Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Menyerang Sekte Kegelapan


Lima ratus pasukan bantuan telah tiba di desa Bunga, Panglima Cia langsung mengatur barisan mengelompokkan mereka berdasarkan tingkat kultivasi.


"Ada apa panglima? anda terlihat tidak bersemangat." Lu Ping menyapa panglima Cia yang baru datang setelah selesai mengatur pasukan.


Panglima Cia mendesah. "Aku khawatir tidak bisa berbuat banyak." keluhnya.


"Apa karena pasukan bantuan itu?"


"Hanya lima puluh yang bisa kita bawa," sahut panglima Ci. "Yang lainnya aku rasa tidak akan bisa berbuat banyak."


"Oh ya panglima, apa kau melihat Ye Chen?"


Panglima Ci hanya menggeleng, sudah dua hari ini Ia tidak pernah melihat Ye Chen lagi.


Ye Chen memang sedang keluar, lebih tepatnya masuk ke markas sekte kegelapan.


Selain mencari info pergerakan sekte, Ia juga mencoba mencari titik teleport untuk menambah titik-titik yang sebelumnya sudah ada.


Selama ini Ye Chen sibuk latihan, baru dua hari yang lalu Ia keluar dan langsung pergi markas sekte.


"Ini sudah cukup." batin Ye Chen lalu keluar dari markas sekte.


Kali ini Ye Chen tidak mendapat perhatian seperti dulu, ini karena Ia sudah bisa mengendalikan aura dari cairan hitam. Hanya pemeriksaan saja yang lebih ketat dari sebelumnya.


"Saudara Chen, dari mana saja? ayah dan yang lain mencarimu." kata Cia Sun.


Bukan menjawab, Ye Chen malah bertanya. "Ada apa, apakah sudah mau menyerang?"


Cia Sun menggeleng, "Aku juga tidak tau, sebaiknya kau ke sana saja."


"Panglima, kakek Lu, anda mencariku?"


"Oh kau sudah kembali. Begini, kami memutuskan untuk segera menyerang g bagaimana menurutmu?" tanya Lu Ping.


"Lebih cepat lebih baik, sebelum mereka menyadari kehadiran kita di sini." ucap Ye Chen lalu menggambarkan seluruh keadaan di markas dan kondisi sekte.


...


"Patriark, sepertinya mereka akan bersiap-siap dalam waktu dekat ini." kata tetua kanan di gedung utama.


Patriark sekte sama sekali tidak terkejut dengan laporan ini, Ia memegang dagunya dan bertanya kekuatan panglima Cia.


"Kalau itu kami tidak tau pasti kekuatan mereka, orang-orang ini sangat licin, tempat persembunyian mereka saja tidak bisa kami lacak."


"Tidak masalah, katakan kepada semua anggota untuk siaga. Aku mau lihat apa yang bisa mereka lakukan."


...


Hari yang ditentukan telah tiba, Panglima Cia dan yang lain ditambah lima puluh prajurit pilihan telah siaga di depan gerbang sekte kegelapan.


Dengan memakai jubah bertudung yang di sita dari anggota sekte yang mereka bunuh sebelumnya.


"Tuan Chen!" Dari jauh tiga orang melesat cepat. "Apa anda masih mengenaliku?"


"Bukankah anda pelindung paviliun teratai?"


"Anda benar tuan Chen, kami bertiga di utus untuk membantu anda."


"Terima kasih." kata Ye Chen lalu menjelaskan secara singkat rencana penyerbuan ini. Setelah itu Ia pergi ke tempat Chu Xiong dan Song Fei.


"Aku tidak pernah meragukan kekuatan kalian, tapi di sana akan lain ceritanya ...


"Kak Chen...."


"Senior...."


Lu Jia Li dan Ma Dong menghampiri Ye Chen sehingga kata-katanya terhenti.


Sambil tersenyum Ye Chen berkata. "Saudara Ma, kau sudah di tahap puncak sekarang. Aku meminta, kalau bisa jaga mereka dan kalian jangan sampai terpisah."


Ye Chen mengambil empat botol pil dan empat kristal bening dan menyerahkan masing-masing satu kepada mereka. "Ini pil pemulih Qi, gunakan dengan bijak. Jangan pernah mencoba menyerap Qi di dalam sana."


