Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Panglima Muda Du


Di tempat lain, enam orang rekan Xiao Yun menghadang tiga kelompok yang berhasil menjinakkan siluman kuda.


Sama saja dengan kelompok yang di hadapi Xiao, ketiga kelompok inipun dengan keras kepala berniat bertarung mengandalkan jumlah mereka.


Jumlah itu hanya angka, sama sekali tidak berguna jika menghadapi orang yang tingkat kultivasi yang lebih tinggi.


"Panglima, apakah kita tidak membantu mereka? lihat, bukankah itu kelompok dari kekaisaran?" si panglima yang di tanya anak buahnya hanya diam saja, bukan tidak mau membantu tapi hal seperti ini juga wajar terjadi.


"Harusnya mereka sadar diri, tidak akan bisa menang melawan kelompok ini." Akhirnya si panglima membuka suara.


"Tapi mereka semua terbunuh." Bawahan panglima masih protes hendak membantu, sebenarnya Ia juga paham situasi ini. Perseteruan antar kultivator berujung perkelahian dan kekalahan yang membawa kematian adalah hal yang wajar di dunia ini. Kelompok Ye Chen juga awalnya meminta baik-baik bukan mengancam atau langsung membunuh tanpa sebab.


"Sudahlah, aku rasa kau juga paham. Tugas utama kita di sini adalah menghapus atau menandai kelompok yang berpotensi mengacau kekaisaran." Kata si panglima dengan tegas, tidak ingin ada bantahan lagi.


"Langkah Angin ketiga..."


Ye Chen yang memilih membawa semua kawanan siluman kuda, langsung mengaktifkan tehnik langkah angin tahap puncak.


Kawanan siluman kuda yang bergerak sangat cepat ini tidak mungkin ia kejar hanya mengandalkan lari biasa saja untuk bisa mengejarnya. Dengan tehnik langkah angin, satu persatu kawanan kuda ini berhasil Ia dekati dan dimasukkan ke dalam dimensi cincinnya, mengaturnya di tempat yang semula Ia sediakan.


Karena kawanan siluman kuda berlari menjauh, tidak ada yang tau ketika Ye Chen memasukkan mereka ke dalam dimensi cincinnya.


Kini hanya tersisa tujuh siluman kuda saja yang belum masuk ke dimensi cincin hijau yang Ye Chen biarkan saja untuk menjadi tunggangan mereka.


"Tuan muda, dimana kawanan kuda itu, apa mereka kabur?" Tanya Xiao Yun heran.


"Sudah aku simpan, tenang saja. Sekarang kita pergi, semoga yang lain mendapat sesuatu yang berharga disini."


"Tapi aku tidak mau naik kuda tanpa pelana." Gerutu Xiao Yun.


"Iya, lebih baik berlari seperti biasa saja." Sahut yang lain.


"Baiklah... baiklah kalian duluan saja nanti aku susul." Masuk akal juga pikir Ye Chen, lalu memasukkan sisa siluman kuda yang tersisa setelah semua pergi.


"Tapak Jiwa..."


Blaaar...


Dengan cepat Xiao Yun dan yang lain melesat kembali ke tempat Ye Chen setelah mendengar ledakan ini.


"Tuan muda...!"


Ucap mereka serempak, kuatir sesuatu terjadi.


"Tidak apa, aku hanya sedikit muak saja di ikuti terus." Kata Ye Chen sambil menatap arah serangan tapaknya.


"Bukankah tuan muda mengatakan tidak apa-apa selama mereka tidak menganggu kita?" Merasa heran, Xiao Yun bertanya lagi melihat perubahan sikap Ye Chen.


"Aku lama-lama bosan juga jika terus-terusan di ikuti begini," jawab Ye Chen. "Aku berencana menghabisi mereka, yeah tergantung alasan mereka juga."


Di depan Ye Chen berdiri panglima dan dua puluh pasukannya. Untung saja sejak dari awal mereka waspada, jika tidak, mungkin sudah ada korban jiwa di antara mereka.


Ye Chen hanya diam menatap dengan tenang orang-orang yang ada di depannya.


Berbeda dengan Xiao Yun dan yang lain, mereka sudah memasang mode siap bertarung. Xiao Yun menyiapkan panah siap membidik.


"Kami dari kekaisaran, berani kalian menyerang kami?" Ucap salah satu anak buah panglima.


