Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Bandit Hutan Dan Murid-murid Akademi


Diam-diam Gu Liang menyesali perkataannya tadi pada Ye Chen.


Gu Liang sebenarnya tidak bermaksud menyinggung Ye Chen, Ia hanya tidak mau melihatnya menjadi kejam di masa depan, apalagi Ia menyangka Ye Chen memiliki hubungan yang baik dengan putrinya.


"Sepertinya aku memang berlebihan." batin Gu Liang.


"Ketua, tadi saat tuan Chen memeriksaku, Ia sempat bertanya apa paviliun kita ada stok rumput api."


"Benarkah? lalu apalagi yang Ia katakan."


'Tidak ada lagi ketua hanya itu saja yang Ia tanyakan."


"Kelihatannya sangat yakin anak itu bisa membuat penawar racun itu saudara Gu." tanya Lu Ping yang sejak tadi hanya mendengar percakapan mereka.


"Saudara Lu, anda tidak tau. anak itulah yang memberikan kami semua pil sehingga kami bisa bergerak meskipun belum bisa menggunakan Qi."


"Benarkah?


"Tentu saja, itulah kenapa aku yakin Ia bisa membuat penawarnya." kata Gu Liang.


Tanpa terasa mereka semua akhirnya tiba di gedung alkemis. "Saudara Gu, demi keamanan anda, kaisar telah mengirim beberapa prajurit untuk berjaga di sini. Aku pamit kembali dulu."


"Kakek aku di sini saja menemani saudari Gu Xia."


"Aku juga...." ucap Ma Dong.


"Menurutmu kemana saudara Chen pergi? tanya Ma Dong kepada dua temannya.


"Entahlah kata Lu Jia, apa mungkin dia marah kepada kepada kakekmu." Gu Xia yang ditanya hanya diam saja, entah apa yang Ia pikirkan.


"Kau tau," kata Ma Dong "Aku akan meminta saudara Chen mengajarkan tehnik tapak yang kemaren Ia gunakan."


"Hha serius, apa mungkin Ia mau mengajarkan tehniknya?


"Kalau tidak dicoba, kita tidak akan tau. Aku rasa saudara Chen juga tidak keberatan," sahut amazing Dong. "Bagaimana menurutmu adik Gu, apa kau juga tertarik?"


"Dia sih tertarik dengan saudara Chen, bukan tehniknya." yang menjawab ini adalah Lu Jia.


"Apa sih," sahut Gu Xia malu-malu.


"Nah kan benar apa kataku," kata Lu Jia lagi sambil mencubi pinggang Gu Xia.


Aww...


Teriak Gu Xia, "kau juga saudari Gu, diam-diam kau sering meliriknya, hayo ngaku hehe."


Ditempat lain, Ye Chen yang sedang terbang bersama Rajawalinya sudah merasa lebih baik. Perasaan mengganjal yang tadi Ia rasakan seolah menguap begitu saja.


Dari atas, Ye Chen tertarik melihat pertempuran yang terjadi di bawah.


"Bukankah itu murid akademi kekaisaran?" Ye Chen pernah melihat jubah khas murid-murid akademi sewaktu datang di acara pengenalan peserta turnamen.


Ye Chen lalu turun taki jauh dari pertempuran, "Tidak salah lagi," pikir Ye Chen "Tapi dengan siapa mereka bertempur?"


Memang betul tebakan Ye Chen, murid-murid dari akademi kekaisaran memang sedang bertempur sengit.


Mereka di hadang kelompok bandit ketika hendak pulang ke ibukota. Murid-murid akademi ini memang sengaja berlatih di dalam hutan di luar ibukota.


Alasan utamanya adalah karena tempat latihan yang mereka pilih cukup jauh dari pemukiman sehingga mereka dengan bebas menggunakan tehnik jarak jauh tanpa kuatir merusak.


"Gadis itu hebat juga, wah dia juga bisa menggunakan tehnik formasi." pandangan Ye Chen tertuju pada seorang gadis cantik yang di keroyok dua orang bandit.


"Pemuda sudah sampai batasnya." Kali ini pandangan Ye Chen tertuju pada seorang pemuda yang di kepung tiga bandit.


Sepuluh orang murid akademi kekaisaran akhirnya takluk oleh bandit hutan. Perbedaan tingkat kultivasi, pengalaman bertarung dan jumlah yang dua kali lebih banyak membuat murid-murid akademi ini tidak bisa berbuat banyak.


Ye Chen hanya menunggu saja, tidak ada niatan sama sekali untuk membantu mereka.


Satu persatu murid-murid ini di geledah dengan kasar, tentu saja para bandit ini mengambil kesempatan saat menggeledah murid wanita.


"Ketua kita apakan mereka?"


"Bunuh saja, tapi yang perempuan bawa ke pondokku haha...."


"Hei berhenti di sana!" teriak seorang bandit yang melihat Ye Chen.


"Ketua ada satu lagi di sana."


