Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Meminta Kompensasi


Semua yang hadir dapat merasakan hasrat membunuh dari Ye Chen yang sangat kuat, itu menutupi niat membunuh dari semua anggota keluarga Du yang menyerangnya.


Ye Chen dengan penuh kekuatan menebaskan pedang hitamnya dengan sekuat tenaga, sasarannya adalah orang yang berdiri paling depan.


Tebasan pedang yang dipenuhi aura membunuh dilambari dengan elemen api ini menghadang banyak serangan sekaligus.


"Masih belum!"


Seru Ye Chen lalu kembali melakukan tebasan kedua yang jauh lebih kuat. Serangan pertama untuk membendung serangan lawan dan serangan kedua membendung sekaligus menyerang lawan- lawannya.


Hasilnya sangat mengejutkan, tidak satu pun orang yang ada di sana yang bisa meramalkan hasil pertempuran ini. Dalam bayangan mereka, Ye Chen pasti akan tewas atau paling tidak akan terluka parah. Dia tidak mungkin bisa melawan banyak anggota keluarga Du yang menyerangnya sekaligus.


Tapi yang terjadi adalah kebalikannya, dua serangan balasan yang Ye Chen lakukan menyapu semua anggota keluarga Du, bahkan ada beberapa dari mereka yang tewas, hangus terbakar dan menjadi debu.


Patriark Du memandang tak percaya, keluarga Du nya hancur begitu saja. Cucunya, putranya dia sendiri dan kini para tetua dan anggota keluarga lainnya. Mau marah tapi rasanya mustahil, dia saat ini tengah terluka, apalagi dia merasa Ye Chen terlihat masih dalam kondisi siap bertarung, tidak terluka sama sekali.


Namun tebakannya ini salah, Ye Chen sudah memaksakan diri. Tidak ada tenaga lagi yang bisa dia keluarkan setelah dua serangan barusan. Dia hanya tidak mau terlihat lemah dan tetap berdiri di tengah arena sambil memegang pedang hitam nya.


Dua bayangan melesat naik ke atas arena, mereka adalah tuan kota dan Yuh Shan.


"Cukup sampai di sini patriark Du." kata Yun Shan, dia mulai melihat gelagat kurang baik. Biar bagaimanapun dia tidak akan melepas Ye Chen, harga diri keluarga Du di atas segalanya.


"Sudah aku putuskan, Ye Chen akan menjadi wakil kota Siang. Slot masih tersisa, jika masih ada yang mau menantang, silahkan maju."


Tuan kota menatap Yun Shan tak percaya, bukankah kompetisi baru akan dimulai dua hari lagi?


"Aku mundur."


"Keluarga Li juga mundur."


"Keluarga Xu mundur."


"Sekte Matahari juga mundur."


Baik itu perwakilan keluarga maupun sekte-sekte yang memang di bawah yurisdiksi kota Siang, semua menyatakan mundur. Biarpun mereka mau, belum tentu perwakilan mereka mau melawan Ye Chen.


Tidak ada yang sudah begitu gila melawan orang yang menghancurkan keluarga Du seorang diri. Apalagi namanya kalau bukan mencari mati.


"Aku menantang nya."


Tetiba satu suara terdengar, ini adalah Win Zhu. Lalu kenapa kalau dia sangat hebat? dia tidak boleh mundur dan mempermalukan keluarga Qin.


"Bagus Zhu'er." puji patriark Qin pada cucunya.


Yun Shan melirik Qin Zhu dan berkata, "Oke wakil kota Siang yang lain adalah kamu. Besok, jika ada yang masih ingin menantang, besok siang adalah batasnya."


Yun Shan tidak mau membuang waktu lagi, jujur saja tidak ada dari orang-orang ini yang menarik perhatiannya selain Ye Chen dan Qin Zhu yang berani menantang duel meskipun sudah tau akan kalah.


"Tuan Yun tunggu sebentar," patriark Du. "Aku meminta keadilan."


"Maksudmu?" tanya Yun Shan pura-pura tidak mengerti.


