Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Bersiaplah


Sambil mengobati Song Fei, Ye Chen meracik yang Ia campur dengan bubuk obat tidur ditambah serbuk pelemah syaraf yang Ia kembangkan sendiri. Nantinya, anggota sekte yang meminum araknya tidak akan ada bedanya dengan manusia biasa.


Sementara itu di markas sekte kegelapan terjadi kegemparan. Betapa tidak, pengantin wanita patriark sekaligus persembahan untuk pangeran kegelapan hilang.


Ya, adalah calon mempelai wanita patriark sekte, sebagai tawanan tentu saja Ia juga akan dikorbankan untuk ritual sekte.


Patriark sekte yang baru saja kembali dan mengetahui peristiwa ini marah besar. "Menjaga satu wanita saja kalian tidak becus! panggil semua penjaga dalam gedung."


Dari gedung kanan dua penjaga dihadirkan sedangkan dari gedung kiri hanya satu karena yang seorang lagi sudah dibunuh Ye Chen.


"Kurang ajar! coba lihat, sampai penjagamu saja terbunuh, dan kau tidak tau?!" hardik patriark pada tetua kiri yang diam tertunduk.


"Patriark, aku mengaku salah." ucap tetua kiri.


"Aku tak butuh pengakuan!"


"Baik patriark." Setelah mengucapkan ini, tetua kiri menyeret pejaga dalam gedungnya dan membawanya ke dalam gedung utama.


"Tetua jangan... tolong ampuni aku, aku janji akan menangkap penyusup itu."


Sepanjang jalan terdengar rengekan yang menghiba dari si penjaga, namun tetua kiri tidak mengindahkannya, Ia terus saja menyeretnya.


Semua anggota sekte yang melihat ini hanya bisa diam, mereka tau nasib si penjaga selanjutnya, pasti akan dikorbankan untuk pangeran kegelapan.


"Tetua kanan," kata patriark sekte. "Hanya kau yang bisa kuandalkan, cari dan temukan penyusup itu."


"Baik patriark."


Yang tidak disadari oleh tetua kanan adalah gudang harta di gedung yang menjadi tanggung jawabnya.


Jika patriark sekte mengetahui ini, hukumannya pasti akan lebih berat.


Bisa saja Ia sendiri yang akan menemui kematian yang tragis.


Di kota Kenanga, Cia Sun yang hendak mencari bala bantuan telah tiba.


Ia menceritakan semua yang Ia tahu dari Ye Chen di depan pemimpin kota Kenanga, Lu Zengguan.


"Bukan aku tidak mau membantu, tapi kau tau sendiri desa Bunga bukan lagi termasuk wilayah kekaisaran." kata Lu Zengguan.


"Aku mengerti, yang aku kuatirkan kalau sekte itu menyerang wilayah lain kekaisaran. Desa Bunga sendiri waktu di serang saja masih menjadi wilayah kita."


"Aku tau, tapi tanpa perintah dari pusat, aku tidak bisa berbuat apa-apa. atau tunggu ayah keluar dari latihannya."


Cia Sun akhirnya mengalah, harapannya meminta bantuan dari kota Kenanga telah hilang.


Ia juga sebenarnya tidak menyalahkan pemimpin kota, semua harus sesuai aturan. Yang penting aku telah melaporkan semuanya pikirnya.


Saat berjalan-jalan di tengah keramaian kota, Cia Sun sedikit heran ketika seorang pria menghadangnya, awalnya Ia curiga tapi tapi setelah mengetahui siapa, Ia akhirnya mengajaknya mencari tempat untuk berbincang.


"Tuan Cia, maaf mengagetkan anda."


"Aku mengerti paman Chu, tapi jujur saudara Chen tidak pernah menceritakan tentang anda."


Pria yang ternyata adalah Chu Xiong ini lalu menceritakan secara singkat hubungannya dengan Ye Chen.


"Begitulah, tadinya aku berniat menyusul tuan muda ke Ibukota tapi karena kuatir keadaan nona Song di desa Bunga, aku mengurungkan niatku dan mencoba mencarinya ke sana."


"Lalu apakah paman mengetahui dimana nona Song sekarang?" tanya Cia Sun, cukup.


"Saat ke sana, desa sudah hancur, hanya jejak auranya saja yang tertinggal."


"Lalu apa rencanamu sekarang?"


