja."
"Kakak memang yang terbaik hehe." Lanlan memeluk paha Ye Chen, tingginya memang hanya segitu. Lalu Ye Chen mengusap kepalanya dan berkata, "Lanlan, kalau kamu makan terlalu banyak, tubuhmu tidak akan kuat, apa kamu mengerti?"
"Hmm, mengerti!" sahut Lankan. Dia melambai, melambai kepada seratus Pasukan Mayat.
Maka dimulailah siksaan tak berujung dari Jing, retakan di tubuhnya bertambah lebar dan banyak ketika Lanlan dan pasukannya memakan sedikit demi sedikit esensi kehidupan nya.
Leluhur Iblis yang seharusnya menjadi kejam di gerogoti perlahan, siapa yang akan percaya ini bisa terjadi?
Di sisi lain, Ye Chen yang sudah akrab dengan altar kegelapan mulai berkultivasi di dalamnya. Tidak ada masalah sama sekali, altar ini hanya sedikit lebih kuno saja dari altar kegelapan.