"Kau kira aku takut dengan kekaisaranmu itu hah!


"Jangan lupa, kau berada di wilayah kekaisaran, jaga ucapanmu." Sahut anak buah panglima yang lain.


"Berani kau berkata kasar kepada tuan muda hah, akan kurobek mulutmu." Kata salah satu anggota Ye Chen.


"Dia bagianku, dua panahku akan menembus mulutnya." Xiao Yun menimpali sembari merentangkan dua anak panah.


"Panglima, kami tidak takut mati!"


Mereka semua sejak tadi sudah merasa kesal dan marah, apalagi setelah mendengar Ye Chen berniat menghabisi mereka semua yang sudah berani mengikutinya.


Melihat suasana sudah mulai panas, panglima mencoba mendinginkan suasana dengan berkata bahwa mereka adalah utusan khusus kekaisaran untuk memantau orang-orang di dunia dimensi.


Dengan sopan tapi tegas, panglima kemudian mengenalkan diri.


"Aku panglima muda kekaisaran, margaku Du. Perdana menteri Du adalah ayahku." Katanya dengan tenang, tak ada rasa kuatir atau takut dalam suaranya.


Ia berkata lagi, sengaja mengenalkan diri untuk menegaskan siapa mereka.


Panglima Du telah melihat sepak terjang Ye Chen dan kelompoknya, bukan takut tapi lebih berhati-hati saja. Kalau kelompok Ye Chen memang ancaman bagi kekaisaran, maka Ia siap mati dalam tugas sebagai panglima.


"Mundurlah." Pinta Ye Chen kepada Xiao Yun dan yang lain yang entah kapan sudah berdiri sejajar dengan Ye Chen dengan aura membunuh.


"Panglima Du mendekatlah kesini, kita bicara santai." Pinta Ye Chen lagi kepada panglima kekaisaran.


"Panglima..."


Seorang anggota pasukan mencoba menahan panglima Du yang melangkah mendekati Ye Chen.


"Tidak apa-apa, entah kenapa aku percaya padanya..."


"Tapi panglima.... "


"Mundurlah dan simpan senjata kalian."


Ye Chen cukup kagum dengan sikap panglima Du. Tidak ada niatan lagi baginya untuk menggempur pasukan di depannya setelah tau mereka adalah kelompok dari kekaisaran.


Bukankah tujuannya adalah kekaisaran, tidak mungkin kan Ia bermusuhan dengan mereka.


"Panglima Du, aku sangat kagum dengan ketegasan dan keberanian anda." Kata Ye Chen sembari mengeluarkan seguci arak kecil.


Xiao Yun yang dari tadi waspada, kini telah tenang. Sesekali Ia melirik panglima Du yang duduk didepannya.


Pun demikian dengan panglima Du, Ia kerap terlihat mencuri pandang Xiao Yun.


Panglima Du Berusia tiga puluhan, berbadan tegap dan bermata tegas. Sedangkan Xiao Yun berkulit bersih, rambut panjang hitam duduk memangku busurnya.


Pasangan yang serasi sekali pikir Ye Chen sambil tersenyum kecil.


"Hehehe... ehem-ehem.. uhhuukk..."


Suara Ye Chen membuyarkan lamunan dua orang di dekatnya.


"Tuan muda..." Xiao Yun tertunduk malu dengan wajah memerah. Yang paling membuat dia malu ada batuk Ye Chen yang terakhir.


"Apa-apaan tuan muda ini, uhhuukk... apa itu." Ucap Ye Chen dalam hati tapi matanya di angkat sedikit melihat Ye Chen.


Ye Chen yang melihat Xiao Yun menatapnya, mengangkat-angkat kedua alisnya, menggoda Xiao Yun.


Kalau di biarkan, bisa-bisa tuan muda ini tidak akan berhenti menggodaku sampai mati, pikir Xiao Yun yang berdiri pergi tanpa pamit.


"Qiqiqi... Masih terdengar kikikan Ye Chen di telinga Xiao Yun."


"Tuan muda, aku tidak akan memasak lagi untukmu, makanlah daging mentah saja." Gerutu Xiao Yun.


Mendengar ini Ye Chen seketika diam, ancaman Xiao Yun berhasil membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


Bahaya kalau tidak bisa makan lagi, pikirnya.


