Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kirin Menyerang Alam Peri


Berbagai pertanyaan muncul di benak Ye Chen, ingin bertanya tapi ragu, mungkin bukan saat yang tepat untuk bertanya dan mungkin Ibu sendiri tidak ingin Ia melakukan sesuatu terhadap orang-orang di sukunya.


Ia tidak ingin terlalu jauh memasuki kehidupan Ibunya yang dahulu, mungkin itu yang terbaik, biarlah masa lalu tetap menjadi masa lalu. Kecuali ada yang mencoba merendahkan Ibunya lagi, itu sudah lain cerita, pikirnya.


"Paman, dimana letak suku tempat tinggal Ibu." meski begitu, Ia tetap penasaran dengan kehidupan Ibunya. Hanya ingin tau saja dan merasakan hidup dan tinggal beberapa hari di sana.


"Jangan bilang kau mau...."


"Tidak Paman, tenang saja. Aku belum pernah merasakan belaian lembut Ibuku jadi biarlah aku tinggal sementara di sana. Mungkin dengan begitu, aku bisa sedikit mengingat Ibu." Ye Chen berkata sambil memandang langit yang di atas.


Paman yang sedikit tersentuh akhirnya menyatakan kesanggupannya untuk mengantar Ye Chen. Pertimbangan lainnya adalah supaya Ye Chen tidak menemui masalah di sana dan dengan adanya Ia di sampingnya, orang-orang suku itu tidak akan berani memprovokasi Ye Chen.


"Istirahatlah, aku akan kembali ke istana untuk meminta izin," kata Paman. "Aku baru ingat, pantas saja tubuhmu bisa beradaptasi dengan baik sewaktu menelan pil pemberian tuan puteri." lanjut Paman lagi sebelum pergi.


"Tunggu dulu Paman, memangnya pil dari alam Peri ini tidak cocok dengan ras lain?" tanya Ye Chen penasaran.


"Bukan tidak cocok, tapi kurang cocok. Alam ini berbeda dengan alam lain, kau bisa merasakannya dan sumber daya di sini bisa dibilang yang terbaik dari seluruh alam, bahkan alam Langit sekalipun. Biasanya bangsa lain membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menyerap pil buatan para Peri."


"Oh ya satu lagi, suku Ibumu terkenal dengan penghasil sumber daya terbaik di alam ini. Nah aku pergi."


Tiga hari berikutnya Paman baru kembali, tapi dengan tubuh yang tampak sangat lelah. "Paman, apa yang terjadi?" tanya Ye Chen dengan khawatir.


Saat Paman akan menjelaskan, hidungnya tiba-tiba mencium sesuatu yang harum, aroma herbal yang sangat menenangkan, membuatnya tubuhnya yang letih secara perlahan menjadi lebih segar. "Aroma apa ini? kenapa sangat kuat? apakah anak ini membuat sesuatu?" ucap Paman dalam hati.


"Apakah anda membuat sesuatu?" tanyanya kemudian. Tapi Ye Chen menggeleng. "Paman, tolong perlakukan aku seperti pemuda biasa. Tidak perlu terlalu sungkan, tolong Paman."


"Eh, begitukah? baiklah... baiklah, nah tuan Chen apa yang sedang kau buat ini, aromanya sungguh terasa menyegarkan."


"Hais sama saja, tetap saja tidak berubah." ucap Ye Chen dalam hati." Maksud Ye Chen adalah tidak perlu memanggilnya tuan, itu membuat ada jarak, tapi akhirnya Ia pun tak mempersalahkan nya lagi.


"Itu daging Kirin, Paman boleh mencobanya jika berminat."


"Eh? ap-apa... Kirin katamu? Paman seolah tidak percaya tapi tetap masuk dan mencobanya. " Tuan Chen ini sungguh nikmat, benarkah ini Kirin? tapi kenapa seperti sebuah ramuan herbal."


"Aku tidak berbohong, bukankah sudah kuceritakan sebelumnya? Oh ya aku mengolahnya dengan menambah sedikit sumber daya."


Paman tidak berhenti terkejut dan kagum dengan keahlian Ye Chen. Bakatnya terlalu mengerikan, aku yakin, selain ahli bela diri, anak ini pasti bisa formasi dan alkimia, pikirnya.


