Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Mencoba Tehnik Segel


"Ketua, itu orangnya." pelayan yang melihat kekacauan ini berlari ke dalam dan memanggil penanggung jawab divisi informasi.


Ketua itu memandangi Ye Chen yang kini mengurungkan niatnya keluar, Ia mau melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Kenapa kau melukai murid kami? apa kau tau di sini dilarang menggunakan kekerasan?" ucapnya dengan nada tidak senang tapi masih terlihat ramah.


"Tanyakan itu pada orang-orang mu." jawab Ye Chen acuh. "Setingkat dengan Lin Yungtao." ucapnya dalam hati.


Ketua melirik empat orang yang pingsan, menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Kau harus ikut aku untuk dimintai keterangan."


"Harus...?"


"Tentu saja, kau menyerang dan melukai murid-murid akademi, kau harus bertanggung jawab.",


"Dan bagaimana jika aku yang terluka?"


Ketua itu menjadi bingung sendiri. "Ketua, kau harus tau kalau mereka yang mulai terlebih dahulu, aku hanya bertahan saja."


"Hah terserah kau sajalah." bosan dan malas menanggapinya, Ye Chen akhirnya keluar meninggalkan ketua yang masih berdiri ditempatnya.


Ia tidak berusaha menahan Ye Chen karena dari cerita pelayan tadi, murid-murid lah yang lebih dulu mencari masalah dan yang mulai memukul. Tapi jika Ye Chen pergi begitu saja tanpa mendapatkan sanksi maka akademi atau lebih tepatnya divisi informasi akan ditertawakan.


Sangsi untuk memberikan sanksi, begitulah keadaan ketua itu sekarang.


"Ketua, tampaknya ada masalah." suara dari belakang ketua mengagetkan ketua tapi begitu Ia melirik siapa yang datang, wajahnya menunjukkan kebahagiaan.


"Senior, anda di sini. Begini, ...


"Oh jadi begitu masalahnya, lalu dimana orang itu?" Pria yang dipanggil senior oleh ketua itu melihat Ye Chen yang sedang berjalan, saat itu Ye Chen baru saja melewati pintu.


"Anak muda, perlahan dulu." senior mengirimkan gelombang suara, Ye Chen cukup terkejut karena suara ini seolah bisa memerintahnya untuk berhenti.


Dan benar saja, Ye Chen memang berhenti dan berbalik, namun Ia hanya diam ditempat tanpa bergerak meskipun ada suara lagi yang menyuruhnya kembali masuk.


Senior itu menyunggingkan sedikit senyuman, Ia mengajak ketua keluar menghampiri Ye Chen. "Anak muda, lebih baik kita ke dalam saja. lebih enak mengobrol di dalam." kata si senior lagi.


Ye Chen menggeleng, "Aku takut disuruh membayar lagi kalau masuk." katanya tenang.


"Hahaha tenang saja, ada aku yang menjamin. Hal itu tak akan terjadi."


Ye Chen pun mengikuti senior itu masuk ke dalam divisi informasi lagi, dan terus menuju ke ruang yang seperti ruang penghakiman. Ye Chen menurut saja, ingin tau apa yang terjadi selanjutnya.


Senior ini adalah seorang yang juga bertugas di divisi informasi, kedudukannya lebih tinggi dari ketua. Di atasnya ada wakil tetua dan tetua itu sendiri.


Semua yang petugas di semua divisi di akademi langit adalah murid-murid akademi, termasuk pelayan itu juga. Namun mereka hanyalah murid luar karena tingkat kultivasi yang rendah. Murid dalam tidak ada yang bertugas di divisi, atau kalaupun ada, posisinya bukanlah menjadi penjaga atau pelayan karena biasanya murid dalam keluar untuk menjalankan misi-misi yang sulit.


Ye Chen hanya diam saja, ketua yang duduk di samping senior merasa bangga melihat ini. Senior memang hebat, pikirnya.


"Kau telah mematahkan tangan dan melukai empat murid kami, seharusnya kami menuntutmu tapi karena kami bersikap adil maka aku persilahkan kau membela diri. Sayangnya, tak ada saksi yang bisa meringankamu."


