Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Arak Yang Berevolusi


"Puteramu memang jenius." puji Ye Chen melihat kemajuan kultivasi Jiang Ji.


"Ini berkah dari anda tuan." ucap Jiang Ji tulus, tanpa bantuan Ye Chen tak mungkin puteranya bisa begitu cepat menerobos. Sementara Ia sendiri juga sangat merasakan manfaat dari makanan yang Ye Chen buat.


"Sudahlah anggaplah kita memang berjodoh. Untuk merayakannya, kita harus minum-minum," sahut Ye Chen laly mengambil guci kecil dari simpanan araknya. Arak istimewa ini terbuat dari saripati herbal ditambah akar abadi yang direndam di dalamnya. Guci kecil ini Ia dari guci besar, tak mungkin Ia mengeluarkan guci besar.


"Apa lagi ini...?"


"Jangan bilang ini sama dengan yang tadi."


Masing-masing mereka berkata dari hati yang tegang menunggu Ye Chen membuka guci dan melihat isinya.


Aroma arak yang kuat membawa ketenangan dan energi yang besar, baru aromanya saja sudah mampu mengisi energi mereka.


"Ayah, bolehkah aku...." rengek Jiang Ji yang juga ingin mencoba arak.


"Tidak boleh, kau masih kecil." ucap Jiang Ji lalu melihat Ye Chen.


"Kakak Ye, beri aku sedikit." Jiang Ji berbalik meminta kepada Ye Chen.


"Hehe boleh, sedikit saja." Ye Chen memberikan gelas kecil kepada Jiang Ji, "Nah silahkan semuanya, bersulang." Ye Chen mengangkat gelasnya diikuti yang lain.


Degg...


Begitu arak sampai di perut, rasa hangat dengan cepat menyebar di seluruh tubuh menembus setiap sendi dalam syaraf. Ini seperti hujan setelah kemarau panjang.


Dengan cepat arak dalam guci kecil telah habis, yang paling merasakan manfaatnya adalah Jiang Ji, dalam hitungan menit, kultivasinya meningkat menembus sampai tingkat Perak tahap tinggi. Benar-benar sebuah peluang yang sangat langka.


Sementara itu, He Liang yang sudah telalu lama berada di tingkat Langit puncak merasa ada energi besar yang bergejolak di dalam dantiannya. "Perasaan ini, ah sudah terlalu lama." gumamnya pelan dengan mata memerah bahagia. Meskipun belum bisa menerobos tapi dapat merasakan kembali sensasi ini sungguh membuatnya senang.


"Tuan Ye, terima kasih jamuannya." ucapnya dengan tulus sambil berdiri mengepalkan tinjunya.


Ucapan ini diikuti oleh semua yang hadir, dan tak lama setelah jamuan makan selesai, Ye Chen membawa mereka semua turun. "Pak tua, bagaimana tawaran yang aku berikan padamu? apa sudah kau pikirkan?" tanya Ye Chen saat sesaat setelah mendarat.


He Liang terdiam, hatinya masih bimbang atas tawaran Ye Chen. "Baiklah, pikirkan lagi saja, dua hari lagi aku dan Jiang Kun akan pergi." ucap Ye Chen lalu melangkah pergi.


"Saudara He, apa maksud tuan Ye? boleh aku tau?" tanya penatua Xiao penasaran. "Tapi kalau anda tidak nyaman, tidak apa-apa aku hanya penasaran saja." penatua Xiao menambahkan, Ia juga tak mau memaksa He Liang menceritakan masalah pribadinya.


Tapi He Liang menggeleng, "Tak masalah, jadi begini...." He Liang lalu menceritakan permintaan Ye Chen untuk tinggal di kota Shin yang bersama Jiang Kun dan puteranya. Ia juga menceritakan mungkin akan meninggalkan sektenya.


Penatua Xiao kaget, meninggalkan sekte tanpa sebab yang jelas adalah sebuah pengkhianatan dan dicap tidak tau terima kasih. Sama saja seperti menusuk teman dari belakang. Kultivator yang meninggalkan sektenya biasanya tidak akan mendapat tempat dalam masyarakat.


"Apa anda serius ingin meninggalkan sekte anda?"


