
Di sekte Teratai, sekte He Liang sebelumnya.
"Sudah kuduga, He Liang berkhianat. Kemana mereka pergi?"
"Mereka menuju kota Shinyang."
"Bentuk tim, kita berangkat sekarang."
Ternyata sepak terjang He Liang selalu di pantau oleh sekte, apalagi tugasnya kali ini adalah membawa orang yang di anggap tidak menghormati sekte.
Seorang penyidik yang selama mengikuti He Liang kembali dan melapor. Langsung kepada wakil patriark, orang yang sama yang mengutus He Liang mencari Ye Chen dan Jiang Kun.
Di sekte Pedang Langit.
Wakil tetua luar yang sangat membenci Ye Chen juga mulai bergerak, tanpa sepengetahuan sekte Ia membawa beberapa orang, langsung menuju kota Shinyang.
...
Kota Shinyang.
Ye Chen dan rombongan telah mendarat, langsung di wilayah yang kini dikenal sebagai wilayah sekte Ye.
Entah bagaimana caranya, tidak lama setelah Ye Chen mendarat, patriark Hauw datang dan menyapa. "Tuan Ye selamat datang kembali. Saudara Jiang." sambutnya.
"Patriark Hauw, anda terlihat semakin baik. Mari kuperkenalkan pada tamuku." Lalu Ye Chen mengenalkannya pada Patriark Xiao dan anaknya serta pengrajin Mingdi.
Patriark Hauw tentu saja mengenal mereka, hanya belum pernah bertemu langsung saja. "Salam kepada senior semua, selamat datang di kota kami." sapanya sangat ramah. Orang-orang di depannya adalah tokoh di alam atas, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengannya. Berpikir sampai di sini, Ia diam-diam melirik Ye Chen, Ia kagum padanya yang berteman dengan tokoh-tokoh ini.
"Tuan Ye, apakah anda sedang menunggu seseorang?" tanyanya melihat rombongan ini belum masuk juga ke dalam wilayah.
"Tunggu senior He keluar lebih dulu." Senior He? ada orang hebat lain? pikir patriark Hauw. "Oh ya apa kau sendiri yang menamai wilayah ini? dan dari yang aku lihat, wilayah ini tidak seluas dulu."
"Oh itu... kalau anda tidak suka, silahkan dan mengenai wilayah anda, jujur saja kami tak bisa memasang tanda lebih dalam." jawab patriark Hauw dengan tidak berdaya karena berkali-kali mencoba menembus penghalang tapi tetap tidak bisa.
"Tidak masalah, tapi sebenarnya aku kurang cocok dengan nama sekte Ye, aku tak mau mendirikan sebuah sekte."
Patriark Xiao yang ikut mendengar ini bukan suara, "Bagaimana kalau wilayah Ye? aku pikir itu cukup bagus."
Yang lain menyatakan dukungannya, Ye Chen akhirnya setuju. Kemudian dari dalam perahu terbang, muncul He Liang, Ia telah menyelesaikan pelatihannya.
"Masih belum cukup, kita masuk dulu, kita lakukan latihan tambahan." ucap Ye Chen yang belum merasakan aura tingkat Suci pada diri He Liang.
Ye Chen, Jiang Kun dan puteranya serta He Liang kemudian masuk ke wilayah Ye. menuju ke kediaman yang dulu dipakai sekte Tikus gurun. Mereka melangkah biasa saja melewati array diikuti oleh patriark dan penatua Xiao, pengrajin Mingdi dan patriark Hauw.
Sayangnya mereka tertahan, tak bisa masuk meskipun sudah menggunakan segala macam cara. Pengrajin Mingdi bahkan menggunakan berbagai segel yang Ia tahu tapi hasilnya sama saja. Sementara Ye Chen sudah berjalan cukup jauh.
Patriark Xiao memandang punggung Ye Chen dan mencoba mengirim pesan tapi tertahan, "Bahkan pesan juga bisa diblokir, array yang hebat." batinnya. Kalau mau dicoba, bisa saja Ia menghancurkan array tapi Ia tak akan melakukannya.
"Jangan," cegah patriark Hauw. "Anak buahku bahkan belum pulih sampai hari ini karena mencoba menghancurkannya."
