Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kemelut di Bagian Selatan


"Tetua...!


Muridnya memanggil-manggil tetua yang masih berdiri.


Bruuk...


Tubuhnya jatuh setelah sang murid mencoba menyadarkannya dengan menggoyang tubuhnya. "Tetua, sadarlah...!" Karena tak kunjung sadar, akhirnya murid membopong tetua kembali ke sekte Pedang Langit.


...


Di penginapan.


Ye Chen yang sudah berada dalam kamar memeriksa batu hitam. "Hm, ini seperti artefak pangeran kegelapan, tapi tidak sekuat itu." gumam Ye Chen sambil mengamatinya. Tak lama kemudian, Ia menyimpannya dan beralih ke benih Salak dan masuk ke dalam cincin dimensi untuk menanamnya.


"Semoga kau bisa tumbuh baik di sini." Ye Chen menanamnya dalam ruang dimensi yang sama dengan pohon Apel ungu. memanfaatkan hukum waktu yang sedikit Ia pahami, mencoba menyingkat waktu tumbuhnya.


Ye Chen kembali, saat ini mereka bertiga tengah bersiap, hendak berangkat menuju tempat Jiang Kun. He Liang yang mulai bimbang dengan sektenye memutuskan untuk ikut bersama mereka.


"Tuan Ye, tadi ada pesan dari penatua Xiao, di mengundang kita ke sekte Pil Dewa." kata Jiang Kun.


Ye Chen menimbang sebentar, lalu berkata, "Apa kau tau untuk apa mereka mengundang kita? hah menyusahkan saja."


"Tuan, sebenarnya aku juga merasa sedikit sungkan tapi penatua Xiao berkata ini tentang perjalanan kita."


"eh, apa kau memberitahu mereka kemana kita akan pergi?"


"Bukan begitu tuan," jawab Jiang Kun merasa tidak enak. "Keluarga Jiang di selatan cukup terkenal, dan karena aku berasal dari sana maka tentu saja penatua Xiao mengenalku, biarpun tidak secara pribadi."


"Oh ternyata kau terkenal juga? bukannya kau pernah berkata keluargamu hanya keluarga biasa dan hampir bangkrut? dan dengan alasan itu maka kau pergi mencari sumber daya?"


Jiang Kun tertunduk, "Baiklah, kita tunda dulu urusan keluargamu, sekarang sebaiknya kita menemui penatua Xiao, mungkin ada info menarik." ucap Ye Chen.


Di Sekte Pil Dewa.


Penatua Xiao dengan ramah menyambut Ye Chen, "aku pikir anda tidak akan datang. Ayo masuk, ayah juga ada di dalam."


"Patriark, anda di sini." sapa Ye Chen yang di balas dengan ramah oleh patriark Xiao. "Tuan Ye, mungkin anda bertanya-tanya kenapa aku mengundang anda. Ini berkaitan dengan tujuan anda."


Xiao Yang lalu bercerita, di daerah selatan sedang ada kemelut, entah apa sebabnya tapi akhir-akhir ini gelombang pengungsi sudah mulai nampak. "Saudara Jiang, apa selama ini anda belum mendapat kabar dari sana?"


Jiang Kun menggeleng, Ia tampak khawatir dengan keadaan ini. Sementara Ye Chen mulai berspekulasi, mungkin ini perbuatan orang-orang sekte kegelapan karena menurut Jiang Kun, di sana ada batu hitam yang menjadi portal dimensi.


"Sebaiknya tunda dulu saja, sampai ada informasi yang jelas." ucap Xiao Yang. "Paling tidak dua atau tiga hari ini, nanti anda bisa bertanya pada pengungsi dari sana."


Ye Chen awalnya tidak setuju tapi Xiao Yang menambahkan lagi dengan mengatakan ada kemungkinan keluarga Jiang Kun termasuk yang mengungsi, akhirnya setuju untuk menunggu termasuk juga Jiang sendiri.


Satu hari berlalu, atas permintaan Xiao Yang, Ye Chen bermalam di sekte Pil Dewa.


Suatu malam, Ye Chen yang duduk sendiri teringat guci arak yang tempo hari Ia buat menggunakan herbal dan akar abadi. "Coba kita lihat, mungkin sudah waktunya." gumamnya lalu keluar dari kamarnya dan membuka guci.


