
"Tetua Lan, bagaimana, apa ada perkembangan terbaru?"
"Untuk sementara waktu, kita harus menunggu. Aku sendiri belum melihat reaksi dari portal yang kita pasang tempo hari."
"Berhati-hatilah dan jangan lengah."
"Aku tau. Oh ya kemarin ada kiriman sumber daya yang baru. Apa kau sudah menerimanya?"
"Maafkan aku tetua Sing, semua urusan telah kuserahkan pada wakilku, supaya aku bisa fokus ke masalah kita." kata tetua Lan. Saat ini Ia sedang bersama tetua Sing, tetua dari divisi Alkimia.
"Baiklah, nanti akan kusuruh seseorang kesana." Tetua Sing.
...
Selama beberapa hari ini, Ye Chen hampir tidak pernah kembali ke kamarnya. Ia akan mengambil misi-misi kecil untuk berbincang-bincang dengan Giro atau menyibukkan diri dengan hal-hal lain.
Hari ini kebetulan tidak ada yang bisa Ia kerjakan, dan atas saran dari tetua Lan, Ia mendatangi divisi formasi untuk belajar. "Ye Chen, seorang kultivator akan semakin kuat jika mempelajari keahlian khusus, tidak perlu sampai menguasainya, mempunyai pengetahuannya pun sudah cukup." kata tetua Lan pada suatu ketika.
Divisi formasi terletak di bagian belakang akademi, cukup jauh dari kamar Ye Chen."Kenapa sepi sekali?" batin Ye Chen. "Haloo apa ada orang?"
"Kenapa kau masih di sini? ayo cepat, kalau tidak, kau akan ditinggal." kata orang yang baru saja keluar dari ruang dalam sambil membawa beberapa gulungan kitab di tangannya. Ia terlihat tergesa-gesa.
Ye Chen pun mengikuti orang itu pergi, dan sampai di sebuah tanah lapang. Di sana juga ada sebuah perahu terbang yang berisi murid-murid yang mengambil kelas formasi.
"Ayo cepat." kata orang yang menegur Ye Chen tadi ketika melihat Ye Chen yang belum juga naik ke atas perahu.
"Kakak... apa kau masih mengenaliku?"
"Namaku Ye Chen, apa aku mengenalmu?" kata Ye Chen, di depannya duduk seorang gadis cantik. Gadis yang memiliki kecantikan tersendiri ini tersenyum. "Kakak Chen, masih ingat gadis yang bersama anda saat di arena di penyisihan dulu?"
"Tentu saja aku ingat, ternyata itu kau. Bagaimana kabarmu?"
"Namaku Miran, senang bisa bertemu lagi kakak Chen." Miran terlihat senang bisa kembali bertemu Ye Chen, Ia pernah mencoba mencarinya tapi tak berhasil.
"Kakak Chen, kau kemana saja selama ini? aku pikir kau keluar dari akademi."
"Aku tidak kemana-mana. Oh ya apa kau mengambil kelas formasi?" tanya Ye Chen untuk mengalihkan pembicaraan.
Miran mengatakan bahwa sejak kecil Ia tertarik dengan formasi dan tujuannya masuk akademi adalah karena ingin mempelajari teknik Formasi secara mendalam. Ia juga bercerita tentang perjalanan mereka kali ini, yaitu pergi ke sebuah hutan, jauh di sebelah selatan.
"Hutan di selatan? kenapa jauh sekali dan untuk apa?
"Tentu saja untuk berlatih formasi, untuk apa lagi?" balas Miran. "kami bahkan sudah dua kali pergi kesana."
"Oh begitu..." kata Ye Chen. Suasana yang akrab terjalin dengan cepat antara Ye Chen dan Miran, mungkin karena sebelumnya sudah bertemu dan menikmati arak bersama jadi ada sedikit ikatan lama.
"Perhatian semuanya."
"Kakak Chen, itu tetua Bong. pemimpin dari divisi Formasi." Ye Chen mengangguk.
"Sebentar lagi kita sampai, kemasi baik-baik barang kalian karena kita akan berada di sini selama tiga hari." Setelah itu tetua Bong lalu masuk ke dalam dan tidak pernah keluar lagi, bahkan saat perahu terbang mendarat, Ia hanya diwakili oleh saja.
