Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Penawar Racun


Lewat tengah malam, Song Fei keluar dari tendanya. Ia tau pasti Ye Chen yang mengobatinya di dalam tenda.


Di luar tenda, tampak Ye Chen duduk bertelanjang dada di bawah rembulan yang bersinar lembut.


Ye Chen yang masih belum bisa menenangkan diri di dalam tenda memutuskan keluar.


Song Fei menyalakan api, membakar dahan dan ranting sambil memandangi Ye Chen yang ada di depannya.


Nyala api makin besar menerangi tempat mereka, Song Fei yang kini melihat dengan jelas Ye Chen yang tidak memakai baju segera menunduk malu. Sesekali ia masih melirik Ye Chen melihat dada bidang yang tidak terlalu berotot membuat wajah Song Fei kembali memerah, jangan-jangan tuan muda sudah tau rahasianya pikir Song Fei.


Sementara Ye Chen yang merasakan kehadiran Song Fei mengakhiri kegiatannya dan mendekat dan berkata sedikit canggung. "Maaf aku memasuki tendamu, apa yang terjadi?"


Song Fei yang merasa nada suara Ye Chen tidak seperti biasa hanya menghela nafas, "aku juga tidak tau, sejak pagi aku merasa organ dalamku dingin. Oh ya terima kasih sudah menolongku."


"Apa mungkin kau terkena racun yang sama? tanya Ye Chen.


"Entahlah... aku juga bingung."


Asik mengobrol membahas keadaan Song Fei dan keanehan yang lain membuat suasana yang semula canggung kembali normal.


"Sebaiknya kau istirahat, besok baru kita cari lagi penyebabnya."


Tinggal sendiri membuat Ye Chen berpikir keras, kalau Song Fei terkena racun lalu kenapa Ia sendiri tidak dan dari mana racun itu berasal, kenapa bisa masuk ke tubuhnya.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Ye Chen.


Keesokan paginya, Ye Chen tiba-tiba saja bangun dan berlari menuju tepi telaga, berjongkok lalu mengambil rumput herbal serta ikan yang biasa mereka konsumsi.


"Tuan muda, apa anda menemukan sesuatu?" tanya Song Fei heran melihat reaksi Ye Chen yang terburu-buru.


Ye Chen hanya diam, Ia fokus membakar hasil tangkapannya dan melahapnya seorang diri tanpa menawarkannya pada Song Fei.


Selesai menyantap semuanya, Ye Chen masuk tenda dan tidak pernah keluar lagi.


Hari kedua Ye Chen tetap berperilaku aneh, hanya saja kali ini tangkapannya lebih banyak dari kemarin.


Song Fei sebenarnya ingin menanyakan apa yang Ye Chen lakukan tapi akhirnya diam saja karena Ia sama sekali tidak di lirik. Reaksi racun dalam tubuhnya juga mulai sering kumat lagi.


Hari ketiga barulah Ye Chen datang menyapa Song Fei. "Song Fei akhirnya aku menemukan penawar racun ini." ucap Ye Chen bangga.


"Hah? benarkah...?"


"Tentu saja, ak... ...


Belum selesai perkataan Ye Chen, Song Fei langsung melompat memeluk erat Ye Chen sampai terbaring, posisi Song Fei melekat erat di atas tubuh Ye Chen.


Sambil terus memeluk erat Ye Chen, Song Fei terisak dan berkata.


"Tuan muda... terima kasih. Anda tau, aku akhir-akhir ini sangat tersiksa karena racun ini. Kadang tubuhku tidak bisa bergerak, rasanya sakit sekali."


Ini kedua kalinya Ye Chen memeluk seorang wanita, yang pertama saat menyelamatkan Xiong Yun. Tapi pelukan Song Fei lebih berkesan setelah apa yang terjadi sebelumnya.


Tanpa sadar Ye Chen juga memeluk Song Fei sembari mengusap punggungnya. Benda padat yang menempel erat di dadanya memaksanya untuk memejamkan mata mencoba mengusir debaran jantungnya.


"Ini kubawakan penawarnya." kata Ye Chen dengan nafas tersengal.


