Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kantung Dimensi


Ye Chen melompat membabat macan belang yang masih di udara, anak panah yang di lontarkan Xiao Yun meskipun tidak bisa menembus kepalanya tapi cukup membuat hewan buas ini lengah dan membuka kesempatan bagi Ye Chen menebasnya.


Satu macan belang terbunuh, sembilan ekor lagi.


"Nona Xiao, serang matanya." Teriak Ye Chen yang menemukan kelemahan macan belang, Xiao Yun mengangguk kecil.


Mudah mengatakan tapi untuk melakukannya tidaklah gampang, butuh konsentrasi tinggi untuk mencapai sasaran yang selalu bergerak berpindah tempat dengan cepat.


"Mungkin sudah saatnya aku menggunakan tehnik itu." Gumam Xiao Yun.


Tehnik yang di maksud Xiao Yun adalah tehnik lanjutan dari tehnik panah surgawinya. Dengan tehnik ini Xiao Yun tidak perlu takut kehabisan anak panah karena Ia akan menggantinya dengan Qi


Dengan kata lain, panah yang akan Xiao Yun pakai terbuat dari Qi.


Xiao Yun mulai berkonsentrasi mengalirkan Qi dari dantian ke busurnya. Setelah di rasa cukup, Ia merentangkan tali busur dan terciptalah anak panah dari Qi yang berwarna putih.


"Masih belum..." Kata Xiao Yun dalam hati melihat anak panah Qi nya belum stabil masih sedikit bergoyang.


Syuutt...


Tidak kuat menahan tekanan dari busurnya, tanpa sengaja anak panah melesat cepat.


"Aduh...! nona Xiao.... apa kau kira bokongku ini seperti macan belang?" Teriak Ye Chen sambil meraba bokongnya yang panas terkena panah Qi Xiao Yun.


Dari jauh Xiao Yun hanya mengatupkan kedua telapak tangannya, isyarat minta maaf.


"Hais dasar gadis liar, apa sih yang sedang Ia lakukan?" Ye Chen memang sedikit kesal.


Masih menggosok-gosok bokongnya yang terasa panas, Ye Chen melirik Xiao Yun yang terlihat sedang mengatur nafas.


Kuatir Xiao Yun terluka, Ye Chen melesat ke arahnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ye Chen.


"Maaf aku hanya ingin mencoba tehnik panah Qi." Jawab Xiao Yun yang mulai tenang.


"Coba aku lihat."


Xiao Yun menerangkan teori panah Qi sambil melakukan gerakannya. Ye Chen hanya mengamati.


Panah Qi tercipta tapi masih sama seperti biasa, tidak stabil.


"Aku sendiri heran, sepertinya tidak ada yang salah tapi kenapa kali ini tidak bisa stabil, padahal waktu latihan dulu tidak seperti ini." Keluh Xiao Yun.


"Coba sini aku lihat." Ye Chen meminta busur Xiao Yun dan membuat panah Qi seperti yang Xiao Yun tunjukkan.


Syuuutt...


Panah Qi melesat dengan cepat dan kuat, mengincar mata macan belang yang siap menerkam panglima Du. Sementara panglima Du melompat menjauh setelah lolos dari maut.


"Kau terlalu tegang nona Xiao," ucap Ye Chen. "cobalah, setelah panah Qi tercipta, jangan salurkan Qi lagi, cukup salurkan ke busurmu saja."


Ye Chen yang menemukan celah pada tehnik panah Qi Xiao Yun, memberikan masukan, membetulkan gerakannya.


Hanya sekali mencoba, panah Qi yang diciptakan Xiao Yun atas petunjuk Ye Chen langsung stabil dan bisa Ia lepaskan dengan sempurna.


Meski tidak cukup untuk membuat atau bahkan menggores kulit macan belang tapi setidaknya bisa mengganggu serangan liar mereka.


"Tehnik Tarian Pedang... "


Ye Chen yang sudah sejak tadi kembali menggempur kawanan macan belang mengeluarkan tehnik yang selama ini Ia andalkan. Bersama sembilan klon dan satu pedang di tangannya, Ye Chen menyerang.


