Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kota Shinyang


Ye Chen dan Jiang Kun melanjutkan perjalanan, berkeliling kota sampai ke daerah pinggiran kota. Mencari sumber daya, senjata atau apa saja yang menarik.


"Tuan Ye, mereka masih mengikuti kita. Apa tidak sebaiknya kita menghindar saja?"


"Menghindar? kalau saja di sini tidak terlalu ramai, aku malah ingin memotong kepalanya." kata Ye Chen lalu bertanya heran melihat sikap Jiang Kun yang kadang suka menghindar bahkan bersembunyi jika ada yang tidak beres di sekitarnya.


"Tuan Ye, aku ini punya anak isteri yang menunggu, bagaimana kalau aku mati? siapa yang akan mengurusi mereka?"


"Tenang saja, kau tidak akan mati. Nah coba kau perhatikan mereka, apa menurutmu mereka membawa barang berharga?"


Jiang Kun berpikir sebentar, memang sejak di rumah makan Ia secara diam-diam mengamati dua orang mencurigakan ini. "Menurutku tidak banyak, kecuali mereka sudah merampok sebelumnya."


"Yang penting ada, bisa kau pancing mereka? cari jalan yang tidak ramai."


Jiang Kun awalnya tidak mau akhirnya menyerah juga dan memancing mereka mengikutinya.


"Hahaha kau sudah terpojok, cepat serahkan cincin penyimpananmu kalau masih mau selamat."


"Dimana temanmu yang satu lagi? sayang sekali dia mengorbankanmu sendiri."


Ditanya begini, Jiang Kun hanya diam. Kalau sudah begini, terpaksa harus melawan pikir Jiang Kun yang gelisah Ye Chen tak kunjung datang.


Jiang Kun yang kultivasinya setingkat di bawah dua orang ini tentu saja bukan lawan mereka. Beberapa bagian tubuhnya tampak sudah terluka mengeluarkan darah. Untungnya perampok ini tidak berniat membunuhnya karena masih menunggu Ye Chen datang.


Lalu kemana Ye Chen pergi? kenapa setelah sekian lama belum juga datang? atau jangan-jangan Ia kabur duluan? pertanyaan ini terus saja terngiang di kepala Jiang Kun.


Jalan menuju tempat dimana Jiang Kun berada ini melewati sebuah pasar kecil yang memang banyak terdapat di kota ini. Di sana, di depan seorang pedagang yang menggelar dagangannya tampak seorang pemuda sedang menawar sebuah artefak. Dia adalah Ye Chen, karena tertarik dengan yang ditawarkan oleh pedagang ini, Ye Chen berniat membelinya dan melupakan Jiang Kun.


"Bagaimana kau bisa tau isi artefak ini kalau kau sendiri tidak bisa membukanya?" kata Ye Chen.


"Tuan," si pedagang mendekati Ye Chen dan berbisik. "Artefak ini dari orang yang memenangkan lelang setahun yang lalu, aku yakin isinya tidak salah."


"Tetap saja kau tidak bisa membuktikannya kan?" bantah Ye Chen. "Dan aku yakin, pasti artefak ini sudah lama sekali kau simpan, karena tak ada berminat membeli barang yang tidak jelas."


Pedagang menghela nafas, "Baiklah, seratus kristal roh."


"Sepuluh kristal roh, lebih dari itu aku tidak bisa lagi." ucap Ye Chen lalu berbalik hendak pergi.


"Tuan, baiklah... artefak itu untuk anda." kata si pedagang yang memanggil Ye Chen kembali.


Tanpa menunggu lama, Ye Chen membayar harga lalu pergi. "Mungkinkah isinya seperti yang dikatakannya?" gumam Ye Chen. Ia sebetulnya hanya tertarik saja saat si pedagang mengatakan isi dalam artefak adalah sebuah peta. Sepuluh


"Eh, Jiang Kun... gawat, aku lupa. Semoga saja Ia tidak mati." seru Ye Chen lalu cepat-cepat pergi ke tempat Jiang Kun berada.


"Heh Jiang Kun! syukurlah kau tidak mati." seru Ye Chen ketika melihat Jiang Kun. "Maaf tadi aku membeli ini." lanjutnya memperlihatkan artefak yang tadi dibelinya.