"Bunuh saja!" perintah ketua bandit.


Dua orang bandit segera melesat menyerang Ye Chen, terdengar suara dentingan pedang beradu tapi hanya sekali.


"Kurang ajar kemana mereka pergi. Cepat! cari mereka."


"Tidak usah mencari, ini kubawakan anak buahmu." Ye Chen dengan tenang berjalan dan melempar empat kepala anak buah bandit.


"Keparaa**t berani kau membunuh anak buahku!" teriak ketua bandit gusar.


Ye Chen melirik sekilas ke arah murid-murid akademi, sambil menggeleng karena melihat keadaan mereka. Karena kasihan, Ye Chen melemparkan masing-masing pil pemulih kepada mereka. "Ambil dan menjauhlah."


"Senior jangan bunuh tiga orang itu." teriak gadis cantik yang Ye Chen lihat tadi.


"Ayo kita mulai." kata Ye Chen, Ia menancapkan pedang hitamnya dan melakukan gerakan peregangan otot.


"Serang dan bunuh dia." teriak ketua bandit.


"Langkah Angin Kedua...."


Tak mengenal ampun, Ye Chen membantai anak buah bandit dengan brutal. Mungkin karena suasana hatinya yang sempat tidak baik sehingga Ye Chen bergerak tanpa ampun.


Dengan cepat sepuluh anggota bandit terkapar bersimbah darah.


Tinggal sepuluh bandit lagi yang kultivasinya berada di tingkat Bumi tahap tinggi, satu tingkat lebih tinggi dari Ye Chen.


"Siapa kau, kenapa kau mencampuri urusan kami?" kata ketua bandit yang mulai tampak gentar, apalagi melihat kematian anak buahnya, seperti bertarung dengan monster.


"Heh sejak kapan aku mencampuri urusan kalian? apa kau lupa, kaulah yang pertama kali menyerangku."


"Tuan muda, kalau begitu maafkan aku. Biarkan aku pergi." bujuk ketua bandit.


"Terlambat, kalian telah berniat membunuhku maka jangan salahkan aku kalau mempunyai niat yang sama." kata Ye Chen santai sambil memanggul pedang hitamnya.


Ye Chen melesat lagi dengan niat membunuh, lima bandit tersisa berusaha melawan dengan sekuat tenaga tapi percuma saja. Tingkat Langit awal saja dapat Ye Chen bunuh dengan mudah apalagi hanya tingkat Bumi.


Satu persatu anggota bandit terkapar bersimbah darah, kini hanya tersisa dua orang saja. Ketua bandit dan wakilnya.


Berbeda dengan para bandit, murid-murid akademi merasa sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan Ye Chen. Yeah, meskipun awalnya Ye Chen memang tidak berniat membantu seperti yang mereka dengar.


"Oh tampannya...."


"Hebat...."


"Terima kasih senior yang gagah...."


Berbagai ungkapan rasa di lontarkan murid-murid akademi. terutama yang wanita, mereka tidak bisa membayangkan nasib mereka di tangan para bandit.


"Menyerahlah atau kubunuh dia." ancam ketua bandit yang berhasil menyandera satu murid akademi.


Apa Ye Chen akan menyerah? tentu saja tidak, ketua bandit ini salah besar kalau mengira demikian.


Ye Chen bahkan meningkatkan serangannya yang kini hanya mengahadapi wakil ketua bandit saja.


Tapp...


Ye Chen berhasil memegang kepala wakil bandit. "Menyerahlah, ketua tidak main-main dengan ancamannya." ucap wakil ketua bandit.


Clakk...


Tanpa ada yang menduga Ye menusuk leher wakil ketua bandit dan melemparnya ke arah ketua bandit yang masih menyandera murid akademi.


Senior tolong aku." ratap murid yang di sandera sementara Ye Chen kembali memanggul pedang du pundaknya. Hampir seluruh pakaian Ye Chen penuh noda darah, menambah seram penampilannya.


"Ap apa yang kau lakukan? cepat letakkan pedangmu kalau masih ingin dia hidup." ketua bandit kembali mengancam.


"Bunuh saja kalau mau bunuh, tapi ingat kau juga akan mati setelahnya."


Seketika ketua bandit lemas, murid yang tadi disandera langsung melepaskan diri dan menjauh begitu merasa pegangan ketua bandit padanya terlepas.


"Langkah Angin Ketiga...."


Ye Chen yang tidak mau melepas kesempatan melesat cepat dan menginjak dada ketua bandit berkali-kali sampai ketua bandit ini muntah darah barulah Ye Chen melepaskannya.


...


Terima kasih support dari temen-temen reader semua.


Akhirnya novel ini lulus kontrak juga dan sebagai ungkapan rasa terima kasih, khusus hari ini saya update lima bab.


Saya akui novel ini masih sangat jauh dari kata memuaskan, hanya berharap ke depan akan lebih baik lagi dalam menulis.


Love u all ^^