
Setelah menimbang sebentar, Ye Chen memutuskan untuk tidak kembali ke wilayah Ye. Ia akan pergi ke tempat guru Baji. Mungkin saja ada petunjuk untuk pergi ke tempat raja Iblis lain atau ke dimensi lain yang berhubungan dengan raja Iblis.
Sepanjang perjalanan, Ye Chen yang kembali mengenang masa-masa bersama puteri Jia mau tidak mau mengingatnya juga, Ibunya sama seperti puteri Jia, sama-dama berasa dari ras Peri. Suatu saat nanti, aku akan pergi ke alam Peri, batin Ye Chen, bukan saja untuk mencari puteri Jia tapi juga ingin sekali melihat seperti apa tempat Ibunya dibesarkan.
...
Berbekal peta di tangannya, Paman dan puteri Jia berhasil menemukan titik untuk kembali ke alam Peri. "Tuan puteri, boleh aku lihat mata kalungmu itu?" pinta Paman ketika melihat bola inti es yang dijadikan mata kalung oleh puteri Jia.
"Tidak boleh, ini pemberian kakak Chen. Nanti Paman menghilangkannya." jawab puteri Jia, Ia menggenggam erat mata kalung itu.
"Anak nakal, sekarang kau lebih percaya sama kakak Chenmu itu ya daripada Paman."
"Paman, bukan begitu... tapi ini hanya ada satu, bagaimana kalau jatuh terus pecah atau hilang atau menguap atau terbakar atau...
"Aduh atau apalagi, sudah cepat sini, aku hanya memeriksanya saja." Paman memotong ucapan puteri Jia, dalam hati Ia berkata, "anak ini benar-benar berubah."
"Tapi paman harus berjanji dulu tak akan merusaknya."
"Iyaa paman janji...." puteri Jia tersenyum. "Nah ini, Paman boleh memegangnya." katanya sambil menyodorkan bola inti es itu.
"Bagaimana Paman? pasti itu benda yang sangat berharga kan...?"
"Mm, aku tak yakin, tapi samar-samar aku merasakan getaran aura yang dingin." kata Paman, Ia menggenggam erat batu inti es yang masih terbungkus botol kaca itu.
"Apa tuan Chen mengatakan sesuatu saat memberikannya?"
Puteri Jia mencoba mengingat kembali, setelah itu Ia berkata, "Kata kakak Chen, aku boleh menggunakannya untuk kultivasi, Ia bilang benda itu sangat cocok untukku Paman."
"Benarkah? bolehkah kotaknya dibuka?" Paman kembali bertanya tanpa menoleh, Ia penasaran pada benda melayang di dalam kotak.
"Aku takut benda itu terbang dan pergi Paman, lihat saja, benda itu melayang di dalam sana."
"Tidak akan, apa kau lupa Pamanmu ini ahli formas?" puteri Jia akhirnya menyetujui ucapan Pamannya.
Wuss....
Angin yang sangat dingin berhembus begitu kotak transparan itu terbuka. Cepat-cepat Paman menutupnya kembali. "Ini bukan benda berharga tapi benda langka yang sangat berharga. Tuan puteri, tuan Chen benar, ini bisa meningkatkan kultivasimu."
"Benarkah? tapi kalau aku menyerapnya, benda itu akan hilang, apa yang nanti kakak Chen katakan kalau aku bertemu dengannya... Aduh, lebih baik tidak usah Paman."
"Kata siapa tuan Chen akan akan menemuimu, bertemu denganmu."
Puteri Jia menghentikan langkahnya, "Paman... benarkah...? apa kakak Chen mengatakan begitu?" mata puteri Jia mulai mengembang, hampir saja setitik air yang bening melompat dari sana.
"Tuan puteri, maaf aku hanya menggodamu saja. Tuan Chen tidak pernah mengatakannya."
"Hehe aku tau, tidak mungkin kakak Chen mengatakannya."
"Biar, salah Paman juga, kenapa Paman berbicara yang aneh-aneh."
"Tuan puteri, ini adalah kristal inti es, yang dikatakan tuan Chen itu benar sekali, dengan menyerap kristal ini, bukan saja kultivasi anda akan meningkat tapi kekuatan mengolah Yin di tubuh anda juga akan semakin kuat."
"Mungkin tuan sengaja memberikan benda untuk membantu kultivasi anda." sambung Paman lagi.