Song Fei yang merasa posisi mereka yang aneh dengan malu berkata. "Tu... tuan muda, bisakah anda menurunkan aku...?" Ye Chen yang bergelut dengan pikirannya hanya samar-samar mendengar ini.


"Oh, eh... iyaa ada apa?" Ye Chen tersadar. "Baiklah." Ye Chen melepas pelukannya dan menggeser tubuh Song Fei kesamping. Gesekan benda padat dan kenyal saat menggeser Song Fei membuat Ye Chen seakan tidak rela.


"Dasar anak mesum...!" kutuk Ye Chen pada dirinya sendiri.


Ye Chen lalu keluar dari tenda, membiarkan Song Fei sendiri menyerap pil penawar yang Ia berikan dan berencana secepatnya kembali ke desa.


Waktu berlalu, Ye Chen yang sudah selesai mengobati siluman Angsa Pelangi menemui pemimpin desa Bunga dan Song Fei yang juga berada di taman.


"Mungkin dua atau tiga hari lagi racun di tubuhnya akan sembuh." Ye Chen lalu menceritakan proses penemuan penawar racun ini.


"Oh jadi sumber racun ini adalah ikan yang ada di telaga itu?" kata pemimpin desa Bunga.


"Betul sekali dan penawarnya adalah rumput herbal yang ada di tepi danau. Aku menyadarinya saat saudara Song Fei keracunan, sedangkan aku tidak karena aku meminum ekstrak rumput herbal itu."


"Dan Angsa Pelangi itu tidak makan rumput, makanya Ia keracunan dan tak bisa menemukan sendiri penawarnya." sahut Song Fei. "Tapi tuan muda, kulihat anda menyalurkan Qi. Apakah pengobatannya harus seperti itu?" tanya Song Fei lagi, penasaran karena Ia juga sebelumnya terkena racun ini.


"Aku hanya menyalurkan Qi hangat untuk membantu mengusir aura dingin yang tersisa."


"Oh begitu..." Song Fei berkata sambil sedikit melamun.


Tidak mau mengganggu Ye Chen lebih lama, pemimpin desa Bungapun pamit undur diri. "Tuan muda, apakah racun itu belum sepenuhnya hilang hanya dengan pil penawar?" tanya Song Fei.


"Kecuali kau sanggup mengeluarkannya sendiri, maka tidak masalah." Ye Chen sengaja mengatakan ini, ia enggan menawarkan diri. Sebaiknya Song Fei sendiri yang meminta pikirnya.


Song Fei yang mengerti maksud Ye Chen segera berkata. "Mohon bantuan tuan muda...?"


"Aku harus menyentuh dantian dan punggungmu." ucap Ye Chen datar.


Song Fei tidak keberatan, Ia sudah cukup menderita karena racun. Lagipula Ia yakin Ye Chen sudah pernah memegang dantiannya saat Ia pingsan dulu.


Ia lalu berjalan ke pondok yang ada di taman, masuk ke kamar dan membuka baju atasnya.


"Tuan muda...."


"Aku mengerti," sahut Ye Chen. "Maaf, aku akan mulai." lanjut Ye Chen lagi, Song Fei hanya mengangguk dengan muka memerah kemudian memejamkan matanya merasakan hawa hangat masuk dantiannya.


"Selesai...." Ye Chen segera berdiri, meletakkan satu pil pemulih dan meninggalkan Song Fei sendiri.


Ye Chen tidak langsung pergi, Ia kembali menemui siluman Angsa Pelangi, memastikan kondisinya lalu pergi ke aula desa.


Di aula desa Bunga, sudah ada Chu Xiong dan pemimpin beserta para tetua desa.


"Tuan muda...."


Ye Chen hanya mengangguk dan duduk di kursi. "Apa semua baik-baik saja?" kata Ye Chen ramah.


Pemimpin desa Bunga berdiri, menangkupkan tinjunya dan berkata, "berkat bantuan tuan muda, semua korban selamat telah sembuh, desa kami bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya."


Ye Chen juga berdiri. "Tidak usah sungkan, aku juga berterima kasih dengan keramahan di sini... ...


Blaamm...


Belum lagi Ye Chen melanjutkan perkataannya, Sebuah suara keras terdengar.