
Setelah menimbang sebentar, Ye Chen kemudian memberikan inti es yang diambil di sekte Yin kepada puteri Jia sebagai tanda terima kasih.
Puteri Jia menatap bola kristal kecil di tangannya, Ye Chen menaruhnya dalam sebuah kotak kaca agar energi dinginnya tidak keluar. "Ini terlalu berharga, apa kau yakin kakak Chen?" kata puteri Jia, Ia juga telah merubah panggilannya.
"Ya sudah kalau tidak mau, sini biar kusimpan lagi." Ye Chen mengulurkan tangannya meminta kembali inti es itu.
"Eh enak saja." puteri Jia menyembunyikan tangannya di belakang. "Sepertinya tadi ada yang tidak suka." kata Ye Chen.
"Siapa bilang tidak suka, aku hanya bilang apa kau yakin memberikannya." balas puteri Jia.
"Hahaha aku hanya main-main."
"Kakak Chen, aku juga punya sesuatu untukmu," kata puteri Jia, Ia melolong gelang putih kecil dari tangannya. "Ini, tapi ingat kau harus memakainya ya...."
"Baik tuan puteri." Ye Chen memakai gelang ke tangan kirinya sambil menggoda puteri Jia.
"Apa tuan puteri..." puteri Jia sedikit membesarkan matanya, melotot marah. Ye Chen bukan takut tapi semakin terpesona, sampai-sampai mulutnya terbuka lama.
"Kakak Chen, awas, nanti ada lalat masuk mulutmu."
"Oh eh hahaha...
Suasana mencair dengan cepat, puteri Jia kembali ceria meski kadang-kadang bersikap dingin. Ini memang pembawaannya sebagai seorang puteri.
"Hahaha lalu apa kau di marahi ayahmu?" tanya Ye Chen, saat itu puteri Jia menceritakan kisahnya ketika mencuri makanan dari dapur istana, hidangan itu untuk ayahnya.
"Mana ada, aku ini hebat kakak Chen. Kau tau? aku membawanya ke kediaman Paman dan memakannya di sana."
"Aduh, bagaimana kalau Paman yang dituduh?"
"Hehe biar saja, lagipula itu tidak mungkin, aku sudah mengubur semua bukti." balas puteri Jia sambil terus tertawa. "Oh ya kakak Chen, kau dengan Paman lebih kuat siapa?"
"Tentu saja lebih kuat Paman, kau lihat sendiri tingkatan kita sama." kata Ye Chen.
"Tentu saja, asal kau tau kakak Chen, Paman itu termasuk salah satu pelindung kekaisaran. Dia sangat hebat."
"Pantas saja dari tadi telingaku terus-menerus berdengung, ternyata ada yang membicarakanku diam-diam." kata Paman yang tiba-tiba masuk sambil tersenyum, Ia ikut senang melihat puteri Jia kembali ceria, selama di alam ini Ia tidak pernah tersenyum, selalu saja dingin.
"Kami tidak membicarakan kejelekan Paman, iya kan kakak Chen." kata puteri Jia yang kembali membulatkan matanya, seolah menyuruh Ye Chen setuju dengan perkataannya.
"Adik Jia betul Paman, kecuali hanya sedikit saja...
"Kakak Chen...." puteri Jia berbicara sambil menahannya dengan mulut terbuka sedikit.
"Iyaa, betul sekali apa yang dikatakan adik Jia." Ye Chen dengan cepat meralat ucapannya barusan.
"Nah kan benar." puteri Jia terlihat senang.
"Tuan puteri, bisa tinggalkan kami sebentar? ada yang akan kubicarakan dengan tuan Chen."
"Hanya sebentar saja, lihat hari sudah siang kita harus secepatnya pergi." kata Paman, kali ini tidak mau dibantah lagi.
Puteri Jia keluar, tapi mana mungkin Ia pergi jauh, Ia bersembunyi di balik dinding pintu. Paman tentu saja tau itu tapi Ia membiarkannya saja.
Paman menatap Ye Chen lalu berkata, "Tuan Chen, di tempat asal kami, puteri Jia ibarat cahaya dan kami sangat mencintainya, menjunjungnya dan mengaguminya. Bagi kami, puteri Jia adalah harapan. Dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri dan ayahnya, sang kaisar juga mempercayakannya padaku. Apa anda mengerti tuan Chen?"
