Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ke Alam Langit Bersama Lin Yungtao


Bukan tidak percaya atau ingin menyembunyikan sesuatu, tapi Ye Chen dalam setiap tindakannya akan selalu berhati-hati. Ia tak mau ada hal yang merugikannya di kemudian hari, jadi sebisa mungkin Ia akan selalu waspada.


Hari berkunjung panglima besar telah usai, menjelang siang Ia bersama beberapa prajurit yang menemaninya pun kembali ke istana. Sebelum pergi Ia sempat berpesan kepada Paman agar selalu berhati-hati, tidak usah ke istana lagi kalau tidak ada urusan yang penting dan selalu memperhatikan menteri Kun.


Wilayah Nannan saat ini bertambah ramai dengan kehadiran keluarga prajurit yang kini tinggal bersama di sana. Hari itu juga pembangunan rumah-rumah yang menjadi tempat tinggal setiap orang mulai dibangun, di bawah pengawasan Paman.


Untuk Ye Chen, Ia hanya membangun sebuah pondok sederhana di tepi danau yang dekat dengan aliran sungai.


Siang itu Ye Chen kembali memeriksa portal tempat datangnya Kirin dan pasukan silumannya di alam Peri. Menurut perkiraan Ye Chen, seharusnya masih ada celah dimensi di sana yang bisa Ia manfaatkan untuk pergi ke alam lain. Tujuan awalnya ke alam Peri sudah terlaksana dan bahkan lebih dari yang Ia bayangkan. Kini saatnya pergi untuk mencari jejak raja Iblis untuk membuat perhitungan karena telah menganggu orang-orang terdekatnya.


Meskipun Ye Chen tidak yakin tapi akan bertemu salah satu dari mereka tapi Ia tetap berusaha.


"Sudah ditemukan?" tanya Paman ketika Ye Chen kembali dengan wajah sedikit berbeda dari sebelumnya.


"Sudah Paman tapi aku ragu karena celah itu tidak stabil, aku khawatir malah terlempar ke tempat lain dan tak bisa menemukan jalan pulang."


Memang sangat berbahaya melintas tanpa bisa menentukan arah. "Kenapa anda tidak ke alam Langit saja?" kata Paman tiba-tiba. "Mungkin di sana ada petunjuk yang bisa kau dapatkan."


"Alam Langit?"


"Ya, alam Langit, anda bisa pergi bersama Lin Yungtao. Di sini terdapat portal dimensi yang bisa anda gunakan."


"Saudara Lin Yungtao?"


"Oh aku belum memberitahumu, dia adlah salah satu murid akademi Langit. Atau anda masuk saja ke sana, hitung-hitung untuk menambah pengetahuan."


"Tapi Paman, bagaimana kalau aku tak menemukan sesuatu di sana? dan apa aku bisa diterima?" Ye Chen memang tidak tertarik sama sekali.


"Makanya naikkan kultivasimu sampai minimal Tingkat Surgawi awal. Dan satu lagi, jangan gegabah karena di sana banyak orang kuat."


"Eh? orang kuat? apa aku membunuhnya nanti?" Ye Chen tersenyum ketika mendengar ucapan Paman, dalam benaknya sudah terpampang jelas bagaimana rasanya membunuh tingkat Dewa.


"Hais kau ini. kenapa itu saja yang ada di otakmu itu?" Paman mencoba menegur. "Nanti juga kau tau sendiri." lanjut Paman sambil tersenyum, seperti menyembunyikan sesuatu.


"Nah pergilah, urusan di sini serahkan padaku. Jangan khawatir. " Oh ya sampaikan salamku pada puteri Jia kalau nanti bertemu dengannya."


"Adik Jia...."


"Anda tidak lupa kan kalau aku pernah mengatakan tuan puteri saat ini sedang belajar di akademi?"


"Cih menggunakan adik Jia untuk menekanku, dasar orang tua aneh." tentu saja Ye Chen mengatakan ini dalam hati, Ia hanya tersenyum saja di depan Paman.


Tapi tidak ada salahnya juga, pikir Ye Chen dan memutuskan untuk mengikuti saran Paman untuk pergi ke alam Langit.


