
Ye Chen mengeluarkan semua aura hitamnya, ini jauh lebih pekat dari milik tetua luar yang hanya mencapai separuh dari milik Ye Chen.
Bumm...
Dua kekuatan besar bertemu, kali ini Ye Chen tidak terpental seperti sebelumnya, Ia tetap bertahan seperti halnya tetua luar.
"Apa! bagaimana bisa?!"
Tetua luar tak percaya, "Tak mungkin, aku tak mungkin kalah."
Dia terus meracau sampai Ia sadar setelah lama memperhatikan Ye Chen, "Kau... pangeran, mohon ampunan anda. Aku pantas mati." tiba-tiba tetua luar berlutut bersujud. ucapannya ini membuat Ye Chen kebingungan.
"Kenapa jadi begini?" ucap Ye Chen, Ia tidak menyangka perubahan ini. Apakah Ia tau siapa aku? tapi tidak mungkin, alam ini bukanlah tempatku berasal, pikir Ye Chen sambil terus mengamati tetua luar.
"Angkat kepalamu."
Masih dengan raut muka pucat dan takut, tetua luar mengangkat kepalanya.
"Katakan, siapa namamu."
"Pangeran, aku Baojing. Sudah lama sekali sejak kami menunggu kedatangan anda."
"Menungguku...?"
"Sebaiknya kita mencari tempat, aku takut ada yang mengenali anda." ajak Baojing.
Ye Chen tidak percaya begitu saja. Dunia ini penuh tipu muslihat, jangan karena ada seseorang yang menyanjung dan memujamu lalu kau dengan bangga bersedia melakukan apapun atau berbuat sesuatu tanpa berpikir perbuatan itu akan merugikanmu kelak.
"Baiklah, ayo jalan." mereka lalu pergi jauh ke dalam hutan lebat, Ye Chen tak khawatir sama sekali jika tetua luar yang mengaku bernama Baojing ini menyerangnya lagi
Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan Ye Chen akan terluka parah atau mungkin bisa tewas.
Alasan kenapa Ia bisa menang melawannya adalah karena Ye Chen bertarung dengan cerdik, mulanya Ia memasang aray formasi dengan hukum waktu sehingga Baojing akan lebih cepat lelah dan satu lagi rahasianya adalah karena Ye Chen memasukkan racun pelemah syaraf.
Racun yang dahulu sering Ia pakai.
Dahulu saja racun ini sangat kuat, setelah menelitinya lagi, akhirnya Ia bisa membuat racun yang dulu hanya berupa cairan dan pil menjadi kabut atau uap racun. Cukup melemparnya saja dan itu akan beresonansi dengan udara lalu berubah menjadi kabut beracun.
Seperti itulah keadaan Baojing di dalam kubah formasi, tanpa sadar menghirup racun.
Lalu ketika melihat Ye Chen mengeluarkan aura yang sama namun lebih pekat dari yang miliki, akhirnya Ia pun bertekuk lutut.
"Pangeran, sebelumnya hamba mohon maaf, bisakah anda menunjukkan cincin anda?" Baojing berkata dengan sangat hati-hati sekali, Ia hanya menunduk tak berani menatap Ye Chen langsung.
"Apa kau meragukanku?"
Ye Chen menggertak. "Tidak pangeran, tidak, hamba mana berani." Dalam ketakutannya, Baojing kembali bersujud.
"Sepertinya orang ini tidak main-main." Ye Chen mengambil kesimpulan itu setelah melihat reaksi Baojing.
Plak...
Cincin penyimpanan yang lama Ye Chen simpan tergeletak di depan kepala Baojing, itu dilempar begitu saja oleh Ye Chen.
Baojing mengangkat kepalanya, mengambil cincin dan setelah menimangnya sebentar, lalu mengembalikannya. "Ampunkan hamba pangeran." ucapnya mengangsurkan cincin dengan kedua telapak tangan, tubuhnya sedikit membungkuk dengan kepala menunduk.
Baojing memulai ceritanya, di mulai dari alam rendah tempat Ye Chen berasal. Sesekali Ye Chen berpikir, tak jarang Ia juga mengangguk lalu terlihat sedih di akhir cerita.
"Jadi paman A kiu sudah tidak ada...." gumam Ye Chen, sedih bercampur bingung bercampur aduk menjadi satu. Memang dia tidak terlalu akrab dengan A kiu tapi kesan padanya cukup dalam, dialah yang membantunya melewati benua timur dulu.
