Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Ye Chen Yang Tak Tahu Apa-apa


"Kakak Chen...! eh, apa kau juga menjadi murid akademi? hihi."


Hari itu Ye Chen berjalan-jalan ke divisi informasi, Ia berencana mengambil sebuah misi kecil untuk menambah poinnya. Tak sengaja Ia bertemu Yue di sana.


"Eh kenapa kau tertawa?"


"Kau terlihat lucu berseragam begitu hehe."


"Apanya yang lucu? dan eh kenapa kau tidak pakai seragam?" Ye Chen mengira Yue ini anak yang suka melanggar aturan.


"Daripada itu, coba kakak Chen lihat sekeliling. Apa tidak merasa aneh?" ucap Yue lagi, yang terus menutup mulutnya karena geli.


"Tidak ada yang aneh." kata Ye Chen bingung, memang tidak ada yang aneh dari orang-orang yang ada di sana.


"Coba lihat lagi, lihat baik-baik," kata Yue lagi. "Oh ya mereka semua murid akademi, sama seperti kita." sambungnya.


Ye Chen sekali lagi memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, tapi tetap tidak menemukan hal aneh, "Lalu kenapa kalau mereka juha murid akademi, bukanlah wajar mereka ada di sini?" ucap Ye Chen dalam hati.


"Aduh... seragam kakak Chen, lihat lagi apakah mereka memakai seragam sepertimu?" ucap Yue tak sabar melihat Ye Chen yang masih bingung.


"Lihat, cuma kau yang memakai seragam, murid teladan dari yang teladan hahaha."


Ye Chen baru sadar, pantas saja dari tadi banyak yang melihatnya dengan tatapan aneh.


"Makanya, peraturan itu dibaca kakak Chen... kan sudah ada kitab yang dibagikan. Jangan bilang kau tidak pernah membacanya."


Kalau saja ada lubang di sana, Ye Chen pasti akan lari dan bersembunyi di sana saking malunya. Bayangkan saja, ribuan murid akademi, hanya dia seorang yang memakai seragam.


Memang ada kitab atau buku panduan di dalam kamarnya tapi jangankan membaca, memegangnya saja Ia tidak mau.


"Seragam dipakai hanya waktu-waktu tertentu saja, seperti belajar, latihan atau acara resmi yang lain. Kalau sedang santai begini, kita bebas memakai apa saja kakak Chen...." kata Yue dengan gayanya.


Seolah belum puas, Yue berkata lagi. "Kau memang cocok menjadi murid teladan, murid yang mencintai akademi sampai ke tulang."


"Cepat tunjukkan jalannya, aku mau ganti baju." kata Ye Chen dengan wajah merah. Raja Iblis itu melangkah cepat, meraih tangan Yue yang terus saja terkekeh kecil. tanpa peduli dengan pandangan orang lain.


"Nah begini kan lebih bagus."


Yue dan Ye Chen kembali ke aula informasi, tampak Ye Chen sudah berganti pakaian, "Sudahlah, cepat tunjukkan cara mengambil misi."


Yue segera mengajak Ye Chen masuk ke bagian dalam divisi informasi, begitu selesai memilih misi dan mendaftarkannya, Ye Chen kembali dibuat dibuat bingung.


"Kakak Chen... aku benar-benar tidak mengerti, kenapa sampai token murid saja belum kau ambil? aduh benar-benar... hais." Yue tampak geram. Mana ada murid yang seperti Ye Chen ini.


"Token itu sangat penting, bahkan makan saja harus menggunakan token, kau tau kakak Chen?"


"Tidak, aku tidak perlu token untuk makan. Tinggal masuk dapur saja beres." Ye Chen tidak bohong, Ia memang bebas masuk dapur dan makan atau membuat makanan apa saja yang Ia mau.


Giliran Yue yang bingun, "Eh? benarkah? kau tidak bohong kan...?"


"Tentu saja, buat apa aku berbohong."


"Tetap saja harus menggunakan token di tempat lain, sudah sana ambil token dulu." kata Yue yang sebetulnya heran kenapa Ye Chen bisa masuk dapur tanpa token. "Aduh kakak Chen, tunggu apa lagi, cepat ambil token dulu."


"Iyaa aku akan pergi."


"Ya sudah tunggu apa lagi?"


"Itu... aku tidak tau harus kemana mengambilnya." ucap Ye Chen polos sambil tersenyum lebar memperlihatkan giginya.


