
Kepala Ruo kaget ketika melihat Ye Chen tiba di kediamannya dengan tubuh penuh darah. Ia berpikir Ye Chen telah terluka tapi Ye Chen menepis ucapannya. "Ini bukan darahku, aku datang untuk mencari informasi kediaman kepala Beng."
"Kepala Beng?" tanya kepala Ruo heran. "Apakah tuan akan menghadiri pernikahannya?"
"Bukan menghadiri pernikahan tapi menghadiri kematiannya." kata Ye Chen dengan tenang. Justru dengan tenangnya inilah yang membuat kepala Ruo canggung dan kadang merasa takut jika terlalu dekat dengannya.
"Tuan Chen, apapun urusan anda, sebaiknya ditunda dulu. Kabarnya sejak kemarin kediaman kepala Beng dijaga ketat."
Ye Chen mengacuhkan ucapan kepala Ruo, "Katakan saja, kau tau atau tidak. Jangan membuang waktuku."
"Tau, aku tau, tentu saja aku tau," sahut kepala Ruo cepat sambil mengusap keringat di dahinya yang keluar tiba-tiba. "Aduh kenapa tuan Chen sangat menakutkan." keluhnya dalam hati. "Satu hari perjalanan dari sini, aku sendiri yang akan mengantar anda dengan perahu terbangku." kata kepala Ruo yang kembali mengeluh dalam hatinya kenapa terlalu cepat Ia mau mengantar Ye Chen sendiri.
"Kapan kita berangkat?"
"Harap tuan bersabar sebentar, aku butuh waktu untuk persiapan. Oh ya apakah tuan ingin membersihkan diri terlebih dahulu?" kepala Ruo berkata sambil melirik pakaian Ye Chen, bajunya penuh darah kering, ada sedikit gumpalan dan serpihan berwarna putih yang Ia yakini adalah potongan daging dan serpihan tulang.
"Terima kasih, maaf merepotkan." kata Ye Chen ramah.
Kepala Ruo tidak dapat berpikir jernih, Ia mengantar Ye Chen ke dalam kamar Ruoyi. Toh anak itu tidak ada di sini juga, pikirnya.
Begitu keluar dan menutup pintu kamar, kepala Ruo cepat-cepat mencari kursi dan duduk di sana. Lututnya seperti tak bertenaga, Ia mengatur nafasnya pelan-pelan. Berada berdua dalam satu ruangan dengan Ye Chen membuatnya sesak. Pakaiannya, wajah dan rambutnya yang kaku karena darah belum lagi jubah hitamnya yang Ia yakin sekali keadaannya sama saja.
Yang paling mengerikan bagi seorang pedagang yang jauh dari kekerasan seperti kepala Ruo adalah serpihan tulang dan gumpalan daging yang mengering di tubuh Ye Chen. "Orang itu seperti habis mengacak-acak neraka saja." batinnya.
Tok tok
"Tuan Chen, kepala Ruo menunggu anda." seorang pelayan mengetuk pintu kamar Ye Chen.
Ye Chen pun keluar dan mengikuti pelayan ke ruang makan, rupanya kepala Ruo telah menyiapkan semuanya. "Tuan Chen, silahkan... sebentar lagi perahu terbangnya siap dan kita akan berangkat."
Kepala Ruo adalah orang biasa, Ia hanya pedagang yang tidak bisa berkultivasi. Karena melihat bakat puterinya Ruoyi sekaligus berpikir keamanannya sendiri maka Ia memasukkan Ruoyi ke akademi langit.
Dengan dukungan hartanya, Ruoyi dengan cepat berkembang menjadi kultivator kuat. Sayangnya Ia terlalu banyak mengonsumsi pil kultivasi jadi kekuatannya tidak sama dengan kultivator lain yang mengolah tubuh. Isterinya sendiri telah lama pergi sejak Ruoyi masih kecil dan memutuskan untuk tidak menikah lagi.
Sejam kemudian berangkatlah Ye Chen dan kepala Ruo menuju kediaman keluarga Beng. Ye Chen tidak ambil pusing dengan pengawal yang ikut untuk menjaga kepala Ruo, Ia sejak awal berangkat sampai tiba tidak pernah keluar dari kamar.
Di dalam kamarnya, Ye Chen memasuki penjara kegelapan dan menyegel Iblis pendamping pimpinan yang ditangkapnya. Ia membawanya keluar karena kondisinya yang semakin lemah.
Sampai di luar, Ye Chen yang hendak bertanya menundanya karena Iblis itu bersujud dan memanggilnya tuan.
