
"Kau, apa yang kau lakukan?" kata salah satu pria yang temannya telah tewas.
"Aku membunuhnya, tentu saja dan sekarang giliranmu." sahut Ye Chen santai.
"Ja... jangan mendekat, aku tidak serius tadi." ucapnya dengan ketakutan.
Ye Chen menggeleng, "Orang seperti kalian ini, kalau dibiarkan akan menambah masalah dikemudian hari." tanpa ampun Ye Chen membunuh pria ini dan meninggalkannya begitu saja.
Bukan masalah kejam atau yang lain, bagi Ye Chen orang-orang seperti ini adalah sampah yang kerjanya hanya membuat orang susah. Kalau Ye Chen tidak kuat tentulah Ia sudah jadi korban. Bayangkan kalau orang yang sudah seharian mencari nafkah lalu tiba-tiba dicegat dan dirampas seluruh hasil keringatnya, bisa dipastikan anak dan isteri yang menunggu di rumah akan kelaparan.
Ye Chen melanjutkan perjalanannya, langkah kakinya membawa Ia sampai ke sebuah kota kecil yang cukup ramai. Ye Chen yang memutuskan untuk bermalam di sini lalu mencari sebuah penginapan.
"Apa aku pergi mencari akar abadi saja?" Ye Chen berbaring di ranjang sambil berbicara seorang diri, tadinya Ia ingin membuka dimensi yang sama dengan gurunya, harapannya adalah menemukan jejak sekte kegelapan atau paling tidak bisa menemukan sedikit jejak aura gurunya.
Mungkin ini tidak penting tapi Ia mempunyai firasat sesuatu akan terjadi dan itu berhubungan dengan dirinya sendiri. "Ah biarlah, nanti kupikirkan kembali saja." lanjut Ye Chen lalu pikirannya melayang sampai ketika Ia teringat dengan pak tua dan para pekerja di tambang kristal roh. "Semoga mereka selamat." ucapnya dan tak lama kemudian terlelap dalam tidurnya.
...
Sekte Teratai
Saat ini pak tua He Liang telah tiba di sekte, Ia langsung menghadap seorang tetua, melaporkan semua temuannya.
"Apa kau mengenal siapa pemuda itu?" tanya tetua.
He Liang sempat berpikir ingin mengatakan asal Ye Chen tapi tidak jadi, tidak mau memperpanjang masalah baru. "Tidak tetua, tapi menurutku Ia sangat cocok untuk mewakili sekte kita."
"Begitukah? apakah kau berpikir generasi muda kita tidak ada yang sanggup mengalahkannya?"
"Bukan begitu tetua, ini hanya pendapatku saja, menurutku anak muda ini cukup cerdas dan jenius, mungkin bisa dijadikan pertimbangan."
"He Liang sudahlah, tingkat Langit tengah bukanlah apa-apa, kau sendiri tau, generasi muda kita bahkan sudah ada yang berada di tingkat Langit puncak."
"Tapi...
"Dan jangan lupakan generasi di atasnya yang sudah di tingkat Suci. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Lihat dirimu, sampai usiamu saat ini masih belum mampu menerobos tingkat Suci."
He Liang tertunduk lesu, benar apa yang tetua katakan. Di saat semua generasinya sudah di tingkat Suci, dia masih saja di tingkat Langit puncak, prestasi yang tidak bisa dibanggakan sama sekali.
Hanya saja dibandingkan dengan yang lain, He Liang ini termasuk orang yang dapat di andalkan di sekte, pengetahuan yang luas dan kebijaksanaannya tidak dapat disamakan dengan generasinya, murid-murid sekte juga segan padanya. Jika saja kultivasinya sudah tingkat Suci, saat ini tentulah Ia sudah menjadi salah satu tetua sekte.
Sekte Teratai masuk dalam kategori sekte menengah, kemunduran sekte ini lebih banyak disebabkan oleh tambang kristal roh yang mereka kelola sudah tidak banyak menghasilkan lagi. Itulah alasan kenapa He Liang keluar dan menyelidiki keberadaan tambang kristal roh dan bertemu Ye Chen.
