Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Puteri Jia Terluka


Proyeksi di atas langit yang menampilkan pertempuran di gurun telah selesai. Giro, atas permintaan Ye Chen segera berangkat ke gurun untuk melihat kondisi puteri Jia sekaligus membawa penanda agar Ye Chen nanti bisa langsung ke sana setelah mengaktifkan artefak api.


Sementara itu Sirio yang saat ini telah mendapat dukungan penuh dari semua undangan yang hadir terlihat membagi-bagikan tugas untuk mengacaukan beberapa tempat di alam langit. Ye Chen tidak memperhatikan arahan ini, Ia hanya fokus tentang rencana Sirio sendiri, kemana dia akan pergi dan dengan siapa saja. Jika ingin mengetahui jati diri pangeran kegelapan maka jalan satu-satunya adalah dengan mengikuti Sirio ini, jadi artefak api yang sudah Ia siapkan ini untuk mencegah Sirio.


"Hei kamu! pergi ke gurun dan bantu orang-orang kita yang ada di sana." Sirio yang melihat Ye Chen masih duduk sendiri berteriak memberi perintah.


Ye Chen bangkit dari duduknya, melangkah maju mendekati Sirio. "Jangan seenaknya memerintah, seingatku, aku belum menyetujui kau sebagai pimpinan." ucapnya dengan santai tanpa ada rasa takut.


"Hahaha lalu apa maumu? aku bisa meminta yang di sini menghabisimu." Sirio meneliti kekuatan Ye Chen, hanya tingkat Suci pikirnya. "Jangan menganggap tinggi dirimu sendiri, walaupun kau tidak bergabung, aku juga tidak akan merugi." katanya sambil memandang rendah Ye Chen.


"Kalau begitu, aku akan pergi saja."


Ye Chen melangkah santai dari tempatnya, "Tunggu dulu! apa kau pikir bisa pergi dengan mudah setelah mendengar semua ini?" kata Sirio dengan nada ancaman.


Sirio menoleh ke samping dan meminta seseorang untuk membereskan Ye Chen. Lalu seseorang maju dan tanpa berkata apa-apa lagi langsung mengarahkan tapaknya, ingin membunuh Ye Chen dalam satu serangan terkuatnya.


Angin kencang bertiup membawa pukulan memastikan, Ye Chen mendengus, menangkap tangan yang menyerangnya dengan kuat. "Terlalu lemah." katanya lalu membuat sedikit gerakan mengangkat untuk membanting orang itu.


Bukk...


Suara berdebuk keras ketika tubuh itu menyentuh tanah, sementara Ye Chen yang masih memegang tangan itu menginjak dadanya sampai remuk dan membetot tangannya sampai lepas dan melemparkan nya ke Sirio.


Mau tidak mau Sirio kaget ketika melihat apa yang Ye Chen lakukan, tadinya Ia tidak memandang Ye Chen lagi ketika ada yang maju untuk membereskannya. Ia sibuk mengatur pembagian wilayah penyerangan sampai sebuaha bayangan mengarah kepadanya yang ternyata adalah sebuah tangan.


"Kalian pergilah, ingat, jangan memberi keringanan pada musuh kita." Sirio memberikan instruksi terakhir lalu berpaling pada Ye Chen. "Aku tak ada waktu meladenimu." katanya kepada Ye Chen.


"Lalu?" sahut Ye Chen tenang.


Sirio tidak berbicara lagi, Ia meminta Iblis yang masih belum pergi untuk membereskan Ye Chen.


Lebih dari sepuluh Iblis yang menyerang Ye Chen yang masih berdiri di sana. Sementara Sirio terlihat melangkah pergi dari sana.


"Sebaiknya kau menyerah saja, aku kasihan padamu, bergabunglah bersama kami." kata salah satu Iblis yang menyerang Ye Chen di sela pertarungan.


"Aku berbeda dengan kalian, aku tidak tertarik." sahut Ye Chen. Ia meladeni mereka dengan tenang sambil terus memperhatikan kepergian Sirio.


Sampai ketika merasa waktunya sudah pada Ye Chen mengaktifkan artefak api.


Duarr...!


Ledakan keras terdengar disusul api yang mengelilingi arena pertempuran. "Teknik Bayangan...." ucap Ye Chen pelan.