"Ini seperti array dimensi yang diperkuat dengan perisai jiwa. Siapapun yang menyerang, akan dipukul balik oleh array." pengrajin Mingdi mencoba menganalisa.
Anak ini, apalagi yang Ia sembunyikan? pikir patriark Xiao. Untuk anak seusianya, ini sangat menakutkan. Belum lagi cerita arak yang mampu meningkatkan kultivasi seperti yang penatua Xiao ceritakan, sekarang ditambah lagi dengan array yang kuat yang bahkan tak mampu dipecahkan oleh pengrajin Mingdi.
"Tuan, apa patriark Xiao dan yang lain tidak ingin masuk?" tanya Jiang Kun yang ada di samping Ye Chen.
Ye Chen berbalik, melihat mereka masih berdiri di kejauhan. Tiba-tiba Ia menyadari sesuatu, "Oh iya mereka belum kutandai, semoga saja patriark Xiao tidak menghancurkan array." seru Ye Chen.
"Aduh maaf, maaf... aku lupa." ucap Ye Chen sambil menggaruk kepalanya begitu tiba di depan patriark Xiao dan yang lain.
"Tuan Ye, formasi di luar sangat luar biasa, bagaimana anda melakukannya? apakah formasi jiwa? bisakah aku memepelajarinya? apakah... ...
Pak tua ini mulai kumat lagi gerutu Ye Chen dalam hati, kalau sudah menyangkut formasi, dia tak akan pernah diam.
Lalu Ye Chen mempunyai ide yang bisa membuatnya diam. "Kalau ingin belajar, harus tinggal di sini, sama seperti Jiang Kun dan senior He." ucap Ye Chen dengan penuh keyakinan, tak mungkin pengrajin Mingdi akan tinggal dan melupakan tempatnya selama ini.
Sayangnya tebakan Ye Chen salah, "Tentu saja, hehe memangnya untuk apa aku ikut ke sini hahaha terima kasih tuan terima kasih."
Ye Chen berhenti berjalan dan menatap tak percaya. "Bukan cuma aku, bahkan penatua Xiao juga mempunyai niat yang sama." lanjut pengrajin Mingdi.
"Hais kalian ini, sesuka kalian sajalah." ucap Ye Chen pasrah, tak mungkin juga Ia melarang mereka, yang Ia pikirkan adalah menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Senior He, kita latihan di belakang." He Liang yang sudah diberitahukan sebelumnya mengangguk mengerti. Jika Ia belum bisa menerobos maka metode selanjutnya adalah memaksanya menerobos dalam pertarungan.
"Jangan sungkan, anggap aku adalah musuh lamamu," ucap Ye Chen melepas auranya. "Aku tidak main-main, sebaiknya jaga dirimu." lanjutnya dan langsung menyerang He Liang dengan mengandalkan tehnik langkah angin kedua.
Di luar arena, patriark Xiao dan yang lain menikmati pertandingan sambil minum arak yang sebelumnya Ye Chen siapkan. Sebagai tuan rumah, tentu Ia harus menjamu tamunya.
"Ayah, ini arak yang aku maksud, cobalah." penatua Xiao menuangkan arak untuk ayahnya.
"Arak yang istimewa." gumam patriark Xiao sambil meresapi hangatnya aliran energi yang berputar di perutnya.
"Apa anda tau bahan pembuatannya?" tanya penatua Xiao tidak sabar.
"Hm...." hanya itu yang keluar dari mulutnya lalu meminum sampai tiga cawan sendiri.
"Ayah, anda minum terlalu banyak, kami bahkan belum minum secawanpun." gerutu penatua Xiao lalu menuangkan untuk dirinya sendiri. Dalam hatinya berkata tidak masalah kalau tidak bisa menganalisa tapi jangan menghabiskannya.
Seguci kecil arak habis dengan cepat, meskipun tak ada pengaruhnya lagi untuk mereka yang di tingkat Suci tapi arak ini memberikan sensasi yang lain.
Sementara itu Ye Chen terus menyerang He Liang tanpa jeda, energinya seolah tak pernah habis.
"Perhatikan baik-baik, mungkin kalian akan memetik sesuatu." patriark Xiao mengingatkan mereka, Ia sendiri merasa serangan Ye Chen sedikit aneh tapi enah apa Ia sendiri tak tau.