
Hari terakhir menjelang tertutupnya dunia dimensi kekaisaran, Ye Chen yang bosan menunggu berkeliling menggunakan pedang terbangnya. Di atas udara pikirannya melayang mengingat-ingat kembali yang sudah terjadi.
Dalam ingatannya, terselip sebuah kenangan kecil saat pertama kali Ia berurusan dengan sekte Racun Darah.
Waktu itu Ia mengobati seorang pria yang dipanggil tuan muda oleh wanita yang membawanya.
Ia tidak terlalu memperhatikan wajah pria ini, yang Ia ingat adalah pria lain yang menyelipkan pil kebajunya.
Dalam ingatannya pria ini mengandeng seorang anak kecil, entah pria atau wanita, yang jelas usianya mungkin sekitar tiga atau empat tahun di bawahnya.
Anak kecil inilah yang berbalik berlari ke arahnya, Mengambil pil dari saku bajunya dan meletakkan di mulutnya. Lalu mencium pipinya.
Pria yang menggandengnya hanya tersenyum dan pergi membawa anak kecil ini.
"Iyah aku di ciumnya, hehe... mungkin anak kecil itu sekarang sudah berusia lima belas tahun." Gumam Ye Chen.
Roaarrr....
Suara geraman di bawah membuyarkan lamunan Ye Chen. Tidak terasa Ia sudah berada di atas lembah yang curam jauh dari tempatnya semula.
Dengan hati-hati, Ia bergerak mendekati sumber suara.
Perasaan campur aduk Ye Chen rasakan begitu melihat apa yang ada di depannya.
Dengan perasaan senang dan takut, Ye Chen berjalan perlahan mendekati lembah yang tertutup kabut yang sangat tebal.
Instingnya mengatakan ada setidaknya dua benda yang memiliki energi yang sangat kuat di lembah yang membuatnya senang dan sekaligus takut karena energi sekuat ini pasti tidak akan mudah diambil.
Jika instingnya benar, benda di belakang kabut tebal ini adalah inti siluman. Asal tau saja, hewan atau siluman baru bisa memiliki inti kehidupan jika sudah setara dengan tingkat Suci.
Melawan tingkat Suci hanya akan membawa Ye Chen menemui kematian.
"Hais tentu saja aku tak mau mati muda, tapi kalau tidak sekarang, mau kapan lagi. Kesempatan tidak datang dua kali." Ye Chen dipenuhi keraguan.
"Ayah, Ibu, Guru... tolonglah berikan aku kekuatan." Ucap Ye Chen berusaha mencari dukungan batin.
Setelah diam sejenak, Ye Chen memantapkan hatinya yang masih berdebar untuk tetap melangkah masuk ke dalam kabut.
"Ini... tempat apa ini?" Ye Chen bingung, Ia berdiri di atas tanah yang aneh.
Ia berdiri di atas tanah yang gersang habis terbakar yang hawa panasnya masih bisa Ye Chen rasakan.
Di sisi kirinya malah sangat dingin dan sejauh mata memandang, hanya es putih berkilauan.
Tidak ada tempat berpijak selain panas dan dingin.
Ye Chen memasang perisai tubuh sekaligus aray formasi yang mengelilingi tubuhnya.
Tapi ini saja tidak cukup, jika hawanya terlalu panas, Ye Chen pindah ke sisi kirinya dan begitupun sebaliknya. Jika sudah terlalu dingin, Ye Chen akan kembali ke sisi kanan.
Panas, dingin, panas, dingin. Terus bergantian sampai Ye Chen tidak tau sudah berapa lam Ia di lembah ini.
Yang Ye Chen tidak sadari adalah dantian miliknya bertambah luas terisi dua energi ini.
Sampai suatu ketika Ye Chen lelah sendiri dan duduk tepat di batas dua energi ini, sebelah kanan tubuhnya berada di bagian yang panas sedangkan bagian tubuh yang sebelah kiri di bagian dingin.
Samar-samar Ye Chen merasakan dua energi ini dengan perlahan masuk ke tubuhnya, ketika sedikit berkultivasi, Ye Chen sadar dantiannya bertambah luas.
