
Jangan mati, begitulah pesan pemimpin dengan sangat tegas sebelum pertempuran dimulai.
"Tuan muda.. Maafkan aku." Hanya kalimat ini yang terucap saat token dipecahkan.
Satu-persatu kultivator desa menghilang dari medan pertempuran sampai hanya menyisakan Qin Gang dan kelompoknya.
Di gedung kultivator, kelompok alkemis terlihat sibuk membawa dan mengobati para kultivator desa yang terluka dari ruang teportasi.
Mereka yang terluka dibawa ke aula tempat mereka biasa berlatih.
Setelah memastikan jumlahnya, sisa kultivator yang tidak ikut bertempur beramai-ramai mendatangi arena pertempuran di pemukiman sekte, dan mengepungnya dari luar.
Aksi ini atas perintah Ye Chen sebelumnya. Waktu itu Ye Chen berpesan kepada semua kultivator yang tidak ikut bertempur. Jika semua teman-teman kalian sudah keluar dari aray maka bersiaplah, kepunglah pemukiman nanti dari luar aray. Bunuh siapapun dan apapun yang ada di luar aray. Kira-kira begitu pesan Ye Chen.
Tujuannya adalah untuk memberikan rasa takut kepada anggota sekte di dalam aray.
Ye Chen tau dengan pasti, Ia dan pasukannya tidak akan mungkin bisa memenangkan pertempuran ini dengan hanya mengandalkan kekuatan mereka saja.
Harus ada suatu gerakan yang bisa membuat mereka kehilangan semangat tempur.
Tujuan lainnya adalah membunuh anggota sekte maupun anggota perwakilan dagang yang berada di luar saat ini.
Tidak menutup kemungkinan ada anggota mereka yang berada di luar.
Dan ini terbukti, saat kelompok yang mengepung datang, mereka sudah menghabisi beberapa orang dari mereka.
Ada juga anggota yang di luar mencoba masuk, tapi sayangnya tidak bisa keluar lagi. Niat membantu malah mengantar nyawa.
Asal tau saja, aray formasi ini bisa dimasuki tak mungkin bisa keluar.
Kini hanya Qin Gang dan rekannya yang bertempur di dalam aray, semua kultivator sudah keluar tidak termasuk ketua Song dan Ye Chen.
"Saudara Qin bagaimana ini, apakah kita keluar juga..?" Tanya salah satu dari mereka.
"Tidak, masih belum. Aku masih bisa bertarung." Jawab Qin Gang.
Sun Yi yang berada dekat mereka juga berkata.
"Akupun sama, masih bisa bertarung. Kalau tidak kuat keluarlah lebih dulu."
"Aku sudah sampai batasku." Ucap yang lain yang berdiri saja sudah tidak sanggup.
"Aku keluar dulu, ingat pesan tuan muda.." Jangan mati." Ucapnya lagi lalu dengan sisa tenaganya Ia berhasil memecahkan token.
Jumlah musuh masih terlalu banyak, masih seratus Limapuluh lebih.
Qin Gang dan rekannya sudah sampai batas, yang mereka lakukan hanya bisa menangkis serangan tanpa bisa melawan.
Aaahhhh...
"Saudara Sun hati-hati..!! aahh... " Seorang rekan Sun Yi berusaha mengingatkan Sun Yi yang terluka di pundaknya tapi naas Ia juga terkena sabetan pedang di belakangnya.
Dengan sigap Qin Gang melompat dan menahan serangan susulan yang menyerang rekannya ini, tapi sebuah pedang pendek menancap di pahanya.
Di saat inilah kultivator lain yang datang mengepung di luar aray. Mereka mengepalkan tangannya menyaksikan rekan mereka bertahan mati-matian. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, Sebenarnya mereka bisa masuk dan siap berkorban nyawa tapi tak mungkin tanpa adanya perintah.
Dan memang hanya akan mengantar nyawa saja kalau masuk, sebagian besar musuh di dalam berada di tingkat Bumi.
Tingkat Emas seperti mereka tak akan bisa berbuat banyak meskipun jumlahnya banyak.
"Saudara Sun, lekas pecahkan tokenmu..!" Teriak Qin Gang sambil menahan tusukan tombak yang mengarah ke perutnya.
"Tidak! dua lagi.. dua lagi saja." Balas Sun Yi.