Sementara itu gua tempat Jiang Kun menunggu kalau-kalau Ye Chen berhasil keluar dan membutuhkan pertolongan tampak sepi, Jiang Kun sudah meninggalkannya. Esoknya dia juga sudah tiba di penginapan tempat Ye Chen bermalam.
...
"Pelayan," ucap Ye Chen setelah selesai dengan hidangan paginya. "Dimana aku bisa mendapatkan peta?" tanyanya pada pelayan.
Bukan jawaban yang Ye Chen terima tapi pandangan aneh dari semua pelanggan yang ada. "Eh, apa ada yang salah?" gumam Ye Chen bingung melihat sikap dari semua orang yang ada.
Seorang pengunjung berdiri. "Hei untuk apa kau mencari peta?" tanyanya dengan kasar.
Ye Chen mendesah pelan, sepertinya ada yang salah pikirnya. "Ah tidak, maaf kalau pertanyaanku mengganggu, aku tidak bertanya lagi." ucapnya lalu berjalan menuju meja kasir, membayar biaya makannya sekaligus biaya menginap.
Sebagian menerima jawaban Ye Chen tapi sebagian lagi bersikeras ingin tau alasan sebenarnya dan terus saja memaksa. Ye Chen mengernyit, "Senior, bukankah aku sudah berulang kali meminta maaf, apa itu tidak cukup?"
"Tidak cukup? hahaha tentu saja tidak." hardik yang lain.
"Lalu apa maumu?" sahut Ye Chen yang mulai kesal.
"Katakan apa tujuanmu yang sebenarnya. kalau tidak...."
"Kalau tidak apa?"
Lima pria mendekati Ye Chen, tampak gusar dan marah. "Kalau tidak kau akan tinggal di sini selamanya."
Pemilik penginapan yang melihat gelagat tidak baik segera berlari melerai. "Tuan-tuan jangan di sini." ucapnya, khawatir perkelahian akan terjadi dan menghancurkan tempat usahanya namun tak diindahkan.
"Kakak, sudahlah, dia juga sudah minta maaf, aku rasa Ia hanya tidak sengaja saja." yang berbicara ini adalah salah satu dari lima pria yang mendekati Ye Chen.
"Dengarkan saudaramu senior, aku sungguh tidak tau dan tidak sengaja." lagi-lagi Ye Chen mengalah.
Melihat Ye Chen berkali-kali mengalah, pria ini malah semakin berani dan tidak mengindahkan saran temannya. Bukan hanya dia saja, bahkan hampir semua yang ada, yang tadinya sudah tidak peduli juga kembali mendesak Ye Chen.
Mungkin karena melihat keuntungan yang bisa didapat apalagi mereka melihat sikap Ye Chen seperti takut.
"Terserahlah, lakukan sesuka hati kalian." ucap Ye Chen yang mulai muak.
"Serang...
"Bunuuh...
Kata ini seperti perintah, belasan orang bergerak mencabut senjata masing-masing dan menghujani Ye Chen dengan berbagai tehnik andalan.
Ye Chen tersenyum, mengambil pedangnya dan bergerak lincah menghindari setiap serangan.
"Hei! pakai mata, pedangmu hampir saja mengenaiku." ucap seorang pria yang hampir terkena tebasan pedang pria lain. Ruangan yang sempit ditambah banyaknya meja dan kursi membuat pertempuran ini jadi kacau.
"Aaahh....
"Tidaaak, tangankuu... aaahh
"Ini, ambil tanganmu." ucap Ye Chen yang baru saja membunuh seorang lawannya dan memotong tangan seorang yang lain. Tangan yang Ye Chen kembalikan dengan telak masuk kedalam mulut pria itu sehingga membuatnya tak bisa berbicara.
"Kurang ajar...
Teriak yang lain sambil bergerak cepat hendak memotong leher Ye Chen.
Trang...
Pedang hitam beradu, Ye Chen berhasil menangkis serangan ke lehernya dan melompat menjauh sambil menghindari serangan lain di depannya.
"Langkah angin kedua...."
Ye Chen tidak peduli lagi, aura membunuh yang sangat kuat memenuhi rumah makan penginapan. Kalau sudah begini, bisa dipastikan semua yang ada akan tewas mengenaskan.