
"Kakak Chen, apa ini rumahmu?"
Puteri Jia saat ini telah berada di rumah Ye Chen, terletak di sebuah lembah. Puteri Jia mengedarkan pandangan sambil mengagumi keindahan tempat itu.
"Aku sengaja mengajakmu kesini untuk memberikan beberapa teknik yang cocok untuk kultivasimu." kata Ye Chen yang berjalan di samping puteri Jia. Sedetik kemudian di tangannya telah ada beberapa teknik Naga Air.
"Ini ... "
"Adik Jia, aku akan menceritakan darimana asal energi yang kusalurkan padamu."
Dengan singkat Ye Chen menceritakan perihal inti Naga Air yang telah diserap oleh puteri Jia. "Karena aku tak bisa menyerap semua inti itu dan kau memang berjodoh dengannya, maka pelajarilah teknik-teknik ini."
"Kakak Chen, kasih."
Teknik Tinju Beku dan teknik Telapak Tangan Naga. Dua teknik yang Ye Chen serap dari ingatan Naga Air.
"Untuk sementara, tinggallah di sini sampai kau menguasai teknik ini atau paling tidak bisa sampai setengahnya."
"Apa kau akan pergi kakak Chen?"
Sejak pengobatan di dalam gua, puteri Jia memandang Ye Chen berbeda, Ia tak ingin berpisah lagi. Kalau sebelum ini mungkin hanya perasaan berdebar saja yang dirasakan puteri Jia jika berada di dekat Ye Chen atau perasaan ingin bertemu saja dan kalau berpisah, juga tidak terlalu sedih, tapi kali ini berbeda.
Ada perasaan tidak ingin berpisah lagi dan takut jika Ye Chen akan pergi meninggalkannya.
Ye Chen hanya tersenyum melihat puteri Jia bertanya dengan raut wajah sedih. "Aku akan menemanimu, mungkin kau terluka lagi sehingga aku bisa mengobatimu lagi."
"Jadi kau ingin aku terluka?" puteri Jia membulatkan matanya tapi sedetik kemudian wajahnya memerah mengingat kejadian di gua, "Dasar mesum." puteri Jia lalu berbalik pergi sambil menutup mukanya.
"Jangan pergi, temani aku sebentar." ucap puteri Jia lirih sebelum menghilang ke dalam kamar.
Ye Chen tidak menanggapi ucapan puteri Jia, Ia hanya tersenyum lembut.
Keesokan harinya, puteri Jia mulai berlatih teknik dan kultivasi Naga Air seperti yang Ye Chen berikan untuk membentuk dan membantu penyerapan inti Naga Air secara keseluruhan. Tidak butuh waktu lama sampai puteri Jia benar-benar menguasai beberapa teknik itu karena Ia juga termasuk puteri jenius. Saat ini puteri Jia hanya butuh sebuah situasi untuk menggunakannya saja.
"Kakak Chen, aku berencana kembali. Menurutku, tak ada lagi yang bisa kucapai di akademi dan jujur saja, aku sangat puas dengan kultivasiku yang sekarang."
Saat ini Ye Chen dan puteri Jia duduk bersama, puteri Jia menyatakan niatnya untuk kembali pulang tapi dalam pandangan Ye Chen, puteri Jia seperti menyembunyikan sesuatu.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Oh itu ... tidak, aku hanya ingin pulang saja." puteri Jia sedikit gugup ketika menjawab.
"Bagaimana dengan Yungtao, apakah dia juga pergi?"
Puteri Jia tidak menjawab pertanyaan ini, Ye Chen juga tidak memaksa, hanya saja entah kenapa Ia merasa kehilangan dengan kepergian puteri Jia. Sejak insiden di gua, Ia sedikit enggan untuk berpisah.
"Kakak Chen... aku ingin sesuatu, bolehkah ... tentu saja, katakan." Ye Chen memotong ucapan puteri Jia.
"Itu...
"Katakan saja." Kata Ye Chen dengan yakin.
"Temani aku malam ini."
Ajakan yang sedikit sedikit ambigu ini membuat Ye Chen tak bisa berkata, Ia hanya memandangi puteri Jia dengan polos.