Akhirnya Ye Chen tersenyum setelah berhari-hari di dunia yang aneh ini (menurut Ye Chen Ia sudah hampir seminggu di sini). Lebih baik aku berkultivasi saja, mungkin aku bisa menerobos di sini pikirnya.
Mulailah Ia berkultivasi menyerap dua energi yang saling bertentangan.
Wuungg...
Simbol Yin Yang yang tercetak di belakang Ye Chen saat menyerap pil elemen bereaksi, berputar perlahan mengikuti aliran nafas Ye Chen.
"Hei burung bodoh apa kau masih hidup?" Terdengar sebuah suara yang terdengar jelas.
"Hehh, kau kira aku akan mati secepat itu naga bau," sahut suara lain. "Apa kau masih berani, ha? ayo kita bertarung sampai ribuan jurus."
"Jangan bodoh, aku tau kondisimu saat ini sama denganku," Kata suara pertama. Kau lihat anak itu? Ia bisa menyerap energi kita berdua tanpa kesulitan. Apa pikiranmu sama denganku.?" Lanjut suara pertama lagi.
Ye Chen membuka matanya, suara-suara ini terasa begitu dekat baginya.
Karena penasaran, Ia bangkit berdiri menajamkan pendengarannya mencari sumber suara.
"Hehh anak bodoh apa yang kau cari? kesinilah aku ingin melihatmu lebih dekat. Jalan lurus ke arah barat, kau akan menemukanku." Kata suara pertama.
Ye Chen menurut saja.
Saat tiba di tempat yang di maksud, Ye Chen menemukan seekor naga yang sangat besar, panjangnya mungkin ratusan meter. Terbaring melingkar,
Ye Chen tidak terkejut melihat naga ini, dari ratusan kitab yang Ia baca tentu saja banyak yang menceritakan kisah para naga.
Hanya saja naga ini terlihat sangat rapuh dan jika dihubungkan dengan keadaan alam ini...
Ah mungkinkah yang disebelah sana itu adalah seekor phoenix pikirnya.
'Hei bocah aku memanggilmu bukan untuk melihatmu melamun, katakan siapa kamu, dari mana asalmu dan kenapa kau bisa kesini."
Ye Chen tidak segera menjawab pertanyaan sang naga, Ia malah mencabut pedang hitamnya. Tapi tidak disangka, reaksi sang naga malah berbeda melihat pedang hitamnya.
Sang naga mengeluarkan auranya menekan Ye Chen tapi aura lain yang sangat hitam menekannya kembali, membuatnya kepalanya yang semula terangkat kembali jatuh.
"Memang betul dia." Kata sang naga dalam hati.
Tadi memang naga ini terlihat ragu sejenak tapi semua berubah ketika Ia mengeluarkan auranya. Naga ini usianya sudah sangat tua, meskipun terluka parah dan di ujung kematian, tapi jangan pernah meremehkan seekor naga.
Ye Chen ini pada dasarnya adalah orang yang baik, Ia mengeluarkan pedangnya hanya untuk berjaga-jaga. Pengalaman hidupnya mengatakan, jangan pernah percaya pada siapapun yang baru kau temui.
Merasakan aura naga tadi, Ye Chen dengan cepat melintangkan pedangnya di depan dada. Tapi Ia tidak tau kenapa naga ini menarik auranya kembali. Mungkin hanya mengujinya, tidak benar-benar hendak menyerangnya.
"Hei burung bodoh, kau akan terkejut setelah melihat anak ini," sudah kuputuskan menyerahkan ini padanya. Terserah denganmu." Lewat telepati, sang naga memberitahu rencananya pada suara yang Ia panggil burung bodoh.
Tebakan Ye Chen memang benar, suara di seberang sana berasal dari seekor burung Phoenix api yang memiliki elemen api terkuat. Sedangkan yang berada di depannya ini adalah Naga air yang mempunyai elemen air yang juga terkuat. Perubahan elemen air menjadi elemen es yang sanggup mengubah daratan menjadi es adalah bukti penguasaan elemen air tingkat tinggi tapi belum cukup tinggi menghadapi elemen api dari sang Phoenix.