Keadaan panglima Du dan enam anggota kelompok Ye Chen sudah terlihat sangat payah, beruntung mereka hanya menghadapi satu macan belang saja karena yang lain di hadapi Ye Chen seorang diri.


Darah sudah terlihat menghiasi pakaian mereka.


Seandainya saja kawanan macan belang ini tidak dibutuhkan kulitnya oleh Ye Chen, maka paling tidak mereka tidak sepayah ini keadaannya.


"Tuan muda kami datang...!"


Bersamaan dengan lenyapnya suara ini sembilan bayangan dengan cepat menyerang kawanan macan belang. Meski sudah tau tingkatan kawanan hewan ini jauh di atas mereka, tapi itu tidak menyurutkan semangat tempur mereka.


Panglima Du yang melihat ini bernafas lega, Ia tau mereka adalah kelompok Ye Chen yang terpisah di dunia dimensi ini.


"Saudara, beristirahatlah sejenak." Kata Lu Bu yang datang membantu panglima Du. Demikian juga dengan enam rekan mereka yang terlihat payah. Saat saudara mereka datang membantu, mereka langsung mundur memulihkan diri.


Ye Chen yang kini hanya menghadapi dua macan belang sudah bisa memusatkan serangannya, berbeda dengan sebelumnya, Ia harus fokus membagi serangan dan bertahan.


"Tehnik Tapak Jiwa..."


Blaamm... Blaamm...


Ledakan susul menyusul menggetarkan tempat Ye Chen dan dua macan belang bertarung.


Ye Chen sengaja menggunakan tapaknya mengacaukan pertahanan macan belang, begitu mereka melompat barulah Ye Chen bisa mendekat dan memukul kepala dua macan belang sekaligus.


"Tiga sudah tumbang, tujuh lagi." Gumam Ye Chen.


"Tuan muda, aku sudah siap." Xiao Yun yang tadi memulihkan diri datang mendekat.


Tidak lama, panglima Du dan enam yang lain juga datang. Siap bertempur kembali walau tubuh mereka belum benar-benar pulih.


"Nona Xiao berapa anak panah yang sanggup kau keluarkan?"


"Hanya bisa empat tuan muda." Jawab Xiao Yun sedih.


"Tidak usah sedih, empat saja sudah cukup. Bagian kita tiga, tunggu aku menggiringnya masuk formasi. Kau harus berada diluar formasi, jangan masuk.


Nanti setelah aku membuka formasi, kau harus segera menembak dengan panahmu. Kesempatannya hanya satu kali."


"Baiklah, ini saatnya. Formasi Jiwa..."


Ye Chen mengurung tiga macan belang dan mengeluarkan api merahnya. Ia mengatur suhu api, tidak mau merusak kulit macan belang yang dibutuhkannya, cukup membuat mereka tidak bisa bergerak cepat seperti biasa karena panas.


Dengan begini Ye Chen lebih mudah menyerang mereka dan melemahkan mereka.


"Nona Xiao sekarang..!!" Teriak Ye Chen sambil membuka segel formasi.


Xiao Yun yang dari tadi tidak pernah melepas pandangannya segera melepaskan panah Qi beturut-turut.


Syuuutt... Craasss...


Panah Qi pertama dengan telak menghantam mata salah satu macan belang, Ye Chen bergerak cepat menebas leher macan belang ini.


Gerakan ini berulang terus sampai tiga macan belang terbunuh dengan leher terputus.


"Tuan muda, tadi itu bahaya sekali, bagaimana jika panahku mengenaimu?"


"Aku percaya padamu." Hanya satu kalimat yang Ye Chen ucapkan yang membuat semangat dan percaya diri Xiao Yun bangkit.


"Ayo sisa empat lagi." Ajak Ye Chen.


"Umm nona Xiao, ambil pil pemulih Qi ini. Dengan ini kurasa kau bisa membuat dua panah Qi lagi," kata Ye Chen tapi sambil berpikir. "aku tadi menyadari sesuatu saat melihat panahmu."


'Eh, apa ada yang salah tuan muda..?" Tanya Xiao Yun Penasaran.


"Tidak ada salah tapi aku juga penasaran, kenapa panahmu itu tidak bisa melukai macan belang itu padahal mata yang menjadi titik lemahnya kena dengan telak."