Strateginya adalah mengalihkan perhatian musuh agar tak ada yang memperhatikan saat Ye Chen menggunakan teknik bayangan. Dari awal Ye Chen berencana membuat klon dirinya untuk mengikuti Sirio ke tempat pangeran kegelapan berada dan manandainya.


"Saatnya menyingkirkan kalian." kata Ye Chen sambil membuka kekuatannya dan menghabisi lawan-lawannya. Ini bukan pekerjaan yang sulit baginya karena mereka sama sekali bukanlah lawannya.


Setelah semua beres, Ye Chen lalu pergi dari sana menyusul Giro yang sudah pergi terlebih dahulu namun perjalanannya ini Ia lakukan dengan pelan karena Ia harus sering berhenti untuk mengontrol klonnya yang mengikuti Sirio agar tidak tersesat. Yang paling utama adalah agar jangan sampai ketahuan, akan sangat menguras tenaga kalau sampai harus bertarung lagi di sana.


"Kerja bagus."


Kata pangeran kegelapan yang masih berupa asap hitam di depan Sirio. "Pergilah, bantu yang lain di gurun, aku merasa ada kekuatan lain sedang menuju ke sana."


"Baik, hamba mohon diri." Sirio bangkit kemudian langsung pergi menuju gurun.


Ye Chen yang telah menghilangkan klonnya setelah menandai lokasi dimensi pangeran kegelapan bergerak cepat menuju gurun. Karena kekuatannya telah kembali, Ia dengan cepat menemukan jejak Giro.


"Tuan, anda datang." sapa Giro.


"Ye Chen mengangguk, "Bagaimana keadaan adik Jia?"


"Dia terkena pukulan api, maaf aku tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melakukannya saja sampai kesini." Lin Yungtao merasa bersalah.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ye Chen. Meskipun sudah tau Iblis dan makhluk terkutuk yang menjadi biang masalah, Ia hanya tak mengerti karena seharusnya puteri Jia bisa melarikan diri kalau mau.


Lin Yungtao mendesah pelan, Ia lalu bercerita bahwa puteri Jia bersikeras menolong murid akademi yang terjebak dan tak bisa lari. Akhirnya Ia dikeroyok terkena beberapa pukulan dari Iblis yang menggunakan energi api.


"Saudara Chen, apa kau bisa menolongnya?"


Puteri Jia terlihat sangat payah, seluruh tubuhnya memerah seperti terbakar. Tadinya Ye Chen ingin membawanya langsung ke akademi dan meminta pertolongan tapi itu sudah terlambat. Seandainya saja Ia tak berusaha mengikuti Sirio dan pergi bersama Giro, mungkin Ia masih sempat.


Saat ini mereka berada di dalam sebuah gua yang cukup besar. Untung saja Lin Yungtao menemukan tempat ini saat membawa puteri Jia, kalau tidak, mungkin sekarang mereka sudah tewas karena bertarung.


"Pihak akademi sudah mengetahui masalah ini, tapi aku tidak yakin pasukan bantuan akan segera datang." lanjut Lin Yungtao.


"Tuan, saat aku tiba, aku merasa pasukan Iblis bertambah banyak apakah....?"


"Saudara Chen, sebenarnya ada apa?"


Ye Chen membuang nafas pelan, kemudian menceritakan apa yang Ia temukan. "Aku rasa sebentar lagi alam langit akan kacau dan ini hanya awal saja."


"Sudahlah, yang penting sekarang bagaimana cara menyembuhkan adik Jia." kata Ye Chen lagi, Ia sekilas melihat puteri Jia yang masih terbaring tak berdaya.


Diam, Baik Giro maupun Lin Yungtao tak memiliki solusi lain. "Kalau saja kita bisa ke akademi, mungkin ada cara." Lin Yungtao.


"Panaaas....."


Puteri Jia berkata lirih, keadaannya benar-benar memprihatinkan. Sampai-sampai pakaian yang Ia kenakan ada yang hangus terbakar. Hanya karena Ia seorang peri yang memilikimu elemen air dan penyembuhan sehingga Ia bisa bertahan sejauh ini.


"Adik Jia..."


Ye Chen berkata lirih, "Tuan, bukannya tuan bisa menggunakan pukulan es? mungkin bisa menyembuhkannya." Giro.


Ucapan ini menyadarkan Ye Chen, "Kau benar, akan kucoba." ujarnya.