
Ye Chen awalnya tidak peduli tapi mendengar kawanan ini semakin mendekati wilayah lain dan kemungkinan kalau tidak dihentikan akan sampai ke wilayah Ye menjadi tertarik. "Mungkinkah ada yang menggerakkan meraka?" ucap Ye Chen dalam hati. Pikirannya seketika menghubungkan peristiwa ini dengan salah satu raja Iblis, tidak menutup kemungkinan salah satu dari mereka adalah dalangnya.
"Patriark, apa kau sudah melihat sendiri kawanan itu?" tanya Ye Chen.
"Kalau itu belum tuan, aku hanya menyelidiki saja dan membantu membuat jalur untuk orang-orang untuk pergi dari sana," kata patriark Hauw. "Tapi tetua Sam dan tetua Su bahkan sempat bertarung dengan mereka.
"Bisa panggilkan mereka? ada yang ingin kutanyakan." pinta Ye Chen.
"Patriark, kira-kira tuan Ye akan bertanya apa?" tanya tetua Sam.
"Entahlah, tapi sepertinya ini cukup serius." jawab patriark Hauw sambil mengingatkan kembali agar jangan memberi hormat yang berlebihan.
"Apa benar kalian sudah melihat kawanan itu?" tanya Ye Chen kepada kedua tetua itu.
Tetua Su yang menjawab. "Benar tuan, di sana ada hewan buas, siluman dan monster."
"Lalu kenapa kau ke sini dan tidak membasmi kawanan itu?"
"Kami sudah beberapa kali mencobanya, kami telah memasang aray pelindung yang kuat, mereka tak akan bisa menembusnya. Lalu kami aku dan yang lain ke sibu."
"Lupakan, aku ingin tau seperti apa bentuk monster itu? tanya Ye Chen lagi, penasaran karena memang selama hidupnya tak pernah melihat monster.
Tetua Su lalu menerangkan bagaimana monster itu, menurutnya monster itu adalah hewan biasa yang berevolusi. Hewan biasa ada yang menjadi siluman, misalnya siluman Rubah. Dulunya adalah hewan biasa yang berevolusi menjadi siluman dan menjadi sangat kuat. Tapi memang tidak semua hewan itu bisa berevolusi, itu tergantung dari garis darahnya.
Monster itu ada yang berupa Kadal besar, Kerbau atau yang lebih mengerikan seperti hewan yang berdiri dengan dua kaki. Intinya kekuatan monster ini jauh lebih kuat daripada siluman itu sendiri, bedanya monster ini biasanya tidak memiliki akal untuk berpikir.
"Aku tau itu," kata Ye Chen. Ternyata benar seperti yang Ia tau dari kitab-kitab yang dulu Ia baca. "Oh iya apa kau tau monster apa yang paling kuat di sana?"
"Aku tidak yakin tuan, tapi kebanyakan monster-monster itu setara dengan tingkat Surgawi bahkan ada beberapa yang berada di tingkat Dewa." balas tetua Su.
Ye Chen mengelus-elus cincin dimensinya, Ia lalu tersenyum dan berkata. "Tetua Su, apa mereka enak di makan?"
Hanya tetua Su dan tetua Sam yang kaget, yang lain meskipun tak menyangka tapi tetap biasa saja.
Baru kali ini ada yang menanyakan ini, sungguh menarik sekaligus aneh. "Maksud anda tuan? kalau masalah enak, entahlah kami juga tidak tau."
Ye Chen tidak main-main, memang dia sangat ingin mencoba rasa daging monster atau siluman tingkat tinggi. Kalau dulu mungkin Ia akan ragu ketika berhadapan dengan mereka tapi sekarang lain lagi ceritanya, Ia yakin bisa bertarung dan menangkapnya.
"Ayo berangkat." ajak Ye Chen. Patriark Hau, Jiang Kun, dan Pengrajin Mingdi sementara senior He tetap tinggal untuk mengurus sekaligus menjaga wilayah Ye.
"Kalian juga boleh ikut kalau mau." Ye Chen berkata kepada tetua Su dan tetua Sam. Tentunya sebagai penunjuk jalan.
Tapi begitu sampai di luar, banyak juga yang mau ikut dan Ye Chen juga tidak keberatan.