"Mungkin karena aku masih tingkat Bumi awal jadi tidak bisa melukainya yang setara tingkat Bumi puncak." Kata Xiao Yun sambil terus mengalihkan pandang matanya ke arah rekannya yang masih bertempur.


"Tidak usah kuatirkan mereka, aku sudah menandai mereka semua termasuk panglima mudamu itu. Kalau mereka terancam, aku bisa langsung menteleport mereka kedekatku"


Oh begitu, pantas saja dari tadi tuan muda begitu tenang pikir Xiao Yun. Tapi... eh, tiba-tiba saja satu kata Ye Chen masuk ke dalam pikirannya. "Panglima mudamu." Wajah putih Xiao Yun berubah merah.


"Hehehe...."


Ye Chen tertawa kecil melihat perubahan Xiao Yun.


"Nona Xiao begini, kau bertipe elemen api kan?"


"Tentu saja, aku ini kan seorang alkemis." Jawab Xiao Yun.


Ye Chen lalu menerangkan maksudnya, Ia meminta Xiao Yun menambahkan energi apinya pada anak panah yang Ia ciptakan.


"Aku rasa begini." Ye Chen kembali meminjam busur Xiao Yun dan memperagakan cara menambah unsur api di panah Qi.


Syuuutt...


Panah Qi yang di aliri energi api abadi Ye Chen melesat ke macan belang yang menjadi lawan panglima Du.


Macan belang tidak terluka, hanya membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan tapi ini sudah cukup bagi panglima Du memotong lehernya.


Dengan aba-aba Ye Chen, Xiao Yun sukses melesatkan panah Qi yang di aliri energi api miliknya. macan belang yang tersisa akhirnya terbunuh semua.


Sungguh pertempuran yang sangat melelahkan, semua lalu duduk di tanah memulihkan diri. Tidak ada seorangpun dari mereka yang keluar tanpa luka.


"Akhirnya selesai juga." Ucap Ye Chen. "Dengan begini, kantung dimensi sudah bisa dibuat." Lanjut Ye Chen lalu duduk mengikuti yang memulihkan diri.


Lu Bu dan yang lain yang baru saja datang, membawa kabar mengenai angggota sekte Racun Darah yang ada di dimensi ini.


"Tuan muda apa rencana anda.?" Tanya Lu Bu.


"Aku tidak akan kemana-kemana, kalian pergilah basmi mereka semua." Jawab Ye Chen lalu Ia menambahkan lagi untuk mengajak panglima muda Du ikut serta.


'Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata tuan muda yang menghancurkan sekte itu. Tentu saja aku ikut, tunggu akan kupanggil semua pasukan kekaisaran." Kata panglima Du yang merasa itu sudah tugasnya membasmi sekte yang sangat meresahkan ini.


"Sayang sekali penglima, penawar racunku tidak cukup untuk dibagikan kepada pasukan kalian," Ye Chen lalu memberikan sisa pil penawar racun darah. "Hanya dua puluh ini yang tersisa, terserah Bagaimana mengaturnya." lanjut Ye Chen.


"Panglima tidak usah kuatirkan kami, kami semua sudah kebal terhadap racun mereka." Sun Li yang dari tadi hanya diam ikut berkata.


Panglima Du lalu menembakkan kembang api ke udara sebagai isyarat untuk pasukan kekaisaran. Tidak butuh waktu lama, pasukan kekaisaran segera berdatangan dan pergi bersama pasukan desa Ye menumpas sisa anggota Sekte Racun Darah.


Ye Chen yang hanya seorang diri mengumpulkan bangkai macan belang, menguliti dan mengeringkannya menggunakan api abadi dan membuat kantung dimensi.


Percobaan pertama dan kedua gagal, ini karena Ye Chen tidak tau seberapa luas dimensi yang harus Ia buat di kantong ini.


Akhirnya selesailah delapan belas kantong dimensi dengan luas dua meter persegi untuk setiap.


"Oh ternyata hanya bisa membuat dua kantung saja." Gumam Ye Chen sambil memeriksa kembali dan mencoba menyimpan sesuatu di dalam kantung.