
"Batu bintang ini sudah tidak bisa dipakai lagi." ujar Ye Chen mengambil sebuah batu berwarna merah redup, lalu membuangnya.
Batu bintang adalah sumber daya yang biasa dipakai untuk memperkuat segel waktu. Saat menghancurkan segel formasi dimensi tempatnya tertahan, beberapa batu ini jatuh. Batu bintang tidak bisa dipakai dua kali.
"Uwaah segarnyaa..." Ye Chen merentangkan tangannya menghirup udara yang terasa segar baginya.
Waktu empat tahun bukanlah waktu yang singkat, meskipun hanya dua bulan lebih di dunia nyata tapi tetap saja membuat Ye Chen merasa bosan.
Karena tidak tau harus kemana, Ye Chen kemudian duduk meluruskan kakinya, kedua tangannya menopang tubuh dan menengadah ke langit. Entah apa yang Ia pikirkan.
Kwaaakk...
Suara seekor burung yang sangat akrab di telinga Ye Chen terdengar garang, tidak jauh dari tempatnya bersantai.
Takut terjadi apa-apa, Ye Chen segera berlari menuju asal suara. Sesampainya di sana, Ye melihat sekelompok pemburu mencoba menghalau Rajawali yang menyerang mereka.
"Berhenti!"
Melihat tuannya, Rajawali datang mendekat dan berdiri di samping Ye Chen sambil terus menerus berteriak ke arah para pemburu.
"Tenanglah..." bisik Ye Chen kepada Rajawali. Lalu berjalan menghampiri kelompok pemburu.
"Oh pantas dari tadi tidak terlihat," kata Ye Chen begitu melihat siluman kuda tunggangannya yang tergeletak di tanah.
"Saudara, apa kau tau kuda itu ada pemiliknya?" tanya Ye Chen sopan.
"Tidak tau dan tidak mau tau!" kata seorang pemburu.
"Semua yang ada di hutan ini adalah milik kami, tanpa terkecuali." sahut yang lain.
"Sepertinya kalian salah paham, nah kuda dan burung ini adalah milikku dan aku minta maaf kalau mengganggu kalian. Bisakah kalian melepaskan kudaku?" pinta Ye Chen masih menjaga sopannya.
"Anak muda, mungkin kuda ini adalah milikmu. kami menundukkannya dengan kekuatan dan salahkan dirimu sendiri tidak bisa menjaganya. Hahaha...."
"Kakak, jangan begitu..."
"Baiklah kalau itu maumu, jangan salahkan aku."
Ye Chen lalu menarik nafas dalam, mengumpulkan Qi dan niat Naga dan... Rooaaarr...."
Lima orang pemburu terjatuh diserang secara langsung oleh getaran raungan Naga yang Ye Chen keluarkan.
Darah dari hidung dan mulut mereka mengalir, tak kuat menahan luka dalam yang diderita.
Crass..
Ye Chen yang sudah berada di dekat para pemburu ini menebas leher salah satu pemburu yang tadi tertawa. Lalu mendekati kudanya, hatinya lega setelah tau kudanya hanya di bius. Sedikit energi panas Ye Chen alirkan untuk memunahkan efek bius pada kudanya.
Siluman kuda bertanduk dua ini adalah satu-satunya yang tersisa, semua kawanannya sudah dimakan habis oleh Rajawali.
Bulunya putih bersih dan sangat kuat, Ye Chen sangat suka menungganginya.
"Kalian beruntung tidak melukai kudaku, dan lebih beruntung lagi karena ada anak itu yang tadi membelaku. Jika tidak, kalian hanya akan menjadi santapan cacing tanah." kata Ye Chen di depan empat pemburu tersisa yang sudah pucat menahan sakit dan takut.
"Ampun tuan muda, tolong ampuni kami.. kami sungguh tidak tau." kata seorang pemburu mewakili teman-temannya.
"Bangunlah, jangan bersujud terus. Aku tak suka. Katakan siapa kalian dan dimana ini."
Ke empat pemburu ini lalu menceritakan bahwa mereka adalah pemburu dari desa Bunga, salah satu desa yang terletak di benua Barat paling ujung.
