
Satu tingkat Suci puncak, lima tingkat Suci tahap tinggi ditambah puluhan lagi tingkat Langit. Chu Xiong tau tidak mungkin bisa melawan mereka semua.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Chu Xiong mencoba mengulur waktu. Ia terus berkomunikasi dengan tetua sektenya untuk mengungsikan para murid sekte.
"Hahaha kau masih bisa berbohong, jangan katakan aku kejam." balas patriark Pang, Ia mengangkat tangannya, memerintahkan para pembantunya masuk memeriksa. "Kalau ada yang menghalangi, bunuh saja." katanya lagi.
Patriark Pang benar-benar marah, Ia kembali menghancurkan bangunan di sekte Chu karena tidak menemukan Ye Chen di sana. Chu Xiong sendiri dibantu tetua sektenya berusaha melawan namun karena mereka sama sekali bukanlah tandingan sekte Yin maka mereka berakhir dengan tubuh penuh luka dan yang tidak beruntung akhirnya tewas.
Riwayat sekte Chu tamat, keluarga Chu yang bisa dibilang adalah keluarga terkuat sejak perang besar dahulu kini menjadi kenangan hanya dalam satu hari. Meskipun tidak banyak korban tewas karena telah diungsikan namun duka ini tetap saja membuat banyak pihak menyayangkannya.
Hanya Chu Xiong dan tetua Ma saja, salah satu tetua yang selamat dari amukan sekte Yin yang masih tetap tinggal di sekte. Tadinya hanya Chu Xiong yang akan tinggal karena ingin menunggu Ye Chen tapi tetua Ma bersikeras menemani.
"Patriark...
"Jangan panggil patriark, aku bukan lagi pemimpin. Sekte kita telah hancur." kata Chu Xiong memotong ucapan tetua Ma.
Tetua Ma hanya mendesah pelan, mungkin diantara mereka semua, Chu Xiong lah yang paling terpukul. "Baiklah tuan Chu, aku hanya ingin bertanya saja, sebenarnya apa yang patriark Pang cari sampai menghancurkan sekte?" tanyanya, lalu buru-buru berkata, "Kalau anda tidak ingin bercerita, tidak masalah."
"Aku tidak akan merahasiakannya." jawab Chu Xiong tegas, lalu menceritakan perihal Ye Chen yang datang ke sekte Yin lalu mengambil kristal inti es.
"Aku yakin tuan Ye tidak akan mengambil apa pun dari siapa pun, pasti mereka memprovokasi tuan Ye sebelumnya." lanjut Chu Xiong lagi.
"Apa kau ingat kejadian waktu di kompetisi lalu?" tanya Chu Xiong lagi, tetua Ma menangguk lalu berkata, "Mereka memang keterlaluan. Lagipula, dari dulu kristal inti es tidak mempunyai pemilik yang sah, siapa pun boleh merebutnya kalau sanggup."
Di tempat lain, jauh di sebelah utara, di sebuah bukit terjal, Ye Chen berdiri sambil mengernyitkan dahinya. "Kenapa aku merasa tidak nyaman? apa terjadi sesuatu?" batinnya sambil terus memperhatikan area di sekitar tempatnya berdiri. Ia mencoba mengabaikan firasat ini dan mulai menuruni bukit terjal itu, sesampainya di bawah, Ia mulai sedikit gelisah.
Apa yang Ye Chen temukan adalah adanya sebuah lubang hitam kecil yang tidak stabil. Ini seperti sebuah portal tapi perlu diselidiki lebih jauh untuk memastikannya. Sayangnya Ye Chen tidak ada waktu lagi, perasaan gelisah yang belum hilang membuatnya khawatir. Berulang kali Ia mencoba menghubungi Chu Xiong tapi tidak bisa, entah karena memang terlalu jauh atau memang telah terjadi sesuatu.
Akhirnya Ye Chen memutuskan untuk kembali, setelah menandai posisi lubang hitam.
