Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Berlatih Kembali


"Anak ini sungguh berbakat."


"Anda benar sekali kaisar, aku sendiri tidak pernah melihat ada anak sepertinya. Bagaimana menurutmu panglima?"


Panglima Cia yang datang bersama Lu Ping dan Kaisar atas undangan Ye Chen berdecak kagum melihat pengobatan yang Ye Chen lakukan dengan bantuan temannya.


"Dengan begini, Ia sekaligus menutup aib yang bisa muncul akibat pengobatan ini. " Saudara Lu, apa anda yakin dia itu masih berumur delapan belas tahun.?" tanya panglima Cia mulai meragukan usia Ye Chen.


"Panglima, apa matamu sudah buta tidak bisa mengukur usia tulangnya."


"Sudahlah ayo kita bawa mereka kembali ke istana, biarkan Ia istirahat di sana." kata Kaisar lalu mengajak mereka semua kembali.


...


"Kak Chen, bagaimana, apa kau baik-baik saja?" Suara pertama yang Ye Chen dengar ketika siuman adalah suara Lu Jiao yang bersikeras ingin ikut menjaganya bersama yang lain.


"Aku baik," Lalu duduk dan menelan sebuah pil pemulih.


"Jadi kau sudah mengatur semuanya? termasuk mengundang Kaisar untuk menyaksikan pengobatan?" tanya Cia Sun.


"Aku tau, tenang saja. Yang jelas sekarang kalian sudah bisa membangun kekuatan jiwa lebih besar, hanya tinggal mengisinya saja."


Ye Chen memberikan masing-masing satu pil pemulih jiwa, dan berkata besok kita kembali dan mulai berlatih tehnik pedang terbang.


"Adik Jiao, kau boleh menyusul kalau sudah memulihkan staminamu."


"Tidak mau, aku tidak mau kalah dari yang lain." sahut Lu Jiao tegas.


Seminggu berlalu dengan cepat, Cia Sun dan yang lain meskipun belum sempurna betul menguasai tehnik Pedang Terbang tapi sudah mereka sudah sanggup terbang dengan cepat.


Seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru, keempat orang ini tiap hari kerjanya hanya terbang saja.


Yang perempuan sudah lupa tugasnya memasak dan yang laki-laki juga sudah lupa untuk berburu sehingga Ye Chenlah yang harus melakukan ini semua.


Suatu malam, Ye Chen senyum-senyum sendiri saat sedang memanggang daging. "Lihat saja, akan kubalas kalian." gumamnya.


"Senior, apa makan malam kita sudah siap?" tanya Ma Dong ketika mereka semua sudah berkumpul.


"Sudah tapi maaf tadi aku ketiduran, daging panggangnya sedikit gosong." jawab Ye Chen dengan muka sedih.


Ye Chen tau mengontrol pedang terbang membutuhkan kekuatan jiwa yang tidak sedikit, dengan alasan tidak memiliki pil pemulih kekuatan jiwa lagi, mereka mau tidak mau pasti melahap habis daging gosong di depannya.


"Saudara Chen, anda tidak ikut makan?" tanya Cia Sun yang sedikit heran, biasanya dialah yang paling cepat kalau soal makanan.


Ye Chen menggeleng pelan, "Makanlah, aku tidak lapar, kerjaku seharian hanya tiduran saja." Ye Chen duduk santai, sesekali Ia melirik Cia Sun dan yang lain makan dengan sedikit menggerutu sambil membuang daging yang terlalu gosong untuk dimakan.


Di dalam tenda, Ye Chen tidak berhenti tersenyum sendiri, Ia sangat puas melihat mulut temannya hitam karena menggigit daging gosong.


...


Satu bulan kembali berlalu, tidak pernah sekalipun ada yang pergi meninggalkan tempat latihan mereka.


Beberapa tehnik yang Ye ajarkan, seperti tehnik Tapak Jiwa, tehnik Pedang Terbang dan tehnik Tarian Pedang sudah mereka kuasai semua.


Ditambah tehnik mereka sendiri yang Ye Chen perbaiki, membuat kelima kultivator ini menjadi lebih hebat dari sebelumnya.


Ye Chen juga tidak sungkan memberikan pil Bumi yang Ia miliki, kelima orang bahkan sudah menerobos ke tingkat Bumi tahap Tinggi kecuali Lu Lu Jia Li yang masih di tingkat Bumi Tengah.