"Pangeran, tuan jendral meletakkan jabatan lalu menyusul kesini, menurutnya mungkin anda sudah ada di sini karena mengikut pesannya sebelumnya."
"Jadi maksud A kiu dulu adalah ke selatan di alam atas ini?"
"Benar pangeran, namun sayang jendral menemui ajalnya." sahut Baojing sedih.
"Semua salahku, seharusnya aku memeriksa cincin itu."
"Pangeran mungkin berpikir seharusnya jenderal memberitahu anda," Baojing berhenti sejanak. "Terlalu banyak yang menginginkan kematian pangeran dan rahasia itu terlalu besar jika sampai jatuh ke tangan orang lain."
"Ya, aku tau." Ye Chen sadar waktu itu usianya yang belum genap sepuluh tahun, sangat sulit untuk memegang rahasia besar di tangannya.
"Aku ingat, apakah kau mengenal orang yang dulu mengantarku? sepertinya dia orang kepercayaan A kiu."
"Semuanya telah tewas, hanya aku yang tersisa dari peperangan itu." Baojing juga menceritakan bahwa setelah A kiu dan yang lain kembali, kelompok lain menyerang mereka dan berhasil membunuh semuanya kecuali dia sendiri yang memang tidak ada waktu itu.
"Jadi dimensi itu sebenarnya markas kita? tapi kenapa tidak ada sipapun di sana, bukankah kau bilang kelompok yang lain itulah yang kini menjadi penguasa dimensi?"
"Mereka pasti telah pergi pangeran, mereka itu sangat licik. Anda harus berhati-hati, senagian besar dari mereka telah membaur."
Ye Chen mengangguk, sama seperti Baojing yang bahkan telah menjadi seorang tetua dari sebuah sekte besar.
"Pangeran, mohon ijin bertanya, bagaimana anda mengolah aura pekat anda sampai hampir tak bisa dikenali?" tanya Baojing yang penasaran, memang Ye Chen telah mengolah sendiri uap hitam dari artefak pangeran kegelapan menjadi aura hitamnya sendiri. Tidak ada jejak sama sekali dari aura sebelumnya.
"Untuk apa kau mengetahuinya?" tegur Chen, Ia tak mudah percaya pada orang di depannya ini.
Baojing terkejut lalu bersujud kembali. "Hamba tidak berani, tidak berani."
"Hah kenapa kau harus selalu bersikap begitu? asal kau tau aku bosan melihatmu terus bersujud."
Baojing lagi-lagi tersentak, "apa aku salah?" gumamnya.
"Ya, salah, salah besar."
"Ampun pangeran, hamba pantas mati." Baojing semakin menekan kepalanya, seluruh pakaiannya basah oleh keringat karena takut.
Ini bukan sikap berpura-pura, Ye Chen bisa melihat dengan sangat jelas. "Sudahlah, bangun dan mulai sekarang jangan panggil aku pangeran, tidak usah bersujud terus-menerus."
"Tapi...."
Tidak ada tapi-tapi, lakukan atau ...
"Baik pangeran, Baojing kembali bersujud tapi dengan cepat berdiri kembali. "Baik tu... an." ucapnya kaku.
"Sudahlah, kita pulang," ajak Ye Chen tapi tiba-tiba berhenti. "Tunggu dulu , apa kau mau ikut denganku?"
"Tentu saja, pasti aku ikut. Tuan, tolong jangan meragukanku." jawab Baojing sangat berharap.
Ye Chen dan Baojing pulang bersama, kembali melewati tempat pertarungan mereka sebelumnya.
"Tuan, awas!" Baojing berseru, dua pedang Qi melesat cepat ke dada Ye Chen. Ia dengan sigap berdiri di depan tuannya, bersiap menghadang pedang Qi.
"Eh, apa yang terjadi, kenapa aku tak bisa menggunakan Qi lagi?" Baojing bingung tapi tetap nekat menghadangnya. Kenyataannya pedang Qi itu tidak pernah sampai mengenainya, tampak jelas pedang Qi itu menyusut dan akhirnya menghilang tanpa bekas.
"Baojing mundurlah, ada yang bosan hidup." ucap Ye Chen lalu mendekati arah datangnya pedang Qi.