Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Masalah Sumber Daya


Ye Chen kembali berjalan setelah berhenti karena peringatan Jiang Kun. Sementara pria yang tangannya patah ini hanya bisa menatap dengan takut, "Apa, apa yang akan kau lakukan... pergi, pergi cepat, sekte Pedang Langit ...


Ucapannya terhenti, tanpa menggunakan Qi, Ye Chen menendang wajahnya, membuatnya kembali tersungkur setelah sebelumnya berusaha duduk dengan susah payah.


Pada saat inilah penatua Xiao dan Patriark Xiao datang, namun terlambat. Pria anggota sekte Pedang Langit itu telah pingsan, tangan patah, dada remuk dan wajah penuh darah. Bahkan kaki Ye Chen masih di atas kepalanya saat mereka datang.


Penatua Xiao berlari menghampiri Ye Chen dan memeriksa keadaan pria yang pingsan. "Tuan Ye, apa maksudnya ini? apa anda tau di sini tidak boleh berkelahi?" tegurnya.


"Penatua Xiao, sebaiknya tanyakan dulu padanya, kenapa sampai aku menghajarnya." sahut Ye Chen menunjuk pria yang pingsan.


"Ya tunggu sampai dia siuman kalau begitu." lanjut Ye Chen lagi melihat penatua Xiao yang berdiri mematung, seolah berkata bagaimana caranya sampai pria itu siuman.


"Tuan Ye, anda adalah tamu di sini. Jaga bicara anda." suara tenang dari belakang disertai tekanan aura yang kuat membuat Ye Chen terdorong ke belakang. Wajahnya pucat, tak mungkin Ia bisa menahan tekanan seorang tingkat Suci puncak.


Hanya keteguhan hati yang membuatnya tidak jatuh meski kakinya sudah tidak sanggup bertahan llagi. Ye Chen menelan kembali darah yang melonjak naik ke kerongkongannya ketika patriark Xiao Yang menarik auranya. "Anak ini kuat." batin Xiao Yang.


"Anak muda, aku patriark sekte Pil Dewa, Xiao Yang." katanya memperkenalkan diri. "Sayang sekali pertemuan kita sepertinya tidak cukup baik." lanjutnya lagi.


Ye Chen bukan tidak mengerti sikap Xiao Yang, memang ini adalah tempatnya tapi tidak mungkin juga Ia akan membiarkan ada orang menyinggungnya. "Patriark, aku mengerti dan aku minta maaf untuk itu tapi, ini adalah tempat anda dan apakah anda juga bisa mengerti?"


"Tuan Ye, anda...


Patriark Xiao Yang mengangkat tangannya, mengentikan ucapan penatua Xiao. "Aku mengerti, tapi sebelum itu kita jernihkan dulu masalah ini. Pria itu adalah murid dalam Pedang Langit, mereka pasti tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja."


Selanjutnya Xiao Yang meminta penjaga menceritakan detail masalahnya. Dari ceritanya, Ye Chen memang yang pertama ingin membeli sumber daya lalu murid Pedang Langit itu datang dan memaksa mengambil apa yang Ye Chen pilih. "Dia juga yang mengancam tuan Ye dan bergerak lebih dulu, menyerang tuan Ye."


Xiao Yang mengangguk, "Aku mengerti, tuan Ye dan atas nama sekte Pil Dewa, aku meminta maaf." ucapnya dengan tulus sehingga membuat Ye Chen yang awalnya tidak suka kepadanya jadi berbalik kagum. Tidak semua orang, apalagi orang yang berada di tingkat atas akan mudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


"Kirim orang ini kembali ke tempatnya, katakan kepada mereka bahwa Ia membuat masalah di tempat kita." setelah meminta ini, Xiao Yang berbalik, "Tuan Ye sebenarnya untuk apa anda membeli semua sumber daya ini?" tanyanya heran, Ia yang seorang alkemis tau pasti herbal yang Ye Chen hendak beli ini hanyalah herbal kelas rendah yang biasa dipergunakan orang biasa, bukan kultivator.


"Aku sedikit belajar alkemis, hanya untuk bahan latihan saja."


"Jadi begitu, begini saja, sebagai permintaan maafku, anda boleh mengambil sebanyak yang anda inginkan sepanjang itu masih sumber daya kelas rendah."


