Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Menteri Su Menyerah


Dengan sigap panitia turnamen bergerak cepat memeriksa Ye Chen dan bernafas lega ketika mengetahui Ye Chen tidak tewas tapi terluka parah.


Sementara itu menteri Su di hadang oleh pemimpin akademi kekaisaran yang kultivasinya berada satu tingkat di atasnya.


"Sudah cukup menteri Su." ucapnya sambil menggempur tanpa memberikan kesempatan menteri Su untuk melawan.


Stamina dan kekuatan menteri Su tidak berkurang banyak meskipun Ye Chen menyerangnya dengan berbagai tehnik tinggi.


Perbedaan tingkatan kultivasi di antara mereka sangat jauh berbeda sehingga Ye Chen tidak akan mampu membuatnya terluka parah, hanya luka sayatan saja dan satu luka lagi yang sampai saat ini masih terasa sangat sakit.


"Senior maaf kami datang membantu." suara ini adalah Lu Ping dan panglima Cia.


Mereka ingin secepatnya meringkus menteri Su.


Untuk melemahkan semangat menteri Su, panglima Cia berkata "Kedokmu telah terbongkar menteri Su, menyerahlah."


Pemimpin akademi merasa heran dan bertanya pada panglima Cia apa yang terjadi.


Dengan singkat, panglima Cia mengatakan menteri Su adalah penghianat negara.


Mendengar ini, tentu saja pemimpin akademi marah, "Sial benar, kondisi kekaisaran baru saja pulih, kau malah menambah masalah lagi. Tidak bisa di maafkan, dosamu sudah setinggi langit."


Dengan kekuatan penuhnya, pemimpin akademi menggempur menteri Su dibantu oleh panglima Cia dan Lu Ping.


Menteri Su terdesak hebat dengan gempuran tiga orang ini tapi akhirnya menyerah dan dibawa ke istana untuk diperiksa.


Belakangan diketahui menteri Su memang melakukan gerakan pengacau keamanan. Panglima Cia bergerak cepat menumpas habis semua komplotan menteri Su


Hanya satu yang mengganjal, yaitu kondisi kaisar yang masih terbaring di tempat tidur.


Ia diracuni oleh menteri Su sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang di sekitar kaisar.


...


Seminggu setelah insiden di ujian turnamen.


Ye Chen sudah sembuh dari lukanya, begitu juga dengan Lu Jia. Mereka tampak sangat akrab duduk berdua di taman kediaman Lu Ping.


"Kakak Chen," ucap Lu Jia lirih "Sekali lagi terima kasih telah menolongku di turnamen kemarin."


Ye Chen yang berpura-pura tidak mengerti berkata "Menolong apa, aku tidak merasa pernah menolongmu."


"Sudahlah kak Chen, jangan terus menghindar. Aku tak akan bisa lupa suaramu, bahkan sejak di telaga dulu."


Ye Chen hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar pengakuan Lu Jia Li.


"Senior...!" Panggil Ma Dong yang baru saja datang, "Lihat, siapa yang datang bersamaku."


"Saudara Chen...."


"Kakak Chen...."


Hampir serempak Cia Sun dan Lu Jiao menyapa Ye Chen, kecuali Gu Xia yang memanggil kakak.


"Nona Gu." Sapa Ye Chen mengangguk dan menatap Lu Jiao dan Cia Sun. "Kalian...?


"Kak Chen bagaimana sih mereka kan peserta turnamen juga dan satu kelompok dengan kita, masa lupa?" ucap Gu Xia mengingatkan Ye Chen.


"Aku tau," sahut Ye Chen. "Maksudku bukan itu, tapi rasanya aku pernah melihat mereka tapi aku lupa lagi dimana."


"Saudara Chen, tentu masih ingat beberapa hari yang lalu saat membantu murid-murid akademi. Kamilah murid-murid itu." kata Cia Sun.


"Oh iya aku ingat sekarang, pantas saja aku merasa seperti pernah melihat kalian. Ini aku kembalikan, aku rasa ini adalah milik kalian." kata Ye Chen memberikan dua cincin yang ia ambil dari kepala bandit.


"Jangan melihatku begitu, mana kutau itu adalah milik kalian sebelumnya. Semua isinya sudah kuambil, rampasan perang hehe...." ucap Ye Chen berkilah padahal Ia sudah menduga itu milik mereka. Kalau tidak, bagaimana Ia bisa tau dan mengembalikannya pada mereka.


