
Ye Chen hanya tersenyum mendengar ucapan Lin Yungtao, Ia setuju dengan hal itu asal jangan ada murid dalam yang berniat mematahkan kaki atau tangannya saja.
Menggunakan belati dalam sebuah pertempuran bukan hal mudah, karena jangkauan belati yang terbatas membuat penggunanya tidak bisa jauh dari lawan. Begitupun dengan Ye Chen yang sekarang menggunakan belati sebagai senjatanya, Ia harus berada sedekat mungkin dengan lawannya kalau ingin melukainya.
Trang...
Trang...
Suara benturan belati di tangan Ye Chen dan pedang di tiga lawannya terdengar keras. Ye Chen sendiri tidak bergerak terlalu cepat, Ia hanya mengimbangi gerakan lawannya saja untuk memberi pengertian teknik belati kepada puteri Jia.
"Perhatikan baik-baik keseimbangan tubuhmu, jangan selalu menunggu lawanmu menyerang."
"Jangkau belati tidak sejauh pedang, ciptakan peluangmu sendiri."
"Gunakan sebelah tanganmu yang lain untuk menepis dan memukul."
"Seperti ini."
Plakk...
"Jangan cepat puas jika berhasil melukai lawanmu."
Ye Chen terus memberikan instruksi sesuai teknik belati yang Ia mainkan, mulai dari menghindar, menunduk, menangkis atau menepis tangan lawan dengan tangan kirinya. Sementara murid dalam yang mengepungnya semakin marah, mereka dijadikan objek latihan. Benar-benar membuat naik darah.
Dua murid dalam maju lagi, membantu temannya.
"Nah sekarang, perhatikan baik-baik cara menciptakan peluang jika dikepung lima orang." Usai berkata seperti itu, Ye Chen melompat ke belakang. Mengatur nafas sebentar dan maju lagi.
Kali ini Ia banyak bergerak berputar ke samping atau ke belakang lawan setelah menyerang.
"Karena hampir tidak ada titik buta, maka untuk menciptakannya, ancam dulu satu orang, begitu temannya datang membantu, maka seranglah orang ketiga."
"Konsentrasi, fokus dan tetap waspada adalah kuncinya."
"Hebat..." gumam puteri Jia.
Bukan hanya dia seorang tapi semua yang menonton juga kagum dengan serangan Ye Chen dan yang lebih penting lagi, semua ikut belajar, ikut mencatat teknik yang Ye Chen mainkan. Praktek dan teori langsung memang sangat mudah dimengerti, bahkan murid dalam yang tidak ikut mengepung pun ikut mencatat.
"Senior Chen," seru salah satu murid di sana. "Apakah tidak membuat lawan cedera? kalau hanya memberikan luka kecil, aku khawatir akan kehabisan tenaga nantinya."
"Benar saudara Chen." seru Lin Yungtao yang ikut penasaran.
"Baik, sekarang perhatikan baik-baik." sahut Ye Chen, Ia lalu melompat ke belakang lagi. "Sekarang teknik menyerang." lanjutnya lagi.
Ye Chen mulai menyerang, kali ini Ia hanya sedikit memberikan penjelasan. "Ingat, tetap fokus. Jangan pedulikan titik mana yang kau lukai, luka sekecil apapun akan berdampak terhadap lawanmu dan akan melemahkan mental bertarungnya."
Trang...
Sret...
Clebb...
Benturan senjata kembali terdengar, kali ini disertai dengan suara pakaian yang sobek dan rintihan kesakitan dari lima lawan Ye Chen.
Ye Chen menusuk paha kemudian menyayat lengan atau kaki atau bagian mana saja yang bisa dijangkau oleh belatinya. Serangan ini membuat lima lawannya menjadi jeri, satu persatu mulai melompat menjauh tak kuat menahan sakit. Bukan hanya satu luka saja tapi hampir di seluruh tubuh mereka terluka.
Murid dalam bukan orang bodoh, mereka semua adalah tingkat Surgawi dan tau persis bukanlah tandingan Ye Chen yang sejak awal tidak bertarung serius. Sementara itu Ye Chen juga sudah kembali ke tempat puteri Jia dan yang lain berdiri. "Bagaimana, apa kau tertarik?" tanya Ye Chen kepada puteri Jia.
Puteri Jia tidak menjawab, Ia hanya menggeleng pelan. Bukan tidak tertarik tapi kalau harus bertarung dengan jarak sedekat itu dengan banyak pria sekaligus, Ia tidak mau. Ia hanya menggumam kecil, "keringat mereka...."
"Hahaha aku mengerti, memang tak nyaman tapi begitulah cara bertarung jika menggunakan belati."
"Senior, bagaimana ini? lima murid dalam yang tersisa bertanya kepada pemimpin mereka.
