
Bagi komandan keamanan kota, kejadian apapun atau segala bentuk kegiatan yang berpotensi merusak ketentraman kota harus di tindak.
Kejadian di pintu gerbang bukan saja, bukan saja mengganggu tapi Ye Chen sudah berani menyerang penjaga.
Sayangnya Ye Chen dan Chu Xiong tidak berada di penginapan saat komandan keamanan kota datang, Ye Chen mengajak Chu Xiong berjalan-jalan di kota Kenanga.
Kota ini sangat besar karena merupakan salah satu penyangga kekaisaran dan karena statusnya sebagai wilayah terluar, kaisar memberikan hak khusus untuk mengelola kota secara mandiri.
Pemimpin kota ini adalah Lu Ping, salah satu pangeran, putera kaisar dari seorang selir. Karena jasanya selama perang besar dan lebih banyak bertugas di garis depan, dia di angkat menjadi pemimpin sekaligus bertugas menjaga kota Kenanga sebagai pintu masuk ke kekaisaran.
Waktu berlalu, karena merasa lelah dengan urusan negara, Lu Ping akhirnya mengundurkan diri menjadi pemimpin kota dan digantikan oleh anaknya Lu Zengguan. Lu Ping sendiri menjadi pelindung kota.
"Jadi senjata apa yang biasa kau gunakan?" tanya Ye Chen pada Chu Xiong, Ye Chen mengajak Chu Xiong mengunjungi toko-toko yang menjual senjata.
"Aku sebetulnya menyukai pedang tapi jika di suruh memilih, aku lebih senang menggunakan tombak." jawab Chu Xiong.
Kali ini tak ada lagi yang menghalangi atau memandang Ye Chen, dengan mudah Ia masuk ke berbagai toko dengan pelayanan penuh namun sayangnya tidak senjata yang Ia rasa cocok yang menarik perhatiannya.
Hari menjelang malam ketika mereka kembali ke penginapan. "Eh bukankah itu siluman Kuda milikku?" kata Ye Chen ketika melihat dua orang menuntun siluman Kuda bertanduk dua keluar dari penginapan.
"Tuan muda mereka adalah pasukan keamanan kota." ucap Chu Xiong. "Sepertinya pihak keamanan menyitanya, mungkin ini buntut dari keributan di gerbang kota."
"Aku mengerti, kita ikuti mereka."
Chu Xiong bergegas mengikuti Ye Chen yang berjalan lebih dulu sampai mereka tiba di markas pasukan keamanan.
"Tunggu di sini, aku akan segera kembali."
"Tuan muda...."
"Aku mengerti, tenang saja tak usah kuatir." Ye bergerak cepat, menghampiri siluman Kuda dan memasukkannya ke dimensi cincin.
Pengawal yang mengambil siluman kudanya tentu saja mendapat hadiah. Tangan yang menuntun kudanya patah, dan terbaring pingsan.
Ye Chen kembali ke tempat Chu Xiong menunggu, "Selesai, sekarang kita bisa tidur tenang hehe...."
"Bagaimana dengan pengawal tadi tuan muda? dan dimana kuda-kuda itu?" tanya Chu Xiong penasaran sekaligus heran. Ia tidak percaya Ye Chen tidak memberi pelajaran kepada pengawal yang berani mengambil siluman Kuda miliknya.
"Tidak mati, aku kan sudah bilang jangan kuatir. Hanya patah tangan saja." ucap Ye Chen santai.
Chu Xiong bahkan tidak mengindahkan lagi dimana Ye Chen menyimpan siluman Kuda itu.
"Hais tuan muda, ini sama saja." gerutu Chu Xiong.
"Salahkan nasib pengawal itu yang buruk. Hhe, berani mengambil barangku, kalo aku tidak melihatmu, pasti sudah kubelah mereka."
Hari berganti. Di markas pasukan keamanan, kepala pasukan jaga menemukan dua pengawalnya yang pingsan dengan tangan patah menggeram marah.
Mau menuduh siapa, menuduh Ye Chen juga percuma tidak ada bukti, siluman Kuda yang Ia suruh ambil juga tidak ditemukan.
