
Umumnya, untuk naik ke Alam Surga atau ke alam yang lebih tinggi, seseorang haruslah memenuhi syaratnya terlebih dahulu dan salah satunya adalah dengan rekomendasi dari leluhur. Khusus alam Phoenix tempat Yue tinggal, Menara Api adalah salah satu dari rekomendasi leluhur ini.
Setiap orang yang akan naik kemudian di arahkan ke sekte Api Abadi sebagai sekte utama yang akan menampung mereka. Namun, akan ada seleksi untuk menjadi murid di sana dan bagi yang tidak lulus seleksi, akan di tempatkan di luar sekte.
Meskipun masih menjadi bagian sekte, tapi tingkatannya sangat rendah. Butuh waktu dan ketekunan untuk diterima menjadi murid resmi sekte.
Bisa dikatakan, perjalanan menuju Alam Surga hanyalah langkah awal bagi seseorang untuk meraih keabadian dan tentu saja untuk kembali lagi akan sangat sulit dan hampir tidak mungkin terutama kembali ke alam di bawah Alam Langit.
Mendengar penjelasan dari penguasa Tianmeng, Ye Chen kemudian mengerti. Hal-hal lainnya akan dia pikirkan nanti.
Tapi yang paling menarik perhatiannya tentang Alam Surga adalah tentang taman Surga, bukankah menurut pengakuan gurunya dulu, gurunya adalah penjaga Taman Surga? apakah taman itu terletak di Alam Surga?
Berpikir sampai di sini, tentu saja Ye Chen tidak akan menolak satu slot yang diberikan Yue kepadanya. Mungkin dia bisa mengunjungi Taman Surga dan bertemu jejak aura gurunya. Namun, pertanyaan lainnya adalah dimanakah Taman Surga? apakah benar letaknya ada di Alam Surga?
Ye Chen tidak perlu berpikir banyak lagi, dia segera menerima dengan senang hati. Yang paling dekat menuju ke sana adalah Alam Surga, alam yang lebih tinggi dari dari alam langit.
"Tuan Tianmeng, ada sedikit pertanyaan yang menganggu ku."
"Katakan, jangan sungkan."
"Begini, aku akan bersedia menjadi pelindung adik Yue tapi jujur saja aku tidak begitu tertarik untuk masuk sekte Api Abadi, jadi aku hanya akan mengantar adik Yue dan memastikan keamanan nya sampai Ia diterima dengan baik di sekte Api Abadi. Apakah bisa seperti itu?"
Menghabiskan waktu sebagai murid sekte? Ye Chen pasti tak akan mau. Namun, penguasa Tianmeng jadi jelek setelah mendengar ini.
"Tuan Ye, ini sulit. Setiap yang akan pergi harus dilaporkan dan sekte tidak akan mengizinkan adanya orang pergi dari nama-nama ini."
Sekte Api Abadi adalah salah satu kekuatan besar, mereka akan merasa tersinggung jika ada yang naik tapi tidak mau bergabung.
Lalu, Alam Phoenix akan menerima akibatnya, mungkin saja kedepannya, perwakilan mereka tidak akan diterima lagi sebagai akibatnya. Ini harga yang yang sangat mahal untuk bisa diterima.
"Baiklah, aku akan memasuki sekte Api Abadi." Ye Chen akhirnya setuju, secara otomatis Ia juga tidak mau menyusahkan pihak lain.
"Tuan Ye, yakinlah, anda tidak akan kecewa. Lagipula, menjadi murid sekte bukan berarti harus selamanya berada di sekte, anda bisa mengambil misi yang panjang." sambung Tianmeng lagi.
Ini seperti akademi langit, dimana Ye Chen sebelumnya. Dia juga tidak terlalu terikat.
"Aku keberatan dia menjadi pendamping nona Yue!"
Pertemuan itu dikejutkan oleh kedatangan seorang pemuda yang menentang keputusan Yue. Ye Chen berpaling melihat Tiameng, meminta penjelasan. Tianmeng sendiri buru-buru menjelaskan, memang ada peraturan untuk menentang pilihan pendamping yang dipilih oleh yang terpilih, namun ini sangat jarang terjadi.
"Baiyun! apa tujuanmu, katakan!" seru Tianmeng gusar. Dia masih belum memberikan pelajaran atas apa yang terjadi pada Yue di menara api, Baiyun sudah membuat masalah lagi.