"Tuan, daripada itu... cepat bereskan mereka, aku... aku tidak kuat lagi." ucap Jiang Kun lemah, Ia tak tau harus sedih atau senang melihat kedatangan Ye Chen.


"Benar juga, aku lupa hehe...." Ye Chen memberikan pil pemulih dan berbalik menghadap dua orang yang menghajar Jiang Kun.


"Itu urusan gampang, nih kalau mau ambil saja." Ye Chen melempar artefak di tangannya, pelan saja sampai perampok itu berhasil menangkapnya.


Tapi begitu artefak itu berada di tangan perampok, Ye Chen bergerak sangat cepat memotong tangannya sedangkan perampok yang satu lagi tertusuk oleh belati iblis yang Ye Chen lepaskan bersamaan dengan Ia menebas lengan temannya.


"Kurang ajaar! kubunuh kau." teriak perampok dalam kesakitan karena tidak menyangka akan di serang begitu tiba-tiba.


Ye Chen yang mendengar hanya tersenyum saja. "Tenang-tenanglah kalian disitu, lebih baik telan pil pemulih kalian kalau tidak mau mati kehabisan darah." ucap Ye Chen lalu memungut lengan perampok itu dan mengambil cincin penyimpanan Jiang Kun di jarinya.


Pengawasan mata Ye Chen tidak pernah lepas dari dua perampok ini, Ia menantikan saat dimana mereka menelan pil pemulih. Begitu mereka menelannya, dengan cepat Ia mengambil iblis dan sekali lagi menusuk bahu mereka berdua sampai tembus. Yang seorang dengan belati asli dan yang seorang lagi dengan klon belati.


"Bagaimana tehnik belatiku, hebat bukan hahaha... nah makanlah lagi."


Slash...


Lima klon belati kembali menembus tubuh perampok, tepat di titik yang Ye Chen inginkan. "Aah yang ini salah." gerutu Ye Chen kesal melihat satu sasarannya tidak tepat. "Nah kita coba lagi." gumam Ye Chen sambil melangkah mundur, mengambil ancang-ancang dan...


Wuss...


Sekali lagi klon belati melesat menghunjam pas di titik sasaran. Kali ini Ye Chen tersenyum puas. Rupanya Ye Chen sedang berlatih dengan belatinya, sasaran langsung ke tubuh lawan tentu berbeda dengan hanya berlatih melalui pikiran saja.


Jiang Kun yang sudah pulih sampai tak bisa berkata-kata, Ia hanya mengangguk dengan tatapan kosong ketika Ye Chen memintanya mengambil cincin penyimpanan perampok itu. Biarpun pembunuhan di kota ini adalah hal yang biasa tapi apa yang Ye Chen lakukan ini bukanlah hal yang biasa dilakukan.


"Jiang Kun, jangan bergerak! cepatlah, masuk kesini." Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja Ye Chen berteriak. "Cepat! teteskan darahmu di sini." lanjut Ye Chen sambil menyerahkan sebuah kristal roh ungu.


"Lama." Karena tak sabar, Ye Chen meraih lengan Jiang Kun, mengirisnya dan membiarkannya mengalir di atas kristal roh ungu.


"Tuan muda, anda...." protes Jiang Kun.


"Sudah diam."


Aray tipis menyelimuti mereka berdua. Ternyata Ye Chen memasang aray ilusi sekaligus dengan aray pelindung. "Hilangkan auramu." perintah Ye Chen, suaranya benar-benar tidak bisa dibantah oleh Jiang Kun.


Di pinggiran jalan muncul bayangan beberapa orang, dari gelagatnya terlihat mereka mempunyai maksud tidak baik.


"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya seorang yang merupakan pimpinan mereka.


"Betul tetua, tidak salah lagi, aku dan beberapa teman yang lain tidak mungkin salah."


"Lalu sekarang dimana mereka?"


"Itu...." ucap bawahan ini dengan wajah tertunduk.


"Sudahlah, lain kali pastikan dulu baru melapor."


Mereka lalu pergi, tidak lama datang lagi beberapa orang yang kemudian pergi lagi. Disusul lagi oleh kelompok lain.


"Oh jadi aku sekarang menjadi target mereka? tunggu saja kalian." Ye Chen.