"Tidak usah begitu, aku sanggup membelinya." Ye Chen menolak.


Tapi karena terus dipaksa dan merasa tidak enak dengan ketulusan Xiao Yang, akhirnya Ye Chen menerimanya. "Kalau anda memaksa, baiklah aku terima." Ye Chen pun memilih sumber daya yang Ia butuhkan lalu kembali ke penginapan bersama Jiang Kun.


"Ayah, anda terlalu memandangnya. hanya tingkat Langit tinggi yang kebetulan membawa artefak saja." penatua Xiao protes terhadap perlakuan ayahnya kepada Ye Chen.


Xiao Yang menggeleng kepalanya, "Kau masih harus banyak belajar. Apa kau kira dia sesederhana itu? coba pikir, berapa banyak orang yang berani membuat masalah dengan sekte Pedang Langit dan itu dilalukan tepat di depan matamu?"


"Satu lagi, jangan pernah menilai orang lain ketika melihat tingkat kultivasinya. Aku yakin kau tidak akan menang darinya." lanjut Xiao lagi.


Xiao Cenpi masih saja protes dan hendak pergi tapi langkah pertama yang Ia buat saat berbalik adalah langkah terakhirnya sebelum Ia tersungkur jatuh seperti tidak mempunyai tenaga.


"Ayah...."


Ratapnya sambil memanggil Xiao Yang. "Jangan melihatku seperti itu, bahkan kau tak sanggup menahannya. Kau tau? ini bahkan belum seberapa ketika kuarahkan pada pemuda itu." ucapnya lalu pergi sambil menggeleng kepala.


Penatua Xiao kini paham maksud ayahnya, memang benar Ia terlalu memandang rendah Ye Chen, sama seperti pria dari sekte Pedang Langit. Ia jadi bertanya-tanya, mungkinkah kultivasi Ye Chen lebih tinggi darinya? entah apa yang akan Ia lakukan andai Ia tau bahwa Ye Chen berada satu tingkat di bawahnya.


Di penginapan.


Ye Chen sibuk mengukur dan menimbang semua sumber daya yang Ia dapat dari sekte Pil Dewa. Setelah beres, formasi langsung terpasang di kamarnya lalu mulai menggodok semua sumber daya menggunakan tungku pil.


Setelah semua selesai, Ye Chen mengambil sepotong akar abadi lalu mengolahnya bersama. Terakhir Ia me masukkan semua bahan ke dalam guci berukuran, menambah air dan menutup rapat.


"Selesai." ucap Ye Chen bangga melihat guci di depannya. "Huff sayang sekali, Apel ungu itu belum matang, ini akan lebih hebat kalau saja bisa mencampurnya.


Di sekte Pedang Langit.


Tetua pelatih tampak gusar melihat kondisi salah satu muridnya yang diantar oleh penjaga sekte Pil Dewa. "Hei kau, cepat ceritakan apa yang terjadi." Ia membentak penjaga yang mengantar muridnya.


"Tetua, aku juga tidak tau. Silahkan tanyakan penatua Xiao untuk masalah ini." penjaga yang sudah dipesan ini berbicara sambil bergerak mundur, takut kena amuk tetua dalam.


"Pasti, sekarang juga aku akan kesana."


"Sebaiknya anda pikirkan lagi." sebuah suara muncul dari dalam.


"Tetua dalam," tetua pelatih memberi hormat. "Anda lihat sendiri, mereka harus memberi keterangan."


Tetua dalam menggeleng pelan, "Aku kenal penatua Xiao dan ayahnya, mereka tidak mungkin berbuat sesuatu tanpa di pikirkan dulu. Lebih baik cepat sembuhkan dia, baru kita bicara lagi."


"Baik tetua."


Berita tentang salah satu murid dalam yang terluka dengan cepat menyebar, terutama di antara murid dalam. Tidak sedikit yang berniat membalasnya.


...


Hari berlalu, tak terasa tiga hari sudah Ye Chen menunggu waktu lelang. Tampak orang-orang sudah berbaris di depan sekte Pil Dewa, menunggu giliran memasuki ruang lelang. Sementara Ye Chen masih dengan santai menghabiskan sarapan paginya bersama Jiang Kun.


"Coba lihat, bukankah itu pak tua dari sekte Teratai?" Jiang Kun mengikuti arah yang ditunjuk Ye Chen.