Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Pembagian Pil


Meski bukan langsung mengarah ke dimensi raja Iblis, tapi di perjalanan kali ini, Ye Chen cukup puas dan masih berharap Giro akan menemukan titik terang dari informasi yang sekarang Ia selidiki.


Ye Chen kemudian membebaskan Ruoyi dan murid lain yang disekap makhluk terkutuk. Secara mengejutkan, Miran juga ada di sana. Ternyata Ia sebelumya mengambil misi di desa Simao.


"Kakak Chen... Huu... untung kakak Chen datang, kalau tidak, aku tak tau bagaimana nasibku." Miran berlari dan memeluk Ye Chen.


"Eh? Miran... kau juga?" kata Ye Chen, Ia tak menyangka Miran pun ada di sana.


"Miran, kau juga kenal dengan tuan Chen?" tanya Ruoyi yang selama menjadi tahanan, cukup akrab dengan Miran. Sementara Miran hanya mengangguk, Ia sudah melepas pelukannya tapi masih sesenggukan.


"Meski begitu tidak pantas kau memeluk nya begitu saja kan?" kata Ruoyi lagi dan membuat Miran serba salah dengan wajah memerah.


"Maaf kakak Chen...." katanya sambil menunduk.


"Tuan Chen... Huu... untung kau datang tepat waktu." Ruoyi juga memeluk Ye Chen.


"Senior Ruoyi...?" Miran jadi bingung sendiri. "Kau memeluk kakak Chen...."


"Kau saja boleh memeluknya, kenapa aku tidak boleh? iya kan tun Chen?"


"I-iya... boleh, boleh...." hais kenapa jadi begini? batin Ye Chen meskipun Ia tak menolaknya. Asal tau saja, kondisi semua tahanan ini bisa dibilang buruk, pakaian mereka sudah tidak utuh lagi, ada saja yang dilakukan makhluk terkutuk itu pada mereka semua namun tidak sampai sejauh yang dipikirkan.


Daging yang lembut dan kulit yang halus mulus tentu tidak akan Ye Chen tolak.


Wuss...


Sebuah aura yang kuat menampar Ye Chen dari belakang, namun Ia tak tau siapa pemilik aura ini ketika Ia menoleh. "Apa hanya perasaanku saja?" batinnya.


"Tuan Chen, aku mau singgah sebentar menemui ayah, apa kau mau ikut?" Ruoyi.


"Tidak, aku mau kembali ke akademi."


"Kakak kita pulang bersama." Miran.


"Aku baru ingat, aku juga harus kembali ke akademi." Ruoyi.


Ye Chen jadi serba salah, sebetulnya itu hanya alasannya saja, Ia sebenarnya ingin pergi menemui Giro yang menyelidiki informasi yang Ia dapatkan dari makhluk terkutuk.


"Dua betina ini kenapa jadi merepotkan begini." ucapnya dalam hati. "Baiklah, ayo kita pulang bersama." Ye Chen akhirnya mengalah.


...


Di kamarnya, Ye Chen sedang mendengar keterangan hasil penyelidikan dari Giro.


"Aku sudah masuk ke dimensi itu tuan, tapi tak ada apa-apa di sana."


"Apa kau yakin?" tanya Ye Chen, Ia berpikir tak mungkin makhluk terkutuk itu memberikan informasi yang salah.


"Sebetulnya ada yang menarik perhatianku, anda masih ingat batu hitam yang anda berikan tetua Lan dulu?" Ye Chen mengangguk, memang Ia menceritakan kepada Giro perihal batu hitam yang Ia berikan kepada tetua Lan.


"Batu hitam itu ada di sana tuan, hanya saja portalnya belum aktif."


"Benarkah? apa kau sudah menandai lokasinya?" Ye Chen tidak percaya, mungkinkah tetua Lan adalah salah satu dari mereka? pikirnya.


Tok tok...


"Saudara Chen, aku langsung kesini begitu mendengar kau sudah kembali. Kau tau? namamu sekarang cukup populer di akademi. Aku dengar pihak akademi akan memberikan hadiah untuk jasamu."


"Aku tidak peduli, kau saja yang ambil kalau mau. lagipula, apa kau tidak ada kerjaan lain? kenapa kau selalu saja kesini?"