"Terserah kau saja, tapi asal kau tau saja aku tidak akan mudah seperti dirimu."
"Kau masih saja seperti dulu, selalu tidak bisa percaya apapun selama kau belum melihatnya sendiri." Balas sang naga.
"Hah tentu saja, memangnya kau ini, sangat mudah percaya pada yang lain. Asalkan hatimu senang maka kau akan patuh."
Sang Naga yang tampak sudah sangat lemah berkata lagi, "Saudaraku, aku pergi dahulu, maafkan semua sikapku selama ini dan dengan bangga aku katakan bahwa aku sangat mengagumimu."
Phoenix api yang mendengar ini mau tidak mau tersentuh juga, selama hidupnya Ia tidak pernah mendengar Naga air yang angkuh memuji yang lain apalagi meminta maaf.
"Hei anak bodoh mendekatlah kesini," Kata sang Naga. "Dan simpan pedang jelekmu itu, untuk apa juga kau keluarkan pedangmu itu, apa kau pikir bisa melukaiku ha.?" Sambungnya lagi.
Ye Chen yang sejak awal diam, berjalan mendekat tapi tetap menjaga jarak aman. Dari sini aku paling tidak, yeah mungkin tidak langsung mati oleh serangannya pikirnya.
"Aku di sini saja, bicaralah tapi ingat aku sama sekali tidak perduli dengan urusanmu dengan yang di sana." Ucap Ye Chen sambil menunjuk ke arah berlawanan.
"Apa kau tau, aku masih bisa dengan mudah membunuhmu di sini.?"
"Aku tau dan tidak peduli, tapi ingat aku juga tidak akan tinggal diam saja. Dan asal kau tau, aku berencana memotongmu, kulihat kulitmu bisa menjadi bahan senjata yang kuat." Jawab Ye Chen tenang. Tanpa Ye Chen sadari, matanya yang hitam perlahan berubah bertambah hitam, aura kelam seketika muncul.
"Anak ini tidak main-main dengan kata-katanya." Batin sang naga melihat perubahan Ye Chen, Ia juga melihat perisai tubuh dan aray panas menyelimutinya. "Cepat sekali." Sang Naga takjub ketika Ye Chen menggunakan aura panas dari energi api Phoenix yang diserapnya.
Yang Ye Chen tau, naga di depannya ini memiliki elemen air, jadi Ia menggunakan elemen apinya yang digabung dengan elemen api yang diserapnya.
"Semoga baik-baik saja, orang tua aku percaya padamu," Batin sang Naga lagi. "Saudaraku Phoenix api, sampaikan salamku pada kura-kura jelek dan kucing liar itu kalau kau masih hidup." Sang Naga kembali mengirim telepatinya.
Wuuss....
Udara di sekitar tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin, lebih dingin dari sebelumnya. Ye Chen yang terlempar jauh akibat aura ini berusaha bertahan.
Samar-samar Ia melihat sosok Naga di depannya berubah menjadi butiran cahaya-cahaya kecil melayang di udara lalu berkumpul bersatu dan memadat berubah menjadi sebuah bola kristal kecil transparan.
Bola kristal ini kemudian melesat masuk ke dalam tubuh Ye Chen.
Dengan tubuh menggigil kedinginan, Ye Chen berjalan ke tempat yang memiliki aura panas. Instingnya mengatakan hanya tempat itu yang bisa membantunya, dan benar saja, begitu Ia memasuki tempat ini dan menyerap energi panasnya, dingin yang Ia rasakan sedikit berkurang.
"Naga bau itu ternyata tidak main-main," Phoenix api yang memperhatikan apa yang terjadi menghela nafas. "Saudaraku, tunggulah aku akan menyusulmu." Ucapnya lagi.
"Hei nak kemarilah, akan kubantu meringankan bebanmu itu." Kata Phoenix api yang melihat Ye Chen masih berusaha menekan aura dingin di tubuhnya.
Tanpa sadar Ye Chen mendekat ke sumber suara yang memanggilnya. Ia tidak lagi bisa berpikir untuk waspada, Ia menurut saja mendengar Ada yang akan membantunya.