Perbatasan wilayah utara.
Aray pelindung yang terpasang sudah hancur, pasukan yang berjaga yang bertempur mulai kewalahan dan mencari jalan keluar. Tepat saat itulah Ye Chen dan yang lain tiba namun yang terjadi selanjutnya cukup mengejutkan, kawanan itu tiba-tiba saja berbalik arah dan berlari pergi dari sana.
"Lihat! perahu terbang, para tetua datang!" seru salah seorang penjaga dari bawah.
"Apa yang terjadi?" tanya tetua Su, di sana terlihat banyak penjaga yang tewas.
"Aray pelindung rusak dan kawanan itu menyerbu sampai ke sini. Tapi aku heran, begitu tuan tiba, kawanan itu tiba-tiba saja melarikan diri." kata ketua penjaga lagi lalu matanya menangkap sosok Ye Chen. "Tuan Su, dia siapa?" tanyanya sambil berbisik..
"Huss jaga sikapmu, itu tuan Ye dari wilayah Ye." tegur tuan Su mengingatkan kepala penjaga.
Tetua Su lalu memperkenalkan Ye Chen kepada kepala penjaga. "Apa kau tau dari mana asal siluman-siluman itu?" tanya Ye Chen, Ia masih mendeteksi arah para monster itu berlari. Ini bukan perkara sulit buatnya.
Alasan kawanan itu kabur karena Ye Chen mengintimidasi mereka dengan aura naga yang sangat kuat dari atas perahu.
"Aku sendiri tidak tau tuan, dulu tidak terlalu banyak tapi beberapa hari ini jumlah mereka semakin banyak, bahkan ada juga beberapa monster di sana."
"Ini menarik," gumam Ye Chen, memang dari tadi Ia tak melihat ada monster tapi Ia melacak ada beberapa titik dengan aura yang kuat. "Nah aku pergi dulu." lanjut Ye Chen lagi.
"Tuan, aku ikut." kata patriark Hauw. Diikuti yang lain, mana mungkin mereka membiarkan Ye Chen pergi sendiri.
"Kalian naiklah, pengrajin Mingdi tolong." Ye Chen meminta semua naik perahu terbang dan pengrajin Mingdi sebagai pengemudi sedangkan Ia sendiri memilih pergi sendiri.
"Jangan khawatirkan aku."
Kwaaaak...
"Hahaha Rajawali, lama tidak bertemu sobat."
Rupanya Ye Chen mengeluarkan Rajawali, tunggangan yang lama sekali tidak pernah keluar lagi dari dimensi cincin. "Waktunya mengisi persediaanmu." kata Ye Chen pelan, sambil mengusap-usap leher Rajawali.
"Berangkat...!"
"Di sini, tapi... apakah benar di sini? dan aura ini...
Ye Chen turun di tempat yang Ia perkirakan sebagai tempat atau pusat dari kawanan itu. Dan memang benar, di situ banyak sekali siluman berkumpul.
"Jadi itu pintu masuknya." ucap Ye Chen dalam hati. Tak ada satupun kawanan yang berani mendekati Ye Chen karena aura yang Ia keluarkan. Sementara itu yang lain sudah sejak tadi bertarung, Rajawali pun ikut berburu.
"Kalau bisa jangan membunuh, lumpuhkan saja."
"Baik tuan."
Ye Chen mengirim pesan telepati kepada patriark Hauw yang lalu disampaikan kepda yang lain.
Memang tidak gampang membuat portal dimensi, Ye Chen kembali menyadari pentingnya kunci yang Ia pegang setelah tau bahwa portal di depannya mejadi jalan masuk kawanan siluman yang entah datang dari mana. Portal dimensi itu adalah portal yang dibuat oleh Paman untuk kembali ke alam Peri. Karena tidak ditutup dengan sempurna maka portal itu sekarang menjadi celah di ruang dimensi.
"Tuan Ye, siluman ini sangat banyak."
Terdengar suara pengrajin Mingdi yang terengah-engah, kondisi yang lain juga tak lebih baik. Hanya tetua Su yang masih terlihat tenang meskipun sudah mendapat beberapa luka di tubuhnya.
"Semuanya, ke sini, kita bertarung bersama." teriak Ye Chen sambil tersenyum.