"Kita pergi." kata si pemimpin itu. Ia juga sangsi bisa menang. Tapi mereka salah kalau bisa pergi begitu saja, Ye Chen tak mungkin membiarkannya.
"Adik Jia, akan kutunjukkan teknik belati yang lebih tinggi."
"Benarkah?"
"Tentu saja," sahut Ye Chen. Ia lalu berpaling kepada murid dalam yang ingin meninggalkan dapur. "Paling tidak darah kalian harus membasahi tempat ini." kata Ye Chen.
"Senior Chen, kami juga...."
"Baiklah, kalian semua, perhatikan baik-baik aku tak akan mengulangnya." kata Ye Chen ketika mendengar murid lain yang juga ingin belajar.
Jlebb...
belati putih itu menembus pundak salah satu murid dalam, Ye Chen tidak menyentuh belati yang masih menancap di bahu murid itu saat menariknya. Ia hanya merentangkan telapak tangannya dan belati itu seperti tersedot kembali ke genggamannya.
"Belati yang bagus." gumam Ye Chen saat melihat belati yang kembali putih bersinar, tak ada noda darah sama sekali.
Teknik ini Ye Chen ulang terus menerus sampai semua murid dalam itu terkapar di lantai dengan tubuh penuh luka tikaman belati.
"Pergilah! lain kali kepalamu yang akan berlubang jika berani mengancamku lagi." kata Ye Chen kepada murid dalam itu.
"Kakak Chen, apa nama teknik yang terakhir itu? aku suka yang itu." kata puteri Jia yang merasa cocok karena tidak harus bergerak terlalu dekat dengan lawannya.
"Aku juga tidak tau, namai sendiri saja. Ini belatimu, simpan baik-baik."
Mulai saat itu, puteri Jia terlihat beberapa kali datang ke dapur akademi bersama Lin Yungtao yang tak ingin ketinggalan. Mereka sering berlatih bersama di tanah lapang di sebuh bukit di belakang dapur.
Suatu hari, Lin Yungtao datang sendiri, ketika Ye Chen bertanya tentang puteri Jia, Ia hanya mengatakan bahwa puteri Jia bersama beberapa murid dalam sedang menjalani misi di luar.
"Kau tidak pergi?" tanya Ye Chen.
"Sepertinya kau senang kalau aku pergi."
"Bukan begitu, tapi kalau aku perhatikan, kau jarang mengambil misi."
"Saudara Chen, aku di sini belajar ilmu keprajuritan, jadi tidak terlalu banyak mengambil misi. Tapi hari ini aku juga akan pergi, kebetulan saja lewat sini."
"Oh? jadi begitu... ada yang seperti itu juga?"
Lin Yungtao mulai kesal lagi, "Sudahlah, kujelaskan pun kau tidak akan tau, makanya baca buku panduan supaya kau tau tidak hanya ilmu pedang-pedangan saja yang bisa dipelajari di sini tapi semua ilmu."
"Hehe..." Ye hanya tekekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Saudara Chen, itu... bisakah kau membuatkan sedikit bekal makanan?"
"He kau pikir aku ini Ibumu? pergi sana, masak sendiri."
"Tapi...
"Tidak ada tapi tapi, aku malas aku juga mau pergi."
"Sedikit saja saudara Chen... sekalian buatkan juga untuk puteri Jia, dia pasti sangat senang."
Bukan hanya karena puteri Jia, Ye Chen memang senang jika bisa berbuat sesuatu untuk orang lain dan dia tau persis manfaat masakannya untuk orang lain.
"Nah ini bekalmu dan adik Jia, ingat jangan ragu-ragu untuk membunuh musuhmu. ah kau terlalu lembek untuk seorang panglima."
"Cih kau menasehati atau menghina?" sahut Lin Yungtao.
Sepeninggal Lin Yungtao, Ye Chen juga segera pergi. "Giro, bagaimana persiapannya?"
"Beres tuan, semua sudah siap."
"Bagus, kita pergi sekarang saja. lebih cepat lebih baik."
......................
Setelah saya update NT.
Draft kehapus, bikin baru lagi ternyata ga ke save dan harus bikin lagi. Ah lebih bagus ga usah update kalo kek gini, bikin cape aja.
Draft juga jadi double dan isinya kosong. Bikin bingung aja.
Setelah sy perhatikan, eh ternyata ada dua versi draft. Versi lokal dan versi online, mungkin draftnya ke save di salah satu versi itu tapi sayangnya sy ga ngerti cara milihnya karena itu muncul sendiri, kek pop up gitu.
Tapi ga papa.
Sy coba bikin lagi, semoga ga ilang n bisa update lebih dari satu bab lagi.
Maksih untuk dukungannya.
Cheers ^^