
"Jadi penatua Xiao sudah sampai di sini dan bertemu anaknya? hm, pantas saja aku seperti mengenal raut mukanya saat pertama bertemu." gumam Ye Chen setelah tau penatua Xiao adalah ayah kandung dari nona Xiao.
Ye Chen tiba-tiba saja mengangkat kepalanya, matanya menerawang jauh, teringat kepada ayahnya sendiri juga Ibunya yang telah pergi. Ia mendesah pelan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.
"Tuan Ye... anda, ...
Tetua Kam menghentikan ucapannya karena dicegah oleh Baojing. Tangan tangan menyentuh pelan pundaknya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku mengerti...."
Ucap tetua Kam, Ia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, tapi isyarat dari Baojing sudah cukup untuknya bisa mengerti.
"Saudara Baojing, ayo kita kebelakang, tuan Ye pasti ingin makan sesuatu." ajak tetua Kam.
Sampai di bagian belakang, Baojing sedikit terkejut, tetua Kam membawanya melihat sebuah tempat yang penuh hewan buruan.
"Aku juga orang baru di sini, dari yang kudengar, ini adalah piaraan tuan Ye, dia sangat suka ayam panggang, jadi yeah, seperti yang kau lihat. kata tetua Kam sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, tetua Kam menangkap lima ekor ayam dan berniat memanggangnya. "Tapi aku tak pandai meracik bumbu yang enak." kata tetua Kam. "Tidak masalah, tuan Ye makan apa saja, tak peduli enak atau tidak hehe." balas Baojing.
"Atau begini saja," kata tetua Kam lagi. "Akan kupanggil bibi Xiao, dia adalah ibu nona Xiao, tuan Ye suka masakan yang dibuatnya."
"Ya, begitu juga baik, tapi jangan beritahu yang lain." balas Baojing.
Aroma ayam panggang memenuhi puncak bukit Ye, "Harum sekali, aku jadi lapar." kata Ye Chen yang datang begitu mencium aromanya. "Silahkan tuan...." sahut bibi Xiao. "Dan selamat datang kembali." lanjutnya.
"Bibi memang yang terbaik." kata Ye Chen sopan.
Di bawah bukit sedang di adakan pertemuan, membahas jumlah pasukan musuh yang tidak masuk akal. "Sebenarnya ada apa dengan desa kita ini? sepertinya kita menjadi terget besar mereka." kata senior He dengan gusar.
"Mungkin karena desa kita adalah satu-satunya tempat yang aman."
"Atau mungkin ada sesuatu di desa kita?"
"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan tuan Ye?"
Satu persatu mengemukakan pendapatnya, tapi tak ada titik temu di antara mereka. Sementara pasukan musuh yang di dominasi oleh orang-orang berjubah hitam semakin banyak berkumpul.
Pertemuan bubar begitu saja, karena tak ada juga yang mereka bisa lakukan. Sampai ketika mereka keluar dari aula utama, mereka melihat asap dari atas bukit Ye.
Qin Gang adalah orang yang pertama melihatnya dan berseru, "Lihat ada asap di bukit."
"Sial, jangan-jangan mereka berhasil menembus segel pelindung." kata senior He.
Yang paling bingung sekaligus khawatir adalah penatua Xiao, dia sama sekali tak merasakan ada pelindung yang rusak dan tak bisa mendeteksi
keadaan di atas. Ia memimpin semua tokoh desa Ye menaiki bukit. Tapi baru saja mendekati segel bukit, sebuah tekanan yang sangat kuat menahan mereka, memaksa mereka mundur menjauh.
"Sial ini sangat kuat." kata penatua Xiao yang notabene adalah yang terkuat di antara mereka tapi tetap saja tak bisa menahannya.
Di atas bukit, Ye Chen yang senyum-senyum sendiri dikagetkan suara Baojing yang tidak menduga Ia akan berbuat itu. "Tuan, mereka tidak akan kuat." kata Baojing.