Daging Kirin yang penuh dengan energi diolah dengan sumber daya sehingga membuatnya memiliki manfaat berkali-kali lipat. Energi itu mengalir di setiap sendi tubuh Paman, bukan saja membuatnya pulih tapi juga membuatnya lebih bertenaga.


"Aku tak tau kalau bangsa Peri ternyata suka makan juga sepertiku." Ucap Ye Chen sambil tersenyum saat melihat Paman menghabiskan sendok terakhir dari dalam panci penanak.


"Apa masih ada lagi?" tanya Paman. Bukan ingin nambah lagi tapi kalau setiap hari makan seperti ini, pasti Ia akan menerobos, atau paling tidak bisa menambah energi Qi nya.


"Sayang sekali Paman, ini daging Kirin terakhir. Sudah tiga hari aku di sini dan tak menemukan apapun, jadi aku menghabiskan persediaanku."


Paman tidak percaya ini, jadi selama di sini Ye Chen, Ia terus makan Kirim. "Huff, seandainya saja aku tidak pergi, aku pasti kan menikmati Kirin itu, pikirnya.


"Tentu saja," sahut Ye Chen. "Tapi sayangnya, sumber dayaku sudah tidak cukup bahkan tidak ada lagi." lajut Ye Chen lagi dengan kepala tertunduk lesu.


Dan memang benar, Ia sudah banyak memakai sumber dayanya sendiri sewaktu di wilayah Ye, jadi persediaannya sekarang sudah tidak banyak lagi.


"Tuan Chen, sepertinya perjalanan kita ke suku Ibumu akan tertunda, kami sedikit mengalami masalah. Ada sekelompok Kirin dan dan siluman yang menyerang wilayah kami."


"Kirin? darimana mereka berasal?" tanya Ye Chen.


"Entahlah, ini terjadi begitu saja."


"Paman, ingat waktu kuceritakan tentang siluman yang dipimpin Kirin menyerang alamku? nah aku rasa yang datang ke sini adalah Kirin yang sama."


"Bisa saja, tapi kenapa mereka menyerang ke sini?"


"Mungkin mereka tersasar. Kalau menurut perkiraanku, karena portal di alamku sudah tertutup, jadi mereka terlempar ke sini." balas Ye Chen.


Memang betul apa yang Ye Chen katakan, karena menemukan portal yang dulu dimasuki Kirin, mereka lalu memasukinya tanpa memikirkan kalau portal keluar telah tertutup. Dan karena portal itu terhubung dengan Paman makanya mereka terlempar di alam Peri dan langsung mengamuk, mengira di sinilah tuan muda mereka tewas.


Ye Chen sendiri tersenyum puas, hehe akhirnya stok daging Kirin terisi lagi, batinnya. Ia lalu meminta untuk ikut dan diiyakan oleh Paman.


"Kalau ada yang bertanya, katakan saja kau adalah keponakanku."


"Baik Paman."


Dua orang ini lalu melesat cepat menuju medan pertempuran.


Ye Chen kagum dengan kekuatan para Peri ini yang teratur dengan baik. Di sana telah berdiri ribuan pasukan Peri berbaju besi, pedang panjang terselip di pinggang sementara tangan memegang busur Qi dan bersiap menarik anak panah.


"Paman, kenapa belum menyerang juga?"


"Kami bukan bangsa yang gemar berperang." kata Paman, lalu menarik Ye Chen barisan belakang tempat dimana komandan pasukan berada.


"Paman, anda sudah datang." sapa sang komandan. Sementara Ye Chen hanya melihat dan menilai para pemimpin pasukan itu.


"Surgawi puncak, Surgawi tinggi, Surgawi... eh? tingkat Dewakah?" saat tengah menilai, pandangannya tertuju pada seorang sosok yang tampak gagah, dialah pemimpin pasukan itu.


Paman mengangguk ketika di sapa komandan, lalu melirik Ye Chen, memberi isyarat untuk mengikutinya.


"Salam panglima muda." sapa Paman. "Oh Paman, aku telah menunggu anda. Coba lihat siluman-siluman itu, mereka sama sekali tak mau mendengarkan ajakan perdamaian kita."


"Jadi apa yang akan anda lakukan?" tanya Paman.


"Tidak ada jalan lain, harus dimusnahkan sekarang juga sebelum mereka melangkah lebih jauh," kata sang panglima. Ia melirik Ye Chen. "Dia ini...?"