Di tengah hutan terdapat perkampungan kecil yang dibangun para pemburu sebagai tempat beristirahat selama berburu.
Perkampungan pemburu bukan hanya menjadi tempat para pemburu bermalam atau melepas lelah tapi juga tempat untuk transaksi sumber daya.
Kadangkala perkampungan ini di datangi para pedagang untuk membeli langsung sumber daya yang mereka dapatkan lalu menjualnya kembali di kota.
Kadang juga ada transaksi antar sesama pemburu atau pemburu yang menitipkan barangnya untuk dijualkan di kota oleh pemburu lain yang hendak pulang.
"Kalau begitu, pemburu di perkampungan itu bukan hanya kalian saja?" tanya Ye Chen.
"Tentu saja, tuan muda. Perkampungan ini sudah seperti rumah kedua bagi kami. Dan bukan hanya dari desa kami saja, pemburu dari desa-desa lain juga ada."
"Kalau tuan muda mau, ikutlah bersama sebagai tamu kami. dua hari lagi para pemburu lain akan kembali, mungkin ada sesuatu yang membuat tuan muda tertarik." ajak salah satu pemburu.
"Baik!" Ye Chen hanya mengangguk.
Setelah seharian berjalan melalui jalan setapak, rombongan kecil ini akhirnya sampai di pemukiman.
Pemukiman ini tidak seperti yang Ye Chen bayangkan sebelumnya. Dalam bayangannya, pemukiman ini kumuh dengan bangunan seadanya, apalagi yang tinggal di sini adalah para pemburu yang bisa dikatakan pekerja kasar, hidupnya sebagian besar dihabiskan di dalam hutan.
Rumah-rumah berjajar rapih, dan ditengah-tengah perkampungan terdapat sebuah aula yang cukup besar.
Mereka sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar lalu salah satu pemburu mengajak Ye Chen masuk. "Tuan muda kuda anda sebaiknya dimasukkan di kandang belakang."
"Perkampungan ini cukup bersih dan nyaman, tapi kenapa banyak rumah di sini, bukankah ini perkampungan desa kalian?" tanya Ye Chen heran.
Salah satu pemburu berkata, memberi penjelasan pada Ye Chen. "Perkampungan ini dibangun oleh semua pemburu di kawasan ini."
Setiap tiga bulan sekali, biasanya para pemburu dari berbagai pemukiman akan datang kesini. Entah itu sekedar menyimpan hasil buruan atau singgah sementara untuk kembali pulang.
Pemburu yang menjelaskan keadaan pemukiman ini lalu pamit untuk mengatur hasil buruan mereka.
"Tuan muda silahkan di minum." ucap pemburu termuda di antara mereka.
"Siapa namamu?" tanya Ye Chen.
"Tuan muda bisa memanggilku Song Fei." jawab si pemuda yang berusia dua puluh tahun. Pemuda inilah yang mencoba menghentikan rekannya saat menghina Ye Chen.
Ye Chen terlihat berpikir lalu berkata. "Apa kau penduduk asli desa Bunga?"
Song Fei menjawab bahwa dia adalah pengungsi dari kekaisaran di benua barat. Ia juga menjelaskan bahwa pria yang Ye Chen bunuh berasal dari tempat yang sama dengannya.
"Sebenarnya tidak ada yang menyukainya di desa termasuk aku sendiri, tapi tidak ada yang berani menentangnya karena kultivasinya paling tinggi di antara kami semua." kata Song Fei.
Pantas tidak ada wajah sedih terlihat dari mereka pikir Ye Chen.
"Apa kau mengenal Song Yi?" Ye Chen hanya menerka saja, karena Song Fei memiliki nama yang sama dengan Song Yi dan sama-sama berasal dari benua barat.
"Apa tuan muda mengenal patriark sekte Pedang Suci?" tanya Song Fei yang berusaha menutupi rasa senangnya.
"Bisa di bilang begitu."
Melihat Song Fei yang agak ragu untuk berbicara, Ye Chen kemudian berkata bahwa Song Yi sudah Ia anggap kakek dan menceritakan pertemuan pertama dengannya.
"Sepertinya tuan muda sudah tau, terserah apa yang akan tuan muda lakukan setelah mendengar ini. Aku juga tidak mungkin bisa melawan." Lalu Song Fei menceritakan kisahnya.