"Aku mengerti paman." sahut Ye Chen.
"Baguslah kalau kau mengerti. Perlu kau ingat, aku tidak melarangmu, aku percaya padamu. Aku lihat tuan puteri juga percaya padamu dan ini adalah pertama kalinya aku melihat tuan puteri sangat bahagia. Ia tak pernah begitu dekat pria mana pun seumur hidupnya."
Paman hendak melanjutkan perkataannya tapi matanya tiba-tiba tertuju pada pergelangan tangan Ye Chen, di sana melingkar sebuah gelang putih kecil yang Ia tau adalah milik puteri Jia. "Sudah sejauh itukah...?" gumamnya, sangat pelan. Ye Chen tentu saja mendengarnya tapi Ia hanya tersenyum.
"Jadi kapan paman berangkat?" tanya Ye Chen.
"Setelah ini," jawab Paman singkat. "Aku hanya ingin melihat tuan puteri bahagia." lanjutnya lagi.
"Oh ya paman, aku telah menyiapkan sesuatu untuk paman." Ye Chen lalu mengambil sebuah guci yang cukup besar berisi arak istimewa, arak ini lebih kuat dari arak yang mereka minum sebelumnya.
Wajah Paman sumringah, apalagi setelah Ia membuka tutup guci dan mencium aromanya yang sangat kuat, yang langsung mengisi setiap sendi tubuhnya, membuat pikirannya jernih.
"Ini milik Paman, silahkan kalau ingin mencicipinya terlebih dahulu." kata Ye Chen ketika melihat Paman menelan liur.
Paman tak ragu, Ia mengambil secawan dan langsung menyesapnya. Energi dalam tubuhnya seketika meluap, membuatnya terhenyak. "Luar biasa, apa kau sendiri yang membuatnya?"
"Aku tak punya kebiasaan meminta atau mengambil milik orang lain." kata Ye Chen.
"Hah ini sulit, mungkin tak ada yang bisa menyaingi bakatmu. Baiklah, aku menitipkan ini padamu."
Paman memang kagum dengan bakat Ye Chen, mulai dari keramahannya, kultivasinya sampai arak buatannya. Entah kejutan apa lagi yang Ye Chen sembunyikan untuknya. Hanya saja puteri Jia, ini menjadi dilema tersendiri baginya.
"Apa kau kecewa dengan Paman?" Puteri Jia menggeleng pelan, Ia mendengar semua yang Paman bicarakan dengan Ye Chen. "Kenapa Paman tidak mengajak kakak Chen pergi bersama?"
Paman tidak menjawab, Ia hanya mengusap lembut kepala puteri Jia. Memandangnya dengan haru.
Ye Chen mengantar mereka sampai ke halaman luar rumah, entah kenapa Ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, rasanya sakit tapi tidak tau dimana lukanya.
Beberapa langkah meninggalkan halaman, puteri Jia tiba-tiba berbalik dan berlari menghampiri Ye Chen. "Kakak Chen," kata puteri Jia, Ia menggenggam erat tangan Ye Chen. "Aku menunggumu."
Ye Chen hanya bisa terpaku di tempatnya, matanya terus menatap Paman dan puteri Jia sampai bayangan mereka hilang. Ia lalu melihat sebuah benda berbentuk pipih di tangannya, menurut Paman, benda itu adalah tanda dari alam Peri, Ye Chen bisa kapan saja berkunjung jika ingin bertemu puteri Jia.
Tapi apakah sesederhana itu? tentu saja tidak. Ye Chen harus membuka sendiri portal menuju alam Peri. Untungnya Ye Chen yang sekarang bukanlah seorang yang lemah dan Ia adalah pemegang kunci portal, asalkan ada tanda dari tempat tujuannya maka Ia bisa dengan mudah pergi ke tempat itu. Masalahnya adalah apakah Ia bisa kembali bersama puteri Jia? Apakah Ia akan melakukan hal yang sama seperti ayahnya, memilih ras peri sebagai teman hidupnya dan membuat puteri Jia di usir dan tidak diakui lagi oleh bangsanya sendiri?
......................
Bintang lima, komentar, vote dan like sangat berarti buat author.
Terima kasih 🙏💕