Dengan cekatan, Miran memasang tenda yang cukup besar lalu memasang formasi pelindung. "Senior, ini temanku, baru bergabung di sini hari ini." Miran mengenalkan Ye Chen.
"Eh? hanya itu...?"
"Hahaha kakak Chen, senior memang begitu. sebenarnya dia baik tapi yah begitulah. Sudahlah, ayo, sebaiknya kita istirahat dulu." ajak Miran sambil berjalan ke dalam tenda diikuti oleh Ye Chen.
"Kau bisa tidur di sana." kata Miran lagi, "Baik, terima kasih." sahut Ye Chen lalu merebahkan tubuhnya.
"Sepertinya ada yang salah di sini, tapi apa...." batin Ye Chen. "Miran, tenda ini bagus juga, apakah ini punyamu? Mi-Miran... eh? kenapa kau di sini juga dan aduh maaf... maaf, aku akan keluar." kata Ye Chen menyadari bahwa mereka berdua berada di dalam tenda yang sama.
"Kakak Chen tunggu, kau tidak perlu keluar. Memang kita harus berdua saja," kata Miran. Kalimat yang aneh, pikir Ye Chen. "Kau salah paham kakak Chen."
Menurut Miran ini sudah menjadi aturan dari tetua Bong, setiap murid harus berpasangan selama latihan ini. Tujuannya agar bisa menjaga satu sama lain.
"Terus terang aku agak risih berbagi tenda dengan pria lain. Tapi kalau bersama kakak Chen aku tidak masalah." kata Miran mengakhiri ceritanya dengan wajah tersipu.
Keesokan harinya, senior mengumumkan latihan berburu akan dimulai. "Ingat, kalian harus saling melindungi. Nah pergilah, target kalian sudah di buku panduan itu."
Ye Chen masih tidak mengerti latihan apa yang sebenarnya dilakukan di hutan itu, sampai sebuah benda seperti bola yang bergerak sangat cepat melintas di depan mereka. Sementara Miran dengan cekatan merentangkan dua telapak tangannya, menyatukan jari-jarinya sampai membentuk seperti segitiga.
"Pasang!" serunya.
Wungg...
Sebuah aray kecil tercipta, aray ini seperti sebuah kurungan kecil yang menangkap dan mengurung bola itu di dalamnya.
"berhasil... hahaha akhirnya aku bisa." Miran melompat-lompat senang. Tapi sayangnya bola itu berhasil menembus kurungan yang dibuatnya. Aray yang buat masih terlalu lemah. "Yah lepas." ucapnya kecewa.
Ye Chen tertarik dengan teknik ini, menurutnya teknik ini sangat bagus untuk menangkap hal-hal kecil. " Oh jadi aray itu bisa dibuat seperti itu juga ternyata." gumam Ye Chen.
"Miran, bisakah kau mengajariku teknik itu?" pintanya.
"Aku juga masih tidak begitu paham, tapi kau bisa belajar dari buku ini, kalau ada yang tidak kau mengerti, tanya saja."
Hari ini adalah hari terakhir untuk berburu, Ye Chen yang berlatih siang malam sudah tidak sabar ingin mempraktikkan hasil latihannya.
"Kakak Chen, di sana!"
"Siaaap....!"
Ye Chen tampak sangat menikmati aktivitas barunya ini, teknik ini lebih efisien dari pada memasang aray yang besar. Tapi kalau dipikir lagi, sebetulnya teknik ini masih termasuk untuk pemula saja.
Hari berikutnya, mereka semua telah kembali dari pelatihan mereka dan langsung pulang ke tempat masing-masing, hanya Ye Chen yang masih tinggal, Ia melakukan sesuatu dengan teknik yang baru Ia pelajari.
Wuss...
Aray berbentuk segi empat tercipta meskipun belum sempurna betul tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Ye Chen yang baru saja belajar. "Nah sekarang tinggal menyuntikkan sebuah api kecil ke dalamnya.
Wuss...
Ye Chen menahan kubus itu agar tidak pecah sampai api kecil di dalamnya stabil.