Maksudnya adalah dia akan membunuh dua musuh lagi sebelum keluar.
Bruuk..
Belum habis suara teriakan Sun Yi, sebuah benda melayang tepat si depannya, di antara dia dan anggota sekte.
"Patriark..!!"
Anggota sekte yang berdiri paling depan berseru setelah mengenali benda di depannya, yang ternyata adalah kepala patriark mereka.
Suasana seketika gaduh ketika yang lain juga menyadari patriark mereka telah tewas.
Semangat tempur menurun drastis, terlebih lagi ketika melihat keluar aray, di sana berdiri kultivator desa yang lain yang mengepung dari luar.
"Hais bagus kalian tidak mati, sudah begini kenapa tidak memecahkan token di tangan kalian?!" Ye Chen yang muncul di dekat mereka berkata heran.
"Tuan muda.. kami ..." Jawab salah satu dari mereka.
"Sudahlah ambil pil ini, ini pil terakhir. Jika pil yang kalian minum lebih dari ini, meridian kalian akan kacau.
Memang tidak baik menggunakan pil secara terus-menerus. pil-pil ini masih mengandung kotoran hasil penyulingan, kecuali pil yang memiliki kemurnian seratus persen.
Kotoran yang ikut diserap akan mengendap di dalam tubuh. Nantinya, kotoran ini keluar dengan sendiri melalui kotoran dan keringat tapi tidak serta merta keluar semua.
Itulah kenapa tidak boleh mengkonsumsi pil secara terus-menerus, lama-kelamaan bisa mengacaukan meridian.
Karena alasan ini jugalah maka setiap kultivator yang ikut bertempur hanya diberikan pil dalam jumlah tertentu.
Berbeda dengan Ye Chen yang mempunyai tubuh surgawi langka. Tubuhnya bisa mentolerir penggunaan pil dua hingga tiga kali lipat dari orang biasa.
Setelah menyerap pil yang diberikan Ye Chen, kondisi Qin Gang dan yang lain membaik. Tapi tidak cukup baik untuk bertempur lagi.
"Tuan muda, biarkan kami bergerak sekali lagi saja." Pinta Qin Gang memohon sembari membalut lukanya.
Ye Chen hanya menggukkan kepalanya.
"Langkah Angin Kedua.."
"Langkah Angin Kedua.."
Satu persatu dari mereka bergerak cepat, mengerahkan seluruh kemampuan terakhir.
Ye Chen jelas tidak hanya diam saja, Ia juga bergerak bersama yang lain.
Gerakan menyerang yang hanya di lakukan dengan dua atau tiga gerakan cukup membuat anggota sekte kewalahan.
"Tidak buruk," ucap Ye Chen yang melihat hampir lima puluh korban jatuh di pihak lawan. "Nah sekarang, kalian pergilah pulihkan diri kalian. Beritahu kawanmu yang diluar, tunggu tanda dariku jika ingin bergabung masuk."
Ye Chen kini tinggal sendiri menghadapi lebih dari seratus orang anggota sekte yang terlihat mundur-mundur ke belakang. Bahkan Ada yang sudah melarikan diri mencari jalan keluar.
"Tehnik Seribu Pedang Api.."
Pedang hitam terbang ke udara, berubah menjadi sepuluh pedang hitam yang diselimuti api tipis. Ye Chen tersenyum lalu bergumam pelan.
"Langkah Angin Kedua.."
Dengan cepat Ye Chen merangsek masuk menghadapi anggota sekte yang tersisa. Setiap gerakan kaki dan tangannya menyisakan teriakan-terikan kesakitan.
"Tehnik Tarian Pedang.."
Pedang hitam memecah lagi menjadi pedang-pedang kecil yang diselimuti api, menusuk setiap luka lalu menghilang, menyisakan luka baru yang berbau gosong terbakar.
Dengan sigap Ye Chen mengambil pedangnya dan mengamuk, memotong anggota sekte.
Aaaahhh....
"Ketua Song..!" Seru Ye Chen mendengar suara teriakan yang tak asing di telinganya.
"Langkah angin ketiga.."
Ye Chen menelan dua pil sekaligus, diam sebentar lalu bergerak menambah kecepatannya sampai puncak.
"Tapak Jiwa.."
Boom...
