
Ye Chen memanen semua kristal roh di dalam dimensi kristal, ini bahkan lebih banyak dari dimensi kristal sebelumnya. kristal yang lebih muda disebut kristal roh dan yang lebih tua menjadi kristal roh ungu.
Berpikir sampai di sini, Ye Chen berniat memindahkan membuat dimensi kristal di dalam dimensi cincin. Sama seperti ruang tempat Ia menanam tumbuhan herbal, dimensi kristal juga akan dibangun dengan hukum waktu di dalamnya sehingga produksi kristal roh ungu akan semakin cepat.
Waktu berlalu, Ye Chen kini telah memiliki dimensi kristal sendiri. Tak perlu khawatir lagi masalah harta atau sumber daya untuk mengisi kristal hitam untuk bahan bakar perahu terbangnya.
Dimensi cincinnya juga telah di atur ulang, ini seperti seorang kaisar yang memiliki segalanya. Sumber daya tinggal memetik saja, uang? tinggal mengambilnya saja jika perlu. Rajawali juga mempunyai area sendiri dengan banyak sekali hewan buruan yang terus berevolusi karena Qi di dalam dimensi sangat pekat.
"Heh apa yang serigala itu tunggu, kenapa masih berkumpul di sini?" batin Ye Chen yang sudah berada di luar. Karena akar abadi telah Ia pindahkan ke dalam dimensi cincin maka otomatis dimensi kristal akan lenyap dengan sendirinya.
Berjalan perlahan dan menghilangkan auranya agar tidak menarik perhatian para serigala bertanduk satu ini. "Ah kenapa aku tidak berpikir kesitu hehe." ucap Ye Chen lalu memanggil Rajawali. "Bunuh sebanyak yang kau bisa, rapi ingat jangan merusak bulunya." perintahnya, lalu seorang manusia dan seekor burung seakan berlomba membunuh kawanan serigala.
Di wilayah Ye.
Pembangunan hampir selesai, Ye Chen melihat dengan takjub. "Hebat, ini bahkan tidak seperti yang aku bayangkan." Paviliun Pusat berdiri megah seperti istana, begitu juga dengan paviliun-paviliun yang lain.
Senior He mengajak Ye Chen melihat paviliun utama. Berdiri di atas menara, semua wilayah Ye dapat terlihat jelas. "Bagaimana tuan, apa Ada yang kurang?" tanyanya.
"Ini sangat hebat, sangat hebat." Ye Chen terlihat sangat senang lalu bertanya persiapan yang lain termasuk persiapan mengikuti acara Lima tahunan.
"Mungkin satu bulan lagi pembangunan akan selesai. Tentang acara itu, sepertinya kita hanya bisa mengirim dua wakil saja. Jiang Kun dan Bengsan."
"Siapa Bengsan itu?"
"Oh dia murid dari pengrajin Mingdi, saat ini Ia sudah di tingkat Bumi."
"Ada satu yang menjadi pikiranku," ucap Ye Chen. "Apa itu tuan?" Ye Chen terdiam sejenak sebelum berbicara. "Kumpulkan yang lain."
Di paviliun utama.
Ye Chen tampak serius ketika mengatakan tidak ingin memakai tehnik dari pihak lain, seperti tehnik Jiang Kun dan tehnik senior He. Pengrajin Mingdi dan penatua Xiao tidak memiliki tehnik khusus, karena mereka bukanlah kultivator meskipun kultivasi di tingkat Suci menengah.
"Begini, aku telah membuat salinan beberapa tehnik, aku harap kalian bisa mempelajarinya dan juga mengajarkan pada yang lain."
Sambil membagikan gulungan, Ye Chen berkata lagi bahwa Ia tak mau wakil wilayah Ye nanti dicibir karena menggunakan tehnik sekte lain. "Aku harap senior He bisa mengerti." lanjutnya tanpa sedikitpun merendahkan tehnik bawaan senior He.
Semua yang hadir bukan orang bodoh, mereka paham betul maksud dan tujuan Ye Chen. "Apakah kami juga bisa mempelajarinya?" sahut pengrajin Mingdi mewakili penatua Xiao. Kelihatannya mereka juga tertarik.