"Tuan raja, maaf hamba tidak mengenali tuan." katanya dengan terus bersujud, tubuhnya terlihat gemetar karena takut.
"Kau mengenalku?" tanya Ye Chen heran.
"Tidak tuan raja, tapi aku mengenal aura dan bentuk anda."
Merasa Iblis di depannya mungkin berusaha untuk menipunya, Ye Chen mengeluarkan niat membunuh yang pekat untuk mengintimidasi, seolah mengatakan jangan pernah bermain-main denganku.
"Ampun tuan raja, tidak berani... hamba tidak berani." ucap si Iblis dengan suara penuh ketakutan.
"Kepala Ruo, sebenarnya siapa yang di ruangan itu? apakah penumpang gelap?" seorang pengawal bertanya pada kepala Ruo.
"Huss... jaga bicaramu, atau kau mau isi kepalamu yang tidak berguna itu berhamburan di atas udara?" kata kepala Ruo. Mengutip kata-kata Ye Chen yang bercerita akan membuat hal itu di kediaman kepala Beng nanti.
Wajah pengawal itu berubah menjadi putih, tanpa berkata apa-apa Ia meninggalkan kepala Ruo yang tersenyum senang. "Heh sekali-sekali seru juga mengancam orang dengan sadis hehe." ucapnya dalam hati.
"Sudahlah, bangun dan ceritakan siapa kau sebenarnya." kata Ye Chen pada Iblis di depannya. "Berani kau mengacuhkan perintahku!?" sambungnya lagi ketika melihat Iblis itu masih belum juga bangun.
Dengan takut-takut, Iblis itu akhirnya bangun juga dengan kepala tetap menunduk. "Angkat mukamu, kau tidak suka berbicara dengan tandukmu itu."
"Oh ya bisakah kau merubah wujudmu itu? kau sangat menyeramkan."
"Maaf tuan raja aku tidak bisa."
"lemah...." kata Ye Chen pelan tapi dapat di dengar jelas oleh si Iblis.
"itu karena tuan raja menyegelku." katanya sedikit malu, Ia benar-benar takluk kali ini.
"Oh hahaha maaf, maaf... kenapa kau tidak bilang." Ye Chen merasa bodoh sendiri, lalu tangannya melambai dan segel itupun lepas.
Lagi-lagi perahu terbang bergoyang, para pengawal berkumpul mejadi satu dengan wajah pucat. "Jangan ada yang bergerak, jangan bersuara apapun." kata ketua mereka yang tentu saja diikuti oleh yang lain.
"Simpan kekuatanmu, lihat, perahu terbang ini bisa hancur karena ulahmu." Iblis menurut saja, Ia yang sekarang telah berubah menjadi wujud manusia. Seorang pria muda berpakaian ringkas dan jubah hitam.
"Ah kupikir kau seorang wanita." Ye Chen berkata sekenanya saja tapi yang didengarnya dari mulut Iblis membuatnya mau muntah.
"Aku bisa berubah jadi wanita jika tuan raja menginginkannya."
"Kau...! hais simpan pikiran kotormu itu. Sekarang ceritakan, siapa dan bagaimana kau mengenaliku."
"Tuan raja, namaku Giro."
"Lalu?" sahut Ye Chen dengan tak sabar.
"Aku adalah panglima perang sekaligus pelindung dan penasehat raja Iblis Yeming. Aku tau tuanku raja Yeming telah tewas rapi aku tak mungkin salah mengenali aura tuanku yang ada pada tuan raja."
"Tunggu, raja Iblis Yeming katamu?"
"Benar sekali tuan raja. aku belum bisa membuktikannya untuk sekarang ini tapi aku mempunyai ini." kata Giro, Ia mengambil sebuah kristal hitam, memasukkan Qi kedalamnya dan seketika muncul sebuah gambar bergerak.
"Lihat, beliau adalah tuanku raja Yeming dan di sebelahnya itu adalah paduka Ratu. Aku sendiri yang berdiri di belakang mereka, anda pasti mengenaliku."
Ye Chen tau Giro tidak berbohong, Ia dengan jelas dapat melihat kalung bermata kunci portal yang tergantung di leher raja Iblis Yeming, yang sekarang berada dalam tangannya. Mustahil benda itu bisa ditiru.
"Ayah...." gumam Ye Chen.
Mendengar ini, Giro kembali bersujud, dari matanya menetes air mata bahagia. "Tuan raja, betulkah itu anda? oh anda selamat, terima kasih... terima kasih." Suara panglima Giro bergetar, kali ini bukan karena takut tapi karena terharu.