Siluet tapak tangan terbuka menghantam anggota sekte, kali ini Ye Chen melakukannya dengan kekuatan penuh.
Lima puluh lebih anggota sekte terkapar di tanah, sebagian tewas sedangkan yang masih hidup jelas tak mungkin lagi bisa melawan.
Anggota sekte yang tersisa benar-benar sudah kehilangan semangat tempur dan entah siapa yang memulai, mereka yang tersisa lari berpencar mencari selamat.
"Kejar dan bunuh mereka semua, jangan ada yang tersisa." Perintah Ye Chen lalu melesat ke arah suara ketua Song berasal.
Saat Ye Chen tiba, ketua Song sudah terkapar di tanah, dari sudut bibirnya masih terlihat darah mengalir.
Tak jauh dari tempatnya, terlihat kultivator sewaan juga terbaring, keadaannya sedikit lebih baik dari ketua Song.
"Kakek Song anda terlihat sangat payah, hehe.." Ini, telanlah dan pecahkan token anda." Kata Ye Chen sambil memasukkan pil ke dalam mulut ketua Song.
Ketua Song menelan pil lalu menggeleng pelan, lalu berkata.
"Aku masih kuat, kita serang bersama."
"Baiklah.." Sahut Ye Chen, tapi Ia dengan cepat melesat ke depan menyerang sendiri meninggalkan ketua Song.
Bukan terlalu mengandalkan kekuatan sendiri, Ye Chen hanya merasa Ia akan mencapai batasnya sehingga tidak ingin menyia-nyiakan waktu.
"Formasi.., wuuss.."
Ye Chen memasang aray tipis yang mengurungnya dan kultivator sewaan.
"Hehe... Kau berani juga datang mengantar nyawamu. Bersujud dan panggil aku pemimpin jika kaukau masih ingin hidup." Kata si kultivator sewaan .
Ye Chen tidak menanggapi ini, Ia hanya diam berdiri tenang. Bukan apa-apa, Ye Chen hanya berusaha menyerap dua pil yang Ia telan sesaat sebelum membuat segel formasi
"Akan kubuat orang jelek ini menjadi seperti kambing bakar." Ucap Ye Chen dalam hati.
Setelah merasa cukup menyerap pil pemulih, Ye Chen mengeluarkan tehnik pedang jiwanya. Sembilan pedang muncul di depan Ye Chen dengan bagian yang tajam menghadap ke kultivator sewaan, satu pedang Ye Chen genggam dengan erat di tangannya.
Aku harus menyelesaikan ini dengan satu serangan, waktuku hampir habis.
"Formasi api.."
Ye Chen membuat api ditangan kirinya lalu melemparnya sampai menyentuh aray formasi.
Wungg... aray bergetar.
Trikk.. Trikk..
Suara seperti terbakar sesuatu dan Wuusss....
Api membakar aray.
Di dalam aray, cuaca tadinya hangat seketika berubah menjadi panas.
Panas ini seperti saat Ye Chen membakar tungku dan menyuling pil. Tehnik yang tanpa sadar telah Ia kuasai saat dirinya membakar tungku pilnya untuk menghilangkan kerak pada tungku.
"Perisai tubuh.. "
"Langkah angin ketiga.."
Ye Chen bergerak cepat mendekati lawannya, menggerakkan pedang ke samping menusuk pinggang.
Trang... Trang... Trang...
Pedang lawan menangkis tusukan pedang Ye Chen yang dental cepat mengincar pundak dan lehernya, sementara klon pedang hitam hanya Ia hindari saja. Tapi serangan Ye Chen tidak sampai disitu saja Dengan gerak langkah anginnya, Ia bergerak cepat menggerakkan pedang menyerang dari semua arah.
Lawannya kewalahan juga dengan serangan-serangan yang seperti tidak ada habisnya ini.
"Anak ini gerakannya bahkan lebih cepat dari ketua Song itu." Gumamnya dalam hati. Ia lalu melompat mundur dan mengarahkan tinjunya.
"Tinju Halilintar.."
"Tapak Jiwa.. "
Bamm..
Ye Chen membalas dengan tapaknya. Ia terseret mundur, darah mengalir dari bibirnya.
Lawannya juga terpental mundur. Pertarungannya dengan Ketua Song membuatnya tadi membuatnya tidak dalam kondisi yang baik.