"Silahkan saja kalau mau."
Maka dimulailah pelatihan, terutama untuk Jiang Ji dan Bengsan. Mereka harus bisa menguasai tehnik itu sebelum acara dimulai.
"Senior He, ini seperti tehnik dari sekte anda." ucap Jiang Kun yang melihat guiungan di tangannya.
Ye Chen juga memberikan gulungan tehnik langkah angin.
"Tuan Ye, apa anda tidak akan ikut pergi?" Acara lima tahunan telah dimulai, semua peserta telah hadir. Jiang Kun tampak bertanya karena melihat Ye Chen tidak turun dari perahu terbangnya.
"Kalian saja yang pergi, aku merasa sedikit bosan dan akan berkeliling sebentar." Ye Chen lalu pergi setelah menyampaikan maksudnya, Meninggalkan Jiang Kun dan yang lain.
"Sayang sekali tuan Ye tidak dapat hadir." patriark Xiao tampak sedikit kecewa mengetahui Ye Chen yang tidak ikut menyaksikan pertandingan.
"Ayah, tuan Ye berkata akan kembali secepat mungkin saat final nanti. Tentu saja jika Ji'er dan Bengsan lolos."
Patriark Xiao hanya mengangguk.
Sementara itu Ye Chen telah berada jauh di selatan, Ia penasaran dengan kelompok jubah hitam yang dulu mengacau. Ia yakin mereka adalah orang-orang sekte kegelapan atau masih ada hubungannya dengan mereka.
"Semoga aku tak salah dan bisa menemukan jejaknya." gumam Ye Chen di atas perahu terbangnya. Mengikuti arah desa Jiang sesuai petunjuk Jiang Kun.
Ye Chen sudah cukup akrab dengan aura orang berjubah sehingga mudah saja Ia melacaknya, tapi sayangnya tidak ada apa-apa di sana. Memang Ada jejak aura yang tertinggal tapi jejak itu seperti menguap hilang tanpa bisa terlacak.
Tapi bukan Ye Chen kalau menyerah begitu saja, Ia lalu memantau seluruh desa Jiang sampai jauh di sekitarnya dari udara. Sesekali Ia akan turun untuk memastikan jika ada sesuatu yang mencurigakan. Dan benar saja, setelah berhari-hari mencari, akhirnya Ia melihat jejak aura yang kuat, yang ternyata adalah dua batu hitam ciri khas dari tempat kelompok yang Ia cari.
Titik ini jauh dari titik yang sebelumnya Jiang Kun ceritakan. "Rupanya mereka juga berpindah-pindah tempat." ucap Ye Chen menyadari sesuatu, pantas saja markas mereka sulit ditemukan.
Tanpa pikir panjang, Ye Chen masuk ke dalamnya. Markas ini lebih besar dan luas dibanding sebelumnya. Auranya jauh lebih pekat dan tebal, tapi tempat ini juga jauh lebih sepi.
Sampai akhirnya Ia menyadari sesuatu, markas ini telah ditinggalkan. "Apa yang terjadi? kemana mereka semua pergi?" batin Ye Chen setelah memeriksa kembali dan tetap tidak menemukan siapa-siapa di sana.
Ye Chen masih menunggu beberapa hari lagi sampai yakin betul bahwa tidak ada yang tinggal atau datang ke markas, setelah itu barulah Ia pergi.
Pusat kota.
Acara turnamen lima tahunan antar generasi muda alam atas telah dimulai. Bengsan telah dinyatakan gugur, ketatnya persaingan di tingkat Bumi yang Ia ikuti membuatnya tak dapat bertahan.
Sementara Jiang Ji masih terus maju sampai babak final, Ia masuk dalam kategori tingkat Emas.
"Ayah, besok adalah pertandingan terakhir, apakah tuan Ye belum juga datang?" Jiang Ji bertanya pada ayahnya yang hanya bisa menggeleng.
"Jangan khawatirkan masalah itu, kau harus fokus pada pertandingan besok."
"Baik ayah." jawab Jiang Ji dengan patuh.