Aroma herbal yang kuat memenuhi ruangan, perasaan segar dan nyaman langsung menyerbu. "Uwah ini bahkan lebih nikmat dari yang dulu." ucap Ye Chen bangga dengan hasil yang Ia dapat.


Di kamar Xiao Yang, penatua Xiao dan yang lain.


Xiao Yang, "Aroma ini... sangat penuh vitalitas.


Penatua Xiao, "Apa ayah meracik herbal baru?"


Jiang Kun dan He Liang berbeda, menghirup aroma arak membuat darah mereka bergejolak, bukan hanya menenangkan pikiran tapi seperti Ia menerobos.


Sementara itu Ye Chen sudah kembali ke kamarnya, Ia menyimpan lagi guci araknya setelah puas meminumnya sendiri.


"Ayah, apa yang terjadi? aku pikir aroma itu perbuatan ayah."


Xiao Yang menggeleng, "kalau aku yang membuatnya, aku tak akan ke sini."


"Jadi dari mana asal aroma itu?"


"Entahlah, tapi siapapun yang membuatnya, pasti dia bukan alkemis biasa."


Penatua Xiao secara tak sengaja melihat gelas yang tadi Ye Chen pakai dan mengambilnya. "Ayah, lihat ini, sepertinya asalnya dari sini. Mungkinkah itu milik salah satu dari tamu kita?"


"Ramuan ini bahkan bisa membantu seorang tingkat Langit untuk menerobos." gumam Xiao Yang setelah menghirup aroma arak dari gelas yang Ye Chen pakai.


Esoknya Xiao Yang dan penatua Xiao diam-diam memperhatikan Ye Chen, menurut mereka hanya Ye Chen yang mungkin memiliki ramuan yang menggugah tadi malam.


"Heh pak tua, apa kau melihat tingkah ayah dan anak itu? mereka sepertinya terus melihatku." Ye Chen.


He Liang mengangguk, "Aku rasa juga begitu, atau mungkin ada yang ingin mereka katakan?"


"Hah lupakan saja, mungkin mereka hanya kagum dengan ketampananku haha."


He Liang dan Jiang saling pandang, tuan Ye ini percaya diri sekali pikir mereka.


...


Di sebuah penginapan di pinggir kota.


Seorang gadis dan seorang pria paruh baya tampak duduk, di depannya tergeletak sebuah artefak.


"Sial, terakhir segelnya tidak sekuat ini." gerutu pria paruh baya dengan kesal.


"Paman, coba lagi saja mungkin akan berhasil." sang gadis yang duduk di sampingnya terus saja berusaha menyemangati dan meminta pria itu untuk terus mencoba.


"Tidak bisa, sampai berapa kalipun hasilnya tetap sama. Tak ada yang bisa aku lakukan lagi." pria tua itu tertunduk lesu.


"Paman maaf, kalau bukan karena aku, artefak ini tak akan dicuri orang."


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, lupakan saja."


"Lalu bagaimana selanjutnya? apa kita akan kembali?"


Setelah berpikir sebentar pria paruh baya itu mengangguk, "Sebaiknya begitu, tapi sebelum itu kita akan pergi menemui seseorang."


...


Di bagian selatan alam atas.


Suasana sedikit mencekam, sekelompok orang berpakaian hitam muncul menculik siapa saja yang mereka temui, anehnya mereka ini tidak pernah membunuh.


Banyak kultivator dari sekte-sekte yang bergabung mencoba mencari mereka tapi tak satupun yang berhasil. Bahkan sebagian dari mereka juga hilang tanpa ada yang tau kemana.


Keadaan ini membuat orang-orang yang bukan kultivator mencari tempat aman dengan mengungsi, meninggalkan kampung halaman.


Termasuk keluarga Jiang yang walaupun terkenal sebagai keluarga kultivator tapi sebagian lainnya hanyalah kultivator tingkat Emas. Anggota keluarga tingkat Langit yang ikut memerangi kelompok berpakaian hitam telah hilang atau mungkin telah tewas.


"Ibu, apakah ayah akan kembali?" tanya seorang anak berusia sepuluh tahun pada ibunya di tengah gelombang pengungsi.


"Tentu saja nak, tunggu sampai kita mencapai perbatasan, ayahmu menunggu di sana." ucap si ibu mencoba memberikan semangat pada anaknya.