Menurut Ye Chen, energi di dalam dimensi sekte kegelapan telah tercemar dengan aura kegelapan dan Ia sangat yakin petinggi sekte bukanlah orang bodoh yang tidak menyadari kehadiran mereka.


"Lalu kristal ini tuan, gunanya untuk apa?" tanya Song Fei yang memang baru pertama kali melihatnya.


"Tolong rahasiakan ini," kata Ye Chen dengan hati-hati. "Di dalam sana aku sudah memasang beberapa aray ilusi dan formasi teleport."


Ye Chen lalu menjelaskan bahwa aray ilusi itu sama seperti yang ada di desa, cukup menempelkan kristal bening jika ingin masuk dan formasi teleport itu adalah jalan terakhir.


Untuk menggunakannya, kristal bening harus dihancurkan.


"Ingat, kesempatanya hanya sekali saja. Begitu kalian keluar maka tidak ada kesempatan kedua."


"Senior, ini sangat hebat. kenapa harus dirahasiakan?"


"Maafkan aku," kata Ye Chen sambil menghela nafasnya. "Kristal bening itu tidak ada lagi, tidak mungkin aku membagikannya pada semua orang."


"Kami mengerti." ucap mereka serempak.


"Teteskan dulu darah kalian di atas kristal itu. Oh ya aku titip juga untuk saudara Cia. Jangan kuatir, kalian pasti akan dapat merasakan tempat aray ilusi itu."


"Chu Xiong, ikut denganku, ada sesuatu yang akan kita kerjakan."


Ye Chen membawa Chu Xiong menyelinap ke dalam markas sekte. "Hilangkan auramu, bawa ini dan letakkan di tengah aray ilusi dan formasi. benda itu akan bergetar jika sudah dekat."


Ye Chen kemudian mengambil jalan lain, Ia menyelinap ke dalam asrama anggota sekte. Mengganti guci air dengan arak yang sudah Ia siapkan sebelumnya.


"Berhenti!"


Ye Chen yang bersiap pergi di hadang dua orang anggota sekte.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Senior aku dari gedung kanan, mengganti air."


"Hahaha kami sudah tau, kau adalah mata-mata musuh yang menyelundup. Apa kau kira kami ini sekelompok orang bodoh hah?"


Mendengar ini Ye Chen tersenyum. "Anda salah sangka senior, aku menggantinya dengan arak bukan air biasa hehe...."


Mendengar kata arak, dua anggota sekte ini merubah sikapnya. "Apa kau tidak berbohong?"


"Aku mana berani, silahkan senior mencobanya kalau tidak percaya," kata Ye Chen dengan penuh keyakinan. "Ya sudah aku pergi dulu, tetua kanan berpesan jangan terlalu lama. Oh ya jangan lupa memberitahu yang lain.


Ye Chen pergi dengan langkah lebar, takut anggota sekte ini kembali curiga.


Berkat arak ini, lebih dari setengah anggota sekte tidak berkutik dalam peperangan.


"Panglima, semua sudah siap, kita masuk sekarang." kata Ye Chen yang berhasil keluar dan segera mengabarkannya kepada panglima Cia.


Satu persatu mengikuti Ye Chen masuk ke dalam markas sekte, berharap bisa segera mencari tempat sembunyi dan berbaur dengan anggota sekte.


Tapi sayang, apa yang mereka rencanakan tidak berjalan mulus. Begitu masuk ke dalam markas, mereka langsung disambut dengan hujan berbagai macam senjata yang melesat cepat.


"Berlindung...!"


Teriak panglima Cia. Teriakan ini sedikit terlambat, beberapa pasukannya meregang nyawa tidak sempat memblok serangan anggota sekte.


"Hahaha... apa cuma segitu saja kemampuan pasukan kekaisaran?" Yang berteriak ini adalah tetua kiri.


Suaranya menggelegar seperti guntur.


Panglima Cia tidak mau kalah. Ia membalasnya dengan teriakan yang lebih kuat sehingga pasukan yang tadinya menurun rasa percaya dirinya kembali semangat.


Ye Chen hanya diam saja, matanya memandang kagum jenderal Cia.


"Memang tidak salah kalau Ia menjadi panglima besar, reaksi dan tindakannya sangat tepat. Ucap Ye Chen dalam hati."