Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Tradisi Akademi Langit


Ye Chen kembali ke kediaman Peri, di sana Ia memanggil dan bertemu dengan Giro.


"Giro, aku menemukan sesuatu yang menarik, nanti kau ikut aku ke akademi."


"Baik tuan."


"Oh ya bagaimana, apakah kau menemukan sesuatu?


"Ini tentang nona Yue tuan, seperti yang tuan minta untuk menjaganya kalau sedang menjalankan misi. Waktu itu aku melihat rambut nona Yue berubah menjadi merah."


"Tiba-tiba?"


"Benar tuan, waktu itu dia dikepung penjahat dan sewaktu aku hendak membantu, tiba-tiba rambutnya berubah merah dan kekuatannya meningkat drastis."


"Lalu apa yang terjadi?


"Setelah lawannya tewas terbakar, nona Yue langsung pingsan."


Giro juga melaporkan sebuah wilayah yang Ye Chen minta, sebuah wilayah yang cocok dijadikan tempat tinggal sendiri. Ia merasa tidak nyaman kalau harus terus berada di kediaman Lin Yungtao.


"Ayo kita ke sana, kita harus cepat, waktuku tidak banyak dan harus segera kembali." ajak Ye Chen.


Dalam sekejap saja mereka telah sampai, sebuah lembah yang sangat indah. Ada air terjun yang mengalir di sungai yang jernih. "Kau memang hebat Giro, tak kusangka kau bisa menemukan tempat seindah ini."


"Ambil ini." Ye Chen memberikan kristal roh ungu kepada Giro untuk diletakkan di sudut-sudut wilayah, lalu memasang aray pelindung dan aray ilusi di lokasi itu.


"Selesai. Giro ayo ikut, akan ku perlihatkan sesuatu." Ye memasuki sebuah gua yang ada di sana lalu memasang portal khusus. Mula-mula, Ia kembali ke kediaman Peri, dari sana Ia ke alam Peri dan langsung melesat pergi ke wilayah Nannan. Ia harus cepat pergi dari sana karena portal yang menghubungkan alam langit dan alam Peri ada di istana.


Sampai di wilayah Nannan, Ye Chen mengatur nafas sebentar. Ini sangat melelahkan dan menguras tenaga. Portal yang di wilayah Nannan ada di sudut kebun herbal, itu sebabnya Ia tak membolehkan siapa pun masuk kesana kecuali Paman.


"Tuan Chen? apa itu anda...? Paman yang merasa ada getaran pada aray buru-buru melesat ke sana.


"Ini aku Paman," sahut Ye Chen. "Aku memerlukan sesuatu jadi aku kembali."


"Oh ya aku tidak lama, kalau ada orang istana yang mencariku, katakan saja kau tidak tau." sambung Ye Chen.


"Aku mengerti, tenanglah." Paman tau, secepat apapun Ye Chen bergerak mustahil tidak menimbulkan riak pada portal dimensi.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Paman merasa ada sesuatu yang aneh. "Aku baik-baik, tenanglah tidak ada masalah." jawab Ye Chen. Ketika Paman pergi, Giro berkata bahwa bangsa Peri umumnya mempunyai firasat yang halus jadi mungkin Ia bisa merasakan kehadirannya.


Setelah beristirahat sebentar, Ye Chen kembali membuat portal lain, begitu terus sampai Ia kembali ke alam langit.


Jadi sekarang portal sudah terhubung ke semua tempat. Alam langit, wilayah Nannan, wilayah Ye atau yang sekarang bernama kekaisaran Ye dan terakhir adalah desa Ye.


Tempat lain seperti sekte Du, sekte Cia, kediaman Paman di hutan alam Peri dan kediaman Peri di alam langit tidak terhubung secara langsung, hanya dia sendiri yang bisa pergi ketempat itu atau orang yang bersamanya saja.


"Baiklah, semua telah beres. saatnya kembali."


Hari itu semua murid berkumpul di aula utama, setiap murid dibekali sebuah token yang akan digunakan untuk melarikan diri jika terjadi sesuatu. Cukup dihancurkan saja dan murid itu secara otomatis akan melakukan teleportasi ke depan gerbang masuk dimensi.


