
Beberapa tetua nampak kecewa mengetahui Ye Chen hanya mempunyai satu elemen saja, itu juga elemen air yang menjadi elemen umum. Meskipun air bisa berubah menjadi elemen es atau ada juga kultivator elemen air yang sangat kuat tapi itu membutuhkan pelatihan yang cukup lama.
Misalnya ada seorang yang mempunyai elemen air dan angin makan suatu hari nanti bisa saja orang itu mempunyai elemen petir jika rutin berlatih menggabungkan elemen air dan angin untuk menciptakan petir. Atau menggabungkan keduanya sehingga berhasil menciptakan gelombang air yang besar.
Akhirnya nama Ye Chen pun tenggelam di antara bakat-bakat yang lain.
Di seleksi kedua, tak ada calon murid yang gugur. Baru di seleksi ketiga diberlakukan lagi sistem gugur. Seleksi kali ini adalah untuk menentukan seberapa kuat fisik calon murid.
Calon murid di masukkan ke dalam sebuah pagoda raksasa tingkat lima, bagi murid yang berhasil sampai ke tingkat tiga di nyatakan lolos.
Lantai pertama, gravitasi dua kali lipat. Para peserta harus berjalan dari pintu masuk sampai ke tangga yang menuju lantai kedua. Karena masih dalam kondisi yang baik sejak masuk maka sebagian besar peserta bisa lolos sampai ke lantai kedua.
Lantai kedua, gravitasi dua kali lipat dari lantai pertama. Sama seperti di lantai pertama, calon murid harus berhasil mencapai tangga menuju lantai tiga. Dari sini mulailah para peserta berjatuhan. Hanya sekitar lima ratus orang saja yang berhasil naik ke lantai tiga.
Gravitasi di lantai ketiga sama dengan lantai kedua, hanya saja di sini calon murid harus bertarung dengan siluman yang akan menghadang mereka jika mendekati tangga.
"Sial, ini terlalu kuat."
"Aku menyerah, ini diluar kemampuanku."
Banyak yang memilih untuk mundur di sini, sangat berat bertarung dengan gaya gravitasi yang kuat. Gerakan mereka sangat lambat, dan kalau memaksakan diri, pasti akan tewas di makan siluman-siluman itu.
Tapp...
Ye Chen menapak lantai empat, artinya Ia sudah lolos dan secara resmi menjadi murid luar. Ia hanya berdiri saja dekat tangga dan hanya sendiri karena yang lain masih terus mencoba.
"Saudara, apakah tidak ingin maju lagi?" tanya seorang yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai empat.
Ye Chen uang ditanya hanya menggeleng, "Aku tidak kuat lagi. toh aku juga sudah lolos kan hehe."
"Apa kau tak ingin mencobanya? murid dalam menanti kita kalau lolos."
"Tidak, aku sudah cukup puas menjadi murid luar." kata Ye Chen lagi. .
Seleksi selesai. sekitar seratus lima puluh orang secara resmi di nyatakan sebagai murid. Lima puluh murid dalam dan seratus murid luar.
Ye Chen merebahkan diri di dalam kamarnya, pikirannya menerawang jauh sampai Ia dikagetkan oleh ketukan di pintu yang ternyata adalah Lin Yungtao yang datang dan langsung masuk. "Kenapa kau tidak masuk menjadi murid dalam?" Ia langsung mendamprat Ye Chen.
"Eh kenapa memangnya?"
"Aduh kau ini, hanya murid dalam saja yang boleh mengambil guru kecuali guru itu sendiri yang memilih."
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?"
"Ah kau memang aneh," kata Lin Yungtao kesal. "Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Jujur yah aku lelah dan lapar." kata Ye Chen.
Kalau lapar, mungkin Lin Yungtao bisa mengerti tapi lelah... apanya yang lelah, "Kalau lapar, kau bisa ke dapur sendiri. Heran, kultivator tapi selalu lapar, sudahlah aku hanya datang menjengukmu saja dan mengucapkan selamat meskipun tidak penting. Jangan lupa, dua hari lagi semua murid akan berkumpul."