Sementara panglima Du yang sudah bisa menguasai dirinya hanya memandang mereka saja.


"Ah maafkan aku panglima Du..." Kata Ye Chen.


Ye Chen lalu memperkenalkan dirinya dan dari mana asalnya.


Tak ada yang Ye Chen sembunyikan dari panglima Du, Ia percaya pada orang di depannya ini. Apalagi panglima muda ini adalah putra dari perdana menteri.


Tentu saja hal-hal yang bersifat pribadi tidak Ye Chen beritahu.


"Bisakah anda memperlihatkan benda itu?" Pinta panglima Du pelan dan terlihat ragu.


Ye Chen hanya tersenyum, Ia tau apa yang panglima Du maksudkan.


Ia meraba kalung di lehernya dan memperlihatkannya pada panglima Du.


"Hamba panglima muda Du, memberi hormat pada putra mahkota!" panglima Du berlutut dan bersujud setelah memastikan benda di tangan Ye Chen.


Tapi Ye Chen dengan sigap menahan panglima agar tidak bersujud, bangun dari sujudnya, panglima Du memaksa memberi hormat secara militer.


Dengan terpaksa Ye Chen menerimanya dan mengatakan bahwa jangan pernah lagi memberi hormat secara berlebihan.


"Aku tidak suka perlakuan yang berlebihan, dan apakah kau yakin panglima?"


"Yakin, aku sangat yakin!" kata panglima tegas. "Semua sangat cocok seperti yang kaisar ceritakan."


Pasukan yang panglima Du tinggalkan di belakang kaget melihat pimpinan mereka memberi hormat secara militer kepada Ye Chen. Penghormatan semacam ini biasanya hanya untuk kaisar saja. Ada apa ini pikir mereka.


Panglima Du sendiri sebagai seorang panglima muda tentu saja tau dengan sangat jelas siapa Ye Chen, tidak mungkin salah lagi.


"Tuan Pangeran, apa ...


"Cukuplah panglima, panggil aku biasa saj." Kata Ye Chen memotong ucapan panglima Du.


"Tuan muda, ah begitu... Hamba, eh aku akan memanggil anda dengan tuan muda saja seperti rekan-rekan anda."


Panglima Du sangat kagum dengan sosok Ye Chen, begitu rendah hati. Tidak semua bangsawan tinggi bisa bersikap demikian, bahkan putra-putra anak saudagar kaya saja sudah gila hormat.


"Panglima Du, jujur aku sendiri masih belum yakin dengan semua ini. Tujuanku kesini karena rasa penasaran ini." kata Ye Chen. "Aku hanya ingin memastikannya saja, sama sekali tidak tertarik dengan hal lain-lain." Tambah Ye Chen.


"Aku tidak mempunyai hak untuk menjelaskannya, kaisar sendiri yang mengatakannya langsung kepada anda."


"Ah baiklah..., oh ya panglima Du, berapa banyak pasukan kekaisaran di dimensi ini?"


"Nah begitulah tuan muda, kenapa sampai pasukan seperti kami ini juga ikut masuk."


"Oh begitu, aku mengerti. Nah silahkan di minum dulu, aku pergi mencari buruan untuk dimakan."


"Tuan muda, biar aku saja. Anda tunggulah di sini." Buru-buru panglima Du bangkit. Tapi sebelum pergi, Ye Chen memegang pundaknya sambil menggeleng.


"Kau tidak tau, kalau bukan aku yang mencari buruan sendiri, nona Xiao tidak akan memasak untukku."


Panglima Du sedikit bingung, mana ada pemimpin yang mencari makanan sendiri.


"Nah aku pergi dulu, tunggulah, akan kupanggil nona Xiao menemanimu. Aku rasa banyak hal yang akan kalian bicarakan hehe.."


Ye Chen berjalan, mencari Xiao Yun.


"eh nona Xiao, rupanya kau di sini. Panglima Du mencarimu."


"ah.. eh, benarkah...? untuk apa dia mencariku?" Xiao Yun tergagap menjawab Ye Chen.


"Ya mana aku tau, cepat sana. Katanya ini penting, mungkin setelah keluar dari sini Ia tak bisa bertemu lagi denganmu." Ye menambah sedikit bumbu dan berhasil membuat Xiao Yun pergi dengan cepat.


Ye Chen yang ditinggal sendiri hanya tersenyum.