
Malam berlalu dengan cepat. "Untung saja malam tadi tidak ada gangguan. Hoamm... arak itu memang istimewa." gumam Ye Chen yang baru bangun setelah hari mulai terang.
"Tuan, anda sudah bangun." Pelayan ini heran juga melihat Ye Chen yang hobi tidur dan makan.
"Kemana semua orang paman, ko sepi?"
"Para peserta dan pelindung kota sedang berlatih, yang lain sudah membawa siluman burung untuk bermain di telaga di pinggiran hutan." Oh ya tuan, tadi pelindung kota berpesan kepada anda untuk menemuinya."
"Eh, apakah terjadi sesuatu?" tanya Ye Chen heran.
"Entahlah tapi kurasa tidak."
"Oh kupikir ada apa." Bukannya menemui pelindung kota, Ye Chen malah pergi masuk hutan.
Di tengah hutan, tidak jauh dari tempat peristirahatan mereka Ye Chen melihat Lu Jia Li kembali berlatih. "Ini jurus kedua." gumam Ye Chen sambil terus memperhatikan Lu Jia Li berlatih yang tentu saja dengan gerakan yang masih kaku.
"Hei apa kau tau, tidak baik mengintip orang yang sedang berlatih?" sebuah suara menegur Ye Chen dari belakang. Begitu berbalik, Ye Chen melihat dua pemuda anggota sekte Angin Petir menghampirinya dengan tatapan permusuhan.
Ye Chen mengacuhkan mereka dan bergerak pergi masuk ke hutan.
"Jangan mengacuhkanku." teriak yang tertua. "Ayo kita kejar, saatnya memberi pelajaran anak itu."
Tapi mereka salah, Ye Chen bukan lari tapi mencari tempat agak jauh. Ia sudah muak dengan tingkah dua orang ini dan memutuskan memberi mereka pelajaran.
"Kalian terlalu lama." ucap Ye Chen begitu dua pemuda ini datang.
"Hehe... besar juga nyalimu. Adik, kau serang dari belakang aku dari depan, patahkan saja tangannya supaya Ia tau siapa...
Aaaahhh
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, pemuda ini mendapat hantaman keras di dadanya.
" Nah giliranmu, ayo sini."
"Kurang ajaar...!"
Pemuda yang satu lagi bergerak cepat meninju Ye Chen.
Tapp...
"Apaa...!" aah lepaskan, lepaskan tanganku."
Ye Chen menangkap tinjunya dan menyalurkan hawa panas melalui tangannya. "Ingin mematahkan tanganku? Hhe, kalian terlalu membanggakan diri."
Kraakkk...
Uhuukk...
Tak ada suara kesakitan ketika tangan pemuda ini Ye Chen patahkan, karena Ye Chen langsung memukul mulutnya dan pingsan.
Ye Chen menatap pemuda tertua dengan senyum. "Sekarang giliranmu, jangan lari."
Jangankan lari, bergerak saja pemuda ini tidak kuat. "Mau apa kau, jangan, jangan mendekat. Aku ini tuan muda sekte Angin Petir."
"Persetan dengan sektemu, aku juga tidak peduli kau menjadi peserta turnamen." kata Ye Chen sembari berjalan pelan mendekatinya.
Tapp...
Ye Chen menginjak tangan kirinya dan kraakkk... patah.
Aaahh....
"Eh jangan teriak, lihat saudaramu itu, dia diam saja." Sama seperti saudaranya, Ye Chen juga memukul mulut pemuda ini sampai beberapa giginya lepas dan pingsan.
"Tuan pelindung, aku sudah siap jika anda ingin membalaskan dua pemuda tak berguna itu." Rupanya pelindung kota sendiri yang berdiri di depan Ye Chen.
Pelindung kota yang sedang ingin melihat Lu Jia Li berlatih, tertarik ketika melihat dua pemuda ini berlari seperti mengejar sesuatu.
Karena penasaran, Ia mengejarnya tapi terlambat, begitu tiba, Ye Chen telah membuatnya pingsan.
Anak ini mengalahkan dua tingkat Bumi menengah dengan mudah, padahal sama-sama berada di tingkatan yang sama, benar-benar mengerikan pikirnya.