Song Fei adalah salah satu anggota sekte Pedang Suci yang selamat saat perang, Patriark Song Yi adalah kakeknya. Awalnya mereka pergi bersama beberapa anggota sekte yang lain tapi kemudian berpencar untuk mengalihkan konsentrasi musuh yang masih mengejar mereka.
Song Fei dan anggota sekte lain mengambil arah berlawanan sedangkan Song Yi mencoba menahan musuh untuk membiarkan mereka lari jauh.
Tapi naas bagi Song Fei dan kelompoknya, mereka bertemu dengan musuh yang lain, hanya Ia yang tersisa dari kelompoknya.
"Aku yang kehilangan jejak kakek Song lalu bersembunyi di hutan sampai bertemu dengan para pemburu dari desa Bunga. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal dan menetap du desa Bunga."
"Bukankah keadaan kini sudah aman? kenapa kau tak kembali ke tempat asalmu?" tanya Ye Chen.
"Memang aku pernah berpikir untuk kembali, tapi aku ragu. Aku tidak mempunyai apa-apa lagi untuk kembali." jawab Song Fei.
"Apa kau masih ingin bertemu dengan ketua Song?" Ye Chen memotong cerita Song Fei.
"Tentu saja, tapi kemana harus kucari? dunia ini sangat luas." ucap Song Fei sedih.
Ye Chen tersenyum dan menceritakan siapa dirinya dan keadaan Song Yi.
"Tuan muda, terima hormat hamba!" tiba-tiba saja Song Fei bersujud setelah mendengar semuanya.
"Bangun dan jangan pernah bersujud lagi," ucap Ye Chen. "Suatu hari nanti kau pasti akan bertemu ketua Song."
"Baik!" kata Song Fei mengangguk. Ia percaya cerita Ye Chen, Ia sangat tau betul apa dan bagaimana kakeknya, tidak mungkin Ye Chen berbohong.
"Sudahlah, simpan saja kegembiraanmu. Ayo antar aku, kita cari makan." ajak Ye Chen.
"Song Fei, apa yang paling dibutuhkan oleh pemburu di sini?" tanya Ye Chen saat mereka sedang menyantap hidangan sederhana di satu-satunya rumah makan si pemukiman.
"Maksud tuan muda?" Song Fei bertanya balik, bingung apa maksud dari pertanyaan Ye Chen.
"Begini, seperti kata rekanmu tadi, nah aku berencana membeli sumber daya kalau ada yang menarik minatku. Masalahnya aku tidak punya kepingan emas atau perak."
Ye Chen berkata lagi bahwa Ia berencana menjual barang yang di butuhkan para pemburu di sini.
"Bagaimana dengan pil kultivasi atau kantung penyimpanan?" tanya Ye Chen lagi.
"Umm memang pil kultivasi sangat kami butuhkan tapi kantung penyimpanan lebih kami butuhkan lagi." kata Song Fei.
Ye Chen hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengelus cincin hijaunya mendengar perkataan Song Fei.
"Lalu apakah hutan di kawasan ini ada macan belang, apa kau pernah melihatnya?"
"Ada tuan muda, bahkan kami sebelum kesini berhasil membawa lima kulitnya. Semuanya setara tingkat Bumi puncak," jawan Song Fei. "Memangnya kenapa, apa tuan muda membutuhkannya?" tanya Song Fei lagi.
Ye Chen sangat senang mendengar ini, masalah selesai pikirnya, Ia lalu meminta Song Fei mengambil kulit macan belang ini dan meminjam sebuah kamar.
Malam harinya Ye Chen memanggil Song Fei dan memberikan satu kantung penyimpanan dan lima pil kultivasi Bumi.
"Tuan muda... Ini, apakah anda yang membuatnya?" tanya Song Fei terlihat ragu.
"Tentu saja, bagaimana aku ini hebat bukan? haha..."
Song Fei yang semula sangat kagum jadi tersenyum aneh mendengar ucapan Ye Chen dan berkata agak canggung.
"I... iya tuan muda memang hebat." Hais bagaimana kakek Song menghadapi orang yang narsis begini.