Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Hukum Kehampaan


perlahan-lahan mata Ye Chen terbuka, ada segaris kilatan yang memancar. Mulutnya tersenyum penuh arti.


"Kehampaan, akhirnya aku menemukanmu."


Ucapnya dengan lembut dan tenang. Kini, Ye Chen sudah hampir mengerti hukum ini, tinggal selangkah lagi, yaitu memanipulasi kekuatan kehampaan dan ini hanya tinggal menunggu waktu saja. Ye Chen sudah meresapi makna kehampaan itu sendiri jadi tidak sulit untuk menciptakan di masa depan.


Saat ini, Ye bahkan sudah bisa hidup di dalam ruang hampa. Pori-pori nya bisa bernafas di sana dan yang paling mengesankan adalah meridian dalam tubuhnya bertambah satu.


Jika biasanya manusia memiliki dua belas meridian utama maka Ye Chen yang sekarang memiliki tiga belas meridian.


Meridian ketigabelas ini ukurannya masih setipis benang dan transparan.


Ye Chen sekali lagi keluar dari area kehampaan, sedetik kemudian Ia kembali masuk dan berdiri sambil memejamkan matanya lama. Beberapa jam kemudian, matanya terbuka dan mulutnya tersenyum penuh kemenangan.


Meridian ke-tigabelas nya kini sudah tampak jelas, meskipun masih setipis benang. "Saatnya kembali." gumam Ye Chen setelah beberapa kali membiasakan diri dengan kekuatan kehampaan.


"Ada yang datang!"


Semua yang ada di atas perahu terbang bersiaga, urat saraf menegang. Yang datang ini pasti sangat kuat sampai bisa menerobos perisai begitu saja.


Kabut di tengah perahu terbang perlahan memadat dan memunculkan sosok Ye Chen yang tersenyum ringan.


"Giro, kau berteriak keras sekali."


"Tuan muda...?"


Bukan hanya Giro yang kaget, tapi semua orang. Ini bukan aura yang mereka kenal.


"Tuan, aura anda? kenapa aku, kami semua tidak bisa merasakan bahwa itu anda?"


Aura memang bisa dihilangkan, terutama jika sedang menyamar atau hal yang lain tapi Ye Chen sama sekali tidak menghilang kan auranya. Dia di sana, muncul dengan aura yang berbeda namun sulit untuk diketahui pasti dimana sebenarnya aura itu.


Giro tidak tau, inilah salah satu kelebihan jika memahami hukum kehampaan.


Aura kehampaan bisa dimunculkan dimana saja dan kapan saja tergantung kekuatan yang menguasainya.


"Bagaimana, hebat kan hahaha. Giro, asal kamu tau, ini adalah aura... Mm, ah tidak usah belum saatnya kamu tau haha."


Ye Chen dengan gayanya yang sangat yakin ingin memberitahu Giro rahasianya namun membatalkan niatnya itu membuat Giro menggerutu.


"Sudahlah, katakan pada Pengrajin Mingdi, kita berangkat sekarang. Tidak usah terbang, kita menikmati laut ini saja dengan berlayar."


"Tuan Ye."


"Kakak Chen."


Pasukan seratus, panglima Du dan lima wanita itu datang ke tempat Ye Chen muncul.


"Ternyata anda, aku menunggu di atas karean aura anda muncul di atas."


"Iya kak Chen, aku juga menunggu di belakang."


"Aku juga, aku menunggu di depan."


Ye Chen hanya tersenyum, matanya melebar bangga, "Hahaha ini kekuatan baruku, hais padahal aku tak berharap mendapatkan nya tapi apa daya, surga memihakku."


kata Ye Chen seolah tak berdaya harus menerima pengertian hukum kehampaan. Ia terus saja menggeleng pelan.


Giro yang masih berada di sana, pasukan seratus dan panglima Du pusing, tak tahan melihat tingkah Ye Chen. Kemudian pergi dari sana.


"Kamin juga akan berkeliling, mengawasi bahaya." pasukan seratus.


"Aku juga, aku... " panglima Du bingung harus kemana, biasanya memang dia ada di dekat Xiao Yun dan memang tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan di atas perahu terbang.