"Penguasa Tianmeng, aku hanya mengikuti aturan yang sudah ada. Tidak masalah bukan?"
"Ini... " Tianmeng tak bisa berkata lagi, Ia hanya busa mengalihkan perhatiannya pada Ye Chen.
"Anak ini benar-benar punya nyali."
"Huh tunggu sampai dia merasakan apa yang namanya dipukul sampai tak mau hidup lagi."
"Bersiaplah" ucapnya pelan.
"Huh, kau terlalu sombong. Kau pikir hanya kamu yang mempunyai api?"
Api yang sangat besar tiba-tiba muncul di seluruh tubuh Baiyun setelah ucapannya selesai, api itu lalu mengecil menjadi lebih padat dan akhirnya disalurkan ke pedang di tangannya.
"Mati!"
Terlalu berpikir ingin membalas dendam karena telah menggagalkan rencananya, Baiyun langsung mengeksekusi serangan terkuat yang Ia miliki dan menyerang Ye Chen dengan kekuatan penuh.
Sayangnya Ia tidak pernah menyangka lawannya kali ini adalah api itu sendiri. Nafsu membunuh membutakan pikirannya, berpikir Ye Chen menggunakan artefak khusus untuk menyembunyikan kultivasi nya.
Dengan lambaian tangan ringan, Ye Chen membuyarkan badai api yang membungkusnya. bilah pedang Baiyun Ia tangkap begitu saja dan direnggut darinya.
Sedangkan tangannya yang lain memegang kuat pergelangan tangan Baiyun.
"Bermain api denganku? kau masih belum cukup. Ini ku kembalikan api mu."
"Aah tidak...! lepaskan aku!"
Baiyun berteriak dalam ketakutan, teriakannya berubah menjadi tangisan kesakitan ketika pedangnya yang terbungkus api menyayat tubuhnya. Luka yang ditimbulkan tidak langsung membunuh Baiyun, luka itu hanya luka sayatan yang tidak terlalu dalam. Namun yang paling mengerikan adalah adanya api di dalam luka sayatan yang tak bisa padam.
Baiyun di bakar hidup-hidup.
Usaha apa pun yang di lakukannya percuma, sebelah tangannya di pegang pihak lain sementara tubuh nya di sayat dan dibakar. Kalau tidak Chen sekuat itu, Ia tak akan pernah berani bergerak.
"Tuan Ye, ampuni aku. Aku janji tidak akan pernah menyinggung anda lagi." ratapnya.
"Terlambat, nyalimu sangat hebat sampai berani ingin membunuhku."
Baiyun terkulai di tanah ketika Ye Chen melepaskan pegangan tangannya.Terakhir, Ye Chen melempar api kecil melalui jentikan jarinya dan membakar Baiyun sampai tak tersisa.
Pertempuran ini tidak berlangsung lama, paling lama hanya tiga menit, itupun karena Ye Chen sibuk menyayat Baiyun. Saat Baiyun sudah menjadi abu, Tianmeng serta yang lain yang ada di sana baru tersadar.
Tak ada yang bersuara, semua diam. Apa yang Ye Chen lakukan benar-benar di luar perkiraan, bukan hanya membunuh sampai menjadi abu tapi proses kematiannya sangat kejam. "Darimana Yue mengenal monster ini." batin Tianmeng. Kekuatan Ye Chen memang sudah tidak diragukan lagi tapi caranya menghabisi Baiyun sungguh di luar kebiasaan. Apakah Yue akan aman berada di dekat orang ini? pikir Tianmeng lagi.
"Tuan, tuan muda!"
Satu sosok yang cukup kuat muncul dari kerumunan, Ia menatap Ye Chen dengan penuh dendam.
"Aku akan melaporkan ini." ucapnya.
"Bergerak satu langkah, maka kau juga akan menjadi abu." Ye Chen membalas ucapan penatua itu dengan tatapan main-main. Tatapan yang akan menjadi kenyataan jika penatua itu berani bergerak.
Lalu, Ye Chen berbalik, Ia melangkah pelan menuju kedalam. Hari esok adalah hari dimana Ia rombongan dari alam Phoenix akan berangkat jadi Ia tetap tinggal di kediaman penguasa Tianmeng.