"Yeah, mau bagaimana lagi, aku tau kau pasti tidak tau berita ini." Lin Yungtao. "Ayo kita pergi sekarang, kebetulan aku juga mau mengambil pil di aula." lanjut Lin Yungtao.


"Pil...? pil apa? tanya Ye Chen bingung. "Apa kau membeli pil atau memenangkan sesuatu?"


"Kau... aduh, saudara Chen... setiap minggu, semua murid akan mendapatkan dua pil, satu pil kultivasi dan satu lagi adalah pil pemulih. Ayo kita pergi sekarang."


Lin Yungtao benar-benar harus sabar dengan Ye Chen yang sama sekali tak tau aturan akademi, dan sekarang sudah lebih dari satu bulan belum pernah mengambil haknya.


Bukan masalah pil nya, Ia tau Ye Chen tidak membutuhkannya tapi bukankah akan sia-sia saja kalau tidak diambil?


"Kenapa kau bersemangat sekali? bukankah kau bisa meminta pil yang lebih baik di alammu sana?" Ye Chen.


"Sudah ikut saja."


...


Ye Chen kini tau kenapa Lin Yungtao sangat bersemangat, ternyata pil pembagian dari akademi kualitasnya sangat baik, dari yang Ia lihat, kesempurnaan pil-pil itu di atas delapan puluh persen dan gratis.


"Sebaiknya aku apakan pil-pil ini?" kata Ye Chen sambil melihat sekantung pil di tangannya. "Oh iya untuk adik Yue saja, dia lebih membutuhkannya.


"Giro, ada apa dengan adik Yue? kenapa dia mengacuhkan aku?" tanya Ye Chen yang heran melihat sikap Yue, tidak biasanya dia seperti itu.


"Mungkin dia kesal tuan karena anda tidak pernah mengunjunginya atau menyapanya."


"Menyapa bagaimana? aku saja tidak pernah melihatnya."


Giro memandang Ye Chen dengan wajah tidak percaya. "Anda serius tuan? aku sekarang tau kenapa nona Yue bersikap begitu."


"Tentu saja, tidak mungkin aku tidak menyapa kalau melihatnya."


Giro menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sebaiknya anda segera minta maaf. Asal tuan tau, nona Yue ada di antar murid yang menjadi tawanan makhluk terkutuk tempo hari?"


"Mungkinkah yang waktu itu...? Ye Chen mengingat saat itu ada aura yang aneh yang mengarah kepada nya.


"Nona Yue terluka, aku masih sempat memberinya pil pemulih waktu." kata Giro lagi, setelah itu Ia pamit untuk pulang.


"Adik Yue... aku tau aku salah, aku minta maaf." kata Ye Chen tulus, Ia benar-benar tak melihat Yue, apalagi waktu itu Yue terluka.


Melihat Yue masih mengacuhkannya, Ye Chen tak punya pilihan lain selain pergi dari sana. "Baiklah, aku pulang saja, kau jagalah diri baik-baik adik Yue."


Baru beberapa langkah pergi Yue berkata, "Buatkan aku makanan enak, baru aku memaafkanmu."


"Siap tuan puteri." Ye Chen yang memang menunggu ini berbalik cepat dan langsung mengajak Yue ke dapur.


"Saudara Chen kembali!" dapur langsung ramai, seperti biasa, kalau Ye Chen datang, semua aktifitas akan berhenti atau sengaja diperlambat agar bisa menikmati masakan buatan Ye Chen.


Suasana hati Yue pun berubah, Ia tak lagi terlihat marah dan menikmati makanan buatan Ye Chen bersama para murid yang bertugas di dapur. Di selingi dengan canda dan tawa.


"Senior Chen, tetua Lan datang." bisik salah satu murid di sana. Para murid disini juga telah merubah panggilan Ye Chen menjadi senior Chen.


"Salam tetua." ucap mereka serempak.


Tetua Lan mengangguk, Ia lalu menatap Ye Chen dan berkata, "Aku ingin bicara sebentar."


"Silahkan tetua." kata Ye Chen. Tak lama kemudian mereka mengambil tempat duduk agak jauh.