
"Eh, siapa dan untuk apa kau di sini?" Ye Chen yang menemukan orang suruhan kepala Ruo, bertanya penuh curiga meski tak merasakan ada ancaman dari pria di depannya.
"Maaf tuan, kepala Ruo menyuruhku memberikan ini kepada tuan." jawab pria itu.
"Bawa pulang, aku tak mau."
"Tuan... tolonglah, aku tak bisa pulang sebelum tuan menerimanya. Kepala Ruo berkata, ini adalah bekal untuk tuan sebagai ucapan Terima kasih." kata pria itu lagi, Ia tampak susah.
"Baiklah, nah sekarang kau boleh pulang."
Di dalam kotak itu ada cincin penyimpanan dan secarik kertas yang isinya permintaan maaf dari kepala Ruo karena memberikan bekal itu. Namun dengan alasan tak mungkin membiarkan Ye Chen pergi tanpa mengucapkan terim kasih maka Ia memberanikan diri mengirimnya.
Ye Chen menghela nafas, bukan menolak rejeki tapi Ia sungguh tak mengharapkan imbalan apa pun. Kebetulan saja Ia dulu menolong ayah dan anak itu karena mereka disekap di rumahnya dan kebetulan lagi Ia mendengar percakapan pimpinan penjahat yang menyebut namanya, jadi Ia berpikir mungkin Ia bisa membantu permasalahannya.
Semalaman ini Ye Chen sama sekali tidak tidur, Ia membuat klon lagi untuk mengintai markas penjahat, dan memasang beberapa jebakan yang mungkin bisa membantunya nanti. Ini adalah markas penjahat yang menjadi target misi sekte-sekte maupun kultivator bebas.
Pagi berikutnya Ye Chen telah siap dan berjalan menuju markas penjahat, Ia sudah tau detail sarang musuh, termasuk tempat-tempat yang akan Ia gunakan untuk meloloskan diri jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ya, semua harus diatur dengan baik, karena kita tidak pernah tau apa yang menanti kita di depan sana.
Pagi itu, di markas penjahat. Pimpinan dan dua ketua lain merundingkan tentang pesan senior. Menurut balasan pesan dadi senior, Hari ini dia akan kembali dan meminta untuk membawa Yue pergi dari sana.
perdebatan yang terjadi antara ketua dan pimpinan adalah tempat dimana seharusnya Yie dibawa pergi. Ada yang menyarankan untuk tidak kemana-mana, Yue disekap di dalam penjara bawah tanah dan membawanya keluar markas. Namun akhirnya diputuskan juga untuk membawa Yue ke kediaman kepala Beng.
Kepala Beng adalah salah satu pemimpin aliansi dagang, sama seperti kepalan Ruo. Hanya saja karena ketamakan dan iri hati maka Ia membuat kerjasama dengan kelompok penjahat untuk menekan aliansi kepala Ruo. Jadi bisa dibilang dialah otak dibalik semua masalah yang terjadi dengan kepala Ruo.
Ye Chen sampai di markas penjahat jauh setelah Yue dibawa pergi. Yang membawanya adalah ketua kedua dan saat ini telah berada di kediaman keluarga Beng.
Awalnya kepala Beng menolak ketua kedua tapi berubah pikiran ketika melihat Yue yang berparas cantik. Kulit putih mulus dan usia yang baru enam belas tahun membuatnya memiliki niat lain terhadap Yue.
Di markas penjahat, Ye Chen langsung mengaktifkan semua artefak api yang ditanam tadi malam oleh klonnya. Pagi yang cerah di markas penjahat berubah menjadi lautan api. Getaran dari ledakan artefak yang keras dan susul menyusul itu juga mengaktifkan jebakan-jebakan lain dari markas penjahat.
Ye Chen tersenyum puas, "Bagus semua sesuai rencana." ucapnya dalam hati sambil menatap api yang sudah mulai padam.
Ye Chen bergerak cepat, tujuannya adalah rumah tempat Yue di tahan, Ia tidak mendeteksi lagi karena sebelumnya Ia sudah tau Yue ditahan di sana. Tapi Ia harus kecewa karena rumah itu kosong, tak ada siapa-siapa lagi di sana.