"Ah benar juga, aku akan bertanya sesuatu pada pengrajin Mingdi." panglima Du menepuk pahanya sendiri lalu berlalu dari sana.


Namun, berbeda dengan kelompok wanita itu. Mereka tetap di sana. Bukan ingin menyenangkan Ye Chen tapi mereka memang ingin mendengar cerita di balik kekuatan Ye Chen dan para wanita selalu saja punya topik untuk dibicarakan.


Salah satu alasan Xiao Yun dan yang lain ikut dalam perjalanan ini adalah ingin bertambah kuat, tentu saja. Dan ini adalah salah satu kesempatan itu, dengan mendengarkan Ye Chen bercerita, mereka berharap memahami sesuatu.


...


"Yue, tempat itu sangat berbahaya. Orang-orang kita sudah banyak yang tewas di sana. Apa kamu yakin ingin ikut?"


"Kak Yao, jangan melihatku seperti anak kemarin, kamu sendiri tau kan?"


"Lagipula aku juga tidak pergi sendiri, bukankah ada kakak yang akan melindungiku hehe."


Tempat asal Yue adalah sebuah dimensi di alam langit, ketika Ia kembali, Ia mendengar insiden yang menimpa orang-orang nya yang berada di alam lain. Dengan cepat Ia mengajukan diri untuk ikut serta saat ayahnya menunjuk kakak tertuanya, Yao untuk memimpin pasukan kecil sebagai bantuan.


Ayah Yue, Tianmeng juga tidak terlalu keberatan namun Yao yang sangat menyayangi adiknya ini tetap keberatan.


"Ayolah kak Yao, aku bisa jaga diri. Bahka orang-orang yang kamu bawa itu tidak akan sanggup mengalahkan aku."


Yue merengek kembali agar diperbolehkan untuk ikut dan akhirnya Yao pun mengalah.


Yue memang benar, di alam mereka memang banyak yang bisa mengalahkannya tapi ada sesuatu yang istimewa pada dirinya sehingga Ia termasuk salah satu yang terkuat di sana.


Yao memimpin seratus orang lebih menjalankan misi ini, kultivasi mereka rata-rata adalah tingkat Surgawi tahap tinggi sedangkan Yao sendiri berada di tingkat Surgawi tahap puncak. Namun, mereka berbeda, mereka bahkan sanggup melawan musuh yang berada di atas tingkat kultivasi mereka.


Ini mungkin terdengar tidak mungkin tapi memang begitulah kenyataan nya.


Tidak sampai satu bulan, pasukan kecil ini pun tiba di tempat tujuan. Mereka langsung menyebar menjadi sepuluh kelompok kecil, satu kelompok berjumlah sepuluh orang.


"Kak Yao, di sana."


Yue menunjuk sebuah cekungan sempit di dalam sebuah tebing. Setelah diperiksa, ternyata mereka adalah orang yang mereka cari.


Yao pun langsung membawa mereka ke dalam perahu terbang untuk mengobati cedera yang mereka alami.


"Tuan muda, terima kasih sudah datang."


Ucap salah satu orang yang terluka itu. Yao mengangguk kecil, "Katakan apa yang terjadi, apa ini perbuatan mereka?"


Pria itu menggeleng, "Tempat kita terpaut jauh dari tempat mereka dan aku dengar, nasib mereka juga tidak lebih naik dengan kami."


"Begitukah?"


Yao tampak berpikir keras, mencari kemungkinan yang paling berpotensi untuk menganggu mereka.


"Apa kau bisa mengenali mereka yang menyerangmu?" tanya Yao lagi.


Pria itu kembali menggeleng, "Yang aku ingat, saat itu entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul banyak sekali Iblis Serigala Hijau. Kami bisa menangani mereka tapi pandangan kami seketika menjadi kabur dan jiwa kami bergejolak."


"Tuan muda, aku tau anda dan nona muda sangat kuat, tapi tehadap mereka ini, anda harus hati-hati."


"Jangan khawatir, oh ya dimana teman-temanmu yang lain?"