"Tapi, bagaimana kalau nanti kakak Chen...
"Jangan berpikir macam-macam, tuan Chen pasti mau melihat anda lebih kuat dari sekarang." potong Paman lagi.
"Eh, Paman," puteri Jia mendekati Paman. "Apakah aku dapat melewati kakak Chen kalau ku menyerapnya?" tanyanya dengan mimik serius.
Paman mengernyit mendengar pertanyaan ini, "Aduh tuan puteri, maaf kalau aku mengecewakan anda, tapi aku rasa itu tidak mungkin, apakah anda lupa bagaimana kuatnya aura tuan Chen saat kita datang?"
Puteri Jia kembali mengingat peristiwa itu, Ia Mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu Paman berkata lagi. "Aku juga tidak yakin dapat mengalahkan tuan Chen dalam pertarungan serius."
"Benarkah itu Paman?" puteri Jia tidak percaya. "Tapi kakak Chen mengatakan Paman lebih kuat dari dirinya."
"Sepertinya tuan Chen menyembunyikan tingkatannya, entahlah, aku tak bisa melihat kultivasinya."
Puteri Jia tersenyum bangga, wajahnya menengadah ke langit. Paman yang melihat ini kembali menggeleng. "Maka dari itu tuan Chen memberikan inti salju agar anda bisa menjadi lebih kuat."
"Ayo sebentar lagi kita sampai," kata Paman lagi sambil terus menandai peta di tangannya. "Tuan puteri, jangan beritahu siapa pun perihal kristal inti es itu. Katakan padaku jika anda sudah siap menyerapnya."
Di alam Peri, Paman dan puteri Jia Jia disambut haru oleh keluarga istana, ayah kaisar dan ratu sampai meneteskan air mata saking bahagianya, mereka tak pernah menyangka puteri satu-satunya akan kembali tanpa kurang suatu apapun, malah terlihat lebih bersemangat.
Paman menceritakan perjalanan mereka tanpa sedikit pun menyinggung tentang Ye Chen, "Paman Jinming," nama sebenarnya dari Paman. "Aku lihat Jia'er lebih ceria dari biasanya, apakah terjadi sesuatu di sana?" tanya sang Kaisar, puteri Jia memang terkenal dingin, tapi dari pandangannya, sifat puteri Jia banyak berubah. Dia sudah mulai sering tersenyum.
"Mungkin karena selama di sana, tuan puteri tak perlu risau dengan aturan-aturan istana, jadi merasa lebih bebas." jawab Paman, menyembunyikan alasan sebenarnya puteri Jia terlihat lebih ceria karena bertemu dengan Ye Chen.
Kaisar mengangguk mengerti, "Ada benarnya juga, aih semua salahku, sepertinya aku terlalu mengekangnya selama ini." kata sang kaisar. "Paman Jinming, aku berencana mengatur pernikahan Jia'er bagaimana menurutmu?"
Biarpun telah terbiasa di kalangan ras Peri untuk menjodohkan anak gadisnya, tetap saja Paman kaget. Ekspresi ini tertangkap di mata kaisar. Ia lalu mengulang kembali pertanyaannya.
"Aku rasa anda terlalu cepat, Aku ragu tuan puteri akan menerima saran ini."
Hari berlalu, suasana istana kembali meriah, tidak seperti dahulu ketika puteri Jia Jia menghilang. Hari itu atas di adakan sebuah pesta untuk merayakan kembalinya tuan puteri.
"Tidak! pokoknya tidak, aku tidak mau dijodohkan." teriak puteri Jia di dalam kamarnya. Hari itu saat pesta tengah berlangsung, kaisar juga mengumumkan pernikahan puteri Jia, semua orang menyambut baik rencana ini dan mulailah para pemuda berlomba mendapatkan hati tuan puteri.
Yang paling menonjol adalah Kunlao, putera seorang menteri, berparas cukup tampan dengan kultivasi Surgawi tahap menengah membuatnya sangat yakin akan terpilih. Sayangnya Kunlao ini wataknya angkuh, suka memandang rendah yang lain.
"Jia'er, usiamu sudah cukup untuk menikah, mau tunggu apalagi. Lihatlah para pemuda itu, tak ada yang mengecewakan di antara mereka semua." kata Ratu, ibu dari puteri Jia