"Aku hanya ingin tau, kenapa kau mematahkan tangan mereka?" selidik pelindung kota.
"Ayolah tuan pelindung, anda sendiri tau, kalau bukan aku yang kuat, pasti tangankulah yang mereka patahkan." jawab Ye Chen santai. "Dan, aku tidak mau tanganku patah."
Pelindung kota mendesah, memang begitu kejadiannya. Ia tidak menyalahkan Ye Chen, Ia hanya menyayangkan sikap dua pemuda itu yang menurutnya terlalu memandang rendah orang lain.
"Sekarang wakil kota Kenanga hanya kalian berlima, kau harus menang nanti." ucap pelindung kota tidak mau memperpanjang masalah lalu pergi. Tidak lama, dua orang yang Ye Chen tau adalah pengawal rombongan datang dan membawa pemuda yang terluka.
"Tuan pelindung," seorang pengawal datang menghampiri. "Apa tidak apa-apa membiarkannya begitu saja?"
"Kau lihat sendiri, wakil sekte Angin Petir itu yang terlalu sombong, dan ingat, anak itu adalah perwakilan dari paviliun Teratai. Jangan membuat masalah baru dengan mereka."
Tentu saja pengawal ini juga tau apa itu paviliun Teratai, tidak baik menyinggung mereka apalagi Ye Chen memang tidak sepenuhnya salah.
"Kakek, apa yang terjadi?" tanya Lu Jia Li yang mendengar kabar dua orang yang terluka.
"Tidak apa, mereka terlalu jauh masuk hutan, mereka diserang binatang buas." jawan pelindung kota menutupi kejadian sebenarnya. "Lebih baik bersiap, katakan pada yang lain, sebentar lagi kita berangkat."
Siang telah beranjak, lima bayangan siluman burung meninggalkan tepi hutan melanjutkan perjalanan. Pelindung kota memutuskan untuk langsung menuju ibukota kekaisaran tanpa beristirahat lagi.
Di atas siluman burung yang Ye Chen naiki. "Memang enak begini, sendiri tanpa ada dua orang sampah itu." kata Ye Chen merebahkan tubuhnya.
Tanpa terasa perjalanan semakin mendekati tujuan, dari atas sudah terlihat ibukota kekaisaran yang ramai.
Turnamen antar benua yang baru pertama kali di adakan menarik minat penduduk, ibukota di hias dengan sangat meriah.
"Tuan," kata pelayan Ye Chen. "Begitu kita mendarat, aku akan membawa anda ke paviliun di pusat kota. Setelah itu, tugasku selesai, mungkin aku akan kembali ke kota Kenanga."
"Aku kira paman akan ikut ke benua Utara."
"Ah tidak, tugasku hanya sampai di sini saja. Paviliun pusat juga memiliki siluman burung sendiri."
"Baiklah, terima kasih paman sudah mengantar." Ye Chen lalu memberi pil Bumi padanya yang diterima dengan penuh sukacita.
"Semoga paman bisa menerobos ke tingkat Bumi dengan pil ini." tambah Ye Chen.
Paman penarik siluman burung ini sangat senang, selama beberapa tahun ini kultivasinya macet di tingkat Emas. Memang pil tingkat Bumi banyak dijual tapi gajinya sebagai pengurus siluman burung tidak akan cukup membeli sebuah pil.
Begitu mendarat dan mengantar Ye Chen, sekali lagi pria ini mengucapkan terima kasihnya atas kebaikan Ye Chen.
"Sampai ketemu lagi tuan, jaga diri anda." ucapnya.
Ye Chen diantar ke sebuah ruangan yang cukup besar, pelayan yang membawa Ye Chen berkata untuk menunggu ketua paviliun dan meminta Ye Chen beristirahat.
"Memang hebat paviliun ini," gumam Ye Chen takjub. Gedung paviliun Teratai pusat memang sangat besar, gedung berlantai dua ini hampir sama seperti yang ada di kota Kenanga.
Bedanya di sini lebih besar lagi, lantai satu selain digunakan untuk aktifitas jual beli segala keperluan kultivator, juga digunakan sebagai tempat lelang.
Lantai duanya hanya terdapat kamar-kamar, termasuk kamar yang Ye Chen tempati.
Ruangan lain, digunakan oleh ketua paviliun.