"Mungkin ini hari terakhir kita berada di sini, bagaimana kalau kita berburu lagi?" ajak Ye Chen. "Tapi ingat jangan sampai buruan kita mati atau setengah mati."


Ya, Ye Chen kerap mengajak mereka berburu. Ini juga salah satu metode latihan yang Ye Chen berikan, menurut Ye Chen keadaan hidup mati bisa meningkatkan potensi maksimal dari seorang kultivator.


"Kalian memang jenius," puji Ye Chen. "Aku benar-benar kagum dengan kecepatan kultivasi dan pemahaman tehnik beladiri kalian."


"Ini berkat bantuan senior."


"Betul kak Chen, kalau tidak berlatih denganmu, aku ragu bisa sampai ke tahap ini dalam waktu singkat.


"Sudah sudah, bisa besar kepalaku nanti. Istirahat dulu sana, biar aku yang membereskan sisanya."


"Hei Ma Dong, apa kau tau apa yang Ye Chen lakukan dengan kumpulan siluman hewan yang kita lawan itu?"


"Mana kutau," jawab Ma Dong acuh, rasa lelah setelah bertarung mati-matian membuatnya malas berpikir.


"Kak Cia, nanti kita tanyakan saja kalau kakak Chen telah kembali." sahut Lu Jiao. "Ayo kita kembali, istirahat di tenda tentu lebih nyaman." lanjutnya.


"Aduh, kalian pergi saja kalau mau, semua tulangku seperti mau remuk. Aku di sini saja." ucap Ma Dong yang rebah terlentang di dekat Cia Sun.


Memang setiap berburu, Ye Chen tidak membolehkan menggunakan pil apapun. Biasanya setiap orang menghadapi lebih dari satu hewan buas, baik yang tingkatnya di bawah kultivasi mereka ataupun yang tingkatnya setara.


"Wah kalian enak yah tiduran di sini." Ye Chen yang baru saja selesai mengumpulkan hewan buas. Semua hewan buas hasil berburu temannya Ia masukkan dan mengaturnya ke dalam dimensi cincinnya.


Apalagi kalau bukan untuk santapan Rajawali, yang kadang tidak Ye Chen biarkan bebas di luar.


"Kak Chen, apa kau tidak melihat kami seperti mau mati." gerutu Lu Jia Li.


"Ah baru seperti mau mati saja." ucap Ye Chen seenaknya.


"Eh eh kalau bicara yah, kak Jiao ingat, sampai di istana nanti jangan sediakan makanan untuknya."


"Aduh jangan begitu, baiklah maaf maaf." bujuk Ye Chen, makanan istana mepmang sulit ditolak.


o


"Senior sebenarnya apa yang kau lakukan dengsn semua o Chen, maksudmu semua hasil yang kami buru salamanders qp ini kau ambil dan menyimpannya untuk dirimu sendiri?" tanya Lu Jiao.


"Betul, apa ada yang salah?"


"Senioor... jadi kau memanfaatkan kami?"


"Tidak, kalian berlatih dan aku membersihkan sisa latihan kalian, itu saja." jawab Ye Chen polos tanpa dosa.


"Oh begitu...?" kata Lu Jiao mendekati Ye Chen diikuti Lu Jiao Li dan Gu Xia. "jadi kau hanya membersihkan sisanyaa...?"


Ye Chen berjalan mundur, "Eh kenapa perempuan-perempuan ini, kenapa jadi mereka jadi menakutkan begini." batin Ye Chen.


"kenapa kak Chen? apa kau sudah merasa bersalah sekarang...?" yang berbicara ini adalah Gu Xia.


Ye Chen tidak menjawab, "eh lihat itu, Ma Dong membawa sesuatu." kata Ye Chen sembari menunjuk Ma Dong yang tidak bergerak dari tadi.


Spontan saja ketiga wanita ini menengok, dan...


Wuss...


Ye Chen melompat ke udara, mengeluarkan pedang hitamnya dan terbang kembali ke istana. "Aku pergi duluan."


"Huh sepertinya kita harus memberinya pelajaran sekali-sekali." gerutu Lu Jiao yang di setujui yang lain.


Tidak lama kemudian keempat orang ini mengambil pedangnya dan terbang menyusul Ye Chen, kembali ke istana.