Sementara puteri Jia langsung tertunduk malu, "Besok aku akan pergi." ucapnya sambil terus menunduk.
"Adik Jia..."
"Baiklah." sahut Ye Chen. Lalu keduanya masuk ke dalam kamar.
Tak ada yang terjadi sepanjang malam, mereka hanya berbincang sampai fajar tiba. "Kakak chen, terima kasih telah menjagaku."
"Apa yang kau katakan? tunggu aku di sana, setelah urusanku selesai, aku akan memintamu pada ayah dan ibumu."
Kata-kata Ye Chen membuat pandangan puteri Jia melembut, hatinya merasakan ketenangan yang belum pernah Ia rasakan sebelumya. "Aku tau." katanya dengan pelan, kedua tangannya meremas ujung bajunya, seperti ingin mengucapkan sesuatu.
Ye Chen yang melihat ini tersenyum lembut, "Kemarilah." ucapnya. Ye Chen merentangkan keduanya tangannya dan mendekap lembut putri Jia dalam dekapannya.
"Kakak Chen...."
"Jangan bicara lagi, tunggu aku."
Beberapa saat kemudian, merekapun berpisah. Putri Jia tidak menggunakan portal yang di kediaman Ye Chen tapi menggunakan portal yang ada di kediaman alam Peri untuk kembali. Ye Chen sengaja melakukannya untuk menghindari keadaan yang tidak perlu.
"Giro, pergilah ke alam peri. aku rasa ada sesuatu yang terjadi di sana."
"Baik tuan."
Setelahnya, Ye Chen kembali kembali ke akademi. Ia ingin mencari Lin Yungtao untuk meminta penjelasan meskipun Ia yakin bahwa Lin Yungtao pasti sudah pergi.
Yang tidak Ye Chen sangka setalah tiba di akademi adalah semua murid yang berasal dari alam Peri sudah pergi semua. Ini membuktikan prasangka ye Chen bahwa telah terjadi sesuatu di alam Peri.
"Kuharap kau baik-baik saja adik Jia." batin Ye Chen.
Beberapa hari kemudian, Giro kembali.
"Tuan, rupanya terjadi kemelut di alam Peri. Dalangnya adalah menteri Kun, saat ini Ia telah menguasai sebagian besar wilayah di alam Peri dan mengancam akan menghancurkan istana kecuali puteri Jia bersedia menikah dengan putranya, Kunlao."
Menteri Kun adalah ayah dari Kunlao, seorang pemuda berbakat di alam Peri dan juga menjadi salah satu pria yang ingin bersaing mendapatkan putri Jia.
"Tuan, yang menarik adalah ternyata pasukan menteri Kun ini didukung oleh para Iblis dan makhluk terkutuk. Sirio juga ada di sana."
"Sirio...?"
Tanya Ye Chen, yang berpikir pantas saja Ia tidak melihatnya saat kembali ke gurun.
"Apa yang akan tuan lakukan?"
"Kita kesana." Tanpa ragu, Ye Chen mengatakan keinginannya dan langsung pergi ke alam Peri bersama Giro. Masalahnya sendiri harus segera diselesaikan, Ye Chen masih belum tenang sebelum membunuh pangeran kegelapan.
Cepat atau lambat, Ye Chen juga akhirnya akan bertemu dengan pangeran kegelapan untuk memberikan keamanan bagi orang-orang nya sendiri.
Kali ini Sirio muncul lagi dan inilah saatnya membuat perhitungan.
Memang, bisa saja Ye Chen langsung ke dimensi pameran berada tapi Ye Chen tidak mau mengambil resiko. Bisa jadi pangeran kegelapan menunggunya dan telah menyiapkan jebakan lain untuknya jika datang keluarga, pikirnya.
Di alam Peri, di bukit Nannan, Ye Chen mendengarkan penuturan dari Paman. Menurut ceritanya, menteri Kun dan putranya melakukan makar dan dan beraliansi dengan Iblis seperti informasi yang diberitakan oleh Giro.
Keadaan istana saat ini dalam bahaya dan menjadi pertahanan terakhir.
"Paman, bagaimana keadaan adik Jia?"
Tanya Ye Chen khawatir, akhirnya Ia tau kenapa sikap putri Jia sangat aneh sewaktu bersamanya.