Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Inti Naga Air


Yang Giro maksud adalah melawan energi panas di dalam tubuh puteri Jia dengan energi dingin, Ye Chen ini, begitupun dengan Lin Yungtao, masalahnya adalah proses ini tidak semudah yang dipikirkan, salah sedikit saja maka puteri Jia akan tewas atau minimal puteri Jia akan kehilangan kultivasi dan menjadi orang biasa dengan dantian cacat.


"Saudara Lin, aku akan pergi ke bukit Nannan sebentar untuk mengambil herbal." kata Ye Chen. "Aku ikut." sahur Lin Yungtao.


Hanya Giro yang tinggal untuk menjaga gua itu. Tak berapa lama kemudian, Ye Chen dan Lin Yungtao kembali. "Saudara Chen, apa waktunya masih sempat?"


"Semoga saja." sahut Ye Chen.


Pengobatan dengan cara ini cukup spesial, Ye Chen hanya mengambil herbal beraura dingin. "Kalau tidak ada urusan yang mendesak, jangan kesini."


"Baik, semoga berhasil." Lin Yungtao melihat puteri Jia sebentar lalu pergi bersama Giro. Ye Chen memang meminta mereka pergi agar tidak terganggu selama proses penyembuhan.


Sepeninggal Lin Yungtao dan Giro, Ye Chen membawa puteri Jia masuk ke bagian gua yang paling dalam.


Setelah memasang formasi berlapis, Ye Chen kemudian membuat pil khusus menggunakan tanaman herbal yang diambil di bukit Nannan. "Adik Jia, sebelumnya aku minta maaf dan kuharap kau bisa bertahan." ucap Ye Chen. Ia lalu membantu meminumkan pil dan membuka pakaian sebelah atas puteri Jia.


Metode penyembuhan ini dilakukan dengan menyalurkan energi dingin langsung ke tubuh puteri Jia dan mengontrolnya, menjaga agar energi dingin itu tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil, harus stabil agar hawa panas di tubuh puteri Jia dapat didorong keluar.


Seharusnya Ye Chen menyalurkan energi dari depan, yaitu lewat dada puteri Jia, tapi karena takut dikira mengambil kesempatan dalam kesempitan, akhirnya Ye Chen memilih punggung puteri Jia.


Jangan dikira ini lebih baik, faktanya begitu telapak tangan Ye Chen menyentuh kulit halus puteri Jia, Ye Chen merasakan sensasi yang aneh, inilah pertama kalinya Ia menyentuh seorang gadis dengan sengaja.


Ye Chen menarik nafas, "Adik Jia, sekali maafkan aku."


Hari berlalu, kondisi puteri Jia sudah lebih baik. Kesadarannya berangsur-angsur pulih dan mulai bisa mengingat semuanya dengan baik walau masih samar, meski begitu, pukulan api yang Ia terima masih jauh dari kata sembuh.


Yang pertama Ia ingat adalah ketika bertempur melawan kawanan Iblis dan terkena beberapa pukulan, setelah itu Ia tak ingat apa-apa lagi.


Posisi puteri Jia saat ini sedang duduk di depan Ye Chen yang masih menempelkan kedua telapak tangannya di punggung. "Ap-apa yang... kenapa?"


Puteri Jia panik melihat atasannya telah terbuka setengah, Ia seketika berpikir yang aneh-aneh, dalam pikirannya Ia telah di tawan musuh.


"Kurang ajar...!"


Teriaknya panik setelah merasa ada yang memegang punggungnya. Sesaat kemudian Ia langsung menepis kedua tangan Ye Chen dan melompat menjauh tanpa menyadari bahwa Ia sedang dalam pengobatan.


Energi yang tersambung seketika terputus.


Kondisi puteri Jia bukan malah membaik tapi bertambah buruk, Ia pingsan dan aliran energi di dalam tubuhnya kacau. Sementara kondisi masih cukup baik karena masih sempat menutup saliran energi nya.


"Adik Jia....


Tanpa pikir panjang, Ye Chen melompat dan memapah puteri Jia. Ia tau harus berbuat apa, tak ada cara lain, pikirnya setelah melihat energi dalam tubuh puteri Jia tidak beraturan dan suhu tubuhnya kembali memanas, bahkan lebih panas dari sebelumnya.


