Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Lokasi Akar Abadi Kedua


Wilayah Ye yang semula merupakan bekas wilayah sekte Tikus Gurun, dahulunya cukup ramai tapi semenjak Ye Chen mengambilnya dan menjadikannya wilayah sendiri, tempat ini jadi sangat sepi. Penghuninya hanya Ye Chen, Jiang kun dan puteranya serta senior He. Pengrajin Mingdi juga ikut menjadi bagian wilayah ini, terakhir adalah penatua Xiao yang mengikuti jejak pengrajin Mingdi.


Penatua Xiao beralasan ingin berkembang sendiri menjadi ahli alkimia tanpa bayang-bayang nama besar ayahnya.


Sebelum kepergiannya, patriark Xiao mengajak wilayah Ye berpartisipasi dalam acara lima tahunan. Acara perekrutan generasi muda alam atas yang diadakan oleh sekte Pedang Langit untuk mencari murid-murid berbakat.


Ye Chen awalnya tidak ingin ikut, Ia terang-terangan mengatakan tidak menginginkan orang dari wilayah Ye bergabung dengan sekte lain.


"Jangan khawatirkan masalah itu, sekte Pedang Langit juga tak akan memaksa seorang kultivator menimba ilmu di sana. Ada juga peserta yang lolos tapi tak mau bergabung." ucap patriark Xiao.


Akhirnya Ye Chen setuju, aku akan mengirim Jiang Ji kesana pikirnya.


Ye Chen mengatur wilayah Ye. Ada empat pilar utama, senior He sebagai pimpinan luar kemudian Jiang Kun menjadi pimpinan dalam. Penatua Xiao menjadi pimpinan alkemis dan pengrajin Mingdi sebagai pimpinan formasi sekaligus mengurusi transpotasi wilayah Ye.


Du aula utama, berlima tampak sedang santai membahas perkembangan wilayah Ye ke depannya. Sama seperti desa Ye, Ye Chen ingin wilayah ini menjadi tempat orang-orang yang membutuhkan perlindungan dan tempat tinggal tapi karena situasinya berbeda dengan desa Ye maka wilayah Ye dinyatakan tertutup untuk orang luar kecuali atas rekomendasi empat pimpinan dan atau situasi lain.


"Kita membutuhkan gedung-gedung baru." kata Ye Chen kemudian. "Gedung-gedung ini akan mewakili dan menjadi tempat tinggal kalian. Silahkan mengatur bagaimana bentuk bangunannya." lanjut Ye Chen.


"Bagaimana dengan gedung ini?" tanya senior He.


"Hancurkan dan bangun yang baru, harus lebih besar dan luas karena tempat ini akan menjadi aula utama." sahut Ye Chen.


Letak bangunan ini lebih tinggi, berdiri di atas satu-satunya bukit yang ada di sana. "Aku sudah memeriksanya." Ye Chen melanjutkan rencananya sambil menggambar luas wilayah aula utama yang akan dibangun nanti.


Beberapa hari kemudian, pembangunan wilayah Ye sudah dimulai. Pengrajin Mingdi yang mencari dan merekrut tenaga pembangunan, reputasinya sebagai pengrajin memang dapat diandalkan.


Aula utama yang kemudian disebut paviliun utama memanjang dari atas bukit utara sampai ke aula besar di tengah wilayah Ye. paviliun alkemis terletak di sebelah timur, paviliun pengrajin di sebelah barat, paviliun luar dan dalam di selatan. Pintu gerbang besar tertelak timur, namun letaknya jauh dari paviliun alkemis.


"Senior He, apa kau tau seberapa besar kekayaan tuan Ye? tanya pengrajin Mingdi, suatu hari di tengah pembangunan.


"Aku juga tak tau pasti, tapi mungkin tuan berhasil mengambil semua kristal roh dari dimensi kristal waktu itu."


"Masuk akal kalau begitu. Lalu apa kau tau kemana tuan Ye akhir-akhir ini pergi?"


"Entahlah, ah sudahlah, kita harus fokus pada pembangunan sebelum merekrut penghuni baru."


Hal ini memang sudah dibicarakan sebelumnya, wilayah Ye akan merekrut beberapa orang untuk membantu pekerjaan di sini. Paviliun alkemis yang sebelumnya akan dibangun di sebelah timur, dipindah ke sebelah barat. Di timur rencananya akan dibangun tempat pemukiman.