"Kakak Chen...." wajah Yue gelap, tak tau harus berkata apa lagi, baru kali ini Ia bertemu orang seperti Ye Chen ini. Kalau bukan kakaknya, mungkin Ia akan meneriakinya.


"Buku itu dibaca bukan dibuat pajangan. Kau ini sebenarnya mau jadi murid atau apa. Perhatikan baik-baik kalau ada guru... aduh, kakak Chen.... "


Sepanjang jalan, Yue terus menceramahi Ye Chen tanpa henti. Ye Chen hanya berkata "Iya, iya saja tanpa berusaha menarik tangannya yang dipegang Yue.


Suara mereka berdua tentu saja menarik perhatian murid lain, mulai dari Ye Chen yang menarik tangan Yue lalu kembali lagi dan masuk lagi lalu terakhir tangan Ye Chen yang digenggam erat oleh Yue dan pergi.


"Apakah mereka sudah sedekat itu?" tanpa Ye Chen sadari sepasang mata yang indah tampak berkaca-kaca melihat adegan ini. Pemilik sepasang mata yang mulai basah itu masih berdiri di tempatnya sampai bayangan Yue dan Ye Chen menghilang.


"Kakak Chen... apa kau sudah melupakanku?" katanya dengan sangat pelan. Tak lama kemudian Ia pun pergi dari sana.


Di aula tempat mengambil token, "Adik Yue, sampai kapan kau mau memegang tanganku?" kata Ye Chen, yang membuat wajah Yue memerah karena ucapan Ye Chen ini cukup keras.


Ia segera melepaskan pegangan tangannya tapi, "Eh?" Ia kaget karena pegangannya tidak lepas, ketika menoleh, Ia melihat Ye Chen senyum-senyum sendiri, ternyata dialah yang sekarang memegang tangan Yue dan tak melepasnya.


"Kakak Chen...." kata Yue pelan, memohon Ye Chen untuk melepasnya.


Wajah cantiknya yang putih memerah karena malu, Ia baru sadar apa yang Ia lakukan. Aneh rasanya memegang tangan seorang pria di depan banyak orang.


Ye Chen melepas pegangan tangannya ketika melihat mata Yue yang mulai berkaca-kaca dan mengucapkan kata maaf dengan tulus. "Setelah ini kita ke dapur, akan kubuat kan sesuatu untukmu dan akan kubuktikan kalau aku bisa masuk tanpa token. Jangan menangis lagi."


"Kau janji kakak Chen?"


"Tentu saja, kau mau kan?" Yue hanya mengangguk sambil mengusap matanya.


Tak lama kemudian, token sudah jadi dan sesuai janjinya Ye Chen mengajak Yue ke dapur dan membuatkannya makanan.


"Coba lihat, ini adalah makanan yang kubuat menggunakan resep dari pemilik rumah makan."


"Apa? jadi pemilik rumah makan itu memberimu resepnya?" tanya Yue tak percaya.


"Tentu saja."


"Aku tidak yakin, pasti kau memaksanya atau jangan-jangan kau mencurinya?"


Tukk...


Ye Chen mengetuk kening Yue, "Kau ini, tak mungkin aku berbuat begitu. Ini aku minta baik-baik. Cepat habiskan makanmu dan antar aku mengambil misi."


"Tidak bisa, divisi informasi sudah tutup, besok saja."


"Besok? tapi bukankah besok ada acara apa begitu, aku lupa." kat Ye Chen.


"Kakak Chen sebenarnya untuk apa kau mengambil misi?"


"Aku hanya ingin keluar saja sebentar." jawab Ye Chen.


"Aduh kakak Chen... kau harus membaca buku panduan itu baik-baik setelah ini. Kita boleh keluar asalkan tidak lama, batas waktunya adalah setengah hari, bayar dengan poin."


"Oh begitu, bagus kalau begitu aku keluar dulu." kata Ye Chen penuh semangat.


"Tunggu dulu, apa kau punya poin kakak Chen?"


"Poin...?" Ye Chen berdiri bingung. Benar juga, apa aku punya poin? dan dimana poin disimpan? pikirnya.


Yue menggeleng, "kemarikan tokenmu." Ye Chen memberikan tokennya. "Aku akan memberimu sedikit poinku." Yue lalu mengajari cara menggunakan token pada Ye Chen.


"Kau memang terbaik adik Yue." kata Ye Chen sambil memegang erat jemari Yue lalu pergi meninggalkan Yue dengan wajah yang sekali lagi memerah.