"Kakek Naga, maafkan aku, kuharap kau tidak keberatan." Sebelum melaksanakan rencananya, Ye Chen bergumam pelan.


Beruntung di dalam gua itu ada sebuah kolam kecil yang bisa digunakan.


Pengobatan yang dilakukan kali ini sedikit berbeda, sebelumnya Ye Chen hanya duduk dibelakang puteri Jia tapi karena sekarang ada kolam kecil itu maka pengobatan akan dilakukan di dalam kolam dengan tanpa selembar benang di badan. Air kolam akan menutupi rasa sungkan dan juga sebagai penghantar energi yang baik.


Rencananya Ye Chen akan memberikan inti Naga Air yang masih berada dalam tubuhnya, Ia sendiri hanya bisa menyerap dua puluh persen saja dari keseluruhan inti Naga Air. Ye Chen yakin inti Naga Air ini dapat menghilangkan panas di tubuh puteri Jia.


Wuss...


Angin dingin berhembus di dalam gua, suhu udara perlahan turun bahkan muncul titik-titik es yang menggumpal di beberapa tempat. Ye Chen melakukannya dengan konsentrasi penuh, energi dari inti Naga Air mengalir deras dari setiap pori kulitnya dan memasuki tubuh puteri Jia.


Mungkin ini keberuntungan puteri Jia, karena sebelumnya Ia telah menyerap kristal inti es sehingga inti Naga Air bisa tidak mengalami penolakan di dalam tubuhnya. Satu-satunya yang menghalangi hanya energi panas dari pukulan api Iblis tapi itu tidak berarti karena dengan cepat inti Naga Air melenyapkannya.


Hari ketiga, kondisi puteri Jia sudah jauh lebih baik, semua hawa panas telah pergi.


Inti Naga Air telah diserap sepenuhnya oleh puteri Jia yang mulai membuka matanya.


"Jangan takut, alirkan saja semua energi itu dan seraplah dengan tenang."


"Kakak chen."


Mulanya puteri Jia heran, ketika kesadarannya telah pulih sepenuhnya, Ia menemukan dirinya berada dalam kolam air tanpa mengenakan apa pun dan yang lebih mengherankan lagi adalah energi yang sangat besar dan meluap di dalam tubuhnya.


Suara Ye Chen yang terngiang di benaknyalah yang menyadarkannya. Ia dengan patuh lalu mengikuti apa yang Ye Chen katakan. Ia tau Ye Chen mengirim pesan padanya dari suatu tempat.


Tak lama kemudian perubahan terjadi pada puteri Jia. Rambutnya memutih keperakan, tatapan matanya semakin tajam dan tingkat kultivasinya naik drastis.


Bumm...


Tingkat Dewa. Puteri Jia sampai menembus dengan mudah, "Jangan alihkan konsentrasimu." Kembali terdengar suara Ye Chen, namun kali ini agak berbeda, lebih lemah.


"Kakak Chen, kau tidak apa-apa?" tanya puteri Jia khawatir.


"Aku baik-baik saja. Lakukan saja."


Puteri Jia mengangguk. Beberapa saat kemudian, semua inti Naga Air telah diserap dengan sempurna. Puteri Jia membuka matanya dan mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya.


"Kakak Chen, apa kau mendengarku?"


Tak ada jawaban. Puteri Jia terdiam, mungkin kakak Chen telah pergi, pikirnya.


Puteri Jia lalu memutuskan keluar dari kolam dan mencari pakaiannya, Ia berbalik untuk meraih pakaiannya. Saat itulah Ia menyadari ada sosok di depannya.


Puteri Jia tidak berpikir panjang lagi saat melihat sosok yang mukanya terlihat pucat di depannya yang juga tanpa busana. "Kurang ajaaar...!" serunya, serangkum pukulan menghantam dada orang di depannya.


"Adik Jia, kau sudah sembuh."


"Eh? kak-kakak Chen... apakah itu kau... ?"


Puteri Jia menyadari sesuatu, otaknya berpikir cepat mengolah semua yang terjadi.


"Kakak Chen... aku, aku... oh tidak."


Tanpa mempedulikan keadaan Ye Chen dan Ia sendiri yang tanpa busana, puteri Jia meghampiri dan memeluk Ye Chen sambil menangis. Sangat menyesal.