"Aku hanya ingin tau, apakah ini ruangan penghakiman?" Ye Chen membuka suara. Ingin memastikan tempatnya sekarang.


"Hehe kau benar, dan kau adalah terdakwa karena membuat masalah." kata senior, Ia laut turun dari dan mendekati Ye Chen. "Karena itu kami akan menghukummu sesuai dengan yang kau lakukan. tangan di bayar tangan." lanjutnya lagi, masih mengandalkan pengaruh gelombang suaranya.


Ia berhenti tepat di depan Ye Chen, "Aku ingat, aku pernah melihat wajahmu itu." senior lalu mengeluarkan secarik kertas, di sana terlukis dengan jelas wajah Ye Chen. "Cocok sekali, memang kaulah orang itu."


"Lukisan itu..., oh ternyata begitu, pantas saja mereka sangat susah dibasmi." Ye Chen mengingat kembali sewaktu klonnya mengikuti pria pincang sampai ke markasnya. Di sana Ia melihat juru tulis melukis wajahnya dan salah satunya ada ditangan pria di depannya.


Dengan kata lain, pria di depannya ini adalah salah satu dari kelompok penjahat itu.


Tapp...


Ye Chen menangkap pergelangan tangan senior yang hendak menangkapnya. Ini diluar perkiraan, bukan saja senior tapi ketua juga kaget dan heran, seharusnya Ye Chen diam saja.


"Kau... cepat lepaskan!" seru senior. Sayangnya Ye Chen tak mau melepasnya, justru pegangan tangannya makin keras. Ia lalu membisikkan sesuatu kepada senior, sesuatu yang membuat wajah senior berubah seperti mayat hidup. Ia mencoba menarik tangannya namun pegangan Ye Chen seperti jepitan besi, tak bisa lepas sama sekali.


Krrrtt... trak, trak...


"Baiklah, baiklah... tuan, aku minta maaf. Aku salah, aku salah."


Tulang pergelangan tangan senior retak, posisinya kini berlutut di depan Ye Chen sementara tangannya masih terangkat.


"Nah lebih baik begitu," kata Ye Chen lagi lalu mengambil sesuatu dari sakunya dan memasukkannya ke dalam mulut senior. Benda yang seperti pil itu langsung meleleh di dalam mulut senior, Ye Chen sendiri dengan cepat menekan ibu jarinya di langit-langit mulut senior tanpa Ia sadari. "Aku jadi ingat Baojing." gumam Ye Chen setelah menarik keluar ibu jarinya.


Senior sendiri tidak teralihkan dengan rasa manis di mulutnya dan cairan itu menghangatkan tubuhnya dan mengembalikan sedikit vitalitasnya.


"Jangan bilang aku jahat, itu pil pemulih," kata Ye Chen. Dengan santai Ia meloloskan cincin penyimpanan di jari senior, mengamati sebentar dan menyimpannya. "Ini aku ambil." lanjut Ye Chen lagi.


"Senior, apa yang terjadi?"


Ketua yang sejak awal berada di sana dan melihat semua yang terjadi menjadi heran, bukankah Ye Chen dalam pengaruh senior? kenapa tiba-tiba senior pun tidak bisa berbuat apa-apa? pikirnya.


"Tidak ada, cepat panggil seseorang, layani dia dengan baik. Lupakan masalah ini dan ingat, jangan ceritakan kejadian ini pada siapapun." kata senior sebelum pergi.


Sekembalinya dari divisi informasi, senior memeriksa tubuhnya, tak ada yang salah. Ia juga memeriksa mulutnya, juga tak ada yang salah. "Hmm... anak itu terlalu berbahaya, aku harus hati-hati." ucapnya dalam hati.


"Namaku Chen, jangan pernah menyebut namaku di depan kelompokmu." masih terngiang ucapan Ye Chen di kepala senior sebelum menelan pil dan sesudahnya Ia kembali disuruh menyetujui ucapan itu. Walaupun terpaksa namun Ia tetap menyetujuinya.


"Sial apakah anak itu melakukan suatu trik padaku?" gerutunya di dalam kamar. Ia memeriksa kembali tubuhnya dan tidak ada yang salah. "Mungkin aku hanya terlalu kuatir." gumamnya dan Ia pun melupakan peristiwa itu.