Setelah mengatakan niatnya, Lin Yungtao lalu pergi. "Berkumpul apanya, ah menyusahkan saja." gerutu Ye Chen yang mulai bosan setiap kali harus mengikuti aturan.
Tok tok
"Nah siapa lagi ini." batin Ye Chen. "Tunggu sebentar." ucapnya. Ia lalu membuka pintu karena ingin keluar juga.
"Pergi... pergi kemana?" tanya Ye Chen bingung.
Murid itu lebih bingung lagi. "Bukannya kau mau pergi ke aula utama untuk mengambil token?"
"Tidak, kata siapa? aku mau ke dapur." kata Ye Chen yang langsung meninggalkan murid itu. Tapi karena tidak tau arah menuju dapur, Ye Chen malah tersasar, untungnya Ia bertemu dengan tetua Lan yang Ia kenal.
"Bukankah kamu murid yang membius peserta itu?" tanya tetua Lan.
Ye Chen tersenyum canggung, "Maaf tetua, aku tersasar, tadinya aku ingin ke dapur."
"Dapur? untuk apa...?"
"Aku lapar tetua." jawab Ye Chen jujur.
"Hahaha baru kali ini ada murid yang lapar," tetua Lan lalu mengajak Ye Chen pergi bersama. "Nah kau buat sendiri makananmu." sambung tetua Lan lalu meninggalkan Ye Chen sendiri.
Apa aku tidak salah lihat? bukankah yang dipegang tetua Lan tadi adalah artefak pangeran kegelapan? batin Ye Chen. kenapa benda itu ada di sini? hmm... ada yang tidak beres. Ye Chen terus berkutat dalam pikirannya, tapi karena tidak begitu yakin, Ia mengacuhkannya dan mulai membuat sendiri makanannya, sesuai resep yang diberikan pemilik rumah makan.
Tak terasa seminggu sudah berlalu, Ye Chen seperti biasa mengikuti setiap pelajaran dengan bermalas-malasan. Pertemuan murid yang dikatakan Lin Yungtao tempo hari di undur.
Hubungannya dengan tetua Lan berjalan baik karena Ye Chen sering ke dapur untuk belajar memasak atau mencoba berbagai resep di sana.
Suatu hari, tetua Lan memanggil Ye Chen. "Apa tujuanmu sesungguhnya masuk akademi?" tanya tetua Lan tiba-tiba sambil terus mengamati Ye Chen.
"Tidak ada." jawab Ye Chen singkat, Ia menyembunyikan perasaannya, takut tetua Lan jadi curiga.
"Hmm... sudah kuduga, rupanya kau hanya bersenang-senang di sini. Oleh karena itu aku memanggilmu."
Tetua Lan lalu memperlihatkan sebuah batu kecil hitam sepanjang lengan orang biasa. "Apa kau tau benda ini?"
Ye Chen menyembunyikan debaran hatinya, bukan artefak pangeran kegelapan tapi artefak batu jajar, yang artinya ras Iblis. "Tidak tau, dimana tetua menemukannya?"
"Kau tau kenapa pertemuan murid di undur? itu karena benda ini."
Menurut tetua Lan, sudah menjadi tradisi bahwa disetiap penerimaan murid baru makan sebuah dimensi akan dibuka untuk para murid mengambil keuntungan.
Untuk memastikan keamanan dimensi itu, para tetua akademi akan masuk terlebih dahulu untuk memeriksanya dan ketika memeriksa itulah mereka menemukan benda di tangannya itu. Benda yang Ye Chen tau adalah benda yang dipakai oleh Iblis.
"Karena itulah acaranya di undur. dan kami memutuskan untuk membatalkan tradisi itu karena menurut kami itu terlalu berbahaya."
"Memangnya ada apa dengan benda itu?" Ye Chen mencoba mengorek keterangan dari tetua Lan.
"Benda ini ada pintu gerbang dari sebuah dimensi dan biasanya bangsa Iblis lah yang menggunakannya."
"Cocok." gumam Ye Chen.
"Apa katamu?"
"Oh tidak, maksudku cocok, cocok sekali jika tradisi itu dibatalkan."
"Bukan dibatalkan sama sekali, tapi dibatasi. Tunggu sampai tim penyidik selesai."