Hanya Lu Jiao yang mukanya memerah, betapa tidak, di dalam cincin penyimpanannya terdapat pakaian termasuk pakaian dalamnya.


Semuanya sudah di acak-acak Ye Chen waktu mencari benda berharga.


Cia Sun sendiri tidak masalah dengan ini, yang dia heran kenapa Ye Chen bisa melihat dan mengambil barang di dalamnya cincinnya.


Cincin penyimpanan hanya bisa dibuka jika pemiliknya tewas atau memang sengaja diberikan oleh si pemilik tapi Ye Chen dengan mudah menjarah isi dari cincin penyimpanannya.


"Senior, anda hebat sekali mampu menahan serangan menteri Su," kata Ma Dong yang kadang berbicara sopan pada Ye Chen. "tapi kau juga terlalu nekat menghadang serangannya."


Ye Chen menghela nafas lalu berkata. "Memang sepertinya aku terlihat nekat, tapi serangannya tidak bisa aku hindari apalagi melarikan diri begitu saja."


Memang benar apa yang dikatakan Ye Chen, Ia tak bisa melarikan begitu saja, apalagi jangkauan serangan menteri Su sangat jauh dan cepat.


"Aku sama sekali tidak berharap ada yang membantuku, jalan satu-satunya ya aku harus bertahan sambil mencari celah menyelamatkan diri." sambung Ye Chen.


"Tidak mungkin panitia turnamen akan diam saja." sahut Ma Dong lagi.


"Aku tau, tapi semua terjadi begitu cepat saat itu dan aku juga harus berpikir cepat," ucap Ye Chen. "Sudahlah, semua telah terjadi. Oh ya aku liat lukamu di tanganmu sudah sembuh, apa kau masih berniat melatih tehnik Tapak Jiwa?"


"Tentu saja aku siap. kapan kita berlatih lagi? apakah kau sudah benar-benar tidak apa-apa?"


"Eh, bukan kita tapi kau. Teorinya kan sudah kau kuasai?" ucap Ye Chen yang membuat Ma Dong yang tadinya bersemangat menjadi lesu.


Ma Dong merasa lebih baik berlatih berdua daripada sendiri saja.


Berkat latihan yang Ia lakukan dengan Ye Chen, tehnik-tehnik miliknya mengalami banyak peningkatan berkat arahan Ye Chen.


"Ehem... ehem." Cia Sun yang dari tadi hanya diam berdehem pelan mengingatkan Ma Dong secara halus tentang niatnya yang ingin ikut berlatih.


Ma Dong mengingat niatnya temannya ini lalu berkata pada Ye Chen dan dengan gampang di iyakan begitu saja.


Entah siapa yang memulai, Gu Xia, Lu Jiao dan Lu Jia Li tiba-tiba saja ingin ikut berlatih juga dan sekali lagi Ye Chen mengiyakan begitu saja.


Suasana yang akrab pelan-pelan terbentuk dari keenam anak muda yang bisa dibilang satu generasi ini.


Terutama Lu Jiao yang pernah merasa sikap Ye Chen terlalu dingin. Ia sudah melupakan pakaiannya yang berantakan di dalam cincinnya.


Tok tok...


Suara ketukan di pintu menghentikan percapakan, setelah di lihat ternyata Ia adalah orang suruhan Lu Ping yang membawa pesan untuk Ye Chen, menyuruhnya menemuinya karena ada sesuatu yang akan Ia beritahukan.


"Baiklah sampai ketemu lagi, besok kita bisa latihan bersama kalau kalian ada waktu." kata Ye Chen lalu pergi menemui Lu Ping bersama orang suruhan Lu Ping. "Paman silahkan tunjukkan jalannya."


...


"Ye Chen! hahaha tak pernah kusangka kau akan sampai juga di sini." kata Lu Ping mengagetkan Ye Chen yang heran karena tidak mengerti maksud perkataan Lu Ping.


Melihat Ye Chen yang bingung, Lu Ping mencoba mengingatkannya saat pertemuan pertama mereka dulu.


Waktu itu Lu Ping membantu mengobati Ye Chen yang dibokong orang-orang sekte Racun Darah.


"Tuan pelindung, ternyata itu anda." ucap Ye Chen lalu berterima kasih karena sudah menolongnya dulu.


"Panggil kakek Lu saja."


"Baik kakek Lu."