Apa yang Ye Chen lihat setelah kembali membuatnya marah, betapa tidak, sekte Chu, biarpun tidak rata dengan tanah tapi hampir semua bangunannya rusak parah dan dapat dipastikan tidak ada lagi yang tinggal di sana. Kecuali dua orang yang Ia deteksi adalah Chu Xiong dan tetua Ma.
"Tuan, anda kembali." sapa Chu Xiong dan tetua Ma.
"Tidak apa-apa," kata Ye Chen. "Aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk sektemu nanti dan akan kupastikan mereka semua mendapat balasannya."
Keesokan harinya, tiga manusia terlihat berdiri di depan gerbang sekte Yin. Dia adalah Ye Chen, Chu Xiong dan tetua Ma. "Kalian yakin, mau ikut ke dalam?" Ye Chen bertanya memastikan kesiapan Chu Xiong dan tetua Ma.
"Tentu saja, matipun tidak jadi soal." jawab mereka.
Tidak ada penjaga atau siapa pun mulai dari gerbang masuk sampai pelataran utama sekte Yin, tapi Ye Chen tau, mereka sedang bersembunyi dan menunggu di pelayaran utama.
"Bagus, kuakui keberanianmu anak muda. Oh ada patriark Chu juga hahaha patriark tanpa sekte." Berturut-turut muncul patriark Pang dan lima pimpinan sekte Yin. Kemunculan ini di susul oleh ratusan murid dari sekte Yin.
"Serahkan kembali apa yang sudah kau ambil." kata patriark Pang tegas, tidak mau basa-basi lagi. Meski begitu Ia tetap melambaikan tangannya, memberi perintah untuk meringkus Ye Chen.
"Jangan bergerak, ini bagianku." kata Ye Chen lalu merangsek maju sendiri menghadapi mereka sendirian.
Ye Chen tak menggunakan kekuatannya, Ia hanya menggunakan kekuatan fisik dan levelnya yang sekarang, menyamai level para lawannya. Seperti yang dikatakannya sebelumnya, ingin meregangkan otot.
Orang pertama yang maju Ia tampar sampai jatuh tersungkur, orang kedua terkena tendangan keras di dada. Ye Chen melompat ke depan lagi, tapaknya mencengkram muka lawannya dan membantingnya ke lantai dengan kepala terlebih dahulu.
Bukk...
Ye Chen terkena tendangan di lengannya, namun Ia hanya tersenyum lalu menangkap kakinya dan memukul paha, mematahkannya lalu melemparnya ke arah teman-temannya. Musuh maju lagi dengan tinju tepat mengarah ke dada Ye Chen namun lagi-lagi Ye Chen menangkap kepalan tangan itu dan meninju lengannya sampai patah.
Krakk...
Krakk...
Suara tulang patah terus terdengar, entah itu tangan, kaki, tulang dada maupun rusuk dan bahkan tengkorak kepala. Kemana saja Ye Chen bergerak, pasti akan terdengar tulang patah. Membuat yang mendengarnya merasa tidak nyaman.
"Tuan Chu, anda yakin Tuan Ye itu orang yang sama yang anda kenal?" tanya tetua Ma ketika menyaksikan apa yang Ye Chen lakukan. Ini sungguh jauh berbeda dengan apa yang Ia lihat pada diri Ye Chen selama ini.
"Begitulah tuan Ye, Ia akan sangat serius jika sedang menghadapi musuhnya."
"Tapi bukankah itu terlalu kejam?"
"Jangan terlalu banyak berpikir." sahut Chu Xiong.
Sementara itu Ye Chen masih terus menghajar lawannya, puluhan orang dengan cepat jatuh. Entah masih hidup atau tidak, yang jelas setiap orang di sana pasti menderita patah tulang. "Mau kemana kalian hehe." gumam Ye Chen sambil terus mengejar lawannya yang mulai ketakutan dan berusaha lari.
"Tuan, ampuni ak... aaa...
Mana mungkin Ye Chen akan mendengar perkataan mereka, begitu tertangkap, dia pasti tidak akan pernah lepas. Ini seperti seekor Harimau yang mengamuk, menerkam semua mangsanya.