"Sepertinya di sini." gumam Ye Chen sambil terus mencocokkan peta di tangannya. Sudah berkali-kali Ye Chen pergi sejak pembangunan wilayah Ye dimulai, kali ini Ia pergi agak lama karena sudah menemukan apa yang Ia cari. Semua kristal roh sudah Ia serahkan pada Jiang Kun.


Ye Chen turun agak jauh dari titik lokasi, membawa Rajawali kembali ke dimensi cincin, Ia sendiri berjalan sambil sesekali memastikan titik lokasi yang pas sampai menemukannya terletak agak jauh dari bayangan yang terlihat dari atas.


Ternyata bayangan yang terlihat ini adalah sejumlah orang yang bertempur melawan gerombolan siluman serigala bertanduk satu. Ini adalah wilayah kekuasaan serigala bertanduk satu, tak heran jika jumlahnya seakan tak pernah habis.


Dan seperti yang diperkirakan, jumlah yang tak seimbang akhirnya membawa kemenangan bagi kawanan serigala. "Nah bagaimana cara aku masuk kesana?" Ye Chen tampak bingung, meskipun lokasi yang Ia tuju agak jauh tapi tak mungkin Ia bisa lewat tanpa ketahuan.


Lama berpikir, Ye Chen dikejutkan oleh suara pertempuran. Ternyata kawanan serigala kembali bertempur melawan beberapa orang yang baru saja tiba, kali ini jumlahnya cukup banyak.


"Kawan-kawan mari kita basmi serigala ini lalu harta itu menjadi milik kita."


Tak lama setelah seruan ini terdengar, sekelompok orang lagi datang dan langsung menyerang serigala. "Oh rupanya mereka mengincarnya juga." gumam Ye Chen lalu berpikir harus secepatnya mendahului mereka. Ia berjalan perlahan memanfaatkan kekacauan yang ada.


Dari arah lain beberapa pasang mata juga mengamati. "Paman, coba lihat," kata seorang gadis. "Bukankah itu pemuda yang pernah kita jumpai?"


"Tuan puteri, anda benar. Ken apa dia ada di sini? apakah Ia juga mengincar harta itu?"


"Paman, cepatlah ayo kita ikuti." si gadis tampak tak sabar, Ia berlari mendahului pamannya dan yang lain. Mengikuti Ye Chen dengan hati-hati.


Ye Chen bukan tak tau kalau diikuti, tapi Ia sengaja, Ia akan menggunakan orang yang mengikutinya untuk melawan serigala. Ia mempercepat langkahnya menuju titik lokasi.


"Tuan puteri, tunggu sebentar. Lihat, Ia pasti akan dihadang serigala yang bersembunyi." Baru saja ucapan ini keluar, Ye Chen telah dihadang beberapa serigala besar dan langsung menerkamnya.


Ye Chen melompat kesana kemari, menghindari serangan serigala sambil tersenyum. "Eh? si gadis dan rombongannya baru sadar, ternyata Ye Chen tidak hanya menghindar begitu saja atau bergerak secara acak tapi Ia bergerak mendekatinya.


Tak lama kemudian, Ia pun ikut dalam pertarungan melawan serigala berkat bantuan Ye Chen. "Nah selamat tinggal." ucap Ye Chen tanpa menoleh dan langsung menggunakan kecepatannya meninggalkan mereka.


Ye Chen sampai di titik lokasi harta yang sebetulnya adalah pintu masuk ke dimensi kristal roh, beberapa serigala yang menghalang dengan mudah Ia singkirkan.


Segel berlapis ditambah dengan beberapa kristal roh ungu yang masih tersisa Ye Chen pasang di depan pintu masuk, di bagian dalam Ia juga memasang segel yang sangat kuat. "Baiklah saatnya memanen kristal roh hehe." ucap Ye Chen sambil melangkah lebih jauh di dalam dimensi kristal roh.


"Tuan puteri, ayo kita tinggalkan tempat ini."


"Tapi paman...."


"Sudahlah, serigala ini tak akan pernah habis, ini adalah bukit serigala. Kita tidak akan menang." seru si paman yang mulai melangkah mundur diikuti yang lain. Akhirnya puteri ini mengalah, Ia juga melompa men jauh.