"Aku sendiri bingung, kau lihat sendiri keadaanku yang sekarang." ucap He Liang.


Dua hari berlalu.


Di sekte Pil Dewa, pengrajin Mingdi tampak duduk dengan gelisah, menunggu penatua Xiao. Karena tak sabar akhirnya Ia pergi, hanya berpesan kepada murid sekte.


Sementara di tempat lain, Ye Chen dan Jiang Kun beserta puteranya sudah bersiap berangkat. "Senior He sepertinya tidak siap." ucap Jiang Kun, tapi sebelum Ye Chen mengangkat jangkar, dari jauh He Liang datang terburu-buru.


Ye Chen tersenyum lalu mengangguk, Ia sudah bisa melihat raut muka He Liang yang tampak penuh dengan keyakinan. "Naiklah, ada sesuatu yang akan aku katakan."


"Tuan Ye...! tunggu aku."


"Bukankah itu pengrajin Mingdi?" ucap Ye Chen. "Untuk apa lagi pak tua itu datang, jangan katakan dia mau ikut juga." lanjut Ye Chen menduga-duga.


Lagi-lagi Ia gagal menurunkan jangkar.


"Tuan Ye, tunggu sebentar." tanpa berkata lagi, pengrajin Mingdi melompat ke atas perahu. "Ayo berangkat!" ucapnya tak acuh seolah memang mereka sudah menunggunya.


Ye Chen tak mau ambil pusing, Ia kembali bersiap mengangkat jangkar, kristal hitam mulai berdengung pelan, tapi...


"Tuan Ye... tunggu!"


Kembali suara seseorang memanggilnya, "Hais, datang lagi." Yang berteriak ini adalah penatua Xiao dan ayahnya patriark Xiao, sama seperti pengrajin Mingdi, mereka juga tanpa sungkan segera melompat naik dan meminta Ye Chen berangkat.


"Ada apa dengan para orang tua ini." gumam Ye Chen yang tentu saja dapat di dengar oleh mereka semua.


"Ehem, aku hanya mau melihat-lihat saja, aku dengar kau cukup beruntung mendapatkan wilayah yang luas di kota Shinyang." ucap patriark Xiao yang disetujui dengan anggukan oleh penatua Xiao dan pengrajin Mingdi.


Kendaraan terbang itu mulai melayang pelan meninggalkan daratan, mulai dari sini Ye Chen yang memang sudah mengatur sesuatu untuk Je Liang dan Jiang Kun memanggilnya. Ia tidak menundanya karena kehadiran pengrajin Mingdi dan keluarga Xiao. Terserah saja kalau ingin mendengarnya pikir Ye Chen.


Ye Chen duduk di kepala meja, di kanan kirinya ada He Liang dan Jiang Kun lalu ada juga pengrajin Mingdi dan keluarga Xiao.


"Pak tua He dan kau Jiang Kun, aku tanya sekali lagi, apakah kalian sudah membulatkan tekad untuk tinggal dan mengikuti aturanku?" tanya Ye Chen dengan sikap dan wibawa seorang pemimpin. Aura pemimpinnya sangat terasa ditambah rembesan aura yang menekan. Hal ini terjadi secara alami, bukan saja karena Ye Chen memang seorang pemimpin tapi juga karena Ia akan sangat serius jika menghadapi situasi yang menurutnya penting.


Bahkan generasi tua seperti patriark Xiao ikut bergetar merasakannya.


"Kami menerimanya."


Jawab Jiang Kun dan He Liang serempak, tak ada keraguan dalam kata-katanya. "Bagus, nah pak tua He, anda akan menjadi pimpinan dan Jiang Kun akan membantumu." apa kalian menerimanya?"


"Kami siap tuan Ye."


Jawab mereka, "Baik, selanjutnya pak tua He, ambil ini dan pergilah ke kamar belakang. Jangan memaksakan diri, apapun hasilnya, keluarlah jika waktunya sudah habis.


He Liang pergi ke kamar belakang, begitu pintu tertutup, langkah kakinya mulai berat, rasanya sangat lama sampai Ia bisa mencapai titik dimana Ia akan berkultivasi menyerap pil tingkat Suci buatan Ye Chen.