Yang pertama kali masuk adalah murid dalam lalu disusul oleh murid luar. "Ingat jangan ada yang melewati batas kabut, begitu kalian melihat kabut putih yang ada di sana, segeralah menjauh. Nah semoga sukses" kata tetua akademi lalu melepas semua murid masuk ke sana.


"Kau lagi, apa yang kau lakukan? semua sudah masuk dari tadi." tegur tetua yang menjaga gerbang dimensi.


"Maaf aku membuat makanan dulu."


"Aduh, ya sudah cepat sana." ucap tetua itu tak sabar, semua tetua tau Ye Chen adalah murid tetua Lan dan karena tetua Lan juga ada di sana maka tak mungkin memarahinya apalagi melarangnya masuk.


"Jangan lupa pesanku." tetua Lan mengirim pesan suara kepada Ye Chen sebelum masuk. Ye Chen mengangguk dan mengangkat kedua tangan di depan dada ke arah tetua Lan.


"Aku akui muridmu itu cukup sopan tetua Lan, tapi kau harus lebih mendisiplinkan nya lagi." ucap seorang tetua.


"Yeah mau bagaimana lagi, Ia hanya tidak tau waktu saja. Tapi anak itu cukup penurut dan ramah."


Di dalam ruang dimensi.


Ye Chen dan Giro terus terbang sampai jauh meninggalkan murid-murid lain yang berjalan sambil mencari sesuatu yang berharga. Ye Chen hanya butuh satu, batas dimensi yang telah disegel pihak akademi.


"Sial aku tak pernah mengira dimensi ini sangat luas, pantas saja para penyidik itu butuh berhari-hari untuk memasang pembatas." kata Ye Chen yang sudah turun, disusul Giro.


"Aku akan mencarinya."


"Tidak perlu, ingat kau ini hanya potongan jiwa. Jangan mencari masalah yang tidak perlu. Aku tak mengizinkanmu."


Inilah yang Giro sukai dari Ye Chen, Ia tak pernah menganggap bawahannya sebagai bawahan. Selalu saja menghargai dan menjaganya.


"Heh? kau kenapa? jangan terlalu dipikirkan, ingat kau ini panglima perang terkuat." kata Ye Chen yang hanya tau Giro sedang sedih.


"Baik tuan, oh ya bukankah tuan bilang pernah ke alam Iblis? kenapa tuan tak memasang portal juga di sana?"


"Kau menyadarinya? baiklah akan kuberitahu. Entah kenapa aku agak sungkan bertemu guru Baji. Untuk portalnya, tenang saja sudah ada."


Tiba-tiba dari arah samping ada aura yang sangat kuat mendekat. "Tuan, awas." seru Giro.


Ternyata itu adalah sekumpulan Rusa bertanduk emas, bukan emas tapi karena warnanya kuning keemasan makanya disebut demikian.


"Jangan dibunuh." Ye Chen mencegah Giro yang sudah siap memukul. Setelah itu Ia mengibaskan tangannya, "Rajawali, makanan muncul. Ingat, jangan kau makan semua. sisakan untukku juga."


Tak lama kemudian bau daging bakar memenuhi udara. "Pantas saja auranya begitu kuat, ternyata mereka datang dalam jumlah banyak." ucap Giro yang ikut mengunyah daging panggang."


Rusa tanduk emas yang tersisa kini menjadi penghuni baru dalam cincin dimensi.


Di tempat lain di dalam dimensi.


Tampak Lin Yungtao sedang menghadapi siluman ular yang menjaga sebuah gua. Kekuatan mereka hampir sama, sayangnya Lin Yungtao hanya seorang diri saja sedangkan siluman Ular memanggil bantuan dari siluman Ular lain.


"Saudara Lin, bertahanlah." suara yang sangat dikenal Lain Yungtao.


"Tuan puteri, ah jangan kesini, di sini sangat berbahaya." seru Lin Yungtao tapi puteri tidak menghiraukannya, Ia memasang busur dan mulai memanah siluman Ular.