Ye Chen tersenyum melihat lawannya mulai mengatur nafas, Ia menghantamkan tapaknya lagi yang dibalas dengan pukulan oleh lawannya.
Baamm..
Kali ini benturan dua energi lebih besar dari yang pertama.
"Tuan muda...!!" Teriak Ketua Song bersiap masuk dalam formasi. Kekuatannya masih belum pulih, hanya karena rasa kuatirnya saja yang membuatnya ingin masuk membantu.
"Jangan masuk..!!" Balas Ye Chen dari dalam dengan keras.
Mendengar teriakan Ye Chen, Ketua Song yang semula hendak masuk mengurungkan niatnya.
Kultivator desa yang berada di aula kultivator, yang merasa sudah membaik segera berlari lagi menuju medan tempur, berniat membantu teman-temannya.
Rasa persaudaraan yang tinggi membuat mereka tidak ingin berlama-lama memulihkan diri. Asalkan sudah bisa memulihkan setengah saja cukup.
Tak menunggu lama, mereka langsung melompat masuk melewati aray membantu mengejar anggota sekte yang tersisa.
Tugas selesai, semua anggota sekte telah di bunuh. Mereka semua kini melihat pertarungan Ye Chen dengan rasa kuatir yang sama seperti ketua Song.
Hueek...
Ye Chen yang berteriak melarang ketua Song masuk memuntahkan darah yang dari tadi memang ditahannya.
"Belum waktunya." Gumamnya pelan sambil menyapukan tangannya ke mulut mencoba menyingkirkan sisa muntahan darahnya.
"Tarian Pedang.."
Puluhan Pedang kecil bergerak menyerang dari berbagai arah. Lawannya benar-benar dibuat sibuk.
"Sekarang..!" Formasi Api Abadi..!!"
Kali ini Ye Chen berteriak keras mengeluarkan tehniknya. Api yang semula membakar aray seketika membesar, membakar semua yang ada di dalam aray.
Tidak mau membuang kesempatan, Ye Chen bergerak cepat ke depan lawannya menyerang dengan pedang hitamnya. Berusaha membagi konsentrasi lawan.
Taktik ini berhasil dengan baik. Serangan pedang Ye Chen dengan gerak cepatnya, terjangan pedang-pedang kecil dan api yang sangat panas membakar sungguh sangat merepotkan.
Traakk...
Perisai tubuhnya retak dan pecah, ujung pedang Ye Chen berhasil melukai pundaknya.
Seperti sedang lapar saat melihat makanan, pedang-pedang kecil yang melihat luka di pundak si kultivator sewaan bergerak tanpa diperintah.
Aaahhh...
Teriakan pilu terdengar dari mulut si kultivator sewaan.
"Berakhir sudah." Ucap Ye Chen lalu memperkuat formasi tubuhnya.
Ketua Song kini sadar kenapa Ye Chen melarang nya masuk membantu.
Rupana Ye Chen berniat mengeluarkan apinya di dalam. Tidak terbayang jika Ia tadi masuk, Ia bisa saja ikut terbakar. Dengan kondisinya saat ini, tak mungkin Ia bisa mempertahankan diri dengan api sebesar dan sekuat itu.
"Buka.."
Gelombang panas api seketika menyebar menghanguskan rerumputan dan tanah dalam jarak sepuluh meter saat segel formasi terbuka.
Bahkan ketua Song yang sudah melompat jauhpun masih bisa merasakan gelombang panas ini.
"Terlambat sedikit saja, aku pasti sudah gosong sekarang." Gumam ketua Song dalam hati.
"Hufff... inilah batasku." Ucap Ye Chen mendesah pelan.
Setiap orang ada batasnya, tak mungkin bisa bertarung terus-menerus.
Ye Chen, Ia hanya berada di tingkat Bumi tengah. bertempur dengan tingkat Langit pastilah sangat menguras tenaga, ditambah lagi dengan segel formasi yang Ia buat. Benar-benar menguras habis tenaganya.
Jika bukan karena memiliki tubuh khusus dan pemahaman yang mendalam mengenai gerakan Jurus-jurus, Ye Chen pasti sudah tumbang sejak tadi.
"Tuan muda..." Hanya ini yang bisa dikatakan oleh setiap yang menyaksikan ini, entah apa maksudnya.