Ye Chen tersenyum lalu berkata, "Panggil saudara saja, bagiku sama saja. Kalau soal akademi, jujur saja aku tidak tertarik."


"Tapi bakat anda sangat luar biasa, anda bisa jauh lebih kuat lagi jika berlatih di akademi."


"Mungkin nanti tapi untuk sekarang tidak. Oh ya Aku dengar kau juga salah satu murid di sana, memang bisa kalau kembali masuk lagi?"


Biasanya kalau sudah keluar atau dinyatakan tamat, seorang murid akademi tidak boleh masuk. Inilah yang dipahami oleh Ye Chen.


"Hahaha saudara Chen, akademi Langit berbeda dengan akademi lain. Tidak ada murid yang tamat atau selesai, yang ada murid itu keluar sendiri. Nah karena aku belum keluar, aku mendapat token sebagai tanda murid akademi."


Lin Yungtao lalu memperlihatkan tokennya. Bentuknya biasa saja, bulat pipih seperti uang koin tapi yang menarik adalah tanda di dalamnya yang menjadi ciri dari setiap pemegang token. Jadi token itu tak mungkin bisa digunakan oleh orang lain. Ini seperti tanda darah yang Ye Chen gunakan pada kristal untuk masuk ke aray yang Ia pasang.


"Menarik juga." gumam Ye Chen.


"Nah itu pintu keluarnya, bersiaplah saudara Chen," tak lama kemudian mereka berdua telah tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. "Ini adalah kediaman ras Peri di alam Langit." kata Lin Yungtao menjelaskan tempat mereka sekarang berada.


Jadi setiap ras itu mempunyai portal khusus ke alam Langit, tidak terkecuali dengan ras Iblis, mereka juga memilikinya. Mereka datang dari dimensi lain karena alam mereka sudah tidak bisa ditinggali lagi.


Alam Langit luasnya lima puluh kali lipat dari alam atas, di huni berbagai macam ras. Kebanyakan dari mereka dulunya adalah kultivator tunggal yang menetap dan akhirnya tinggal dan hidup di sana.


"Saudara Chen, besok aku akan pergi ke akademi untuk melapor. Apa kau mau ikut?"


"Tidak usah, urus saja urusanmu, aku akan keliling di kota." sahut Ye Chen.


Ye Chen menyusuri jalanan kota, tapi sampai seharian Ia juga belum belum menemukan sesuatu yang menarik minatnya dan memutuskan untuk kembali saja ke kediaman Peri.


Namun yang terjadi ketika Ia kembali inilah yang membuatnya tertarik, tepat di halaman depan kediaman Peri lima orang berdiri, dua orang berdiri dengan sesekali melihat keluar, seperti sedang mengawasi atau menunggu sesuatu. Ketika Ye Chen mendeteksi seluruh bangunan, ternyata di dalam ada saru orang lagi yang sedang menindas seorang gadis dan seorang yang terlihat seperti penjaga.


Ternyata orang-orang ini adalah para penjahat yang suka menculik dan memaksa korban membayar sejumlah uang. Gadis dan pria tua yang terlihat seperti penjaga itu adalah ayah dan anak, mereka berdua di tangkap dan di bawa ke kediaman Peri, mungkin karena lama tidak ada orang yang berkunjung ke sana maka penjahat mengira kediaman itu sudah ditinggalkan.


Setelah yakin dengan apa yang Ia dengar, tanpa ragu Ia masuk dan langsung mematahkan sebelah kaki lima orang yang berjaga di luar lalu dengan santai masuk ke dalam.


Ye Chen memandang mereka satu persatu, "Aku tak mau mencampuri urusan kalian, hanya saja kalian salah karena masuk rumah orang tanpa permisi." kata Ye Chen.


"Kurang ajar! siapa kau!?" teriak penjahat itu. Ia bertambah gusar ketika melirik keluar dan melihat anak buahnya pingsan dengan sebelah kaki yang patah.


"Eh? sampah ini tak mau malu ternyata, masuk ke rumah orang seenaknya dan berani berteriak kepada pemilik rumah." sahut Ye Chen yang berjalan pelan ke arahnya.


Kreekk...