Di penginapan, Ye yang sudah sarapan kembali mengajak Chu Xiong keluar. Ia juga memutuskan keluar dan mencari penginapan baru.
"Hari ini aku akan keluar, mungkin keluar kota, ada yang harus kulakukan," kata Ye Chen. "Kau carilah informasi perjalanan kita ke benua Timur.
"Oh ya carilah penginapan baru, aku terlalu malas meladeni orang-orang di penginapan ini."
"Baik tuan muda..."
Kesal karena tidak menemukan yang di cari, komandan keamanan kota berkata geram. "Siaal! orang ini terlalu licin, perintahkan seluruh pengawal kota mencari di setiap sudut."
Saat pasukan keamanan kota sibuk mencari Ye Chen, Ia malah sibuk bermain dengan Rajawalinya. Jauh di luar desa, sekalian berburu untuk persediaan di dalam dimensi cincin.
Hampir seharian Ye Chen berada di luar desa. Di sebuah telaga berair jernih Ia berhenti dan melepas lelah.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian bersih, Ye Chen yang memang berniat bermalam di dekat telaga membangun tenda, membakar seekor kelinci buruannya.
Asik menyantap daging kelinci bakar, sayup-sayup Ye Chen mendengar suara seperti seorang sedang berlatih pedang.
Hosh... Hosh...
"Kenapa sih kakek tua itu memberikan tehnik yang sulit ini?" Gadis yang sedang berlatih tehnik pedang itu menggerutu kesal. Sementara Ye Chen yang melihatnya berlatih hanya tersenyum.
Cantik, kata inilah yang terbersit di hati Ye Chen saat pertama kali melihat gadis di depannya.
Tubuh ramping yang memakai pakaian ketat, basah oleh keringat. Menambah daya tarik tersendiri.
Helaian rambut yang ikut menari bersama tangan yang memainkan jurus pedang membuat Ye Chen betah berlama-lama.
Seruan wanita lain yang ada di situ mencoba mengingatkan gadis di depannya menyadarkan Ye Chen dari lamunannya.
"Nona, hari mulai gelap. Sudah waktunya pulang." kata si wanita.
"Huff sebentar lagi bibi, biarkan aku berlatih sekali lagi." sahut si gadis yang sedang berlatih.
"Gerakan kedelapan melompatlah lebih tinggi dan tahan nafasmu saat di udara." Sebuah suara masuk ke kepala si gadis yang berlatih.
Tehnik miliknya ini adalah tehnik yang khusus diberikan oleh kakeknya, tak ada seorangpun yang mengetahui tehnik ini.
Karena penasaran, Ia mencoba saja gerakan kedelapan sesuai yang Ia dengar di kepalanya.
"Gerakan kesembilan, berputar sekali saja lalu melompatlah kebelakang.
Gerakan ke sepuluh mendarat dengan kaki kiri, kau bisa memilih menusukkan pedang dengan bertumpu di kaki kiri atau menghindar dengan mengayunkan pedang ke depan dan mundur."
Demikianlah, satu persatu jurus yang selama ini sangat susah Ia pahami dapat Ia mainkan begitu saja, tanpa ada gerakan yang kaku seperti sebelumnya.
Hari sudah gelap saat Ia berhenti memainkan dan menghafal dengan baik semua gerakan jurusnya. Rasa lelahnya terbayar sudah.
"Terima kasih senior...!"
Gadis ini berteriak saja karena tidak tau dimana suara yang membantunya. Ia juga memegang tinjunya yang masih menggenggam pedang. Sikapnya yang sembarangan ini malah tepat mengarah ke tempat Ye Chen bersembunyi.
"Kita pergi menemui kakek."
"Nona, apa sebaiknya kita pulang dulu, tuan pelindung pasti terganggu dengan kehadiran kita."
"Aduh bibi, percayalah kakek tidak akan marah. Dia sudah berjanji memberikan jurus kedua kalau aku berhasil menguasai jurus pertama."
"Tapi nona...
"Tidak ada tapi, aku pergi sendiri saja kalau bibi tidak mau." Mau tidak mau, wanita ini mengikuti si gadis.
Ye Chen hanya tersenyum dan kembali ke tepi telaga, gadis yang keras kepala tapi cukup baik pikir Ye Chen.