Patriark Du menjelaskan maksudnya, yakni meminta Ye Chen yang melukai cucunya dan membunuh anggota keluarga lainnya.


"Mereka yang menantangku satu persatu dan terakhir mereka semua datang dan menyerangku. Kalau aku tidak membunuh mereka apakah aku akan akan membiarkan diriku terbunuh? sungguh konyol."


"Lagipula, jangan salahkan aku tapi salahkan anggota keluarga mu yang bodoh dan tidak berguna. Hei orang tua, aku juga tidak keberatan jika kita harus saling bunuh."


Degg


Jantung patriark berdebar, kata-kata yang diucapkan Ye Chen memang benar, keluarga Du lah yang memulai. semua orang menjadi saksi.


Ucapan Ye Chen ini sangat lancar dan pelan, tak ada keraguan sama sekali dalam ucapannya terutama saat mengatakan tidak keberatan jika harus saling bunuh.


Tindakan Ye Chen ini membuat penonton yang masih menunggu babak baru kembali terhenyak, kali ini mereka memuji Ye Chen yang tegas.


"Ini... "


"Seharusnya aku minta kompensasi karena aku yang dirugikan disini." Samsung Ye Chen.


Dan dia memang berpikir seperti itu, tidak membunuh saja sudah sangat menghargai mereka.


Yun Shan yang dari tadi hanya diam saja mau tidak mau menoleh, melihat Ye Chen dengan ragu.


Anak ini terlalu kejam, dia adalah aktor utama kehancuran keluarga Du dan dia juga meminta kompensasi? ini sungguh diluar nalar. Tapi meski begitu Yun Shan juga tidak marah, dia malah semakin yakin kalau Ye Chen lah yang dibutuhkan sekte Pengobatan Ilahi.


Karena penasaran dengan apa yang Ye Chen inginkan, akhirnya Yun Shan pun bertanya.


"Lalu apa yang kau minta? apa yang bisa membuatmu puas?"


"Entahlah, aku sangat susah dipuaskan." shut Ye Chen tanpa ragu. Seolah memang seharusnya begitu.


Hebat, kata-kata ini membuat semua yang hadir kembali memandang Ye Chen takjub. Di depan Yun Shan dia malah berkata seperti itu, anak ini punya masa depan cerah.


Seorang kultivator muda yang sangat kuat dan tidak mengenal takut, sanggup mengalahkan tingkatan di atasnya bahkan sekarang menjadi wakil kota Siang. Apalagi namanya kalau bukan bintang yang bersinar?


Dan kalau sampai Ye Chen lolos dan menjadi murid yang dilatih khusus oleh tetua sekte, saat itu namanya pasti akan sangat terkenal, semua orang pasti ingin menjalin hubungan dengan nya.


Hal ini disadari betul oleh para pemimpin keluarga di sana, akan terlambat kalau menjalin hubungan ketika Ye Chen terkenal.


"Zhu'er tidak peduli bagaimana caranya, kau harus berusaha dekat dengan Ye Chen." kembali patriark Qin mengirim pesan suara pada cucunya.


Yang lain pun berpikir hal yang sama dengan patriark Qin, lalu entah siapa yang memulai, mereka semua bubar setelah memberikan tatapan penuh arti pada Ye Chen.


Sementara patriark Du hanya bisa berdiri linglung, sesekali dia melihat anak dan cucunya dengan tatapan seolah ingin menguliti mereka.


"Ye Chen ikut aku." tuan kota yang menyadari perubahan ini meminta Ye Chen mengikuti nya ke


kediaman nya. Ye Chen juga tidak menolak, dia berjalan patuh mengikuti tuan kota dan Yun Shan dari belakang.


Sesampainya di kediaman tuan kota, Ye Chen yang memang sedari tadi menahan lukanya langsung memuntahkan darah segar dan jatuh terduduk di lantai.


"Hei, kamu tidak apa-apa?"


"Aku butuj istirahat." sahut Ye Chen lemah,