"Tadinya aku akan menyusul tuan muda ke Ibukota tapi sekarang tidak lagi setelah melihatmu. Aku akan ke desa Bunga."


Chu Xiong lalu berbalik pergi, melesat dengan pedang terbangnya.


"Orang-orang di sekitar saudara Chen memang hebat." gumam Cia Sun sambil menatap kepergian Chu Xiong.


Ia kembali ke pusat kota Kenanga, tujuannya saat ini adalah paviliun Teratai yang Ia tahu berhubungan sangat baik dengan Ye Chen.


Hanya sebentar saja Cia Sun berada di paviliun Teratai. Dengan alasan berdiri netral, Gu Liang menolak ajakannya untuk bergabung jika suatu waktu dibutuhkan.


Meski begitu, Gu Liang juga tidak sepenuhnya berpangku tangan. Ia berjanji mengirim beberapa kultivator paviliun untuk membantu jika dibutuhkan namun tidak secara langsung membawa nama paviliun.


...


Duk duk duk


Suara pintu penginapan Cia Sun di gedor-gedor dari luar membangunkan Cia Sun yang sedang melakukan latihan tertutup.


Bagusnya Ia belum mengonsumsi pil pemberian Ye Chen, jika tidak usahanya pasti akan sia-sia karena ada gangguan.


"Sial siapa ini yang berani menggangguku?" kata Cia Sun kesal sambil membuka pintu, namun kekesalannya segera hilang ketika melihat siapa yang datang.


"Bagus ya, kau kesini tanpa memberi kabar dan tidak menyapaku."


"Bukan itu kak Ma, dia bahkan menghina kita dengan menginap di penginapan." sahut suara lain yang ternyata adalah seorang gadis.


Cia Sun tersenyum. "Saudara Ma, adik Lu, maaf sebelumnya tapi aku tidak mau merepotkan kalian."


"Kakak Cia, apa yang kau katakan ini? kau benar-benar tidak mengaggap kami lagi." ucap Lu Jia Li.


"Sudah, cepat bereskan barangmu, sekarang juga keluar dari sini," kata Ma Dong. "Jangan kuatir, kami sudah berbicara dengan pihak penginapan, membatalkan pesanan kamarmu dan keluar dari sini." sambung Ma Dong lagi.


Pasrah dengan tindakan teman-temannya, Cia Sun pun akhirnya mengikuti mereka, tujuannya adalah kediaman Lu Ping yang letaknya tidak jauh dari kediaman Lu Jia Li.


Ia mengerti sikap teman-temannya ini, kalau berdiri di pihak mereka, Ia tentu akan gusar juga. Seorang teman datang ke daerah temannya, jangankan berkunjung, menayapa saja tidak.


"Maaf...." hanya ini yang bisa di ucapkan Cia Sun.


"Karena kakek sedang melakukan latihan tertutup, sebaiknya kita ke kediamanku saja, kakak Ma akan menemanimu nanti." kata Lu Jia Li.


"Tapi jangan lupa, siapkan makanan enak yah hehe."


"Kau ini, seperti senior saja, sedikit-sedikit mau makan," sindir Ma Dong. "Omong-omong bagaimana kabar senior sekarang ya, apa kau pernah melihatnya


" Dia baik," jawab Cia Sun lalu menceritakan pengalamannya bersama Ye Chen juga tujuannya datang ke kota Kenanga.


Tidak terasa merekapun akhirnya tiba di kediaman Lu Jia Li. "Kakak Cia, istirahatlah dulu nanti aku akan knlembali lagi."


"Jangan repot," cegah Cia Sun. "Aku akan berlatih, semoga kali ini aku bisa menerobos lagi." sambungnya lagi.


"Kalau begitu aku juga tak akan mengganggu,"sahut Ma Dong. " Sebaiknya aku juga berlatih.


Mereka akhirnya berpisah dan berjanji akan pergi bersama ke desa Bung yang meskipun awalnya ditolak oleh Cia Sun.


Di desa Bunga.


Ye Chen yang sedang merawat Song Fei akhirnya bernafas lega setelah melihatnya pulih.


"akhirnya kau pulih juga."


"Terima kasih...." ucap Song Fei.


"Jangan berterima kasih dulu, kondisimu belum benar-benar stabil."


"Tuan muda." Chu Xiong yang telah tiba berlari cepat ke taman belakang desa.