Saat ini aura Ye Chen sudah tidak sama seperti saat dulu sebelum bertemu guru Baji. Aura Ye Chen bisa dikatakan lebih pekat tapi tidak seperti aura Iblis lainnya. Bahkan penatua Xioa yang paling akhir bertemu Ye Chen tidak akan bisa mengenali auranya lagi.
Ketua Song mengernyit ketika merasakan jejak aura ini, "Ketua Song, ada apa?" tanya nona Xiao yang melihat ekspresinya.
"Dimana ibumu?" tanya ketua Song.
"Tadi dia pergi bersama tetua Kam, waktu aku tanya, katanya mau bukit." jawab nona Xiao masih sedikit bingung.
Ketua Song menunjuk ke arah bukit "Coba kau ikuti jejak aura yang ditarik itu."
Mata Xiao Yun melebar, "Tuan Ye, dia kembali." serunya.
"Ya, anak nakal itu kembali, berani-beraninya dia memamerkan kekuatannya." ucap Ketua Song sambil tersenyum. Dia tidak marah, dia sudah terbiasa dengan tingkah Ye Chen yang suka pamer.
"Bagus yah, kau sekarang sudah berani menekanku dengan kekuatanmu. Apa kau ingin membunuhku?" tegur ketua Song yang baru tiba.
"Hehe tapi kan tidak mati." goda Ye Chen sambil menggaruk kepalanya. "Nah bagaimana, aku tambah kuat kan?" katanya lagi.
"Hah kalau sebegitu saja masih belum cukup kuat."
"Aduh kakek Song, itu bahkan belum ada setengahnya?" kata Ye Chen lagi, masih dengan senyum-senyum.
Aura tekanan yang sangat kuat bahkan belum ada setengahnya, sebenarnya seberapa kuat Ye Chen sekarang? Begitulah yang ada di benak masing-masing orang yang ada di sana.
Setelah menanyakan kabar masing-masing, dan mendengarkan cerita lagi dari ketua Song, Ye Chen kembali terdiam, tekadnya untuk melahap semua orang diluar sana semakin besar. Kali ini Ia tak perlu ragu lagi untuk membunuh siapapun, semua ada balasannya.
Ia ingat teman-temannya, keluarga Lu, terutama Gu Xia yang pernah satu kamar dengannya, Han Meilan yang meskipun tidak lama dikenalnya namun sudah cukup akrab.
Hanya Cia Sun saja yang ada kabar beritanya, dan panglima Du yang saat ini ada di depannya.
Ia tau betul, semua ini karena dia, karena kunci portal dan kalau saja Ia tidak pernah pergi ke benua lain maka semua ini tidak akan pernah terjadi.
Tanpa sadar, aura Ye Chen merembes keluar. Mungkin karena kesedihan yang mendalam sehingga auranya sangat kuat, penuh dengan keinginan untuk membunuh.
Semua yang hadir di sana menggigil ketakutan, mereka seperti dibawa ke lubang hitam yang dalam. Sungguh sangat menyiksa, ditambah lagi dengan suara teriakan-teriakan yang menyayat hati.
"Akan kubunuh, kubunuh kalian semua. jiwamu akan ku...
"Tuan...! jangan katakan lagi!!"
Baojing yang juga sangat tersiksa berhasil berteriak menghentikan ucapan Ye Chen. Entah apa jadinya kalau ucapannya tadi tidak dihentikan Baojing.
Ye Chen tersadar, ia mencoba membangunkan semua orang sambil meminta maaf. "Baojing, kau tidak apa-apa? ah hampir saja, terima kasih." ucapnya dengan penuh penyesalan, hampir saja ia membunuh orang-orang terdekatnya sendiri.
"Syukurlah anda masih ingat." Hanya itu yang Baojing katakan, lalu pingsan seperti yang lain.
Ye Chen sendiri membawa semuanya ke dalam rumah di bukit, dan membiarkan mereka beristirahat.