"Hahaha apa kau mencari adikmu yang manis itu?" pemimpin muncul bersama ketua ketiga dan ratusan anak buahnya yang masih selamat.
"Aku hanya akan bertanya sekali saja, dimana kalian menyembunyikan adik Yue?" kata Ye Chen yang tetap tenang walaupun sudah terkepung.
"kau mau tau dimana adikmu? hah langkahi dulu mayatku." pemimpin berkata dengan angkuh, detik berikutnya Ia melambai dan ratusan anak buahnya secara serentak maju menyerang Ye Chen.
"Baik kalau itu yang kau mau."
Swingg...
Pedang hitam yang muncul di tangan Ye Chen bergetar mengeluarkan bunyi ketika Ia membuat gerakan ringan.
"Yang berhasil melukainya akan mendapat hadiah besar." teriak pimpinan.
Crass...
Clebb...
Pedang hitam menebas, menusuk dan memotong apa saja yang disentuhnya tanpa terkecuali. Dari ratusan berubah menjadi puluhan dengan cepat dan akhirnya hanya tersisa beberapa orang saja yang masih bertahan, itu pun sudah melangkah mundur-mundur karena ngeri melihat Ye Chen yang tanpa mengenal titik lemah musuh untuk melumpuhkan. Dia mengayunkan pedang nya seperti sedang membabat rumput, tak peduli itu kepala tangan kaki atau apa pun, asal terjangkau oleh pedang, pasti akan putus.
Darah membanjiri markas penjahat, teriakan kesakitan dari yang masih hidup terdengar menyayat hati. Bahkan penjahat seperti mereka saja mungkin tak akan berbuat seperti itu terhadap musuhnya.
Ye Chen berdiri dengan tubuh penuh cipratan darah lawan, mulutnya masih tersenyum ketika Ia dengan santai berjalan dan menusuk setiap orang yang terkapar hidup, memastikan kematiannya.
"Sadis...."
"I-ini pembantaian...."
Anak buah yang masih selamat dan bisa berjalan bergumam sangat pelan, sementara ketua dan pimpinan sangat geram. "Apa-apaan orang ini, dari mana dia berasal." kata pimpinan yang tanpa sadar melangkah mundur satu langkah.
"Pimpinan"
Ketua berseru melihat pimpinannya sedikit ragu, "Saatnya memanggil mereka." serunya lagi.
"Kau benar." ucap sang pemimpin. Dari sakunya, Ia mengambil peluit kecil untuk memanggil pasukan bayangan mereka ketika ditiup.
Tak butuh waktu lama untuk pasukan bantuan itu tiba. Lebih dari selusin orang muncul dan langsung menyerang Ye Chen dengan pukulan-pukulan secara terus menerus, sementara itu Ye Chen yang masih berdiri bergerak cepat, Ia berkelit di antara sambaran energi yang melesat tajam.
Ye Chen terus berkelit dan berhasil mendekati satu lawannya.
Clebb...
Satu tumbang dengan tubuh penuh luka sayatan.
"Panggil sekarang! ketua, kita masuk." teriak pimpinan setelah melihat gerakan Ye Chen yang tidak saja dapat menghindari serangan gabungan itu tapi juga berhasil menewaskan salah satu pasukan bantuannya.
Sisa pasukan bantuan mengangguk, bersama pimpinan dan ketua, mereka melempar sesuatu ke udara.
Udara di atas markas berubah gelap, awan hitam tiba-tiba saja bergulung. Dari sana keluar tiga belas makhluk mengerikan yang mempunyai kekuatan besar, auranya saja membuat udara terasa lembab.
"Monster...? gumam Ye Chen. "Tunggu dulu, bukankah itu...."
Semua makhluk itu mempunyai bentuk yang seragam, seperti kerbau berbadan sangat gelap dan mempunyai tanduk yang besar dan terlihat kuat. Tapi ada satu makhluk yang membuat Ye Chen terkesiap.
Makhluk itu adalah milik pimpinan karena hanya dia saja yang berdiri di samping pimpinan. Bentuknya sama dengan yang lain hanya saja ada sedikit uap hitam tipis yang keluar dari tubuhnya, dan auranya tidak asing bagi Ye Chen.
"Iblis...." gumam Ye Chen hampir tidak bisa percaya.